Tuesday, April 26, 2016

Media Sosial Kini Entah Untuk Apa Gunanya

I once sarcastically said that I feel like it is much harder to actually stand up against the mainstream on Twitter than stand up against a dictator.
Ingat Revolusi Mesir di tahun 2011 yang dimulai dari sebuah halaman di Facebook? Ingat Wael Ghonim?  

Mungkin banyak dari kita yang lupa peristiwa penting yang menumbangkan Hosni Mubarak tersebut. Mungkin kita juga lupa betapa dahsyatnya tenaga media sosial hingga bisa menumbangkan diktator. Namun kini media sosial untuk apa? Apa setelah tumbangnya diktator? Apa setelah menandatangani petisi? Mengapa media sosial justru makin menyesakkan dan tidak lagi berfungsi sebagai tools yang mampu memberikan kaki-kaki lemah semangat untuk berdiri?

Cobalah tengok timeline Twitter hari-hari ini. Apa yang saya kutip dari Wael Ghonim itu bukan sesuatu yang sarkas, namun nyata adanya. Tidak hanya Twitter tentunya. Perhatikanlah Facebook, hampir tidak ada bedanya. Melawan mereka yang mainstream di kedua media sosial besar tersebut tampaknya memang lebih sulit dibandingkan melawan diktator.

Pertanyaannya siapa yang dimaksud dengan mainstream di sini?

Mainstream bisa siapa saja. Dulu ketika Pilpres mainstream adalah pendukung dan pembenci Jokowi. Sekarang mau Pilkada DKI mainstream adalah Ahokers dan Haters-nya. Sulit untuk berhadapan dengan mereka karena seperti yang dikatakan Wael Ghonim :
because at least when I stand up against a dictator I know there are a lot of people who will support me. But when you stand up against the Twitter (Facebook) mainstream, they are just going to all go against you.
Mungkin kita terlalu eforia dengan kegunaan media sosial. Tools yang sebenarnya sangat baik fungsinya ini kini entah untuk apa gunanya kebanyakan hanya untuk menggambarkan masyarakat yang sakit dan orang berjualan. 

Kita bisa melihat begitu banyak kata-kata kasar, foto-foto jorok, tweet yang melecehkan, berita palsu yang digembar-gemborkan di media sosial. Lalu kemudian jurnalis yang begitu pemalas mengutip media sosial untuk bahan berita online mereka. Semuanya berkelindan untuk menunjukkan betapa sakitnya (sebagian) masyarakat kita. Melawan mereka ini adalah mustahil. Mereka lebih kuat dibandingkan diktator.

Lalu mengapa hal ini terjadi?

Dasar media sosial seperti yang banyak kita ketahui adalah LIKES, SHARES dan RETWEET. Ini adalah mata uang yang berlaku di media sosial. Seberapa banyak LIKES yang Anda raih dari update status di Facebook? Seberapa banyak yang di-share ulang, seberapa banyak tweet anda di Retweet dan di-LIKES? Betapa bangga banyak yang LIKES, Shares dan Retweet. Makin banyak, makin bangga. Dan jangan lupa profit motive menambah sulit karena segala sesuatunya makin berkelindan, taut-menaut sehingga sulit untuk dibenahi.

Untuk bisa banyak LIKES, Shares, Retweet pengguna kadang tidak malu menunjukkan kebodohannya atau kekayaannya atau pura-pura kaya, pura-pura bodoh atau pura-pura pintar.

Seperti yang dikatakan Ghonim yang terjadi di media sosial sekarang ini adalah:
Instead of constructive dialogue about the way forward, there were bitter flame wars among many groups—sometimes among friends. Rather than uniting to take the country forward, the conversation descended into bickering, propaganda, many false claims, and fear-mongering.
Tentu sebuah hal yang menyedihkan bahwa pada kenyataannya media sosial saat ini malah menyulut kebencian, perang ras dan agama. Ini terjadi sepanjang waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan 30 hari sebulan tanpa putus. Apakah ini peran media sosial yang sebenarnya?

Tentu saya tidak percaya. Media sosial sesuatu yang baik yang dibelokkan oleh tangan-tangan nakal untuk tujuan jangka pendek mereka. Namun bukan berarti media sosial nihil kesalahan. Konstruksi media sosial memungkinkan media sosial itu sendiri dibelokkan untuk berbagai tujuan balas dendam atau kebencian. 

