Saturday, December 30, 2017

Catatan 2017: Ketika Opini Dilawan Persekusi

Ketika Opini Dilawan Persekusi


Media sosial Indonesia sepanjangan tahun 2017 menyajikan banyak cerita. Ada beberapa cerita yang penting, ada banyak trending topic di Twitter Indonesia, namun satu yang sangat terasa adalah banyaknya kabar palsu, fabrikasi fakta, fitnah, makian dan berbagai hal negatif lainnya.

Sepanjangan tahun 2017, kebebasan berpendapat di media sosial di Indonesia secara keseluruhan jauh lebih baik dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Bahkan bisa disimpulkan bahwa media sosial di Indonesia cenderung lebih bebas sehingga efek negatif kebebasan ini tak terelakkan.

Sedikit kita tengok ke belakang, sebelum politik merasuk ke internet khususnya media sosial, bisadikatakan situasi media sosial di Indonesia baik-baik saja. Hal ini bisa kita lihatsebelum tahun 2012. Situasi media sosial di Indonesia saya rasa jauh lebih sejuk dibandingkan tahun 2017, di mana para pengguna belum terekspos oleh berbagai hal negatif seperti ujaran kebencian atau hoax.

Namun seiring makin dimanfaatkannya media sosial untuk meraih simpati publik, situasi media sosial di Indonesia mulai berubah. Pada tahun 2012, saaat Pilkada DKI yang diikuti oleh Pak Jokowi dan Ahok,  kita masih bisa tersenyum bahwa pada saat itu pertarungan di media sosial tidak sebrutal sekarang. Kemudian, Pemilu dan Pilpres 2014 mengubah segalanya. 

Politik telah membuat interaksi di media sosial di Indonesia khususnya Facebook dan Twitter berada di level panas paling tinggi. Ujaran berbau SARA sangat mudah ditemukan, interaksi begitu panas sehingga kubu pro dan kontra terlibat perang opini yang saling meniadakan dengan membawa isu seperti suku dan agama. Kesimpulan awal saya adalah politikus telah menggunakan segala macam cara untuk meraih kekuasan di tahun 2017, salah satunya dengan menggunakan media sosial dan membanjiri media sosial tersebut dengan isu sensitif seperti suku serta agama.

Saat Pilpres 2014 ini sebenarnya sudah mulai terlihat kubu yang kini terlibat peperangan tanpa henti di media sosial di Indonesia. Namun saat itu kelompok-kelompok tersebut masih cair dan belum terikat ke dalam suatu ikatan kuat berbasis satu isu utama. Namun demikian apa yang terbentuk dari perang di media sosial di tahun 2014, kini menjadi momok yang menakutkan di tahun 2017 bahkan nanti seterusnya di tahun 2018 dan 2019 dan bisa terus ada selama mereka belum mencapai tujuan utamanya.

Hal yang perlu dilihat adalah bahwa kondisi panas yang tercipta di media sosial di Indonesia pada awalnya tak lebih dari perbedaan pandangan poltik. Perbedaan pandangan politik dan dukungan kemudian ditambah oleh cara-cara politisi meraih dukungan di media sosial yang cenderung serampangan dan amoral. Isu politik dan perebutan kekuasaan melalui pemilu dan pilkada misalnya kemudian ditunggangi dengan isu suku dan kemudian agama, menjadikan perang di media sosial begitu berlarut-larut karena dua isu ini merupakan isu krusial di Indonesia yang majemuk, namun dikuasai oleh satu agama mayoritas yang selalu gelisah.

Seiring perkembangan teknologi di media sosial yang cenderung melakukan otomatisasi melalui penggunaan algoritma yang dapat kita lihat pada tahun 2017, kelompok-kelompok yang memiliki perbedaan pandangan dan kepentingan akan terpolarisasi secara otomatis. Kelompok yang pro Jokowi atau Ahok misalnya akan bergabung dengan yang pro dan demikian juga dengan yang kontra. Kelompok-kelompok yang terbentuk ini tak pernah lepas dari adanya algoritma media sosial terutama Facebook dan Twitter. Mereka akan berkelompok dan berinteraksi dengan anggota kelompok mereka dan akan menyerang secara beramai-ramai jika ada pihak yang kontra dengan mereka.

Polarisasi yang terbentuk oleh algortima ini sangat tajam dan selalu saling meniadakan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kebenaran hanya ada pada kelompok tersebut, selain kebenaran kelompok tak diakui sehingga melihat dunia cenderung hitam-putih dan jarang sekali menggunakan kerangka berpikir rasional. Setiap orang yang menentang atau mencoba menggugat apa yang mereka percayai ditandai sebagai kubu seberang yang harus dilawan, padahal belum tentu demikian. Mereka yang rasional ini sering dicap Ahoker, Jokower, atau bahkan Anieser (cukup jarang terjadi).

Hal yang lebih mengkhawatirkan dari kelompok yang terpolarisasi secara tajam ini adalah Post Truth. Post Truth ditandai dengan bangkitnya kesadaran beragama dan juga nasionalisme yang ditujukan untuk kekuasaan politik. Di era ini emosi dan personal beliefs yang lebih dipercaya sebagai kebenaran daripada kenyataan sebenarnya yang ada di lapangan sehingga sangat sukar untuk berdiskusi karena mereka menganggap bahwa emosi dan beliefs merekalah kebenaran. Beliefs menjadi penghalang karena cenderung sakral dan siapa yang berupaya menggugat bisa dicap antiagama dan dikenai tuduhan pelecehan agama.

Politikus atau siapapun yang suka memanfaatkan kesempatan tahu benar situasi ini dengan mencampurkan unsur beliefs atau kepercayaan (tidak hanya kepada agama, tetapi juga kepada individu tertentu terutama pemimpin kelompok) ke dalam politik untuk merebut kekuasaan lebih cepat.

Peranan kelompok juga penting untuk terus memupuk emosi dan meningkatkan beliefs ini dengan berbagai cara, misalnya peredaran berita palsu, fabrikasi fakta dan tindakan offline maupun offline guna menentang mereka yang mencoba menggugat kebenaran yang mereka yakini.

Dengan situasi yang cenderung kacau dan rumit tersebut, Pilkada DKI tahun 2016 menjadi pilkada paling brutal yang pernah ada di Indonesia. Pilkada DKI 2016 ini terus berlanjut di tahun 2017 dan menyisakan trauma yang mendalam.

Merlyna Lim dalam Freedom to Hate: social media, algorithmic enclaves, and the rise of tribal nationalism in Indonesia menyatakan:
There is no doubt that sectarianism and racism played significant roles in the election and social media which were heavily utilized during campaign, contributed to the increasing polarization among Indonesian.

