Monday, February 20, 2017

Apa dan Mengapa Hoax Populer

Awas ada hoax

Beberapa waktu terakhir, hoax sedemikian populer. Ini bukan di Indonesia saja, tetapi di berbagai negara. Amerika Serikat sebagai perwujudan kemajuan dan kiblat sebagian besar sumber berita juga dilanda hoax. Kampanye dan Pemilihan Presiden AS tahun 2016 merupakan salah satu bukti nyata populernya hoax di AS. Di Indonesia pun berita hoax ini peredarannya begitu masif, meskipun situs hoax terbilang lebih sedikit, tetapi peredarannya di media sosial cukup tinggi karena ada kecenderungan berita hoax dibungkus oleh isu SARA.

Tentu menarik untuk memahami hoax ini. Pemahaman yang paripurna terhadap mengapa hoax muncul dan populer diperlukan agar kita tidak salah kaprah dalam menanggapi hoax dan melakukan upaya peredaman terhadap hoax. Dan hal ini bukanlah kaji satu malam atau semudah membalikkan telapak tangan. Sangat banyak faktor yang saling berkelindan untuk memicu dan mempopulerkan hoax sehingga ketika memahami hoax tidak detail akan membuat kebijakan atau langkah untuk menghadapi hoax menjadi senjata makan tuan.

Artikel ini mencoba menelisik apa sebab munculnya berita hoax, bagaimana berita hoax tersebut populer dan cara menghadapi berita hoax.

Munculnya Hoax

Bagaimana sampai hoax muncul? Perlu diketahui kabar bohong sudah dari dulu ada, namun tentu penyebarannya tidak semasif sekarang. Ada beberapa motivasi yang menyebabkan munculnya hoax. Pertama ketidaksenangan kepada rezim atau suatu kelompok dalam perebutan kekuasaan. Saya percaya ketidaksenangan kepada rezim bisa memicu orang membuat hoax dan ini sudah kita lihat di Indonesia. Banyak berita hoax karena mereka tidak senang dengan pemerintahan Presiden Jokowi. Ketidaksenangan ini bisa disebabkan oleh kekalahan di pemilu atau berbagai alasan lain.

Kedua adalah iseng. Keisengan di internet yang berbuah pendapatan. Seperti yang dijelaskan oleh salah seorang pelaku pembuat hoax di saat pemilihan umum di AS, ia membuat hoax semata karena iseng dan ternyata keisengan tersebut kemudian dipercaya orang lain. Terlebih kemudian keisengan berbuah pendapatan yang tidak disangka-sangkanya. Keisengan tersebut terus meningkat karena pengguna internet sedemikian mudahnya dikelabui. Mereka tidak pernah melakukan cek dan ricek ketika membaca sebuah artikel tertentu dan langsung membaginya ke teman-teman mereka.

Ketiga adalah motif pendapatan. Sangat banyak pelaku hoax dengan motif pendapatan ini. Mereka secara sengaja atau tidak mengetahui bahwa pengguna internet sangat mudah dipengaruhi oleh berita-berita bombastis dengan kebenaran yang dipelintir apalagi kalau sudah dikaitkan dengan kesukaan atau kebencian terhadap sesuatu. Dalam pemilu AS yang lalu, ada pembuat konten palsu di Facebook yang bermarkas di Macedonia yang semata-mata hanya membuat hoax yang pro ke Trump dan mendeskreditkan Hillary. Hoax yang mereka buat ini kemudian disebar di Facebook dan memperoleh angka re-share yang sangat tinggi. Pembuat hoax ini bukanlah orang yang pro-Trump, tetapi hanya memanfaatkan pertarungan antara Trump dengan Hillary dan memilih Trump karena Trump memang lebih berbasis berita yang bombastis dan sering membuat pernyataan berlebihan, fabrikasi fakta dan lainnya. Bukan berarti hoax yang dibuat oleh mereka yang pro atau tidak pro ke Hillary tidak ada, namun sejauh pengamatan saya, hoax lebih populer di kubu Trump (bahkan sampai sekarang) dan lebih menguntungkan Trump meskipun tidak bisa dikatakan mereka yang membuat hoax tersebut seluruhnya pro-Trump.

Di Indonesia motif uang ini juga terasa. Namun saya bisa simpulkan, motif uang ini sudah sedikit bercampur dengan ketidaksenangan dengan rezim Pak Jokowi dan orang-orang yang pernah dekat dengan Jokowi (seperti Ahok).Beberapa situs yang sering memproduksi hoax dan sudah beberapa kali di-banned merupakan pelaku dari kelompok yang bila ditelusuri memiliki kaitan dengan salah satu atau salah dua (eh) parpol yang kalah di pemilu 2014 yang lalu. Unsur kedaerahan juga menunjukkan salah satu motif unik di Indonesia. Salah satu daerah di mana calon presiden yang bersaing di 2014 yang lalu menang lebih dari 90% merupakan produsen hoax melalui situsnya yang sangat terkenal di Indonesia. Orang-orang daerah ini (yang terlihat melalui pengamatan media sosial) sebagian besar juga tidak menyenangi pemerintahan Jokowi.

