Thursday, January 19, 2017

Mubazir Melaporkan Penyalahgunaan Layanan Twitter


Pada akhirnya saya harus memaklumi fakta ini bahwa adalah tindakan sia-sia, mubazir dan cenderung sebuah kebodohan melaporkan sebuah atau beberapa akun yang menyalahi TOS/Rules layanan Twitter. Saya sampai pada kesimpulan ini setelah cukup sering melaporkan akun yang nyata-nyata melakukan hate speech, ancaman nyawa orang lain dan provokasi melalui isu SARA. 

Pertanyaannya adalah mengapa Twitter justru tidak menanggapi laporan yang sebenarnya dikampanyekan oleh Twitter itu sendiri?

Sejenak kita kembali ke tahun 2008, ketika Twitter masih kinyis-kinyis, lucu dan baru menaki perjalanan mereka sebagai sebuah layanan media sosial. Saya mengambil contoh apa yang dialami oleh Ariel Waldman sebagaimana dikisahkan di sebuah artikel panjang tentang ketidakmampuan Twitter dalam membendung penyalahgunaan layanan mereka.
In June 2007, a stalker posted some of her private information in a string of threatening tweets. Waldman contacted Twitter, which banned the user in question from the public timeline. But over the next eight months, the targeted abuse and stalking intensified. By March 2008, exhausted and disillusioned by a torrent of tweets calling her a “cunt” and a “whore” and publicizing personal information like her email address, Waldman reached out to Twitter again, this time to the company’s CEO, Jack Dorsey. After a series of phone calls to the company went nowhere, Dorsey and Twitter went silent. So in May, Waldman went public, detailing her ordeal in a blog post, which caught fire in media circles.

Kisah panjang tentang kemandulan Twitter memerangi penyalahgunaan layanan mereka ini ditulis sangat apik dalam artikel di BuzzFeed. Kisah ini mencerahkan dan menggali lebih dalam akar permasalahan mengapa Twitter cenderung enggan untuk melakukan suspend atau mem-banned akun, tidak hanya akun yang populer, tetapi juga akun telur yang tidak ada apa-apanya pengaruhnya.

Hal yang harus kita kritisi adalah adanya kecenderungan Twitter mendewakan free speech sebagai alasan mereka untuk tetap mempertahankan akun tertentu. Bagi saya ini tidak masuk akal dan sudah melewati batas apa yang disebut dengan free speech itu sendiri. Tentu saja kita akan bertanya, apakah ancaman pembunuhan terhadap seseorang termasuk free speech? Apakah tweet SARA mengatasnamakan agama/suku tertentu untuk menyerang agama/suku lain termasuk free speech?

Sampai batas tersebut sebenarnya saya masih percaya, Twitter memiliki itikad baik demi pengalaman terbaik bagi penggunanya. Untuk itulah beberapa akun yang saya kira sudah melewati batas tersebut saya laporkan, kadang-kadang saya sertakan attachment tweet yang saya kira cukup pantas untuk masuk ke kategori hate speech atau tweet sara atau ancaman. Namun hasilnya nol besar. Jangankan melakukan suspend terhadap akun yang saya laporkan, bagaimana perkembangan laporan tersebut tidak saya terima. Apakah laporan saya salah, apakah saya terlalu bernafsu melaporkan atau apakah ada alasan lain yang cukup masuk akal sehingga laporan saya tidak digubris tidak saya terima padahal Twitter dapat mengirimkan beberapa patah kata saja ke email tentang perkembangan laporan tersebut.

Ini sebuah ketidakpedulian yang sangat menyesakkan. Ketika Twitter mengimbau penggunanya melaporkan penyalahgunaan layanan, namun bersikap tidak peduli dengan laporan yang diberikan pengguna. Ini seperti Jebakan Betmen sehingga pengguna yang ingin memperoleh pengalaman bagus di Twitter terjebak dalam situasi yang tidak menentu dan dimanfaatkan.

Pada akhirnya saya membaca lagi pengalaman Ariel Waldman tersebut. Cukup lama saya membaca dan mengulang beberapa kali apa yang dimaksudkan oleh BuzzFeed. Setelah itu saya sedikit paham mengapa mereka memberikan sebutan Honeypot For Assholes untuk Twitter. Saya paham, Twitter sengaja menciptakan situasi tak menentu dan pengalaman yang cenderung membuat stress penggunanya karena Twitter adalah kumpulan para assholes.