Kita pasti masih ingat demonstrasi besar yang terjadi di Jakarta sepanjang berlangsungnya Pilkada DKI. Dua yang cukup fenomenal adalah aksi 411 dan 212 yang spiritnya sampai sekarang masih terus ditularkan agar kelompok ini terus terjaga untuk berbagai pilkada lainnya di provinsi di Indonesia tahun 2018 dan Pemilu serentak tahun 2019 nanti dengan ide yang kurang lebih sama, yaitu isu berbasis SARA.

Sepanjang tahun 2017, pertarungan di media sosial terlihat nyata antara dua kubu yang saling berseberangan. Ada kubu Anies yang didukung oleh Islam garis keras semacam dan kubu Ahok yang tak cukup punya dukungan dari ummat Islam. Hal yang cukup mengejutkan adalah meskipun Kubu antiAhok atau Anies  memunculkan kandidat gubernur dan wakil gubernur yang notabene liberal dan lulusan AS, kandidat ini  cenderung welcome dengan isu SARA yang diusung selama pilkada DKI yang digunakan untuk mendulang suara pemilih beragama Islam. Tak tahu setuju atau tidak, namun mereka mengambil keuntungan dari kampanye berbasis SARA yang dilakukan terhadap Ahok.

Terkait aksi 411 dan 212 ini Merlyna Lim menyatakan:
These demonstrations also went live on social media. The 414 and 212 protests were discussed, commented on, supported, praised, opposed, and ridiculed, prior, during, and after these events. Using hashtags such as #411, #aksi411, #212, #aksi212, #aksibelaIslam (action to defend Islam), #aksibelaQuran (action to defend Quran), #aksidamai (peaceful action), #tangkapAhok (arrest Ahok), and #penjarakanAhok (jail Ahok), supporters and participants of the rallies posted texts, memes, photos, and videos on social media.
Meanwhile, supporters of Ahok also used social media to claim their version of nationalism and accuse the protesters of being simply racist haters whose values were incompatible with NKRI, the Unitary State of the Republic of Indonesia. Some hailed Ahok as a saint and a martyr who was victimized by the politicization of religion. Others upheld him as a hero of pluralism and called the protests attacks on the spirit of the nation as embodied in the national motto “unity in diversity” (Bhinneka Tunggal Ika). The supporters of Ahok labeled their opponents Arabized (keArab-Araban), un-Indonesian, radical, fundamentalist, intolerant, and even terrorists.
Tema yang diusung dalam demostrasi besar-besaran tersebut jelas menunjukkan bahwa isu agama dan ras digunakan oleh kelompok pendukung Anies. Situasi panas ini tidak berhenti setelah Pilkada DKI usai di mana kubu Anies Baswedan dengan dukungan elemen masyarakat Islam dan simbol-simbol Islam memenangkan pertarungan dan Ahok kemudian dipenjara karena tuduhan blasphemy.

Selama Pilkada DKI tersebut saling serang dengan opini saling meniadakan dari kedua kubu adalah hal yang biasa. Namun agak berbeda dengan kubu Anies, kubu Ahok yang tak didukung oleh isu agama dan Ahok sendiri merupakan minoritas pangkat dua (keturunan China dan sekaligus Kristen) menderita lebih banyak. Situasi yang cenderung panas memunculkan tindakan berikutnya, yaitu Persekusi.

Menurut MT dalam Catatan Akhir Tahunnya:
Berdasarkan catatan SAFENET, 100 kasus persekusi terjadi sepanjang tahun 2017 dan dari sebanyak kasus tersebut, para pelaku persekusi hingga hari ini belum terungkap apalagi dipidanakan sekalipun apa yang mereka lakukan sudah jelas melanggar hukum. Mungkinkah aparat penegak hukum negeri ini takut sampai terkencing-kencing jika harus menertibkan kelompok yang demen melakukan persekusi?
Persekusi dimulai ketika seseorang memiliki dan memposting opini yang berbeda dengan kelompok mainstream di media sosial. Opini tersebut tentu saja berseberangan dengan kelompok mainstream tersebut dan kadang menggugat kebenaran, kesucian pemimpin  atau tindakan yang dilakukan oleh kelompok tersebut.

Kathleen Azali dalam Fake News and Increased Persecution in Indonesia mengatakan:
Between January and June 2017, 59 cases of persecution against alleged critics of Islam and the Islamic Defenders Front (FPI) were reported in Indonesia.In May and June 2017, a 40-year-old Muslim woman working as a state hospital physician in West Sumatra had her workplace and home stormed by dozens of alleged members of the FPI (Front Pembela Islam/Islam Defender Front). She was threatened and intimidated—accused as an ulama (religious leader)-slandering pelacur (whore) and a Communist—for posting a status on Facebook that criticised Habib Rizieq Shihab, leader of the FPI. For safety reasons, legal aid moved her to Jakarta. A 15-year-old boy of Chinese descent in Jakarta had his house stormed at midnight, was dragged outside and beaten for making comments insulting Rizieq and the FPI, and then forced to sign a statement of apology by a group of people claiming to be members of the FPI. The family’s legal press release stated that there were more than 100 people involved, and that the family had been ejected by their landlord for fear of his house being stormed again. The boy’s mother, a widow, lost her job because her workplace had similar fears.

Kathleen Azali memberikan empat tahap persekusi, yaitu
(1) tracing and listing social media accounts;
(2) publishing instructions to hunt listed targets along with their personal data (including photographs and home or workplace addresses);
(3) storming the target’s workplace or home;
(4) taking and reporting the target to the police using the very same ITE Law

Upaya persekusi yang dimulai dari perbedaan opini di media sosial ini sangat membuat jengah. Ada kecenderungan polisi seperti membiarkan persekusi tersebut

MT mempertanyakan hal ini dengan mengatakan:
Tidak, pertanyaanku bukan menyalahkan  Aparat Penegak Hukum. Hanya mempertanyakan, kenapa tak satupun mereka berani menangkap para pelaku persekusi. Bahkan dalam beberapa tayangan foto/video persekusi, Aparat malah seperti menemani para persekutor dengan alasan untuk menjaga ketertiban.  
Ini tentu mengkhawatirkan. Ada target yang hendak dipersekusi, penegak hukum bukannya melindungi malah menemani pihak yang melakukan persekusi. Bukannya persekusi melanggar hukum?

Sekali lagi saya khawatir tindakan persekusi ke depannya, seiring dengan terus memanasnya media sosial kasus persekusi akan terus bertambah. Tidak adanya tindakan pencegahan atau bahkan hukuman bagi pelaku persekusi karena mereka berasal dari kelompok penekan yang yang ditakuti makin membuka tindakan persekusi ini.

Sebagaimana kita ketahui, media sosial adalah wadah untuk berpendapat, beropini secara bebas selagi tidak melanggar hukum dan norma yang berlaku. Opini ini seharusnya dilawan dengan opini, bukan dengan persekusi. Namun bagi kelompok tertentu, persekusi merupakan jawaban atas opini yang sering mereka sebut sesat atau menistakan pemimpin mereka.