Padahal kita bisa memperoleh banyak hal positif dari media sosial. Ya. Sangat banyak hal positif dari media sosial. 
To be sure, there is no doubt that the Internet (and so social media) actually helps facilitate communication and shows the power of crowdsourcing in positive action, especially when it comes to the humanitarian activities like when there is a hurricane or a terrorist attack. The problem is, however, that the negatives are obvious and not talked about enough.
Masalahnya memang kita sangat sedikit membicarakan dampak negatif media sosial sehingga tidak ada perhatian untuk memperbaiki efek negatif media sosial tersebut. Mungkin kita menganggap tweet kebencian, rasis, berita bohong dan segala macam kepalsuan yang digembar-gemborkan di media sosial itu sesuatu yang biasa. Mungkin kita menganggap setelah tanda tangan petisi semua urusan selesai. Mungkin kita merasa bahwa kita hanya hidup di media sosial. Kita adalah alien yang hidup entah di mana dan tak perlu bertanggung jawab apa-apa.

Mungkin ini yang disebut zombie. Kita kini menjadi zombie yang tak perlu berpikir apa-apa. Siap-siap ditembak oleh siapa saja, toh otakpun sudah tidak ada gunanya.


Saturday, April 23, 2016

Smartfren Resmikan Galeri ke-113 di Kota Kasablanka

Derrick Surya Division Head Brand and Marketing Communications Smartfren
meresmikan Galeri Smartfren di Kota Kasablanka
Smartfren terus berbenah. Sejak meluncurkan layanan 4G LTE Advanced tahun lalu, Smartfren terus meningkatkan layanan mereka terutama mendekatkan diri dengan pengguna dengan merilis Gallery yang berfungsi sebagai hub produk dan layanan mereka. Dan tidak terasa, beberapa hari yang lalu, Smartfren meresmikan Gallery Smartfren ke-113. Ini sebuah kemajuan yang sangat berarti mengingat Gallery Smartfren baru diperkenalkan tahun lalu.

Andreas Rompis, Deputy CEO PT. Smartfren Telecom, Tbk mengatakan bahwa galeri terbaru Smartfren dihadirkan  agar para pelanggan khususnya dan masyarakat di Jakarta pada umumnya, dapat semakin mudah mendapatkan informasi mengenai berbagai produk dan layanan Smartfren sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, hadirnya galeri ini juga dapat dijadikan suatu langkah nyata bahwa Smartfren semakin siap untuk memberikan layanan after sales yang prima.

Galeri Smartfren di Kota Kasablanka hadir dengan fasilitas customer experience, melalui beragam perangkat, baik seri handphone Andromax dan MiFi, hingga beragam perangkat OMH yang sudah mengusung teknologi 4G LTE. Dengan demikian pelanggan dan masyarakat memiliki beragam pilihan perangkat, yang sesuai dengan kebutuhan gaya hidupdigitalnya, tentu dengan dukungan dari jaringan 4G LTE Advanced terluas dari Smartfren.

Smartfren Gallery Kota Kasablanka
Para pengunjung juga dapat memperoleh informasi mengenai teknologi VoLTE serta aplikasi SmartVoLTE, yaitu sebuah layanan komunikasi berbasis data yang mengandalkan teknologi LTE dari jaringan 4G LTE melalui IMS (IP Multimedia Subsystem) yang memiliki jalur khusus (dedicated bearer), sehingga menjadikan kualitas video call stabil dan suara telepon berkualitas High Definition, dengan background noise yang sangat kecil. Dengan demikian suara yang didengar oleh lawan bicara akan tetap jernih dan jelas meskipun pengguna melakukan panggilan, baik suara maupun video di tempat ramai dan terbuka.

Beberapa merek smartphone OMH yang sudah teruji kompatibel dengan aplikasi Smart VoLTE Andromax EC, Andromax ES, Andromax R, Andromax R2, Andromax Q, Andromax Qi, LG G4, Wiko Ridge 4G Fever, Samsung J2, Samsung J5, Lenovo A6010, Samsung Tab S2 T715Y,Samsung Tab S2 T815Y, Sony Experia Z3 Compact D5833, One Plus One A1001, Hisense Pureshot, Motorola Nexus 6, Samsung J1Ace, Samsung J7 dan Asus Zenfone 2.


