Saturday, December 31, 2016

Review Paket Internet Combo Xtra L Rp89.000 dari XL

Paket data internet saat ini bisa dikatakan ramah dengan kantong. Banyak operator menawarkan paket data internet murah terutama untuk koneksi 4G. Namun, bila diteliti lebih jauh, tidak banyak operator yang memberikan manfaat lebih. Ini artinya bisa saja paket data internet tersebut murah karena hanya menawarkan paket data, sementara benefit lain tidak ada dan kalaupun ada harganya sudah tidak murah lagi.

Sudah beberapa bulan ini saya berlangganan paket data dari operator XL. Pakat data yang saya pilih adalah Combo Xtra L dengan harga Rp89.000,00. Menurut saya paket data ini merupakan paket data yang paling menarik pada kisaran harga di bawah Rp100.000. Mengapa demikian?

Pertama kali menggunakan paket data Combo Xtra dari XL ini sekitar beberapa bulan yang lalu. Seorang teman kantor menjual kartu perdana XL dengan paket data 19GB (15GB di 4G) dengan harga hanya Rp85.000,00. Saya pikir harga ini cukup murah sehingga saya beli. Namun kemudian beberapa waktu setelah paket tersebut habis, saya kembali ke menggunakan operator lain yang masih 3G HSDPA yang menjadi nomor utama di smartphone.

Oleh karena perangkat saya sudah 4G, tentu sayang sekali jika koneksinya mengandalkan koneksi 3G. Terlebih lagi operator kartu utama saya ini ternyata tidak juga membaik koneksinya, sering hilang sinyal kalau matahari tertutup awan alias kalau hujan. Setelah hitung sana-sini akhirnya saya putuskan untuk menggunakan kartu XL dengan paket Combo Xtra.

Jujur, pertama kali menggunakan Paket Combro Xtra dari XL bukanlah pengalaman yang mengenakkan. Sepanjang satu bulan pertama, koneksi 4G di sekitaran Ciawi, Bogor hingga ke Rancamaya bisa dikatakan sangat tidak stabil. Sinyal 4G-nya sering hilang sendiri, kemudian berganti ke 3G dan ketika pindah dari 4G ke 3G atau sebaliknya berjalan tidak mulus. Membuka Twitter sangat lama loadingnya sehingga membuat frustasi.

Untungnya hal tersebut berlangsung tidak lama. Oleh karena saya sudah mantap menggunakan XL, seiring penggunaan, koneksi 4G XL di sekitar tempat tinggal kemudian di jalur menuju dan pulang dari kantor serta di kantor sendiri makin baik. Demikian juga di wilayah Bogor lainnya. Dengan makin baiknya koneksi 4G saya berketetapan untuk meneruskan menggunakan SIM Card XL dengan paket Combo Xtra tersebut.

Tentu saya menguji seberapa kencang koneksi 4G XL. Berikut ini screen shot hasil uji kecepatan koneksi 4G XL.

hasil uji kecepatan koneksi 4G XL
Tentu saja saya bukan hanya sekali menguji kecepatan koneksi 4G XL ini. Rata-rata kecepatan download yang saya peroleh setelah pengujian adalah antara 15 hingga 23 mbps, sementara kecepatan upload antara 10 hingga 19 mbps. Meskipun bisa dikatakan masih jauh dari kondisi ideal koneksi 4G LTE, namun ini tentu sudah cukup menggembirakan.

Selain kecepatan, hal yang lebih penting lagi adalah kestabilan koneksi. Seperti telah saya uraikan di atas, pada awal menggunakan XL, koneksi 4G-nya sangat tidak stabil, lebih banyak 3G HSDPA di sepanjang perjalanan menuju dan dari kantor demikian juga di tempat tinggal dan wilayah lain di Bogor. Namun kemudian XL memperbaiki koneksi 4G LTE mereka di mana kehilangan sinyal 4G makin sedikit. Saat ini koneksi 4G XL di wilayah-wilayah yang setiap hari saya lalui bisa dikatakan sangat stabil. Bahkan di dalam ruangan kantor, hanya XL yang bisa muncul koneksi 4G-nya. Operator lain sering hanya di 2G.

