Tuesday, May 31, 2016

ASUS Rilis Zenfone 3, Zenfone 3 Deluxe, Zenfone 3 Ultra dengan Harga Murah

Penantian yang cukup lama terhadap Zenfone 3 akhirnya berakhir sudah. Kemarin, di ajang Computex 2016 di Taiwan, ASUS secara resmi merilis tiga jagoan baru mereka sebagai pelanjut Zenfone 2 yang populer, yaitu Zenfone 3, Zenfone 3 Deluxe, dan Zenfone 3 Ultra. Acara rilis Zenfone 3 tersebut disiarkan secara LIVE melalui channel YouTube.

Sekilas, ASUS is up their game. ASUS memperkuat posisi mereka di pasar dengan mengikuti arus mainstream dengan merilis smartphone yang good looking dari sisi desain dan bermaterialkan bahan premium, yaitu kaca dan logam. Untuk Zenfone 3 ASUS menggunakan material logam dan kaca, sedangkan Zenfone 3 Deluxe dan Zenfone 3 Ultra ASUS menggunakan fully metal.

Keputusan ini suatu yang masuk akal karena vendor kini sudah meninggalkan bahan plastik untuk smartphone kelas menengah ke atas sehingga jika masih menggunakan plastik, Zenfone 3, Zenfone 3 Deluxe dan Zenfone 3 Ultra akan kurang bagus dari sisi material. 

Tentunya bukan dari sisi desain dan material saja yang jadi perhatian ASUS. Dari sisi spesifikasi, sangat banyak peningkatan yang dilakukan oleh ASUS. Coba kita simak spesifikasi berikut ini.

1. Zenfone 3

Zenfone 3
Zenfone 3 ditujukan ASUS pagi pasar Mainstream. Hal ini bisa kita lihat dari spesifikasi yang cukup bagus dengan harga Zenfone 3 yang murah, mulai dari 249 USD. Dengan harga tersebut pengguna akan memperoleh smartphone dengan spesifikasi Android Marshmallow, layar LCD full HD seluas 5.5-inchi, prosesor Snapdragon 625, kamera belakang 16 megapiksel dan kamera depan 8 megapiksel, baterai 3000 mAh,  sensor sidik jari, USB-C 2.0, RAM 4GB, adan ROM 64GB (plus sd card slot). Zenfone 3 dibuat dari dua panel yang berbeda, yaitu panel depan dengan material kaca dan panel belakang kaca dan frame-nya dengan material logam. Zenfone 3 tersedia dalam berbagai pilihan warna, yaitu gold, blue, black dan white.



2. Zenfone 3 Deluxe

Zenfone 3 Deluxe
Sebagaimana diketahui, Snapdragon 820 kini menjadi pilihan berbagai vendor untuk seri flaship mereka. Sebut saja Samsung Galaxy S7 dan S7 Edge, HTC 10 dan banyak lainnya. ASUS juga tidak mau ketinggalan dengan merilis seri flgaship Zenfone 3 Deluxe untuk bisa bersaing di kelas atas dengan harga yang lebih bersahabat.

Zenfone 3 Deluxe menggunakan material aluminium unibody dengan konstruksi antena yang tidak terlihat. Bila Zenfone 3 berbasis menggunakan layar LCD, Zenfone 3 Deluxe menggunakan layar Super AMOLED seluas 5,7 inchi Full HD dan Android Marshmallow. Snapdragon 820 menjadi pilihan untuk prosesor di Zenfone 3, kamera belakang 23 megapiksel, USB-C 3.0, RAM 6GB dan ROM 256GB (plus sd card slot). Warna yang disedikan ASUS pada Zenfone 3 Deluxe adalah gray, silver, dan gold.

ASUS mematok harga Zenfone 3 Deluxe ini, cukup murah, yaitu hanya 499 USD.






  3. Zenfone 3 Ultra

Seberapa besar phablet yang besar? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada ASUS, mereka akan menjawabnya dengan Zenfone 3 Ultra dengan ukuran layar raksasa, yaitu 6,8 inchi. ASUS menyasar konsumen yang sangat suka hiburan pada Zenfone 3 Ultra ini dengan konstruksi yang sama dengan Zenfone 3 Deluxe, tetapi layar jenis LCD yang jauh lebih besar, yaitu 6,8 inchi full HD. Spesifikasi Zenfone 3 Ultra yang lain adalah prosesor yang digunakan adalah Snapdragon 652 dengan RAM 4GB, kamera belakang 23 megapiksel, USB-C 3.0 dengan DisplayPort dan baterai a 4.600 mAh. Zenfone 3 Ultra tersedia dalam warna gray, silver, dan pink.

Zenfone 3 Ultra
ASUS mematok harga Zenfone 3 Ultra ini juga cukup murah, hanya 479 USD . 

