Thursday, August 18, 2016

Digital Goods: Membeli Bukan Berarti Sepenuhnya Memiliki

Ini cerita lama dan mungkin tidak menarik tentang Digital Goods

Terkadang, banyak pengguna atau yang membeli digital goods tertentu beranggapan bahwa apabila mereka membeli sesuatu, seperti lagu, film, dan buku mereka sepenuhnya memiliki hak terhadap barang tersebut, sama halnya dengan ketika mereka membeli actual goods. Hak yang sama tersebut antara lain memberikan digital goods tersebut ke orang lain, membagi pemakaian digital goods dengan orang lain atau bahkan mengoleksi selamanya barang-barang digital yang telah dibeli.

Sesungguhnyalah ada perbedaan signifikan dari sisi kepemilikan ketika seseorang membeli digital goods dibandingkan dengan membeli actual goods. Bila Anda membeli actual goods seperti buku cetak, ponsel, CD Musik, DVD Film, pakaian, sepatu dan banyak barang nyata lainnya entah itu secara offline maupun online (di internet) kepemilikan atas barang-barang tersebut penuh. Ini artinya barang-barang tersebut bisa Anda pakai, Anda berikan kepada anak atau istri atau orang lain yang membutuhkan atau bahkan Anda jual kembali. Hampir tidak ada batasan terhadap apa yang bisa Anda lakukan terhadap barang nyata yang telah Anda beli. Pemilikan atas barang aktual tersebut mutlak karena memang sudah Anda beli.

Namun hal yang berbeda terjadi ketika Anda membeli digital goods di internet. Mengapa di internet? Karena digital goods hanya ada di internet dan proses pembeliannya memang mensyaratkan akses internet.

Alkisah, sekitar empat tahun lalu, aktor populer Bruce Willis ingin menurunkan koleksi musik yang telah ia BELI di iTunes kepada ketiga anaknya. Bruce beranggapan bahwa koleksi sekian banyak lagu yang telah ia beli selama menjadi pengguna perangkat Apple  Inc. merupakan miliknya sepenuhnya sehingga ia memiliki hak untuk memberikan kepada siapa saja koleksi musik di iTunes tersebut.

Namun ternyata keinginannya tersebut tidak bisa dilakukan karena memang pada dasarnya ia tidak memiliki hak kepemilikan penuh terhadap lagu atau apapun yang telah ia beli (sepanjang itu digital goods) di iTunes. Tentu saja Bruce marah karena ia beranggapan uang yang sekian banyak ia keluarkan untuk membeli lagu di iTunes, ternyata koleksi lagu yang ia miliki tersebut bukan miliknya sepenuhnya layaknya actual goods. Bahkan dikabarkan empat tahun lalu, Bruce berusaha mengajukan kasus ini ke pengadilan agar Apple Inc. mau meluluskan niatnya membagi koleksi iTunes-nya. Sampai sekarang kasus ini memang tidak ada lanjutannya. 

Pertanyaannya mengapa Bruce Willis tidak bisa menurunkan koleksi lagunya yang sekian banyak kepada anak-anaknya sendiri? Apakah Apple Inc. meragukan keabsahan anaknya? (eh). Atau apakah Apple Inc. meragukan keaslian Bruce Willis bahwa yang meminta hal tersebut bukan Bruce Willis? (:D)?

Jawabannya ada di Apple's terms and conditions for iTunes yang bisa disederhanakan khusus untuk sharing atau berbagi konten sebagai berikut.
When you buy music from iTunes, you are paying for the license to listen to songs via our iPhone, iPod or other Apple device. But you are not buying the music itself.

Demikian juga ketika pengguna membeli buku.
When you buy a book, you own the copy of that book but not the actual material. What you are buying here is right to use book on certain devices.
Ini artinya ketika seseorang membeli lagu di iTunes yang dibeli bukanlah lagunya seperti ketika membeli CD Music (actual goods), tetapi hak untuk mendengarkan lagu tersebut di perangkat yang digunakan untuk membeli hak mendengarkan lagu tersebut. Ini artinya pendistribusian hak untuk mendengarkan sepanjang dibeli dengan akun pribadi (bukan sharing akun seperti Family) tidak diperkenankan. Kasus yang sama terjadi jika seseorang membeli buku digital di mana yang dibeli bukanlah buku tersebut tapi hak untuk untuk membaca buku di perangkat yang digunakan untuk membeli.