Kekhawatiran meningkatnya jumlah kasus persekusi ini bukan sesuatu yang mengada ada. Ada beberapa faktor yang membuat persekusi merupakan pilihan bagi beberapa kelompok penekan yang menjadi mainstream di media sosial. Kathleen Azali memberikan beberap clue penting terkait hal ini. Pertama adalah:
throughout Indonesia’s modern history the distinction between state and non-state actors carrying out legitimate violence and coercion has not been clear cut. Extortion and harassment by street-level thugs, gangs, and militias—often lumped together as preman—are a ubiquitous part of everyday life.

Di sepanjang sejarah modern Indonesia, perbedaan antara aktor negara dan non-negara yang melakukan kekerasan dan pemaksaan yang sah belum diputuskan secara jelas. Pemerasan dan pelecehan oleh preman jalanan, geng, dan milisi atau seringkali disebut sebagai preman adalah bagian mana-mana di kehidupan sehari-hari. Kini bentuk-bentuk preman setengah resmi ataupun resmi dengan berbagai nama organisasi tumbuh subur di Indonesia dan bisa melakukan persekusi kapan saja terhadap target yang merek tetapkan.

Kedua:
indicate that the FPI members and sympathisers have grown savvy in using digital media to systematically identify and harass those they disagree with, both online and offline.

Harus diakui bahwa kelompok-kelompok penekan kini makin sering bermain media sosial. Tujuannya tentu saja, selain merekrut anggota baru tanpa batas wilayah, mereka juga bisa mengidentifikasi siapa-siapa yang akan jadi target persekusi berikutnya. Keberadaan di media sosial ini sangat menguntungkan bagi mereka karena memiliki banyak manfaat. Selain mobilisasi anggota, kampanye, perekrutan dan sekaligus membina semangat anggota, kelompok penekan bisa mengidentifikasi lebih banyak target persekusi.

Ketiga adalah peredaran berita palsu dan kondisi new media yang cenderung mencari sensasi dan keterkenalan sesaat bisa memicu makin banyaknya korban persekusi ini di tahun 2018. Kathleen Azali mengatakan bahwa:
Fake news’ is being used by these groups to aggravate sectarian tensions and feelings of alienation.

Tentu saja tidak hanya berita palsu yang bisa memicu lebih banyak persekusi. Fabrikasi fakta, rumor/desas-desus berbau SARA akan berakibat memicu persekusi oleh kelompok yang selama ini tidak memperoleh hukuman setimpal atas persekusi yang mereka lakukan. Isu agama yang sangat sensitive (terutama) membuat aparat penegak hukum bimbang dalam menentukan langkah, baik pencegahan maupun penindakan terhadap kelompok atau individu yang berafiliasi dengan kelompok penekan yang melakukan persekusi.

Kita jelas khawatir. Tahun 2018 adalah tahun politik di mana sangat banyak pilkada di berbagai daerah. Kekhawatiran makin banyaknya persekusi bisa menjadi kenyataan di tahun ini. Hal lain yang patut dikhawatirkan juga adalah situasi media sosial Indonesia yang akan tetap panas, penuh dengan ujaran kebencian, hoax, fitnah dan konten sejenis lainnya. Ada kecenderungan berbagai kelompok akan terus menggunakan hoax dan ujaran kebencian sebagai alat untuk mengalahkan lawannya.
Semoga tak terjadi lebih banyak lagi persekusi!


Thursday, December 14, 2017

Ke Bengkulu Ngopi Sambil Menikmati Sunset dan Jejak di Fort Marlborough

Welcome to Bengkulu
Ke Bengkulu untuk ngopi?

Bengkulu cukup dekat dari Jakarta, hanya memakan waktu 50 menit jika menggunakan pesawat terbang dari bandara Sukarno-Hatta ke bandara Fatmawati Sukarno di Bengkulu. Kota Bengkulu berada di depan samudra Indonesia. Cuaca sepertinya cenderung agak panas layaknya kota-kota di pinggir pantai di mana suhu berkisar sekitar 30 derajat celsius. 

Kota Bengkulu juga rawan gempa. Dari percakapan dengan supir yang mengantar ke mana-mana di Bengkulu dapat saya simpulkan bahwa masyarakat kota Bengkulu sudah sangat terbiasa dengan gempa sehingga bangunan pun tak ada yang terlalu tinggi. Hotel misalnya, cuma 6 lantai.

Demikianlah pada hari Senin (4/12) saya menjejakkan kaki di Bengkulu. Pertama tentu di bandara Fatmawati Sukarno yang disebut sebagai bandara internasional. Bandara ini cukup bagus, fasilitas lengkap dan tentu tak serumit bandara Sukarno-Hatta. Kalau turun dari pesawat langsung menuju ruang kedatangan dan bisa langsung keluar karena bangunannya cukup kecil dan ringkas.

Keluar dari bandara, hal pertama yang terasa tentu saja lapar. Berhubung tim yang ikut ke Bengkulu ini sudah bosan makan ikan atau kuliner lokal di berbagai daerah, pilihan jatuh ke kuliner Padang. Rumah makan Embun Pagi menyediakan kuliner Minang yang alang-kepalang lengkapnya. Menu makanan dengan santan kental khas Minang disajikan di atas meja panjang dan tak lama kemudian perut pun kenyang. Harga menu makanan di sini sangat bersahabat.





Setelah kenyang perjalanan dilanjutkan menuju hotel. Hotel yang dipilih untuk bermalam dan melakukan berbagai kegiatan selama di Bengkulu adalah Hotel Santika. Hotel ini cukup bagus, punya ruang pertemuan besar dan kamar yang cukup banyak dan hanya 6 lantai. 

Setelah beristirahat beberapa menit, tugas pertama datang, yaitu hadir di talk show di sebuah radio lokal di Bengkulu. Radio ini berada di Universitas Bengkulu yang sangat luas.

Setelah siaran di radio, pertanyaan yang muncul mau makan malam di mana? Sekilas saya melihat bahwa sejauh mata memandang ada dua kuliner yang cukup punya nama di Bengkulu, yaitu Palembang dan Minang (Padang). Di banyak tempat sepertinya rumah makan Padang merupakan pilihan banyak orang, di mana ketika kami pertama kali datang di Bengkulu, harus keliling terlebih dahulu untuk bisa menemukan rumah makan Padang yang masih cukup punya persediaan untuk makan di pukul 3 sore. Barulah pada pilihan ketiga, yaitu rumah makan Embun Pagi bisa makan siang, dua rumah makan sebelumnya sold out dagangannya. Beberapa rumah makan Padang dengan menu khas seperti Dendeng Batokok sudah habis sejah jam 12 siang. 

Oleh karena telah makan kenyang di sore hari tadi, banyak yang menolak yang makan besar lagi di malam hari. Namun pilihan yang tersedia sedikit karena anggota tim tidak mau lagi kuliner lokal atau ikan laut sehingga pilihan jatuh ke Sate Padang.