Thursday, April 14, 2016

Pilkada DKI: Sejarah yang Berulang

Sejarah Berulang, Pertama Sebagai Tragedi, Kedua Sebagai Banyolan (Karl Marx) 


Ingatan ini muncul beberapa waktu yang lalu. Waktu itu Gus Dur hendak mengeluarkan Dekrit seperti Dekrit yang pernah dikeluarkan oleh Soekarno dahulu. Dekrit Soekarno adalah tragedi karena berujung dengan Pemberontakan Partai Komunis, terlepas ditunggangi atau tidak. Sementara Dekrit Gus Dur yang hendak mengulangi sejarah berujung banyolan karena tidak lama kemudian ia diturunkan. 

Dalam lingkup yang lebih kecil, kejadian atau peristiwa di blog kompasiana ini tidak terlepas dari sejarah yang berulang. Berbeda dengan sejarah negeri ini yang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk terjadinya perulangan sejarah, kompasiana hanya butuh maksimal dua tahun saja untuk terjadinya pengulangan tersebut. Bahkan pada kasus tertentu tidak dalam hitungan tahun, mungkin hanya beberapa bulan saja.  Mungkin ingatan kita telah begitu pendek sehingga kita merasa apa yang terjadi di kompasiana ini seperti hal-hal yang baru saja. 

Coba kita tengok beberapa peristiwa di kompasiana berikut ini. 

1. Polemik sastra instan Saya ingat sekali, di tahun 2010 yang lalu heboh mengenai ini dalam judul yang berbeda. Polemik disulut oleh Mbak Astree Hawa dengan judul Keranjang "Sampah" Fiksi Kompasiana. Kini dalam judul berbeda diangkat kembali oleh Mbak Hilda dengan topik Ketika Produk Sastra Instan Membanjiri Kompasiana. Pada dasarnya intinya sama saja, tapi melihat Mbak Hilda masuk sebagai anggota kompasiana semenjak April 2010 yang lalu, tentunya ia mungkin tahu tentang fiksi sampah yang diangkat oleh Mbak Astree Hawa. Pengetahuan saya yang tidak dalam hanya mampu mengatakan kedua artikel ini mirip. 

2. Tulisan Esek-esek Mengenai hal ini, tahun 2010 yang lalu juga sangat membuat polemik. Esensinya jelas sama, mempertanyakan kepantasan tulisan dewasa menghiasi blog kompasiana ini. Waktu itu saya sendiri berpendapat, tulisan khusus dewasa itu dirindu sekaligus dibenci. Saya menawarkan jika memang kompasiana tidak sanggup membatasi artikel semacam itu, ada baiknya diberikan peringatan bahwa kompasiana merupakan blog khusus bagi mereka dengan usia 18 tahun ke atas. 

3. Kasus Dr. A Kasus ini menyeruak dua tahun yang lalu. Pada dasarnya, awalnya salah seorang pengguna kompasiana hanya menanyakan gelar Dr. A yang berderet seperti gerbong kereta api. Namun akhirnya polemik gelar dokter tersebut merembet juga kepada salah satu pengguna akun dengan nama Olive. Kini, kasus ini kembali terjadi. Pemicunya tulisan pengguna baru kompasiana yang menanyakan apakah artikel yang ditulis itu, terutama yang menjnadi heboh dan dipindah ke kompas.com adalah kejadian nyata atau hanya fiksi belaka. Hal yang menarik adalah ternyata si perawat yang biasa menuliskan artikelnya tersebut dan merebut banyak hati pengguna kompasiana bekerja pada seorang dokter yang persis sama dengan kejadian 2009. Kasus ini bagi saya hanya sebagian kecil dari pengulangan sejarah/kejadian yang luput kita perhatikan. Kemarin pun saya membaca tentang komentar yang sering tidak nyambung dengan artikel, atau out of topic (OOT). 