Hal yang perlu dicermati lebih lanjut adalah benefit lain yang ditawarkan oleh XL di dalam paket Combo Xtra L dengan harga Rp89.000,00 ini. Bagi saya yang sangat terasa adalah menelpon gratis sebanyak 75 menit ke semua operator. Oleh karena saya lebih sering menelpon, benefit ini sangat bermanfaat bagi saya pribadi. Jumlah waktu menelpon 75 menit bukanlah sedikit karena kadang menelpon hanya 2 atau 3 menit saja. Jika dirata-ratakan 3 menit, maka ada kesempatan gratis menelpon sebanyak 15 kali dalam sebulan. Ini benefit yang sangat bagus menurut saya.

Tentu saja dengan kecepatan yang lebih cepat dan stabil, melakukan apa saja tidak masalah. Download dan upload serta menonton video di YouTube dan YouTube Kids menjadi kegemaran baru karena tidak ada lagi buffering. 

Tentu saja seiring waktu kecepatan dan kestabilan koneksi XL ini bisa berubah, mungkin naik atau turun. Saya memperkirakan akan turun seiring dengan makin banyaknya pengguna, sementara investasi menara 4G XL tersendat atau lebih difokuskan ke daerah lain. Gejala tersebut sudah saya lihat beberapa hari ini di mana hasil pengujian di tempat-tempat yang sebelumnya cukup kencang koneksinya, kini hasil ujinya menunjukkan penurunan.

Namun bagaimanapun, sejauh ini cukup senang dengan paket Combo Xtra L ini. Selain murah, benefit nelpon gratis sepertinya tidak dimiliki oleh paket lain dengan harga yang lebih murah atau lebih mahal dari XL yang ditawarkan operator lain. Saran saya untuk XL semoga koneksinya tetap kencang dan stabil serta alokasi paket untuk 3G-nya bagusnya dinaikkan karena ternyata belum semua lokasi ada 4G sehingga pengguna mengandalkan paka alokasi paket 3G yang jumlahnya hanya 4GB dan ini sangat cepat berkurang.

Perlu juga dicatat bahwa bila pengguna melakukan isi ulang paket otomatis, maka sisa paket yang ada akan di-reset ke nol sehingga pengguna hanya akan memperoleh paket sebanyak 19GB. Untuk mencegahnya bisa dilakukan dengan membeli paket manual, misalnya bila dua hari lagi paket Combo Xtra akan berakhir, beli pulsa dan beli paket Combo Xtra yang baru secara manual. Sisa paket akan ditambahkan ke plan terbaru tersebut. 


Demikian review paket Combo Xtra L dari XL. Semoga bisa membantu Anda membeli paket data internet. Perlu dicatat bahwa ini review independen tanpa ada satupun koneksi ke operator XL.

Wednesday, December 28, 2016

Suatu Ketika di Manokwari, Sebuah Catatan Perjalanan

Boleh dikatakan saya jarang bepergian. Jarang jalan-jalan. Namun demikian, jika sekali ada kesempatan jalan-jalan, saya ingin ke Indonesia Timur. Demikianlah beberapa waktu yang lalu, tepatnya dari 20 hingga 25 November 2016 saya berkesempatan mengunjungi Manokwari di Provinsi Papua Barat dalam sebuah misi mengabarkan literasi digital (😀).

Jujur ini perjalanan pertama saya ke wilayah Indonesia yang lebih jauh. Beberapa kali ke arah timur Indonesia hanya sampai di Bali. Ambon belum sempat saya kunjungi. Apalagi Banda Neira, sebuah pulau penuh sejarah yang menjadi ritual wajib untuk dikunjungi para penggemar Sutan Sjahrir. Semoga ada kesempatan ke sana.

Kisah ke Manokwari ini bermula pada hari Minggu (19/11). Sekitar pukul 8 malam saya naik Batik Air dari Halim Perdanakusumah menuju Makassar. FYI, saya tak menggunakan penerbangan langsung dan tidak peduli apakah itu penerbangan langsung atau tidak langsung, yang penting sampai di Manokwari. Sekitar jam 11.00 waktu Makassar mendarat di bandara Sultan Hasanuddin, kemudian sekitar pukul 02.30 waktu Makassar melanjutkan perjalanan ke bandara Rendani, Manokwari dengan Sriwijaya Air.

Tiba di Manokwari sekitar pukul 06.00 waktu Indonesia Timur. Menginjakkan kaki pertama kali di bumi Papua Barat ini membuat saya menghitung mundur ke Barat, betapa luas Indonesia ini. Itupun belum sampai ke ujung paling timur dari Indonesia. Bandara Rendani, Manokwari begitu bagus, meskipun kecil namun fungsional. Bumi Manokwari ini sangat menarik, sekilas pada pandangan pertama saya jatuh cinta.