Sate Padang Ita Teben namanya. Berada di jalan Cendrawasih, Kota Bengkulu, Sate Padang Ita Teben ini menyajikan sate khas Padang Panjang dengan kuah kuning dan daging sapi yang renyah. Juga tersedia sate ayam yang sebenarnya jarang disediakan sate khas Padang lainnya.

Di Sate Padang Ita Teben ini juga tersedia Teh Telor khas Minang yang cukup enak. 



Sate padang nya juga ena

Teh Telor ini enak
Di hari kedua di Bengkulu, teman dalam tim masih penasaran dengan menu Dendeng Batokok. Hal yang cukup membuat kesal adalah bahwa baru sekitar pukul setengah dua siang, menu Dendeng Batokok ini sudah habis di sebuah restoran Padang yang jadi favorit orang Bengkulu untuk makan siang. Jadilah kami harus memutar untuk mencari menu Dendeng Batokok ini yang akhirnya bisa dinikmati di Rumah Makan Iko Nan 2 di jalan Kapuas Raya. 

Rumah makan ini tidaklah wah atau punya gedung yang representatif. Namun menunya cukup banyak, khusus dendeng batokoknya enak.

Thursday, November 30, 2017

Naik Kereta Api Argo Parahyangan Ekonomi Premium Tuuut Tuuut Tuuut Siapa Hendak Turut Dari Bandung ke Jakarta

Gerbong Kereta Argo Parahyangan
Ekonomi Premium
Satu hal yang saya senangi kalau bepergian, baik untuk mengurus urusan ini maupun urusan itu adalah naik kereta api. Cinta saya ke kereta api sebenarnya sudah lama, tetapi selama itu pula bertepuk sebelah tembok, eh. Ibarat kata syair lagu Dewa:

baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan ...
Dulu ketika masih SMP di sudut kota Padang Panjang, setiap cabut dari jam pelajaran yang saya lakukan adalah mengejar kereta yang membawa batubara dari Sawahlunto yang lewat di belakang sekolah. Kadang saya sampai di Kayu Tanam, kadang hingga Batu Taba atau paling dekat ke stasiun di Padang Panjang yang kini sudah tak ada. Jalur kereta api itupun mungkin kini sudah tak ada, sedih tentunya.

Sekitar tahun 1999 setiba di Jakarta pertama kali, sering naik kereta ekonomi yang nauzubillah sumpeknya. Penumpang berjejalan, pedagang, pengamen dan pengemis tumplek jadi satu dalam gerbong yang begitu pengab. Hanya ada AC alam.

Cinta kepada kereta api benar-benar tak berbalas. Waktu itu rasanya ingin naik kereta Pakuan, namun sayang duit pun tak punya. Kereta ekonomi terlalu tidak manusiawi untuk dinaiki.

Namun kini semua itu cerita lalu. 

Kereta api kini telah membalas cinta saya dan banyak cinta pengguna setia mereka lainnya. Kalau kini Anda naik Commuter Line dari Bogor menuju Tanah Abang atau Stasiun Kota, kereta apinya bersih, mulus dan terawat dan satu lagi yang sangat penting harga tiketnya sangat terjangkau. 

Hal yang patut juga disyukuri adalah bahwa perbaikan layanan kereta api tersebut tidak hanya di Commuter Line. Kereta api jarak jauh seperti ke Jawa atau ke Bandung yang dulu sudah cukup baik kini semakin baik. Beberapa waktu lalu saya sempat ke Purwokerto dengan kereta api eksekutif. Kereta api inipun sangat bagus, layanan ramah dan harga tiketnya terjangkau.

Nah kali ini yang akan saya ceritakan adalah pengalaman naik kereta api Argo Parahyangan Ekonomi Premium dari Bandung ke Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Sebenarnya ingin sekali, baik berangkat maupun pulang menggunakan kereta api. Namun untuk memesan kereta api jurusan ke Bandung tidak tersedia cukup waktu karena berbagai kendala. Pada akhirnya saya harus naik travel pagi-pagi sekali menuju Bandung.

Saya sampai di sebuah kampus di Cibiru, Bandung sekitar 08.30 WIB pagi. Ada pekerjaan yang tak bisa saya sembunyikan (eh) yang harus diselesaikan di sana. Bertemu adik-adik mahasiswa Informatika yang bikin gemez.

Pekerjaan tersebut selesai sekitar pukul 12.30 dan saya memutuskan untuk segera kembali. Pilihan kali ini harus dijalankan, yaitu menggunakan kereta api menuju Jakarta. Persoalannya saya belum booking tiket dan mencoba mencarinya di Google sudah banyak yang habis. 

Setelah berdiskusi sebentar diputuskan saya menumpang sepeda motor agar bisa mencapai stasiun Bandung sebelum kereta api pukul 2 berangkat dan tentunya harus dapat tiket terlebih dahulu. 

Bandung yang cukup macet dari arah Cibiru itu akhirnya harus saya lawan dengan menumpang sepeda motor dan sekitar pukul 13.30 sampai di stasiun Bandung yang waktu itu tidak terlalu ramai. Lihat-lihat loket penjualan, ternyata cukup banyak calon penumpang yang beli tiket Go Show Argo Parahyangan Ekonomi Premium yang menurut saya adalah tiket yang dibeli on the spot sesaat sebelum kereta berangkat. Harga tiketnya Rp90.000 untuk kelas ekonomi premium.

Apa itu kelas ekonomi premium? Sampai saat menuliskan artikel ini saya tak tahu betul artinya dan tak juga tak begitu peduli. Hal yang menjadi perhatian adalah bahwa kelas ini sangat bagus, ada 80 kursi dalam satu gerbong. Jarak antarkursi untuk ukuran badan saya yang kecil masih sangat bagus dan sandaran kursinya bisa diatur kemiringannya.

Kursi yang bisa diatur kemiringan sandarannya

Lorong antarkursi yang lebar

Tempat menyimpan bagasi 
Kursi tersebut disusun dua-dua dan dipisahkan oleh sebuah lorong untuk keluar masuk yang cukup lebar. Gerbong bersih dan ada toiletnya, AC dan tidak ada selimut (tentunya). Tersedia juga lampu baca, colokan listrik untuk mengecas smartphone. Petugas kebersihan berkeliling mengumpulkan sampah sehingga kebersihan gerbong tetap terjaga.

Bisa dikatakan bahwa PT KAI cukup memperhatikan kenyamanan penumpang meskipun kursi yang diduduki ini agak terasa keras dan mungkin tidak akan cocok untuk perjalanan lebih dari 4 jam karena akan membuat (maaf) pantat cukup menderita. Namun tetap apresiasi untuk PT KAI dengan kelas ekonomi premium ini karena ada pilihan yang mampu dijangkau dengan layanan yang setara harga yang dibayar penumpang.