Semua ini adalah pengulangan lagi dari artikel terdahulu yang kembali menarik banyak perhatian pengguna kompasiana. Benarlah adanya sejarah berulang, tidak peduli kita sadar atau tidak bahkan dalam lingkup kecil blog kompasiana ini. Bagi saya, merujuk kepada Marx, pengulangan sejarah yang terjadi di kompasiana ini (kalau boleh dianggap demikian) pertama mungkin membuat kita berpikir lebih jauh. Mengapa hal-hal yang sama berulang dan sering tidak kita ketahui kita kembali terlibat riuh rendahnya pengulangan sejarah tersebut. Tidakkah ini sesuatu yang mubazir ataukah kita tidak belajar dari kejadian terdahulu? Kembali kepada yang dikatakan Marx, pengulangan sejarah berujung kepada banyolan. Marx bisa salah, dan tentu saja bisa juga benar. Bagi saya Marx benar adanya. 

Pengulangan kejadian atau sejarah tersebut lebih berujung kepada banyolan. Betapa banyak energi yang kita buang percuma hanya untuk menunggu tiadanya klarifikasi dari yang bersangkutan dalam kasus Dr. A atau dari mereka yang merasa bertanggung jawab telah melambungkan seorang remaja innocent di kompasiana ini. Kasus ini tidak lama lagi akan tenggelam, seiring dengan makin pendeknya ingatan kita. Betapa banyak kata kita tulis, saya sendiri merasa, pada awalnya berharap kasus ini akan tuntas. Namun harapan itu tidak akan terkabul sehingga suatu waktu kasus serupa mungkin akan terulang kembali. Mungkin dengan pelaku yang lain, mungkin juga pelaku baru yang meniru pelaku lama sehingga kita harus bersiap-siap lagi untuk sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi, namun terjadi lagi di awaktu yang berbeda. 

Mungkin kita lama-lama akan terbiasa sehingga banyolan semakin biasa di kompasiana ini. Demikian juga dengan kasus lainnya. Ujung-ujungnya kita harus bersiap untuk menerima banyolan yang lebih banyak. Kasus artikel dewasa tidak akan selesai dengan hanya mengandalkan kepada penggunanya yang memiliki kuasa untuk mempublikasikan artikel apa pun yang disukainya karena kuasa cenderung korup. Nantinya hal ini akan menjadi polemik lagi di suatu hari, dan kita heran mengapa kita lupa hal ini juga telah terjadi beberapa waktu yang lalu? Tidakkah kita bosan itu-itu saja yang akan kita carikan solusinya? Tidakkah kita belajar ataukah ini yang dimaksud dengan traffic

Demikian pula dengan komentar OOT. Bagi saya terlalu jauh kita mencampuri urusan seseorang jika menilik kepada komentar yang diberikan. Ini hanyalah banyolan yang tidak lucu karena penyedia layanan ini, pengelola kompasiana ini bahkan tidak memiliki standar tertentu tentang komentar. Mengatakan komentar OOT di suatu artikel, dimana pengelolanya sendiri tidak mempermasalahkannya menghabiskan energi, membuat polemik baru yang tidak berguna. 

Saya ingat apa yang dikatakan Goenawan Mohamad sekitar tahun 1990-an tentang sensor. Mengatakan komentar OOT mungkin sebuah bentuk sensor lunak terhadap para komentator. Namun percaya hal tersebut tidaklah akan ada artinya, ibarat membunuh nyamuk dengan celana dalam yang kotor dan bau, mubazir dan agak memalukan. Mungkin saya hidup di dunia lain yang tidak mudah bagi saya untuk mengerti sebuah keriuhan. Kadang saya terlibat di keriuhan itu, kadang saya menjadi pemicu sebuah keriuhan. Setelah saya dalami ternyata saya juga tidak jauh dari banyolan yang tidak lucu.

Dalam lingkup yang lebih besar, kita melihat Pilkada DKI yang segera akan datang, namun genderang perang sudah lebih dulu ditiupkan. Ingat Pilpres 2014? Hampir tidak ada yang berbeda dari Pilpres 2014 apa yang terjadi dengan Pilkada DKI sekarang ini. Kelompok yang pro dan kontra dapat kita telisik ke kelompok yang dulu mendukung dan menentang Jokowi, meskipun tidak sepenuhnya berlaku. Namun khusus bagi mereka yang menentang Ahok, benang merah perlawanan mereka terhadap Jokowi cukup jelas terlihat.