Selain peningkatan di spesifikasi Zenfone 3, desain dan material, ASUS juga berusaha meningkatkan sisi suara di Zenfone 3 serta digunakannya sensor kamera Sony yang merupakan peningkatan dari seri sebelumnya.

 

Tentu saja semua yang diberikan ASUS tersebut bisa menyenangkan pengguna yang selama ini sudah sangat lama menunggu kehadiran Zenfone 3. Sayangnya ASUS tidak menyebutkan kapan Zenfone 3, Zenfone 3 Deluxe dan Zenfone 3 Ultra tersedia di pasar.

Khususnya di Indonesia, sebagai pengguna smartphone ASUS saya berharap ASUS segera merilis seri Zenfone 3 ini di Indonesia. Mengingat ASUS saat ini merupakan nomor dua di pasar Indonesia, posisi ini harus dapat dipertahankan dengan cara tiada lain merilis secepat mungkin Zenfone 3 di Indonesia.

Sumber Foto: Android Headline

Friday, May 27, 2016

ZTE Perkenalkan AXON 7 RAM 4GB dan 6GB

Bertempat di Park Hyatt, Beijing ZTE merilis seri flagship terbaru mereka, yaitu AXON 7. AXON 7 merupakan generasi berikutnya dari seri AXON yang cukup mendapat perhatian pengguna smartphone. 

Berbeda dengan seri AXON sebelumnya, AXON 7 didesain secara serius oleh ZTE. AXON 7 didesain untuk menikmati gaya hidup pintar yang didukung oleh teknologi, berfokus pada hal-hal yang diutamakan pengguna saat ini, yaitu suara setara teater, desain yang luar biasa, dan kamera berkualitas tinggi, semuanya dalam satu genggaman tangan. 

Dalam mendesain ZTE AXON 7, ZTE Mobile Devices telah bermitra dengan Designworks, anak perusahaan dari BMW Group. Kemitraan ini telah menghasilkan kombinasi sempurna di mana estetika bertemu dengan fungsionalitas di AXON 7. Designworks mengoptimalkan proses otentikasi dari AXON 7, di mana perangkat ini lebih intuitif dan mudah digunakan. Contoh, pengguna hanya perlu men-tap dengan satu jari telunjuk pada bagian belakang terlepon dimana secara alami jari telunjuk menyentuhnya. Penempatan sidik jari AXON 7 meminimalkan risiko menjatuhkan smartphone dan goresan pada kamera.

Desain tentunya bukan satu-satunya yang digarap secara serius oleh ZTE untuk AXON 7. Salah satu fitur penting lainnya yang memperoleh perhatian serius adalah suara. Untuk menciptakan pengalaman suara maksimal di AXON 7, ZTE mengundang satu tim profesor sekolah musik untuk memberikan masukan bagi perusahaan. 

Dalam teknologi suara, AXON 7 menggabungkan dua speaker, suara berkualitas Hi-Fi yang berasal dari dua chip suara khusus AK4961 dan AK4490 dari AKM, Dolby Atmos surround sound, dan juga konfigurasi lini teratas yang memungkinkan pengalaman kualitas suara luar biasa. Hal inilah yang menghasilkan resonansi suara dan suara otomatis terucap jernih, seperta pada navigasi peta. Selanjutnya AXON 7 memainkan suara terdepan tidak hanya untuk pemutaran, tetapi juga untuk perekaman, dan tentunya memungkinkan untuk mendengar suara dari jarak delapan meter dari perangkat.

Di sisi kamera, terutama kamera belakang, ZTE membenamkan kamera berkekuatan 20 megapiksel di AXON 7. Smartphone dengan kemampuan mengambil gambar berkualitas tinggi adalah salah satu fitur unggulan yang diminta pengguna dan AXON 7 memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan satu fungsi kamera yang setara dengan kamera berkualitas professional SLR, ZTE mencapai tingkat fotografi tepat dan cepat dengan mengurangi noise visual yang umumnya menghalangi pengambilan foto oleh smartphone. 

Kamera belakang 20 megapikselnya menggunakan teknologi stabilisasi dua gambar, auto fokus canggih, eksposure, pemilihan scene dan white balance untuk mendeteksian secara otomatis perubahan cahaya. Kombinasi teknologi ini memungkinkan pengguna untuk mengambil gambar terbaik dengan mudah.

Pada peluncurannya, ZTE juga mengungkapkan sebuah perangkat VR, yang dinamakan ZTE VR. Perangkat VR tersebut akan melengkapi layar AMOLED WQHD 2k AXON 7 yang memukau, Hi-Fi / Dolby Atmos surround sound, dan dua speaker yang terintegrasi. Selain itu, ZTE juga salah satu di antara perusahaan pertama yang mendukung Daydream, platform Google untuk VR mobile performa tinggi dengan AXON 7.