Jarak antar kursi depan dan belakang
cukup bagus
Jika penumpang ingin membeli makanan kecil, KAI juga menyediakan layanan ini, termasuk minuman tentunya. Saya rasa kelas ekonomi premium ini sangat bagus karena harganya terjangkau, layanannya bagus dan tentunya, tidak ada delay keberangkatan seperti kisah-kisah naik kereta api terdahulu.

Sepanjang perjalanan yang selama 3 jam 35 menit menuju stasiun Gambir saya memimpikan moda kereta api ini menjadi pilihan penumpang karena kemampuannya membawa sekian banyak orang dalam satu kali perjalanan. Pilihan menggunakan kereta api merupakan pilihan yang sangat logis mengingat makin padatnya jalan raya, sesak oleh mobil yang pertumbuhannya setahun begitu tinggi.

Tentu membangun moda kereta api di banyak wilayah butuh investasi yang cukup besar. Namun setidaknya, semakin banyak tujuan yang bisa dilayani oleh kereta api, akan semakin baik. Mulai akhir November ini sudah tersedia kereta bandara menuju Bandara Soekarno-Hatta. Ini sebuah keputusan yang sangat tepat mengingat begitu macetnya jalan tol menuju bandara.

Sudah saatnya pula masyarakat untuk lebih memilih menggunakan angkutan massal seperti kereta api. Sudah tidak zamannya lagi menggunakan mobil pribadi yang selalu terkena macet, sementara kereta api ini antimacet. Bila pesawat udara hanya bisa membawa maksimal 100-150 lebih penumpang dalam satu kali perjalanan, kereta api bisa membawa sekitar 400 hingga mungkin 500 penumpang dalam sekali perjalanan meskipun tentu waktu tempuhnya berbeda jauh. Tinggal memperbaiki teknologi, membangun infrastruktur baru bagi kereta api cepat agar kereta api semakin menjadi pilihan moda transportasi.

Wednesday, November 22, 2017

Hands On BlackBerry KEYone, Smartphone Pecinta Sejati BlackBerry

BlackBerry KEYone
Kangen BlackBerry? Pecinta sejati BlackBerry? Ingin merasakan lagi masa-masa menggunakan keyboard fisik yang begitu mengasyikkan sebelum dilibas on screen keyboard di Android dan iPhone? Kamu punya kesempatan untuk mencicipi kembali masa-masa itu dengan BlackBerry KEYone dari BlackBerry Merah Putih di Indonesia.

Sejenak ke belakang, mengapa bukan BlackBerry sendiri yang menjual BlackBerry KEYone di Indonesia? Karena brand BlackBerry untuk pasar Indonesia ada pada BlackBerry Merah Putih. Sejatinya tentu BlackBerry KEYone ini dibuat oleh BlackBerry, namun untuk Indonesia dijual oleh BlackBerry Merah Putih.

Berbicara BlackBerry KEYone, sebenarnya smartphone ini bukan smartphone yang baru di-launching. Untuk pasar Amerika contohnya, KEYone sudah ada sejak bulan Mei 2017 yang lalu. Namun, pasar Indonesia, meskipun terlambat tetap dirilis mengingat masih banyak pecinta BlackBerry di Indonesia.

BlackBerry KEYone menunjukkan filosofi BlackBerry dalam membangun sebuah smartphone. Terlihat rancang bangun yang bagus, kokoh dan tak mudah jatuh, dan so pasti sebuah keyboard fisik yang semakin smart diikutkan oleh BlackBerry sebagai penanda penting kehadiran mereka sekaligus pembeda dengan vendor Android lainnya. Paling tidak itu yang saya rasakan ketika melakukan hands on terbatas dengan BlackBerry KEYone.

Hands on terbatas ini saya lakukan beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting dari saya terhadap BlackBerry KEYone ini. Berikut ini saya uraikan satu per satu.

Spesifikasi

1. Fully Android™
2. Access to over a million apps on Google Play
3. 4.5” scratch-resistant display
4. Convenience Key
5. 8MP front camera
6. 12MP auto-focus large pixel rear camera
7. Fingerprint Sensor
8. BlackBerry Security software
9. 3505 mAh battery

BlackBerry KEYone dengan keyboard fisik

Layar FHD seluas 4,5 inchi

Tampilan shortcut
Secara spesifikasi, BlackBerry KEYone tidaklah istimewa. Dengan prosesor Snapdragon 625, RAM 4GB, ROM 64GB yang bisa ditambah hingga 2TB (dengan micro SD) KEYone setara dengan beberapa vendor Android yang menghasilkan Android untuk harga sekitar 3 sampai 4 jutaan. Namun KEYone memiliki harga 2 sampai 3 kali harga smartphone Android dengan prosesor yang sama. Kesimpulan saya adalah BlackBerry tidak menyasar pengguna yang price sensitive, mereka menyasar kelas brand sensitive terutama mereka di kalangan bisnis. Untuk kalangan bisnis, BlackBerry adalah andalan karena mampu menopang pekerjaan dan bisnis lebih baik.

Tagline BlackBerry KEYone BE BOLD BE DIFFERENT mempertegas hal tersebut. Pengguna BlackBerry KEYone bangga dan berbeda dibandingkan dengan pengguna smarphone lainnya, karena ini BlackBerry. Mungkinkah tagline ini akan bisa bekerja dengan baik nantinya? Kita tunggu nanti.

Desain

1. tinggi 149.3 mm / 5.8 in
2. lebar 72.5 mm / 2.8 in
3. ketipisan 9.4 mm / 0.37 in

Bila dulu handset BlackBerry terkesan tebal, gendut dan tak menarik secara desain, BlackBerry KEYone memberikan hal yang berbeda. Berbentuk persegi dengan ketipisan yang lumayan bagus, KEYone adalah masterpiece secara desain dari BlackBerry. Meskipun terkesan agak berat dibandingkan dengan smartphone lainnya yang cenderung makin ringan, BlackBerry KEYone bisa dikatakan keren. Penempatan keyboard fisik di bagian bawah dengan back light sangat membantu ketika melakukan pengetikan. Namun tentu ada learning curve. Setelah hampir 5 tahun tidak mengetik di keyboard fisik di sebuah smartphone, terasa agak canggung di awal menggunakannya. Ada beberapa hal yang harus dipelajari kembali dan ini butuh waktu hingga bisa lancar menggunakannya.

Screen/layar BlackBerry KEYone
1. kerapatan 433 PPI
2. resolusi 1620 x 1080 IPS LCD
3. luas layar 4.5” diagonal
4. aspect ratio 3:2

Di atas keyboard fisik ini tersedia layar seluas 4,5 inchi yang bagus dengan resolusi full HD dan scratch resistant yang artinya anti gores. Layar yang hanya 4,5 inchi ini tentu lebih kecil dibandingkan dengan smartphone Android atau iPhone yang makin borderless. Namun seberapa besar layar yang sebenarnya kita inginkan? BlackBerry KEYone sepertinya tidak menghiraukan layar besar di smartphone lainnya karena itulah mereka membenamkan keyboard fisik di bawah layar sehingga mengurangi space untuk layar.