Sekali lagi ini adalah pengulangan sejarah yang sudah semakin tidak lucu dan membuat bodoh. Isu-isu yang diangkat terang benderang antara cinta dan benci, agama, suku, dan hal-hal rasis lainnya khususnya di media sosial dan pers online. Ini bukan politik yang baik, namun kita harus menerimanya karena itulah adanya. Media sosial dan media online telah diselewengkan banyak orang yang berpikiran dan bertujuan pendek agar sesuai dengan tujuan dan target mereka. Tidak ada lagi sopan-santun, semuanya ingin murka. Namun sekali lagi itu hal yang bodoh dan kelucuan yang sudah tidak lagi lucu, tapi menjijikkan. 

Note: Artikel ini dipublikasikan pertama kali tahun 2011 di blog kompasiana, dipindah dan diupdate lagi di blog ini.

Thursday, April 7, 2016

ASUS Rilis Zenfone Laser 6 Inchi Harga 3 Jutaan

Zenfone Laser 6.0
Setelah merilis Zenfone Laser 5 dan 5,5 inchi, ASUS Indonesia kemarin merilis seri terakhir dari Zenfone Laser tersebut, yaitu Zenfone Laser 6.0 atau 6 inchi. Bisa dikatakan jarak waktu antara Zenfone Laser 5 dan 5,5 inchi dengan Zenfone Laser 6.0 cukup jauh, namun tentu ASUS punya alasan cukup kuat dengan merilis Zenfone Laser 6.0 di tahun 2016 ini.

Sebagaimana diketahui seri Zenfone terbaru untuk pasar Indonesia semuanya dirilis di acara Zenfestival pada bulan November tahun lalu. Namun saat itu, tidak semua seri yang dirilis langsung ada di pasar. Dua seri yang datang belakangan di pasar Indonesia adalah Zenfone Max dan Zenfone Laser 6.0.

Juliana Cen, Country Product Group Leader, ASUS Indonesia mengatakan penggemar smartphone berlayar lebar kini punya pilihan baru dalam bentuk Zenfone 2 Laser 6 inchi, yang merupakan varian Zenfone 2 Laser dengan ukuran layar paling besar. Ia menambahkan Zenfone Laser 6.0 tak hanya lega, tetapi juga menawarkan fitur multimedia yang sangat lengkap untuk memuaskan penggunanya.

Harus diakui, pengguna smartphone Indonesia memiliki preferensi yang sangat beragam terhadap smartphone. Salah satu preferensi tersebut adalah menyukai smartphone dengan layar lebar yang menawarkan display berkualitas dan kemampuan multimedia yang mumpuni. Pengguna seperti ini tentunya membutuhkan smartphone dengan layar berukuran lebih lega dibandingkan dengan smartphone pada umumnya. Melihat kebutuhan tersebut, ASUS menawarkan Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL.  

Secara spesifikasi, Zenfone Laser 6.0 ini  diperkuat oleh prosesor octa core 64-bit Qualcomm Snapdragon 616. Prosesor ini sanggup untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan aktivitas sehari-hari penggunanya. Dilengkapi dengan dukungan konektivitas jaringan 4G LTE Category 4, smartphone ini mendukung kecepatan download hingga 150Mbps.

Untuk menopang berbagai fungsi multimedia dan penggunaan secara multitasking smartphone ini diberikan RAM LPDDR3 berkapasitas 3GB. Dengan demikian, aplikasi-aplikasi hiburan dan game dapat dijalankan dengan mulus tanpa pengguna perlu mematikan aplikasi atau fungsi lain yang sedang berjalan di background.

Dari sisi layar, Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL dipasangi layar IPS 6 inci resolusi Full HD 1920 x 1080 yang menawarkan sudut pandang luas, hingga 178 derajat. Ketajaman gambar yang hingga 367 pixel per inch didukung oleh NTSC gamut yang mencapai 72% membuat semakin banyak warna yang dapat dihasilkan dengan akurat.