Pada acara peluncuran tersebut, ZTE dengan bangga memperkenalkan brand ambassador terbaru mereka untuk AXON 7, yaitu pianist Lang Lang. Adam Zeng, CEO ZTE Mobile Devices mengatakan bahwa Lang Lang tidak hanya terkenal di China tetapi juga di luar negeri, dan telah menjadi ikon musik dan kultur China di banyak negara seluruh dunia.

AXON 7 hadir dalam dua versi, yaitu versi standar dan premium. Kedua versi tersedia dalam dua warna, yaitu  Ion Gold dan Quartz Gray. AXON 7 bisa dipesan mulai tanggal 26 Mei di JD.com dan mulai dari 2 Juni, AXON 7 bisa dibeli secara online dan di toko-toko.

Spesifikasi AXON 7

Network
7 modes 22 bands, dual SIM, China Mobile, China Unicom, China Telecom,
international roaming  to USA, Europe, Asia and other regions, (China Version SKU only)
TDD-LTE: B38/39/40/41; FDD-LTE: B1/2/3/5/7/8;
TD-SCDMA: B34/39WCDMA: B1/2/5/8;
CDMA 1X/EVDO: BC0; GSM: B2/3/5/8
Platform
Snapdragon 820, 2.15GHz CPU
Operating System
MiFavor4.0 (based on Android 6.0)
Dimensions
151.7×75×7.9mm
Screen
5.5-in., 2560*1440, WQHD AMOLED, 2.5D
Cameras
Rear: 20MP, PDAF + closed-loop instant autofocus, OIS (optical image stabilization),
F1.8 aperture
Front: 8 MP, FF Aperture F2.2, smart facial beautification
Battery
3250mAh, Quick Charge 3.0
Memory
4GB RAM+ 64GB ROM, 128GB TF Supported
6GB RAM+ 128GB ROM, 128GB TF Supported
Interfaces
3.5mm headphone jack, USB Type-C, Dual SIM 4FF
Audio
Dual Hi-Fi chipset: AK4961 + AK4490
Dual speaker
Additional features
Force Touch (available in premium version)
Fingerprint 3.0 recognition
NFC

Foto AXON 7






Sejauh ini belum ada informasi apakah seri AXON 7 terbaru ini akan dijual di Indonesia. Namun melihat seri AXON sebelumnya tidak dijual di Indonesia, kemungkinan AXON 7 ini juga tidak akan dijual, kecuali ada kebijakan baru ZTE Indonesia.

Thursday, May 26, 2016

ASUS Zenfone 3 Gunakan CPU Qualcomm Snapdragon 820

Sumber: Android Headline
Setelah beberapa vendor merilis smartphone andalan mereka dengan CPU Qualcomm Snapdragon 820, ASUS juga akan mengandalkan Snapdragon 820 di Zenfone 3, smartphone andalan terbaru mereka yang akan segera dirilis di ajang Computex 2016 di Taiwan. 

Berdasarkan bocoran terbaru, ASUS Zenfone 3 dengan code name ASUS Z016D ini sepertinya akan mengandalkan Snapdragon 820 untuk tetap bisa bersaing dengan vendor besar lain, semisal Samsung. Namun tentu ASUS tidak akan mengikuti pola harga premium seperti Galaxy S7.

Bocoran di GFX Bench memperlihatkan bahwa Zenfone 3 dengan Android Marshmallow (6.0.1) nantinya akan ditopang oleh Snapdragon 820 yang akan dikombinasikan dengan GPU Adreno 530 untuk performa grafik yang lebih baik. Selain itu, layar Zenfone 3 adalah Full HD seluas 5,5 inchi meskipun ada kemungkinan untuk seri tertentu seluas 6 inchi. Yang menarik adalah bahwa Zenfone 3 sepertinya akan mempertahankan RAM sebesar 4GB yang telah mereka mulai pada Zenfone 2 sebelumnya plus ROM sebesar 128GB (kemungkinan besar dengan tambahan fitur SD Card Storage).

Di sisi kamera sebelumnya rumor menyebutkan bahwa Zenfone 3 akan menggunakan kamera belakang berkekuatan 23 megapiksel. Namun dari GFX Bech terlihat bahwa Zenfone 3 menggunakan kamera belakang dengan kekuatan 21 megapiksel dan kamera depan 8 megapiksel. Kamera belakang ini akan bisa merekan video dengan kualitas Ultra HD.

Mengingat akan ada beberapa seria dari Zenfone 3 ini, kemungkinan hasil uji GFX Bench merupakan flagship dari Zenfone 3. Saya memperkirakan akan ada setidaknya 3 Zenfone 3 dari sisi luasnya layar, yaitu Zenfone 3 5 inchi, Zenfone 3 5,5 inchi dan Zenfone 3 6 inchi.