Tiga motif tersebut merupakan motif yang bisa dilihat dengan jelas dan bisa ditelusuri jika ada hoax yang populer. Namun demikian, motif pendapatan dan ketidaksenangan terhadap rezim/kelompok cenderung lebih banyak digunakan. Terlebih motif iseng juga bermuara kepada diperolehnya pendapatan melalui iklan di situs atau blog. 

Mengapa Hoax Populer

Zaman internet menyajikan fakta yang cepat hilang dari ingatan. Kejayaan mesin pencari Google telah membuat manusia malas berpikir yang rumit karena dengan melakukan pencarian lebih mudah diperoleh fakta yang diinginkan. Manusia menjadi malas untuk mengingat dan makin kurang berpikir karena segala sesuatunya tinggal bertanya kepada Google.

Hasilnya adalah fakta yang dipahami setengah-setengah, tidak paripurna. Orang lebih cenderung suka ke judul besar atau sesuatu yang secara psikologis menarik bagi mereka dan mempercayai hal tersebut sekuat tenaga. Sebagian orang akan sangat malas membaca meskipun itu hanya sekitar 2 sampai 3 paragraf. Apalagi membaca buku. Pun kalau membaca buku lebih senang memfoto cover bukunya atau isi buku tersebut untuk dibanggakan di media sosial. Ini parah sekali. Kebenaran ilmu akan sulit diterima karena orang lebih mempercayai kebenaran yang selama ini ia percayai yang ia peroleh dari fakta ambigu di internet. Hal ini akan berimbas kepada bagaimana orang memahami suatu berita tertentu yang banyak dibagi di media sosial Facebook.

Di sisi sosial, berkuasanya Facebook menjadi kartu mati sekaligus kartu hidup bagi sebagian besar orang di zaman internet. Facebook merupakan pelabuhan emosi banyak orang. Sebagian besar pengguna Facebook tak pernah berpikir lurus karena emosi lebih menguasai mereka. Dan memang sebagai media sosial, Facebook adalah sarana menumpahkan emosi sehingga akan sangat bagus bagi mereka yang menginginkan sesuatu memainkan emosi pengguna Facebook. Hal ini ini merupakan salah satu kunci menyebar dan populernya hoax.

Bukan rahasia bahwa manusia cenderung lebih suka informasi yang hidup dan dan merangsang emosi. Menurut Herman Saksono di tweetnya:
Informasi yang "hidup" dan merangsang emosi akan bertahan lebih lama di pikiran kita.
Produsen hoax sengaja atau tidak mengetahui hal ini sehingga terus-menerus membagi berita yang hidup dan menguras emosi. Berita yang hidup di sini menurut saya adalah berita yang menonjolkan suatu ketertarikan serius pengguna sehingga kemudian mengklik atau sama sekali tidak mengklik, namun kemudian membagi berita hoax tersebut. Cara yang ditempuh adalah dengan menggunakan teknik click bait, menggunakan judul besar yang bombastis yang tanpa dibaca pun pengguna sudah tahu isinya atau tidak mau peduli isinya sama sekali.

Hal seperti ini sangat masif di Facebook. Sebagaimana di-tweetkan oleh Herman Saksono, jumlah hoax di Facebook tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan dua layanan lain, yaitu Google dan Twitter.

Sebaran hoax di Facebook lebih besar daripada
Google dan Twitter
Kembali ke Pemilu AS, sebagaimana dicatat oleh BuzzFeed, hoax memang telah menjadi raja di Facebook ketika pemilu AS. Jumlah hoax yang dibagi jauh mengalahkan berita asli yang dibuat oleh outlet berita resmi seperti The New York Times dan The Washington Post. Salah satunya yang membuat hoax populer tersebut adalah permainan berita yang hidup dan merangsang emosi.

Faktor kedua adalah adanya ketakutan. Bagi saya ini sama sekali baru karena selama ini saya memahami bahwa emosilah yang paling utama membuat hoax menjadi populer. Pertanyaannya adalah ketakutan seperti apa yang bisa mempopulerkan hoax?

Rasa takut membuat orang mudah terkena hoax
(Sumber: tweet Herman Saksono)
Tentu saja manusia memiliki rasa takut. Namun memanfaatkan ketakutan demi mempopulerkan hoax bagi saya sendiri hal yang baru. Namun hal ini ada buktinya jika dikaitkan dengan agama dan ras. Klaim memilih pemimpin Islam karena takut masuk neraka misalnya atau klaim jangan memilih suku tertentu. Tentunya bukan klaim itu sendiri yang hoax, tetapi berbagai hal yang disandarkan kepada klaim tersebut yang membuat pemeluk agama tertentu menjadi takut sehingga menyebarkan berita hoax. Contoh nyata bisa kita temukan di Facebook atau bahkan di media sosial lain di mana satu pesan hoax tertentu diminta untuk disebarkan, kalau tidak disebarkan ada siksa atau ketakutan tertentu yang muncul yang didasarkan pada agama yang dianut.