Tak hanya layar, penikmat konten multimedia juga akan dimanjakan dengan speaker berteknologi SonicMaster yang disediakan. Tak hanya satu, smartphone berbasis Android 5.0 Lollipop ini menyediakan dual-speaker dual audio chamber yang 50 persen lebih besar dibanding sebelumnya. Dengan konstruksi 5 magnet dan metal voice coil, ZE601KL menawarkan audio yang dahsyat pada berbagai skenario, hingga 97.4dB.

Dari sisi penggunaan energi, prosesor yang dibuat dalam proses manufaktur 28 nanometer pada smartphone ini menawarkan performa memukau sekaligus efisiensi energi yang baik. Pengguna bisa mengambil foto pada kecepatan tinggi, merekam dan mengedit video resolusi Full HD dengan penggunaan baterai yang minimal. Baterai Lithium-Polymer 3.000 mAh yang disediakan cukup untuk memasok kebutuhan multimedia penggunanya.

Dari sisi kamera, ASUS Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL menggunakan kamera utama dengan resolusi 13MP yang mampu mengambil foto dengan resolusi 4128 x 3096 pixel dengan fitur Laser Auto Focus yang membuatnya mampu mendapatkan fokus yang sangat cepat terhadap obyek yang akan difoto, termasuk face detection.

Meskipun dengan fitur yang sangat bagus tersebut, ternyata ASUS tidak memberikan harga yang mahal untuk Zenfone Laser 6.0. Dengan RAM 3GB, ROM 32GB yang bisa diekspansi hingga 128GB dengan ASUS memberikan harga 3,599 juta rupiah. 

Berikut ini spesifikasi lengkap ASUS Zenfone Laser 6.0


Model
ASUS Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL
CPU
Qualcomm Snapdragon 616 octa core 64-bit up to 1,7GHz
GPU
Qualcomm Adreno 405 GPU550 MHz
RAM
3GB RAM
Storage
32GB + 5GB ASUS Webstorage gratis
Micro SD
Yes (up to 128 GB)
Connectivity
WLAN 802.11 b/g/n, BT 4.0 with A2DP, Wifi Direct, Super Fast Wi-FI Hotspot Capability (Tethering), MicroUSB (USB OTG), 35 mm earjack
Network
Dual Antenna untuk sinyal lebih baik
4G LTE Cat4 Download speed hingga 150Mbps
LTE band 1 (2100), 2 (1900), 3 (1800), 5 (850), 7 (2600), 8 (900), dan 20 (800) MHz
SIM Card
Dual Micro-SIM Support
Navigation
GPS, BDS, GLONASS
Display
6 inci super bright IPS HD 1920x1080 with 178’ wide view angle, 376 ppi, ASUS TruVivid Full Screen Lamination Technology
Super Scratch Corning Gorilla Glass 4
Ultra sensitive touch panel with glove touch support, ASUS ZenMotion support Touch and Motion gesture (termasuk tap-tap untuk membuka dan mengunci layar)
Video
Video Recording MPEG-4 1080 @30fps
Playback MPEG-4 up to 1080p
Battery
Lithium-Polimer 3000 mAh
Main Camera
13 Megapixel laser autofocus dengan waktu fokus kurang dari 0.2 detik. Diafragma besar f/2.0 5 element Largan Lens, dual tone flash, PixelMaster Camera untuk foto dan video lebih terang hingga 400%
Front Camera
5 Megapixel Autofokus dengan diafragma besar f/2.0, selfie panorama up to 140’
Sensor
Accelerometer/Ambient Light/Proximity/E-Compass/Hall Sensor
Audio
Dual Microphone dengan Noise Cancellation, ASUS SonicMaster untuk suara lebih jernih dan bass lebih dalam dengan dua buah 5 magnet sound chamber
OS
Android 5.0 Lollipop dengan ASUS ZenUI 2.0 dengan lebih dari 1000+ peningkatan fitur, upgradable to Android 6 Marshmallow
Apps
Google App, ASUS Sync, Mycloud, File Manager, Mylibrary, Supernote
BBM & Whatsapp Ready
Dimension
164,55 x 84 x 3,5~10,55mm
Weight
190g
Warna
Glamour Red, Hairline Gold, Hairline Silver
Price
Rp3.599.000

Tuesday, April 5, 2016

BlackBerry Priv Gagal, BlackBerry Bangkrut?