Lebih jauh, penjelasannya adalah bahwa meskipun pengguna merasa sudah membeli lagu, film, buku dan banyak barang digital lainnya, hak kepemilikan terhadap barang digital tersebut terbatas hanya pada lisensi untuk memakai oleh pembeli sepanjang pembeli masih hidup dan tidak bisa diturunkan, dibagi atau diberikan kepada orang lain. Bila pengguna meninggal, lisensi tersebut dengan sendirinya akan terhapus.

Tentu saja ketentuan ini tidak hanya berlaku di Apple Inc. Google Play juga menerapkan hal yang sama (jika penggunaan pribadi seperti kasus Bruce Willis). Google Play menyatakan:
You may not sell, rent, lease, redistribute, broadcast, transmit, communicate, modify, sublicense or transfer or assign any Content or your rights to Content to any third party without authorization, including with regard to any downloads of Content that you may obtain through Google Play. 
You may not use Content as part of any service for sharing, lending or multi-person use, or for the purpose of any other institution, except as specifically permitted and only in the exact manner specified and enabled by Google (for example, through “Social Recommendations”).

Dengan adanya ketentuan tersebut tentu pengguna harus memahami sebelum melakukan pembelian dan menganggap apa yang telah dibeli bisa diredistribusikan ke orang lain. Dengan ketentuan tersebut, digital goods seperti lagu yang sudah dibeli mungkin dengan harga yang mahal, ternyata bukan milik pembeli sepenuhnya. Pembeli hanya meminjam untuk waktu tertentu selama ia hidup. Dengan demikian, membeli barang digital ini sebenarnya tidak menarik karena dari sisi kepemilikan dibatasi.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara memperluas kepemilikan terhadap barang digital yang dibeli tersebut?

Secara umum, untuk seluruh digital goods tidak ada cara untuk memperluas kepemilikan terhadap barang digital tersebut. Pengguna hanyalah peminjam (meskipun sudah membeli konten dengan harga mahal) sepanjang ia masih hidup. Konten tersebut tidak bisa dipindahtangankan, tanpa mengubah akun misalnya, Jika Akun diubah atau pengguna meninggal, konten tersebut ikut terhapus.

Namun secara spesifik per  produk, Google menyediakan fitur Family untuk Google Music. Dengan fitur ini musik yang dibeli bisa dipakai bersama anggota keluarga yang lain. Namun tentu tetap terbatas dan tidak akan pernah sebebas membeli actual goods.

Lalu bagaimana implikasi ketentuan kepemilikan terbatas digital goods?

Implikasi dari ketentuan tersebut adalah makin menariknya actual goods dibandingkan dengan digital goods. Bila Anda seseorang yang menyukai kepemilikan penuh terhadap barang, actual goods merupakan pilihan yang lebih menarik. Barang nyata tersebut dapat dibagi, dapat diberikan, bahkan dapat dijual kembali.

Belilah barang nyata sebanyak mungkin. CD Music, DVD film, Buku merupakan tiga barang nyata yang sangat banyak bentuk digitalnya dijual di internet yang kadang harganya hampir sebanding dengan actual goods-nya sehingga akan sangat lebih baik jika Anda membeli bentuk nyata barang-barang tersebut meskipun mungkin agak repot dengan cara menyimpannya karena membutuhkan tempat yang lebih banyak. Bila Anda termasuk orang yang kurang dana untuk membeli barang nyata, mungkin memiliki konten bajakan cara yang bagus (namun sangat tidak disarankan). 

BukBer, Berbagi Bersama Blue Bird Group dan Rumah Harapan

BukBer Blue Bird Group Di sela-sela kesibukan, dua hari yang lalu saya sempatkan untuk hadir di Buka Bersama (BukBer) Blue Bird Group y...