Seperti disebutkan oleh CEO ASUS sebelumnya ada kemungkinan bahwa satu atau dua dari ketiga seri tersebut akan menggunakan CPU MediaTek. Hal ini akan membuat perbedaan yang cukup signifikan dari sisi harga dibandingkan dengan seri flagship yang berbasis Snapdragon 820. Perkiraan saya kemungkian besar Zenfone 3 dengan layar 5 dan 6 inchi akan berbasis MediaTek, sementara seri flagship 5,5 inchi akan berbasis Snapdragon 820.

Selain itu, nantinya seperti yang pernah dilakukan oleh ASUS sebelumnya akan ada perbedaan dari sisi kamera dan storage yang akan membedakan seri Zenfone 3 yang satu dari yang lainnya. Taktik seperti ini bukan sesuatu yang baru bagi ASUS untuk menyesuaikan smartphone mereka dengan daya beli konsumen.

Namun beberapa sensor sepertinya tidak akan hadir di Zenfone 3 misalnya Altimeter, Heart Rate dan Thermometer. Akan tetapi, ini baru berupa bocoran, spesifikasi pasti dapat diikuti saat peluncurannya di hari Senin tanggal 30 Mei nanti.

Mengingat tanggal rilisnya yang semakin dekat, yaitu 30 Mei, bocoran ASUS Zenfone 3 akan semakin banyak dalam beberapa hari ke depan. Tentunya suatu hal yang lazim mengingat bocoran ini diperlukan untuk makin membuat penasaran. Tentunya tak sabar untuk melihat ASUS Zenfone 3 hadir di pasar.

Friday, May 20, 2016

Menikmati Masih Mencintamu Windy Ghemary

Windy Ghemary (sumber: okezone)
Selera musik saya termasuk random. Kadang saya mendengarkan Guns N Roses, Metallica dan berbagai grup band metal lainnya. Kadang juga sangat suka mendengarkan Roxette, Debbie Gibson, A-Ha dan lainnya. Namun pada umumnya saya sangat jarang mendengarkan musik terkini semacam Lady Gaga dan kawan-kawannya. Kebanyakan yang selalu saya tonton video klipnya di YouTube adalah musik tahun 80-an, 90-an dan awal 2000-an. Untuk yang awal 2000-an ini biasanya masih terkait dengan tahun 90-an seperti The Corrs.

Beberapa waktu terakhir saya mencoba untuk sedikit beralih ke penyanyi yang agak lebih baru seperti Skylar Grey yang saya pikir kurang mendapat tempat, meskipun punya bakat dan suara yang lebih baik dibandingkan Lady Gaga, misalnya. Namun, sejauh itu saya tak mengikuti musik dalam negeri, kecuali mendengar beberapa kali Isyana Sarasvati menyanyi. Bagi saya penyanyi dalam negeri khususnya perempuan belakangan tidak terasa greget-nya. Mereka mungkin punya bakat dan suara yang sama bagusnya, tetapi saya kurang menyukainya. Sampailah pada beberapa waktu yang lalu, seorang teman menyuruh saya menonton sebuah video dari penyanyi pendatang baru di blantika musik Indonesia. Namanya Windy Ghemary. Lagunya berjudul Masih Mencintamu. Saya embed videonya berikut ini.


Bila kita lihat tema lagu ini merupakan tema yang lazim tentang kekasih yang tidak bisa move on dari mantannya. Tema ini bukan sesuatu yang luar biasa namun dapat dijadikan sebuah lagu yang bagus dan dinyanyikan dengan baik oleh Windy. Pertanyaannya siapa Windy Ghemary ini? Dari hasil pencarian Google dan informasi dari beberapa teman, ternyata Windy Ghemary yang nama lengkapnya Windy Yunita Ghemary sudah mulai muncul di blantika musik Indonesia sejak tahun 2014 yang lalu ketika ia mengikuti sebuah kontes menyanyi di televisi. Meskipun bukan yang terbaik dari konsten menyanyi tersebut, Windy memutuskan untuk serius di dunia musik. Keseriusannya tersebut dibuktikan dengan hit single Masih Mencintamu yang didiciptakan oleh Posan Tobing. 

Jalur yang dipilih Windy adalah musik pop. Windy membuktikan bahwa ia sangat mampu untuk berada di musik Indonesia dengan lagu Masih Mencintaimu ini. Saya rasa lagu ini asyik dan enak didengar serta dinikmati. Salah satu faktor yang membuat orang suka lagu ini adalah bahwa memang banyak orang yang masih teringat mantan (eh), namun masih berharap mantan tersebut kembali meskipun mantan tersebut tak akan pernah kembali lagi untuk selamanya.  

Kembali kepada Windy. Saya rasa setiap penyanyi baru yang masuk ke blantika musik Indonesia harus didukung, terutama mereka yang memilih jalur solo. Bila kita lihat beberapa waktu terakhir banyak artis yang memasuki musik Indonesia dengan membawa sebegitu banyak temannya dalam sebuah grup yang dibentuk meniru grup serupa yang telah ada di negara lain. Model seperti ini tidak memperlihatkan kualitas penyanyi sesungguhnya karena begitu banyak suara yang hadir dalam sebuah lagu. Dan sebenarnya tidak cukup banyak penyanyi solo perempuan yang mau mencoba peruntungan di musik Indonesia akhir-akhir ini. Musik Indonesia sepertinya kekurangan penyanyi solo perempuan yang bagus. 