Kamera terlihat agak besar, berada di sudut kiri

Karet bagian belakang meningkatkan grip
Kehilangan layar yang besar ini saya rasa bisa dikonversikan kepada produktivitas yang akan diperoleh dengan keyboard fisik. So, untuk menonton video terasa kurang bagus, bermain game juga, namun seberapa banyak business man/business woman yang menonton video dan bermain games?

Di bagian belakang, BlackBerry KEYone ini dilapisi oleh karet yang sangat bagus untuk meningkatkan handling terhadap samrtphone. Dengan kontur tertentu, dipercaya BlackBerry KEYone ini tidak akan mudah meluncur dan lepas dari tangan pengguna. Saya merasakan grip-nya sangat baik, namun demikian memang terasa agak berat.

Cek dulu hands on BlackBerry KEYone ini!




Sotfware

BlackBerry KEYone berbasis Android 7.1.1 Nougat yang bisa di-upgrade nantinya ke Android Oreo (8.0). Menurut BlackBerry, mereka cukup rajin memberikan security patch dan handset yang saya genggam memiliki security patch di 15 September. Selayaknya smartphone Android lainnya berbasis Nougat, tidak ada yang berbeda di BlackBerry KEYone. Bila dilihat lebih jauh, bisa dikatakan mendekati versi Android standar tanpa kustomisasi yang banyak seperti yang digunakan Samsung pada Galaxy S misalnya atau MIUI dari Xiaomi.

Software ini memakan cukup banyak ROM yang disediakan, sekitar 13GB sehingga mungkin ROM yang tersedia dari 64GB sekitar 50GB saja.

Namun demikian BlackBerry menyematkan banyak shortcut di layar yang bisa diklik untuk melakukan berbagai kegiatan seperti mengirim email, mengirim SMS dan lainnya. Hal yang lebih membantu lagi, tersedia shortcut di keyboard yang bila ditekan akan memunculkan task tertentu. Saya belum sempat mengeksplorasi lebih jauh shortcut ini mengingat keterbatasan waktu.

Oleh karena baru menggunakan BlackBerry lagi, saya rasakan cukup banyak lag yang terjadi ketika saya mencoba berpindah-pindah dari satu tugas ke tugas lainnya ketika menggunakan BlackBerry KEYone. Tentunya perlu pembiasaaan kembali, namun sejauh mencoba sebenarnya cukup mudah untuk menggunakan KEYone ini.

Kamera

Dengan kamera belakang 12 megapiksel dan kamera depan 8 megapiksel, BlackBerry KEYone tidaklah istimewa. Beberapa foto yang saya coba ambil menujukkan hasil yang cukup baik. Hal ini sudah sangat cukup karena memang tidak ditujukan bagi pengguna yang senang melakukan eksplorasi kamera. Foto yang dihasilkan bagus, bahkan di kondisi kurang cahaya fotonya masih bagus. Untuk selfie hasilnya biasa-biasa saja. Sekali lagi penggila selfie tak perlu menyinyiri BlackBerry KEYone karena memang bukan untuk selfie.

Kamera BlackBerry KEYone juga menyajikan pengaturan manual yang cukup detai seperti ISO yang sampai 10000. Selain itu bisa mengambil video 4k dan terdapat EIS untuk menstabilkan hasil video meskipun tidak bisa digunakan pada pengambilan video 4k.

Baterai

Dengan baterai berkekuatan 3505 mAh, BlackBerry KEYone merupakan BlackBerry dengan daya terbesar yang pernah ada. Daya sebesar itu menjanjikan ketahanan 26 jam pemakaian. Plus dengan Quick Charge 3.0 baterai bisa terisi hingga 50% dalam waktu hanya 36 menit. Hal ini tentunya perlu dibuktikan dalam pemakaian nanti. Namun beberapa video di YouTube bisa dijadikan bukti di mana on screen time yang mencapai 7 jam.

Demikian beberapa catatan saya setelah hands on BlackBerry KEYone. Oh, ya BlackBerry KEYone sudah bisa dipesan via Lazada dan beberapa online market lainnya seperti Dino Market, JDid dan banyak lainnya dengan harga Rp8.999.000. Kaget dengan harga tersebut? Tidak perlu kaget karena ini BlackBerry KEYone.

Last but not least BlackBerry mengatakan bahwa mereka sudah memenuhi TKDN 30% software dan hardware sehingga bisa dijual di Indonesia. So, yang ingin memiliki BlackBerry KEYone segera pre-order saja ya!

Monday, November 13, 2017

Twitter Tak Butuh 280 Karakter

Twitter merupakan media sosial dalam kategori Hidup Segan Mati Tak Mau. Berbeda dengan Facebook yang digunakan hampir 2,2 miliar penduduk bumi, Twitter cukup bahagia karena bisa digunakan sekitar 300 jutaan pengguna saja. Berbeda dengan Google Plus yang juga bisa dikategorikan ke dalam kategori yang sama, Twitter lebih crowded dan bising.

Sudah sejak lama Twitter disibukkan oleh permasalahan mereka sendiri. Media sosial ini dari semula abai terhadap aturan yang mereka buat sendiri. Mereka menjunjung tinggi free speech sehingga tak mau repot dan tak mau disibukkan oleh ekses yang timbul dari free speech yang dipakai secara kebablasan oleh penggunanya sendiri.

Free speech yang diagungkan secara berlebihan oleh Twitter tersebut memakan banyak pengguna dan bahkan Twitter itu sendiri. Santer terdengar bahwa cukup banyak pihak yang ingin mengakuisisi layanan Twitter, satu-satunya layanan berbasis Tweet dan tidak ada pesaing dekat yang mampu mengusik. Namun mereka mundur teratur karena tingginya tingkat penyalahgunaan layanan di Twitter, termasuk harassment, bullying, ancaman dan lainnya.


Karena tidak kunjung laku, Twitter tentu berupaya memperbaiki diri. Memberikan layanan lebih baik bagi penggunanya, menegakkan aturan dan terutama menjadikan layanan Twitter lebih mudah digunakan oleh orang kebanyakan. 

Salah satu upaya Twitter terbaru adalah meningkatkan jumlah karakter yang bisa di-tweet-kan pengguna dua kali lipat, dari sebelumnya 140 (link, foto @ handle tidak dihitung) menjadi 280 karakter. Uji coba sudah dilakukan sejak bulan September yang lalu dan sudah resmi bisa digunakan oleh semua pengguna di awal bulan November ini.