Judgement Day itu akhirnya datang juga. Setelah berada di pasar sekitar 4 bulan, BlackBerry Priv dinilai telah gagal menolong BlackBerry dari keterpurukan. Mengenaskan. Smartphone yang digadang-gadang sebagai upaya terakhir BlackBerry untuk tetap bisa relevan di pasar smartphone ternyata tak mampu menolong BlackBerry.

Hal ini diketahui dari jumlah penjualan smartphone yang dilakukan BlackBerry. BlackBerry dalam laporannya untuk kuartal keempat mengatakan hanya menjual sebanyak 600.000 smartphone. Jumlah ini meskipun tidak di-break down untuk menunjukkan seberapa banyak BlackBerry Priv ikut berkontribusi tetap menunjukkan penurunan dibandingkan jumlah penjualan di kuartal sebelumnya yang 700.000. Bahkan jauh di bawah perkiraan Wall Street yang mematok sekitar 850.000.

Mengenai perkiraan BlackBerry Priv ini sebelumnya saya telah menulis artikel di sini. Dalam artikel tersebut saya beralasan BlackBerry Priv yang berbasis Android too little too late. Saya khawatir, upaya terakhir BlackBerry tersebut berujung kegagalan. Dan kini saya rasa perkiraan tersebut menemui kenyataan.

Namun tentu perlu kita bersabar sebelum memvonis BlackBerry Priv sebagai gagal total. Setidaknya ada sedikit harapan di BlackBerry Priv yang akan mampu mengangkat kembali BlackBerry di pasar smartphone. Sayang sekali, BlackBerry tidak bisa mengoptimalkan hal tersebut.

Kegagalan BlackBerry Priv bisa kita lihat dari berbagai sisi. Sebuah artikel di Cult of Android menyatakan bahwa BlackBerry Priv bukan hanya kurang bagus dari sisi software, tetapi juga hardware. Bahkan ada beberapa pengguna yang melakukan penggantian handset sebanyak tiga kali.

Selain itu, dengan merilis BlackBerry Priv, BlackBerry tidak hanya head to head dengan iPhone di kelas atas, tetapi juga dengan vendor Android yang lebih dulu ada di pasar seperti LG, Sony, Samsung dan puluhan vendor China yang kini tumbuh seperti jamur di musim hujan. Hal ini membuat pemasaran BlackBerry menjadi tidak mudah. Lawan terlalu banyak, sering dengan fitur yang lebih baik dan harga lebih murah.

Harga lebih murah ini menjadi kendala tersendiri bagi BlackBerry sekaligus kelemahan mereka yang paling nyata. Dipasarkan dengan harga sekitar 700 dollar AS tanpa kontrak membuat BlackBerry Priv jauh dari lirikan banyak pembeli potensial. Harga 700 USD bukanlah harga bagus untuk sebuah merek yang berada di ambang kebangkrutan. Saya menilai, BlackBerry terlalu percaya diri dengan BlackBerry Priv sehingga tidak melihat pasar dengan lebih jeli. Saya membayangkan sewaktu pertama kali dirilis, BlackBerry memberikan harga sekitar 350 USD untuk Priv, nyatanya dua kali lipat dari perkiraan tersebut.

Selanjutnya, BlackBerry Priv dirilis di pasar yang terbatas. Pasar yang sedikit tentu saja penjualannya sedikit, plus persaingan yang sengit di pasar yang sedikit tersebut, misalnya AS tak akan memberi ruang untuk BlackBerry. 

Jika melihat rencana BlackBerry yang akan merilis satu atau dua lagi BlackBerry berbasis Android di tahun 2016 ini, sudah seharusnya BlackBerry mengambil pelajaran dari Priv. Namun demikian, saya condong untuk mendorong BlackBerry pindah haluan ke sofware dan provider. Sudah saatnya divisi hardware BlackBerry ditutup karena terus-menerus menunjukkan pelemahan bahkan setelah produk baru yang berbasis Android diperkenalkan.