Dengan memilih karier solo Windy Ghemary ingin membuktikan kualitas yang ada pada dirinya. Single Masih Mencintamu ini saya rasa cukup sukses untuk menarik konsumen musik di tanah air untuk memperhatikan Windy. Ini sebuah langkah bagus bagi karier Windy di masa depan. Namun tentu saja sebuah single saja tidaklah cukup. Satu hal yang menjadi tantangan bagi pendatang baru adalah bahwa mereka harus fight dari nol. Hal ini membutuhkan usaha yang sangat besar, terlebih saat ini persaingan sedemikian ketat, tidak hanya dari dalam, tetapi juga dari luar negeri. Tambahan lagi biasanya liputan terhadap pendatang baru jauh lebih sedikit dibandingkan mereka yang sudah eksis sehingga mereka butuh usaha luar biasa untuk memperkenalkan diri ke publik. 

Untungnya beberapa teknologi sekarang bisa mempercepat ketenaran seorang penyanyi pendatang baru seperti Windy, misalnya video di YouTube. Selain itu RBT yang bekerja sama dengan para operator. Hal ini juga dilakukan oleh Windy. Video Masih Mencintamu di YouTube telah ditonton lebih 4.000 view. RBT Masih Mencintamu yang bekerja sama dengan tiga operator besar di Indonesia (Telkomsel, XL, dan Indosat) juga bisa dinikmati pengguna dengan melihat halaman prodil Windy di Twitter. Tambahan lagi dengan melakukan tur keliling beberapa kota dan hadir di radio kota-kota tersebut akan membuat Windy makin dikenal masyarakat pecinta musik Indonesia. Saya berharap, singel Masih Mencintaimu ini merupakan langkah awal bagi kesuksesan Windy di musik Indonesia. Nantinya di masa depan Windy bisa melahirkan album sendiri. Sukses untuk Windy!

Wednesday, May 11, 2016

Algoritma: It's Good To Be Back To Your Self

We were truly slaves to the algorithm.
Kalimat di atas tentu saja bukan hasil olah pikir saya. Kalimat itu berasal dari seorang kurator news Facebook yang bekerja secara kontraktor dengan Facebook. Kurator tersebut tentu saja tidak disebutkan namanya dan ingin tetap anonim karena khawatir adanya backlash.

Sebagaimana diwartakan oleh Gizmodo yang kemudian dibantah oleh Facebook, Facebook melakukan sensor terhadap berita yang terkait dengan pembaca konservatif atau secara jelasnya menyensor berita-berita konservatif seperti Mitt Romney dan lain-lain. Tentu saya tidak akan membahas hal ini di sini. Satu hal yang perlu saya tekankan kepada pembaca adalah bahwa hidup kita kini tidak bisa jauh dari algoritma dan mungkin sedikit berlebih (namun ada kebenaran di sana) kita telah menjadi budak algoritma.

Algoritma seperti pernah saya bahas sebelumnya akan menentukan siapa yang akan Anda follow, berita apa yang akan Anda baca dan pada akhirnya membentuk suatu kebenaran tertentu yang Anda anggap benar. Oleh karena sedemikian seringnya Anda tanpa sadar menggunakan algoritma, seolah-olah sesuatu terjadi seperti apa adanya dan sudah seharusnya seperti itu.

Tidak mengherankan jika Anda kemudian terlibat silang sengkarut terutama di media sosial yang berawal dari apa yang Anda lihat sebagaimana telah ditentukan oleh Algoritma. Contohlah Twitter. Algoritma akan menentukan siapa saja yang layak Anda follow berdasarkan siapa sebelumnya Anda follow. Coba perhatikan screenshot berikut ini.



Screenshot di atas merupakan contoh sederhana. Contoh yang lebih kompleks adalah ketika Anda ikut arus besar atau mainstream di Twitter, misalnya isu tertentu yang sedang ramai, misalnya Pilkada DKI atau dulu Pilpres 2014. Algoritma Twitter dan Facebook akan menawarkan banyak hal kepada Anda terutama orang yang sealiran dan seselera dengan calon yang Anda dukung. Hal berikutnya adalah Anda akan masuk ke lingkaran percakapan, terlibat mention berjamaah dan makin yakin dengan pilihan Anda serta tak segan-segan membantah bahkan dengan cara-cara kurang sopan melawan orang yang berseberangan dengan pilihan Anda. Hal yang sama terjadi di Facebook.