Ketika sampai pertama kali saya langsung ke hotel. Oleh karena bisa dikatakan tidak tidur dalam perjalanan, saya memilih untuk memulihkan kondisi dengan tidur selama beberapa jam terlebih dahulu. Cuaca bisa dikatakan cukup panas, namun bisa berganti hujan dalam beberapa waktu saja. Ketika saya lihat, suhu sekitar 28 hingga 32 derajat celsius. Jauh lebih hangat dari kondisi di Bogor yang biasanya sekitar 24 hingga 28 derajat celsius.

Setelah tidur sekitar 2 atau tiga jam, perut lapar. Makan di hotel bukan pilihan sehingga saya bergerak ke luar sekitar 100 hingga 200 meter dari seberang hotel. Ada rumah makan yang tentu saja diusahakan bukan oleh penduduk asli, melainkan pendatang dari Jawa. Makan kenyang ala Warteg di Jakarta lengkap dengan es teh manis hanya Rp19.000,00. Saya berpikir tidak mahal sebab harga di Bogor atau Jakarta mungkin hanya murah sekitar 3 hingga 5 ribu saja dari harga tersebut.

Hal yang lebih bagus lagi ternyata koneksi operator selain Telkomsel, yaitu Indosat dan XL tersedia meskipun kecepatannya membuat pening kepala. Oleh karena saya menggunakan XL dan Indosat, untuk mengatasi hal tersebut saya perlu beli SIM Card baru dari Telkomsel yang sudah memiliki koneksi 4G di Manokwari meskipun dalan uji coba kecepatan, kecepatannya jauh di bawah kecepatan seharusnya di 4G, yaitu sekitar 3 hingga 4 Mbps saja. Namun tetap disyukuri karena saya bisa tetap tersambung ke media sosial, tetap bisa melakukan panggilan.

Beranjak malam tentu saja mencari tempat makan. Saya bersama dua teman lainnya memilih ikan bakar. Posisi rumah makan ini tidak jauh dari hotel, masih sekitar jalan Trikora Wosi, Manowari. 






Esok harinya bersama teman-teman yang lain saya berangkat menuju Prafi. Daerah ini cukup jauh dari kota Manokwari, sekitar hampir 1 jam perjalanan darat. Hal yang melegakan adalah jalan darat menuju Prafi ini sangat mulus, hampir tidak ditemukan jalan rusak seperti di Bogor.

Tujuan ke Prafi ada dua, pertama untuk merasakan Ayam Goreng Sabar Menanti yang nge-hits dan Duren Manokwari yang meskipun belum musim, sudah mulai ada di beberapa tempat. FYI, penduduk setempat mengatakan jika musim (sekitar saat natal dan tahun baru) harga duren di sini sangat murah, hanya Rp2.000 per buah.


Soal makan ayam goreng Sabar Menanti ini, saya rasa ayam gorengnya enak. Disajikan dengan sambal, gulai nangka, lalapan, dan nasi, Saya terutama sangat suka dengan sambelnya. Bila ke Manokwari, singgahlah di RM Sabar Menanti ini, Anda tidak akan menyesal.







Keesokan harinya bersama teman saya menyusuri Pulau Mansinam. Pulau Mansinam ini tidak jauh dari Manokwari, hanya sekitar 10 menit naik perahu dengan ongkos Rp5.000,00. Pulau Mansinam ini unik karena di sini terdapat patung Kristus Raja yang menjadi pertanda untuk Manokwari sebagai kota Perkabaran Injil dan diresmikian Presiden SBY pada tahun 2014 yang lalu.

Selama perjalanan laut biru membentang. Dunia begitu damai di sini. Bertemu dengan penduduk lokal yang ramah yang bolak-balik dari Mansinam ke Manokwari setiap hari untuk bekerja dan sekolah dengan menumpang perahu motor. Mereka ini begitu ramah, tidak terlihat suatu yang asing dari mereka atau saya sendiri. Berbicara dengan akrab dan sesekali tertawa dan menanyakan aktivitas mereka.  