Namun jika BlackBerry masih ingin mencoba memasuki pasar smartphone dengan smartphone baru di tahun 2016 ini, syarat murah, hardware dan software bagus serta pasar yang lebih banyak merupakan hal yang harus dipenuhi. Akan tetapi, saya ragu BlackBerry bisa memenuhi syarat tersebut. Mereka sudah jauh dari mampu untuk merilis smartphone bagus karena berbagai kendala, misalnya kendala sumber daya manusia dan sumber daya modal. BlackBerry sudah harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa mereka dalam waktu dekat bangkrut.

Monday, April 4, 2016

ASUS Zenfone 3 Muncul di Situs Red Dot

Rumor tentang ASUS Zenfone 3 sudah beredar sejak lama. Beberapa waktu yang lalu sempat muncul di situs geek bench, namun tidak lama kemudian rumor tersebut kembali hilang. Kali ini rumor yang lebih heboh muncul di situs Red Dot 21 yang memunculkan rendering image dari Zenfone 3 dan Zenfone 3 Deluxe.

Dari situs tersebut dapat diketahui seberapa bagus ASUS Zenfone 3 dan Zenfone 3 Deluxe nantinya. Untuk ASUS Zenfone 3, ASUS memberikan lapisan kaca 2,5 D di bagian depan dan belakang serta curved metal frame. 

Zenfone 3

Zenfone 3 Deluxe

Menurut Red Dot Zenfone 3 nantinya akan diperkuat dengan berbagai fitur umum yang sudah ada di smartphone kelas atas lainnya seperti USB Type C, front flash untuk selfie, laser focus, finger print plus optional smart flip cover.

Dari rendering image yang ditampilkan oleh Red Dot ada beberapa hal (jika rumor ini benar) yang merupakan jawaban ASUS terhadap persaingan di pasar smartphone yang semakin sengit.

Pertama adalah curved metal frame. ASUS tidak mau ketinggalan dibandingkan vendor lain yang ramai-ramai merilis smartphone dengan bahan metal. Namun pendekatan ASUS sepertinya tidak fully metal dengan memberikan lapisan kaca 2,5D di bagian depan dan belakang ASUS Zenfone 3. Curved metal frame dan lapisan kaca 2,5D ini akan memberikan kesan premium di Zenfone 3.

Kedua tersedianya USB Type C yang kini semakin mainstream. Ponsel kelas atas selalu memberikan USB Type C sebagai salah satu fitur andalan. Dengan juga memberikan USB Type C berarti Zenfone 3 ini akan mengimbangi dari segitu fitur yang disediakan.

Ketiga adalah desain yang menurut saya sama sekali baru. Bila kita lihat desain Zenfone 2 dengan berbagai variannya, penempatan tombol volume yang berada di bawah kamera merupakan sesuatu yang umum. Di Zenfone 3 nantinya tombol volume ini kemungkinan besar akan ada di sisi kanan atau kiri smartphone. Selain itu, tampaknya di Zenfone 3 kesan Zen akan makin mengemuka dengan desain bagian belakang smartphone yang baru yang merupakan desain yang sama yang saya lihat di ZenBook.

Keempat adalah peningkatan fitur kamera terutama untuk selfie dengan menambahkan flash untuk kamera depan.

Sementara untuk Zenfone 3 Deluxe, ASUS memberikan material fully metal. Sebagaimana diketahui, Zenfone Deluxe merupakan lini Zenfone kelas atas yang biasanya harganya lebih mahal dari Zenfone standar sehingga tidak heran untuk Zenfone 3 Deluxe ASUS tidak hanya memberikan frame metal, tetapi bagian belakannya fully metal sehingga kesan premiumnya makin terasa.

Namun, kapan Zenfoen 3 ini akan dirilis sampai sekarang belum ada berita yang cukup bisa dipercaya kebenarannya. Bila kita lihat jadwal pameran IT atau gadget terdekat, mungkin ajang Computex merupakan ajang yang bisa digunakan ASUS untuk merilis Zenfone 3. Semoga saja nanti di ajang Computex Zenfone 3 bisa dirilis.

BukBer, Berbagi Bersama Blue Bird Group dan Rumah Harapan

BukBer Blue Bird Group Di sela-sela kesibukan, dua hari yang lalu saya sempatkan untuk hadir di Buka Bersama (BukBer) Blue Bird Group y...