Hal ini akan membuat Anda berada di lingkaran yang sulit sekali untuk keluar. Saya pernah mengalami hal ini ketika Pilpres 2014 sehingga untuk memutus jaring algoritma ini saya berhenti sama sekali dari tweet politik, mute dan block pengguna dan berbagai hal lain sehingga algoritma ini tidak lagi membelenggu saya di Twitter.

Butuh usaha kuat dan waktu yang cukup lama agar saya kembali ke keinginan saya semula ketika mendaftar di Twitter. Perlu saya katakan, minat utama saya bukanlah politik dan saya selalu memposisikan diri sebagai anti mainstream. Saya lebih senang dengan teknologi, sejarah, buku, film dan musik. Namun di tahun 2014 itu rasanya saya ingin menolong sehingga isu di Twitter menjadi lumayan berimbang. Namun ternyata hal tersebut tidak bagus untuk pengalaman keseluruhan saya di Twitter.

Apa yang dapat saya simpulkan dari hal tersebut di atas?

Meskipun algoritma terkesan memasung Anda dengan perilaku yang Anda wujudkan di media sosial, bukan berarti algoritma ini sesuatu yang tetap dan tidak bisa dihindari (menuju pengalaman yang lebih baik). Hal yang perlu Anda lakukan hanyalah kembali ke diri sendiri atau Back To Your Self. Namun hal ini tak semudah menulis atau mengatakannya.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa makin banyak hal yang Anda lakukan di sebuah layanan tertentu media sosial, maka semakin baik algoritma layanan media sosial tersebut melayani Anda. Apa yang Anda Retweet, apa yang anda LIKE, apa yang Anda bagi, apa yang Anda komentari, siapa yang Anda follow atau siapa teman Anda merupakan sinyal-sinyal penting bagi algoritma untuk menentukan apa yang sebaiknya Anda lakukan berikutnya.

Sinyal-sinyal tersebut sekaligus merupakan clue bagi Anda untuk terlepas dari algoritma lama menuju pengalaman baru yang sesuai dengan minat Anda sebenarnya. Anda harus diet Retweet (hanya me-retweet yang sesuai dengan minat), tidak melakukan LIKE sembarangan, pilih-pilih teman dan tweet yang akan dikomentari. 

Bagaimana dengan tweet-tweet atau postingan terdahulu dan pengguna yang sudah ada di lingkaran pertemanan?

Ini yang saya lakukan. Saya memutus aliran Algoritma (terutama yang terkait dengan isu mainstream dan politik) dengan berbagai cara. Pertama saya menyusuri tweet-tweet terdahulu hingga sampai dengan dua tiga tahun ke belakang. Caranya adalah dengan melakukan search di Twitter. Setelah menemukan tweet tersebut sebagian besar tweet tersebut saya hapus.

Kedua MUTE, Block, dan Unfollow. Tools ini sangat berguna untuk pengguna agar tidak KEPO untuk berkomentar atau melakukan Retweet. Beberapa akun yang di luar minat saya, terutama yang terkait dengan politik, isu-isu mainstream saya tinggalkan dengan tiga cara tersebut. Hasilnya timeline terlihat lebih bersih dan sangat mencerminkan minat saya semula.

Ketiga diet tweet/posting. Ini agak sulit. Di zaman di mana semua orang bisa melakukan posting atau tweet, tidak ikut terlibat memposting atau mentweet isu yang sedang HOT bukan pilihan yang mudah. Namun agar pengalaman media sosial Anda mencerminkan minat, hal ini perlu Anda lakukan. Disiplin untuk tidak melakukan tweet/posting, tidak berkomentar, tidak melakukan LIKE dan tidak melakukan Retweet adalah cara cepat Anda terbebas dari algoritma yang salah menafsirkan minat Anda semula. Bahkan dalam kondisi tertentu, saya bahkan tidak melakukan RT, LIKE, share atau berkomentar terhadap suatu peristiwa yang sedang HOT meskipun terkait dengan minat saya karena bersinggungan dengan aliran mainstream atau politik.

Saya rasa pengguna media sosial perlu kembali ke diri mereka sendiri. Sejauh yang kita lihat, media sosial di Indonesia, terutama Twitter dan Facebook telah melahirkan banyak pertentangan, isu hoax, caci-maki, ancaman, SARA dan banyak hal negatif lainnya. Kita perlu mengurangi hal tersebut dengan cara kembali ke diri sendiri dan tidak mau terlibat sesuatu yang sebenarnya kita tidak tahu benar atau salahnya.

Baca Juga: Manusia Kekinian Dibodohi Algoritma

Friday, May 6, 2016

Smartfren Bundling Samsung Galaxy J1 (2016) Harga Rp1,6 Juta

Smartfren, operator jaringan 4G LTE Advanced pertama dan terluas di Indonesia kini sedang giat-giatnya memperbanyak perangkat Open Market Handset (OMH). Setelah beberapa waktu yang lalu bekerja sama dengan Lenovo, kini Smartfren kembali bekerja sama dengan Samsung dengan menghadirkan paket bundling Samsung Galaxy J1 (2016) dengan harga yang menarik, yaitu hanya 1.699.000,00. Bersamaan dengan peluncuran paket bundling Samsung Galaxy J1 ini, Smartfren juga meluncurkan  produk terbarunya, yaitu kartu perdana VoLTE. 