Kita bisa melihat bukti bahwa Twitter adalah kumpulan para assholes ini. Pertama membuat akun di Twitter ini sangat mudah. Khawatir dengan akun email? Bisa menggunakan email sekali pakai. Kedua hanya butuh beberapa langkah mudah untuk melakukan tweet, kalau kurang follower dapat membeli follower abal-abal dan bisa juga jadi bot.

Ketika di-suspend pun, sangat mudah untuk kembali ke Twitter dan memperoleh follower yang sama banyaknya dalam waktu yang tidak lama. Nge-tweet tidak perlu ada sensor, terserah, sekena keyboard saja dan banyak hal lain yang membuktikan hal tersebut.

Ini membuat banyak orang yang berinteraksi di Twitter untuk berbagai tujuan baik menjadi korban ketidakmampuan Twitter dalam menegakkan rules yang mereka buat sendiri. Timeline Twitter selalu panas dengan isu yang tidak jelas. Mereka yang melakukan tweet seenak otot jari mereka, mengabarkan berbagai tweet yang cenderung menghina, mengancam dan hal negatif lainnya.

Saya pernah satu kali menanyakan mengapa hal tersebut terjadi yang dijawab dengan jawaban klise sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jawaban sesuai dengan ketentuan yang berlaku ini adalah topeng yang sering dipakai Twitter untuk bersembunyi dari kenyataan bahwa Twitter ikut menikmati madu dari kegaduhan yang diciptakan oleh mereka yang membawa isu SARA, hate speech dan lain-lain ke Twitter berupa traffic, klik atau ketertampilan iklan.

Tentu harus saya akui bahwa saya bukanlah selebtweet bercentang biru yang sepertinya diperlakukan khusus oleh Twitter. Hal ini pernah sekali saya temukan bahwa mereka ini ditanggapi dengan cepat dan selalu dijawab, sementara pengguna biasa harus menerima kenyataan dibedakan dalam perlakuan ketika melaporkan dan tidak ditanggapi. Jika benar begitu adanya, interaksi di Twitter akan semakin runyam.

Hal yang patut lagi dipertanyakan adalah sampai mana batas (jika Twitter memiliki standar tertentu) terhadap suatu akun yang melakukan pelanggaran. Ini tidak pernah disosialisasikan sehingga membuat pelaporan menjadi hal mubazir. Misalnya apakah tweet hate speech, SARA beberapa kali itu termasuk lumrah bagi Twitter? Apakah perlu 100 tweet baru bisa dikategorikan melanggar TOS? Apakah Twitter menunggu orang berkelahi dulu karena suatu tweet ancaman baru mau bertindak? Apakah Twitter perlu jatuh korban dulu baru mau melakukan suspend?

Jika kita lihat Rules, standar tersebut tidak dinyatakan yang artinya jika pengguna melihat penyalahgunaan ia dapat melaporkan any time, any place, baik sebagai korban penyalahgunaan maupun sebagai orang yang melihat penyalahgunaan tersebut. Sayangnya, sebagai honeypot for assholes Twitter memang tidak menegakkan aturan yang mereka buat sendiri.

Ini tentu membahayakan di mana manusia semakin terkoneksi dan rongrongan terhadap hubungan antarmanusia kini bisa berasal dari keterlibatan di internet seperti Twitter. Bayangkan jika situasi ini terus dibiarkan. Tentu saja tidak hanya berdampak terhadap hubungan antarpribadi, tetapi juga kondisi negara yang terus diguncang isu sumir yang berasal dari Twitter yang pelakunya bisa sangat bebas memasok, tidak hanya hate speech, tetapi juga berita palsu yang sekarang tengah populer.

I said, A Honeypot For Assholes ....

Samsung Rilis Galaxy J7 dan J5 Pro More Than Selfie

Galaxy J Friends di launching Galaxy J Pro  More Than Selfie! Kini bukan lagi jaman selfie Namun sudah zamannya Live Vlogging! ...