Namun persoalan di Twitter bukanlah kekurangan karakter untuk di-tweet. Dengan memberikan 280 karakter Twitter sebenarnya ingin bersembunyi dari tanggung jawab mereka karena mengagungkan free speech. Untuk membuktikan hal ini saya mencoba melakukan polling di Twitter (meskipun legitimasi polling di Twitter tentu tak sebaik polling lainnya) yang diikuti lebih dari 1200 pengguna. Hasil polling tersebut adalah sebagai berikut:

Hasil polling di Twitter
Hasil polling tersebut menunjukkan bahwa banyaknya akun palsu merupakan masalah penting yang harus diselesaikan Twitter daripada menambah jumlah karakter menjadi 280. Keberadaan akun palsu, baik yang menyamar menjadi orang tertentu atau bot cukup meresahkan di Twitter. Mereka biasanya anonim dan bersembunyi dibalik nama tertentu dan ada yang sengaja diternakkan untuk diperjualbelikan.

Urutan kedua yang butuh perhatian serius dari Twitter adalah Hate Speech dan Hoax. Ini persoalan serius yang terus menghantui Twitter karena memang tidak ditangani sejak semula. Free speech kebablasan  yang dianut Twitter membuat hate speech tak terbendung. Sementara hoax merupakan persoalan lama, namun dimanfaatkan banyak orang untuk melakukan disinformasi yang juga kurang diperhatikan oleh Twitter.

Saya rasa, meskipun polling tersebut hanya diikuti seribuan voters, namun jelas terlihat penambahan karakter tweet bukan sesuatu yang sangat dibutuhkan. Persoalan Twitter bukanlah kekurangan tweet, justru dengan 140 karakter sangat banyak inovasi yang dilakukan pengguna (meskipun kadang tak nyambung dengan kaidah berbahasa yang baik dan benar). 

Sudah cukup lama Twitter bersembunyi dan tidak mau bertanggung jawab atas ekses layanan mereka. Bahkan ketika mereka mengajak penggunanya untuk melaporkan pelanggaran layanan yang terjadi, mereka terlalu tinggi hati untuk memperbaiki kesalahan dan membiarkan hal tersebut berlarut-larut demi statistik pengguna yang lebih baik, seperti banyaknya RT, komentar dan engagement. Apa salahnya Twitter lebih responsif, lebih mau melaksanakan keputusan yang mereka buat sendiri tanpa banyak memikirkan efek terhadap jumlah pengguna misalnya dengan menghapus akun yang dilaporkan yang sudah diakui sendiri oleh Twitter melakukan pelanggaran TOS.

Memang ada usaha Twitter untuk memperbaiki layanannya, namun usaha ini cenderung tidak serius, tidak langsung diterapkan dan terlalu memakan waktu sehingga layanan Twitter terus-menerus dibombardir oleh hate speech, misalnya. Belum lagi satu masalah selesai datang lagi masalah lain, misalnya soal centang biru yang semena-mena diberikan kepada anggota neoNazi.

Jelas terlihat layanan Twitter hidup segan mati tak mau. Hidup segan karena tak ada upaya menyeluruh untuk memperbaiki layanan, sementara mati pun bukan pilihan karena ada potensi pendapatan yang diharapkan. Malah membuat kebijakan baru yang jauh dari permasalahan yang ada. Yang diharapkan pengguna jauh sekali dengan apa yang diberikan Twitter. 

Sudahlah .....


Wednesday, November 1, 2017

Karyawan Samsung Electronics Indonesia Perbaiki SDN Sukasari 01 Rumpin Bogor


Cukup banyak perusahaan yang memiliki komitmen memajukan pendidikan di Indonesia. Salah satu perusahaan tersebut adalah Samsung Electronics Indonesia. Baru-baru ini sebagai wujud kepedulian terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia, Samsung Electronics Indonesia memberikan bantuan perbaikan bangunan Sekolah Dasar Negeri Sukasari 01, Rumpin, Bogor. 

Bantuan perbaikan bangunan ini diberikan melalui program Love and Care, dalam rangka memperingati Global Volunteer Month, sebuah program tahunan aksi sosial karyawan Samsung di seluruh dunia di mana karyawan dengan sukarela mendedikasikan waktunya untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Tahun ini, program Love and Care dari Samsung Electronics Indonesia mengajak karyawan melakukan perbaikan sekolah dan menikmati permainan edukasi bersama dengan murid-murid di SDN Sukasari 01, Rumpin, Bogor, Jawa Barat.

Pilihan program Love and Care dari Samsung Electronics Indonesia tahun ini sekaligus mendukung program pembangunan kualitas manusia yang dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia. Keberhasilan pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia bergantung pada tiga tolak ukur, yaitu tingkat kesehatan, pendidikan dan standar hidup yang layak. Dalam bidang pendidikan, pemerintah mencatat terdapat 196.708 ruang belajar yang perlu direhabilitasi di seluruh Indonesia , termasuk di antaranya Kecamatan Rumpin, satu dari 10 kecamatan di Bogor di mana terdapat lebih dari 1000 sekolah dalam kondisi memprihatinkan. 


KangHyun Lee, Corporate Affairs Vice President Samsung Electronics Indonesia mengatakan bahwa Samsung Electronics Indonesia memfasilitasi karyawannya untuk berpartisipasi dalam kegiatan sukarela dan berkontribusi bagi masyarakat. Selain produk, Samsung ingin berbagi ilmu, ketrampilan, dan waktu agar memberikan makna bagi orang lain. Oleh karena itu, bersama 70 karyawan Samsung yang sukarela mengangkat kuas cat, memperbaiki tembok, berinteraksi dengan anak didik dan kebun yang dibangun bersama di sekolah ini.

Samsung melalui karyawannya memperbaiki kelas-kelas yang ada di sekolah SDN Sukasari 01, Rumpin, Bogor mulai dari mengganti keramik yang retak dan kaca jendela yang banyak pecah agar tidak membahayakan siswa, menyediakan meja dan kursi belajar agar siswa duduk dengan sikap baik dan nyaman, perbaikan kamar kecil, hingga mengecat ulang dinding sekolah agar sekolah menjadi tempat yang membuat siswa semangat belajar. Ditambah lagi, sejalan dengan perkembangan teknologi, Samsung menambahkan fasilitas Samsung Learning Corner yang dilengkapi dengan 10 unit Samsung Galaxy Tab A with S Pen 8” dan Smart TV LED 55” agar membaca semakin menyenangkan, karena membaca merupakan cara untuk memperluas ilmu dan wawasan baru.

Sebelum direnovasi, SDN Sukasari 01, Rumpin, memiliki 178 murid dan tujuh guru, yang difasilitasi dengan delapan ruang belajar, di mana satu kelas berisikan 25 orang murid. Empat dari delapan ruang belajar tersebut tidak memiliki meja dan kursi sehingga para murid melakukan proses belajar mengajar sambil duduk di lantai tanpa beralaskan apapun. Lantai-lantai keramik di kelas-kelas tersebut juga sebagian dalam kondisi pecah, langit-langit kelas, serta jendela juga atap sekolah dalam keadaan yang berisiko bagi keselamatan murid-murid SD tersebut.