Menurut Sukaca Purwokardjono, Division Head Device Planning and Management, PT. Smartfren Telecom, Tbk, hadirnya kartu perdana VoLTE memungkinkan pelanggan dapat menikmati beragam keuntungan dari layanan jaringan 4G LTE Advanced terluas Smartfren. Untuk menikmati VoLTE pengguna bisa mengunduh aplikasi Smart VoLTE di Google Playstore dan langsung bisa merasakan  cara baru berkomunikasi dengan VoLTE. Syaratnya smartphone 4G pengguna mendukung Band 5 dan Band 40, serta memiliki pengaturan mode LTE-only.

Hal yang sama juga berlaku pada Samsung Galaxy J1 (2016) yang di-bundling Smartfren. Pengguna tinggal mengatur koneksi pada LTE Only dan langsung bisa merasakan Voice over LTE yang ditawarkan Smartfren. Hal yang menggembirakan lagi adalah bahwa harga kartu perdana VoLTE Smartfren ini sangat murah, hanya Rp5.000 dan bonus melimpah, yaitu dapat langsung menikmati layanan VoLTE Smartfren serta social messenger (WhatsApp, BBM dan Line) sepuasnya selama 5 hari.

Setelah 5 hari, jika pengguna membeli tambahan paket sebesar Rp30.000,00 pengguna memiliki dua pilihan, yaitu basic plan, dengan bonus kuota data sebesar 1GB atau all in one plan dengan bonus kuota data 500MB, 50 SMS, dan 10 menit menelepon ke semua operator Kedua plan ini berlaku hingga 30 hari.

Tambahan lagi, setiap kali melakukan pembelian ulang paket sebesar Rp30.000,00 pelanggan akan mendapatkan total bonus sampai dengan 9GB, dengan detail sebanyak 250MB akan diperoleh pada pembelian pertama hingga keempat dan 500MB di pembelian kelima hingga ke duapuluh. Paket ini juga memberikan pelanggan akses tanpa batas untuk menikmati layanan social messenger seperti BBM, Whatsapp, dan Line.

Untuk paket bundling Smartfren dengan Samsung Galaxy J1 (2016) harganya adalah Rp1.699.000,00 yang dengan paket Smartplan Galaxy pengguna akan langsung mendapatkan kuota data gratis sebesar 1GB dan gratis 100 menit untuk  panggilan suara dan video ke Smartfren yang berlaku selama 7 hari dari aktifasi kartu perdana.

Pelanggan akan mendapatkan bonus hingga 48GB untuk pembelian Smartplan Galaxy 100 ribu (Rp100.000,00) sebanyak 12 kali dalam 12 bulan (mana yang lebih dulu tercapai). Jika paket tersebut habis pelanggan cukup mengisi pulsa, dan aktifkan beragam paket yang ditawarkan oleh Smartfren melalui aplikasi MySmartfren yang sudah diinstall di Samsung Galaxy J1 (2016).

Perlu diketahui Samsung Galaxy J1 (2016) memiliki layar 4,5 inchi super amoled yang sudah dilengkapi dengan teknologi vivid display sehingga memberikan pengalaman menonton video yang lebih baik. Untuk mendukung kualitas dari video call, Samsung Galaxy J1 (2016) memiliki kamera belakang  5MP dengan LED Flash dan kamera depan 2MP.

Samsung Galaxy J1 (2016) merupakan smartphone dual SIM 4G LTE ini dengan sistem operasi Android Lollipop 5.1.1 dan dilengkapi dengan RAM 1GB dan ROM 8GB dan baterai berkapasitas 2,050 mAh.

Untuk diketahui, selain Samsung Galaxy J1 (2016) yang di-bundling oleh Smartfren, masih banyak smartphone Samsung yang bisa menjalankan Smart VoLTE. Smartphone Samsung tersebut adalah Samsung Galaxy J Series, Samsung Galaxy A Series, dan Samsung Galaxy Note 5, Samsung Galaxy S6 Edge Plus serta Samsung Galaxy S7 dan S7Edge.

Dengan bundling Samsung Galaxy J1 (2016) Smartfren terus menambah perangkat OMH mereka. Hal ini sesuai dengan rencana Smartfren untuk terus memperbanyak perangkat OMH agar pengguna memiliki pilihan yang lebih beragam dalam menggunkan layanan koneksi 4G LTE Advanced Smartfren.