Mendarat di Mansinam lalu meneruskan perjalanan menuju Patung Kristus Raja yang berdidi gagah di atas bukit. Sungguh perjalanan yang menyita banyak tenaga karena mendaki begitu lama. Pulau Mansinam ini akan sangat ramai sekitar bulan Februari mendatang karena banyak yang berziarah dan berkunjung untuk melihat Kristus Raja.











Setelah dari Pulau Mansinam yang sangat menarik, kembali ke hotel. Perlu diketahui, tiga teman seperjalanan saya adalah coffee addict. Satu juragan kopi, satunya lagi peminum kopi kelas berat, sementara satunya lagi pembuat kopi. Jadi selain makan dan jalan-jalan mereka mencari tempat minum kopi yang kopinya enak dan asyik meskipun di hotel juga sering bikin kopi sendiri.  Pernah sekali bertemu tempat minum kopi di Manokwari, namun kopinya biasa saja atau bahkan tidak menarik sama sekali plus tempatnya yang juga biasa.

Untuk itulah kami mencari di Google Maps tempat minum kopi yang asyik dan ditemukan Pondok Kopi Matoa. Sayangnya penanda lokasi warung kopi ini tidak akurat sehingga kami tersesat ke mana-mana hanya untuk minum kopi. Untunglah di halaman Google Maps tersebut ada nomor telpon yang bisa dihubungi dan ketika dihubungi, suara di seberang sana menunjukkan arah. Demikianlah, akhirnya sampai di Pondok Kopi Matoa yang asyik meskipun tidak menyediakan kopi Manokwari, tetapi ada kopi Wamena. Sakau kopi enakpun akhirnya terpenuhi. 










Sempat dua kali mengunjungi Pondok Kopi Matoa ini. Kopinya enak, layanananya bagus dan harganya juga sangat bersahabat. Bagi yang mau minum kopi di Manokwari, Pondok Kopi Matoa ini saya rekomendasikan untuk dikunjungi. 

Hari berikutnya adalah kesempatan untuk mencoba Coto Makassar. Saya sebenarnya antara suka atau tidak peduli dengan Coto Makassar ini karena memang tidak pernah mencobanya. Bagi saya Soto Padang atau Soto Kuning Bogor lebih menarik dan lebih sering saya nikmati. Namun tentu tidak mengapa mencoba Coto Makassar, apalagi di Manokwari, jauh dari asalnya di Makassar.

Warung pilihan Coto Makassar ini adalah Coto Makassar Nusantara. Perkara harganya saya tidak melihat, hanya memberikan sekian rupiah untuk digabung dengan yang lain lalu dibayarkan. Menurut saya yang baru mencoba Coto Makassar, Cotonya enak. Mungkin karena lapar? Barangkali. Namun pengunjungnya selalu ramai. Ini tanda bahwa Coto Makassar Nusantara ini enak.





Di hari terakhir di Manokwari adalah mencari oleh-oleh. Saya bukan orang yang terlalu tertarik dengan sesuatu yang eknik sehingga memutuskan untuk tidak membeli sesuatu yang khas berupa pakaian atau penanda khas lainnya dari Manokwari. Pilihan saya ada pada makanan khas, yaitu Abon Gulung Hawai Bakery. Abon Gulung Hawai Bakery ini unik, enak dan tentu saja halal. Abon Gulung Hawai Bakery ini oleh-oleh wajib jika Anda ke Manokwari.





Sebelum pulang sempat sebentar singgah di Pantai Bakaro yang masih asri. Pasirnya putih dengan batu karang besar dan ombak yang juga cukup besar. Pantai ini jarang dikunjungi sehingga saya rekomendasikan jika ke Manokwari.






Secara umum, Manokwari merupakan kota yang menyenangkan. Cuacanya lumayan panas. Kota Manokwari bukan tertinggal dibandingkan kota-kota lain di wilayah barat, meskipun masih banyak yang perlu mereka capai, namun kota ini bergerak menuju kemajuan. Penduduk lokal bisa dikatakan bersahabat, sementara pendatang memang banyak menguasai berbagai sektor ekonomi. Tapi bukan berarti penduduk asli tertinggal sama sekali. Dalam pengamatan yang hanya beberapa hari, penduduk asli pun menikmari kemajuan. 