Faktor ketiga adalah faktor kelompok. Di dalam faktor ketiga ini Facebook memainkan peranan penting. Banyak orang berteman di Facebook dan masuk ke dalam kelompok-kelompok kecil yang sering tertutup dan kemudian memproduksi hoax untuk membenarkan pengetahuan/informasi/fakta yang mereka percayai. 

Orang cenderung mempercayai apa yang dipercayai oleh kelompoknya. Contoh ( ini hanya contoh) ketika suatu kelompok mengklaim jumlah orang yang ikut demo sebanyak 7 juta, anggota kelompok tanpa pandang bulu meyakini fakta ini, meskipun secara logika tempat tertentu tidak akan bisa memuat orang sebanyak 7 juta. Jika ada fakta yang digali dari ilmu pengetahuan untuk mengkritisi jumlah tersebut, hal tersebut tidak akan mampu mengubah kepercayaan seseorang karena mereka lebih percaya apa yang dipercaya oleh kelompoknya. Dan kepercayaan ini terus-menerus ditularkan dengan berbagai cara agar anggota kelompok tidak punya pilihan atau alternatif informasi yang lain. Hoax tersebut terus-menerus dibagi dan disebarkan untuk mempertahankan kepercayaan anggota kelompok dan selalu mengecap mereka yang menentang hoax tersebut adalah hoax dan perlu dilawan.

Algoritma Facebook merupakan bagian penting dalam pembenaran kelompok ini. Facebook telah membuat kelompok-kelompok yang saling terpisah satu sama lain yang meyakini kebenaran mereka dan menafikan kebenaran kelompok lain sehingga tidak mengherankan bahwa Facebook adalah sarang hoax nomor satu di internet. Algoritma Facebook menutup pintu suatu kelompok terhadap kelompok lain, anggota kelompok hanya akan berinteraksi dan mempercayai apa yang dibagi di kelompok tersebut sehingga ketika mereka berinteraksi dengan kelompok lain akan terjadi ketegangan, perselisihan dan mungkin chaos. 

Sebagaimana telah saya kemukakan di bagian awal tulisan ini, jumlah hoax yang dibagi di Facebook ini sangat menakjubkan. Saya menduga, Presiden Trump terpilih pun berkat peranan Hoax ini. News feed yang hadir ke halaman seseorang selalu dipilihkan oleh Facebook dan pasti disukai oleh pengguna. Saya telah menuliskan kegagalan algoritma Facebook ini dalam artikel terdahulu di sini, di sini dan di sini.

Peranan kelompok ini sangat terasa di Indonesia beberapa waktu terakhir. Kita melihat kelompok tertentu tanpa malu-malu memproduksi hoax untuk membenarkan apa yang mereka percayai. Mereka terkadang memilintir satu ayat atau beberapa ayat untuk membenarkan klaim. Media hoax juga tanpa malu mencari celah untuk mengabarkan hoax, misalnya menggunakan blanko bekas e-KTP untuk membenarkan klaim penyusupan. Ini tentu sangat membahayakan. 

Melawan Hoax

Pertanyaannya: Bagaimana melawan hoax?

Ada yang beranggapan bahwa hoax adalah fenomena selintas jalan yang tidak perlu dikritisi apalagi dilawan. Hoax dianggap sebagai sesuatu yang selalu ada dan tidak perlu usaha untuk melawannya sebab akan hilang dengan sendirinya. Ini menggelikan. 

Bila Anda hidup di zaman unconnected anggapan tersebut mungkin bisa benar. Namun jika Anda hidup di zaman kemajuan internet dengan segala sesuatu terhubung, anggapan tersebut menggelikan dan melecehkan akal. Mengapa demikian?

Dalam zaman internet, pengalaman online akan merasuki kehidupan offline. Imformasi yang dikonsumsi tanpa putus akan membentuk lingkar pengetahuan dan pemahaman masyarakat. Bagaimana kalau informasi yang dikonsumsi tanpa putus tersebut melalui berbagai alat ternyata hoax? Chaos. Pemberontakan, dan mungkin banyak hal lainnya yang tidak diharapkan bisa timbul karena informasi hoax sehingga hoax ini harus dilawan.

Bagaimana melawan hoax?

Jawabannya tidak semudah membeli es krim (To Be Continued

Selular Award 2017 : ZenFone 3 Deluxe Smartphone Terbaik

Aliudin Sute d ja (National Sales Manager ASUS) menerima penghargaan Selular Award 2017 ASUS berhasil menempatkan dua smartphone mereka...