Ada 70 karyawan Samsung Electronics Indonesia yang terlibat dalam program Love and Care Samsung Electronics Indonesia tahun ini. Kegiatan diawali dengan interaksi antara para sukarelawan dan murid-murid, bermain edu games seperti cerdas cermat dan bahasa Inggris menggunakan tablet, serta membuat prakarya seperti tempat pensil dari bahan-bahan bekas yang bisa disimpan dan digunakan oleh murid-murid. Selain itu Samsung juga menyisipkan program urban farming agar murid-murid nantinya dapat melanjutkan kegiatan ini sebagai salah satu program rutin di sekolah.

Dalam menentukan sekolah yang akan dibantu, Samsung bekerja sama dengan YAPPIKA-ActionAid, sebuah lembaga nirlaba yang mempunyai misi di antaranya mendukung terwujudnya pelayanan publik yang adil dan berkualitas. Dr. Meuthia Ganie-Rochman, Ketua Pembina YAPPIKA-ActionAid melihat banyaknya data dan kasus sekolah rusak di Indonesia yang membahayakan keselamatan anak-anak selama belajar, sehingga ia bersama mitranya terus menggalang dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkan sekolah yang aman bagi anak-anak. Dukungan perusahaan seperti Samsung sangat penting untuk memperluas manfaat kampanye ini untuk anak-anak Indonesia. .

Global Volunteer Month program merupakan inisiatif filantropi dari Samsung global. Setiap tahunnya lebih dari 1.500 karyawan Samsung dari seluruh dunia terlibat dalam program ini dan menyentuh banyak kehidupan melalui program-program kemasyarakatan yang berbeda-beda. Di Samsung Electronics Indonesia, program Love and Care ini telah dilakukan tiga kali di Indonesia dan hingga saat ini telah melibatkan lebih dari 260 karyawan.

Thursday, October 5, 2017

Penjualan Perdana Galaxy Note8 Tandai Peresmian Galaxy International Experience Store Terbesar se-Asia Tenggara

Pengguntingan pita tanda
dibukanya Galaxy International Experience Store

Pada tanggal 29 September yang lalu, Samsung Electronics Indonesia meresmikan Galaxy International Experience Store (GIES) dengan konsep yang lebih canggih dan premium, sekaligus yang terbesar se-Asia Tenggara. Bersamaan dengan peresmian tersebut, Samsung  juga melakukan penjualan perdana untuk konsumen Samsung Galaxy Note8 secara serentak di Jakarta dan Surabaya. 

Jae Hoon Kwon, President Samsung Electronics Indonesia mengatakan bahwa peresmian Galaxy International Experience Store ini merupakan langkah besar Samsung membawa pengalaman futuristik melalui smartphone dan ekosistemnya, khususnya untuk masyarakat Indonesia. 

GIES dibangun dengan konsep yang kental dengan kesan lebih canggih, premium dan terbesar se-Asia Tenggara. Selain memberikan solusi menyeluruh bagi pengguna, mulai dari pengalaman digital yang interaktif, konsultasi produk hingga layanan purna jual terlengkap, GIES juga yang pertama kali menyediakan promoter yang fasih beberapa bahasa asing untuk melayani konsumen internasional dan area training yang memberikan pembelajaran gratis bagi para pengguna dan anak muda untuk mengoptimalkan gawai, baik untuk produktivitas mereka maupun untuk membuat konten maupun aplikasi.

GIES mengutamakan pengalaman bagi pengguna, agar dapat mengoptimalkan smartphone yang dimilikinya. Bekerja sama dengan PT Nusa Abadi Sukses Artha,  GIES seluas lebih dari 500 meter persegi, terdiri dari area experience yang masif dan lebih interaktif dengan konsumen, area purna jual, transaksi penjualan, ruang training, dan Coffee Shop Caribou yang membuat GIES ini lebih nyaman dan menyenangkan bagi pengunjung. 

Samsung Electronics Indonesia dan PT. Nusa Abadi Sukses Artha (NASA), anak usaha Erajaya Group, berkomitmen merealisasikan upayanya dalam menghadirkan smartphone terbaik dan juga layanan terbaik bagi para pelanggan. Budiarto Halim, President Director Erajaya Group mengatakan bahwa teknologi yang berkembang sangat pesat mendorong EraJaya untuk terus mendekatkan konsumen dengan kecanggihan teknologi agar produk yang sarat teknologi terdepan dapat mendukung gaya hidup dan produktivitas mereka. Samsung merupakan produk yang banyak dicari konsumen, dan GIES di Lotte Shopping Avenue ini merupakan yang ke-67 yang dioperasikan. EraJaya sangat senang bekerja sama mengoperasikan GIES ini yang mengedepankan pengalaman dan edukasi, selain memberikan layanan purna jual dan konsultasi produk.

Di saat yang sama, Samsung Galaxy Note8, yang telah ditunggu kehadirannya sejak peluncuran global di bulan Agustus, dijual perdana di Lotte Shopping Avenue, Jakarta dan Pakuwon Mall, Surabaya, mulai tanggal 29 September 2017 sampai tanggal 1 Oktober 2017 yang lalu. Samsung Galaxy Note8 adalah smartphone dengan fitur terbaik yang dilengkapi dengan Infinity Display, S Pen yang canggih, Dual Camera dengan Dual OIS, Dual Pixel dan 2x optical zoom, dan fitur lainnya yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan mereka yang banyak melakukan aktivitas di luar dengan mobilitas dan produktifitas tinggi.

Pengguna Galaxy Note termasuk dalam kategori pekerja mobile (mobile worker) di mana pekerja mobile ini sejak tahun 2015 telah diprediksi oleh IDC akan mencapai 1,3 miliar. Jumlah ini mencerminkan 37,2% dari total angkatan kerja. Samsung Galaxy Note8 memiliki fitur terlengkap yang memudahkan aktivitas mereka yang memiliki mobilitas tinggi tersebut. Samsung Galaxy Note8 juga dilengkapi dengan layar lebar Infinity Display, yang memungkinkan pengguna untuk melakukan beberapa hal bersamaan dengan lebih nyaman, mulai dari menonton acara TV favorit dalam format HDR dan search engine dapat dilakukan bersamaan, atau membuka peta digital dan mendengarkan lagu bersamaan, dan berbagai hal lainnya.

Berbekal fitur terbaik di industri, sambutan konsumen pada pre order Galaxy Note8 sangat positif. 

Smartphone Flagship Harga Murah ASUS Zenfone 5Z Sudah Bisa Preorder

ASUS Zenfone 5Z Setelah sukses menghadirkan seri Zenfone Max Pro M1 dan Zenfone 5, ASUS Indonesia, sesuai janji mereka sebelumnya sec...