Thursday, December 15, 2016

Review: Logitech M187 Mini Mouse Wireless

Logitech M187 Mini Mouse Wireless
Mouse adalah perangkat kecil yang sangat penting. Bagi saya yang agak kesulitan menggunakan touch pad di laptop, mouse adalah dewa penyelamat. Nah, tentu sangat banyak jenis mouse ini, mulai yang konvensional (memiliki kabel) maupun yang sudah menggunakan teknologi bluetooth (wireless). Kali ini saya akan mereview sebuah mouse yang sudah sebulan ini saya gunakan, yaitu Logitech M187 Mini Mouse Wireless. 

Spesifikasi

Dimensi : 49,4 mm (1,94 inci) x 81,9 mm (3,22 inci) x 31,8 mm (1,25 inci)
Berat : (termasuk baterai): 51,9 g (1,83 oz)
Dimensi Receiver : 14,4 mm (0,57 inci) x 18,7 mm (0,74 inci) x 6,1 mm (0,24 inci)
Berat Receiver: 1,8 g (0,06 oz)
Teknologi sensor: Advanced Optical Tracking
Resolusi Sensor: 1000
Jumlah tombol: 3
Roda Scroll (Y/T): Ya
Usia baterai: (Usia baterai selama 6 bulan*)
Jenis baterai: 1 baterai AAA
Jarak pengoperasian wireless: Sekitar 10m*
Teknologi wireless: Konektivitas wireless 2.4 GHz terkini
Antarmuka: Receiver USB
OS yang Didukung:
Windows Vista, Windows 7, Windows 8, Windows 10
Mac OS X 10.5 atau versi terbaru
Linux kernel 2.6 +
OS Chrome

Dari spesifikasi terlihat bahwa mouse ini cukup kecil, ringan dan mudah dipasangkan (plug and play). Benar-benar tidak ada kesulitan ketika pertama kali menggunakan mouse ini. Badan mouse yang kecil ini sangat saya sukai karena akan lebih mudah dipakai, tidak memakan banyak space. Logitech M187 ini sangat ringan, kecil dan bagi anda yang memiliki telapak tangan cukup besar mungkin terasa sangat mini. Namun justru menurut saya inilah kelebihannya, kecil, mudah dipegang, sangat ringan sehingga enak digunakan. Bentuk Logitech M187 Mini Mouse yang  begitu kecil ini membuatnya dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam tas, tas jinjing atau saku celana untuk kemudahan portabilitas.

Logitech M187 Mini Mouse Wireless

Penggunaan

Menggunakan Logitech M187 Mouse Mini ini juga sangat mudah. Dalam paket pembelian sudah disediakan sebuah baterai yang diklaim oleh Logitech akan tahan sekitar 6 bulan. Di dalam mouse juga telah disediakan nano receiver yang tinggal dimasukkan ke port USB di laptop. Bentuk nano receiver begitu mungil sehingga dapat ditinggalkan di port USB tanpa perlu khawatir kehilangan ataupun merusaknya. Jika ingin melepasnya, cukup simpan di dalam mouse.  Sejauh ini saya jarang melepaskan nano receiver tersebut dari laptop dan tidak hilang atau rusak. Dengan roda scroll browsing internet, scrolling halaman-halaman teks juga berjalan dengan baik.

Sejauh menggunakan, Logitech M187 Mini Mouse ini sangat puas. Mouse ini tidak ribet, ukurannya kecil, ringan, plus nano receiver yang tidak perlu dicopot dari port USB sehingga portabilitasnya sangat tinggi. Melakukan klik kiri, tengah atau kanan dapat dilakukan dengan mudah.  

Harga

Logitech memberikan harga Rp229.000 untuk Logitech M187 Mini Mouse ini dan tentunya saya tidak membelinya langsung dari Logitech melainkan di Lazada. Ketika itu harganya Rp132.900,00. Untuk harga seratus ribuan memang sangat banyak pilihan mouse, namun mouse mini mungkin sedikit dan di antara yang sedikit itu adalah Logitech M187 Mini Mouse ini.  Saya rasa harga yang saya bayarkan untuk mouse ini sangat sepadan. Kinerjanya bagus, penggunaannya mudah dan memang sesuai yang saya butuhkan, sebuah mouse mini yang enak dilihat dan digunakan.

Logitech M187 Mini Mouse Wireless

Baru: Laptop Gaming ASUS ROG STRIX GL502VM Silver Futuristik

ASUS ROG STRIX GL502VM Memasuki kuartal ketiga di tahun 2017, ASUS kembali menghadirkan produk baru di segmen laptop khusus untuk gamin...