Wednesday, May 4, 2016

Menilik Rancangan Peraturan Menkominfo tentang Penyediaan Layanan Aplikasi/OTT

Setelah lama dipertanyakan oleh operator terkait kegiatan layanan Over The Top (OTT) di Indonesia, sejak minggu lalu, Menkominfo telah merilis rancangan aturan yang akan memayungi layanan OTT di Indonesia. Rancangan aturan tersebut kini sedang dalam tahap konsultasi publik sehingga diharapkan ada masukan dari publik demi perbaikan (dapat didownload Di Sini). 

Dalam melihat aturan ini, saya tentu bukanlah ahli, hanya pengguna biasa. Bagi saya sendiri rancangan aturan ini perlu dikritisi dari berbagai segi, terutama terkait dengan layanan OTT yang hampir sebagian besar (99%) berasal dari luar atau asing. Saya melihat ada kecenderungan di rancangan aturan ini terkait dengan sesuatu yang disebut lokalisasi. 

Layanan OTT merupakan sebuah kemustian di mana saat ini karena melalui aplikasi pengguna bisa menikmati layanan. Dengan berkembangnya era smartphone, pengguna tidak lagi harus mencari sendiri layanan yang disukainya, tetapi disediakan oleh sebuah atau beberapa pasar aplikasi sesuai dengan sistem operasi smartphone. Kita melihat perkembangan aplikasi ini sangat cepat dan nilai ekonominya semakin hari semakin besar. Aplikasi-aplikasi bagus kini bisa mendulang ribuan dollar dalam sebulan.  

Sebagai bukti kita bisa melihat aplikasi Facebook. Pada kuartal pertama tahun 2016 ini Facebook memperoleh pendapatan sekitar 5 miliar dollar lebih di mana sebagian besar dari pendapatan tersebut berasal dari aplikasi mobile mereka di Android. Tentu, sebagai negara yang di mana aplikasi Facebook ini digunakan, setidaknya Indonesia bisa memungut sedikit dari pendapatan tersebut. 

Beberapa hal yang patut dikritisi dari rancangan aturan tersebut saya sebutkan berikut ini.

1. Definisi Jasa Telekomunikasi

Dalam rancangan aturan Menkominfo yang dimaksud dengan jasa telekomunikasi adalah:
layanan telekomunikasi untuk memenuhi kebutuhan bertelekomunikasi dengan 
menggunakan jaringan telekomunikasi.
Bagi saya definisi ini agak membingungkan karena tidak menyebutkan apakah jasa tersebut dibayar atau gratis. Apabila kita telusuri, bisa disimpulkan definisi jasa telekomunikasi tersebut sesuai dengan yang ada di Wikipedia yang merujuk kepada UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.  

Padahal jasa telekomunikasi tersebut bukan sesuatu yang didapat dengan gratis sehingga definisi yang dikemukakan oleh  Federal Communications Commission mungkin lebih mendekati:
the offering of telecommunications for a fee directly to the public, or to such classes of users as to be effectively available directly to the public, regardless of the facilities used
2. Kewajiban OTT berbentuk BUT

Kewajiban menjadi Bentuk Usaha Tetap bagi pelaku OTT mungkin sebuah hal yang cukup berat. Rancangan aturan tersebut menyatakan:
Layanan OTT dapat disediakan oleh penyedia layanan OTT asing dengan ketentuan wajib menjadi Bentuk Usaha Tetap, yang selanjutnya disebut BUT, di Indonesia.
Kewajiban menjadi BUT ini terkait dengan isu perpajakan. Sebagaimana disebut dalam undang-undang perpajakan, bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.

Nantinya Bentuk Usaha Tetap ini akan terkait dengan Pajak Penghasilan Pasal 26. Tentu kita harus memahami sisi perpajakan ini sebelum melihat lebih jauh tentang kewajiban menjadi BUT. 

Dari sisi pengguna tentu akan sangat baik bahwa nantinya layanan OTT seperti WhasApp, Google, Twitter, Facebook diharuskan jadi BUT. Namun pertanyaannya, apakah layanan tersebut mau jadi BUT? Bagaimana kalau mereka tidak mau?

Kewajiban mendaftarkan BUT ke BRTI sebagaimana dinyatakan dalam rancangan peraturan tersebut mungkin sesuatu yang normal, namun apakah OTT tersebut mau mendaftarkan diri. Karena hal ini terkait dengan pajak, apakah OTT akan terbuka dengan pendapatan mereka yang berasal dari Indonesia?

3. Filtering

Secara jelas rancangan peraturan ini menyebutkan bahwa:
Penyedia Layanan OTT wajib melakukan filtering konten dan mekanisme sensor sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
Sejak beberapa waktu yang lalu masalah filtering merupakan masalah yang rumit. Banyak penyedia layanan OTT yang membuat konten tidak pantas atau konten dewasa. Masalahnya adalah  pemerintah melalui Kominfo tidak menggiatkan usaha-usaha digital literasi dan lebih condong memberikan hukuman dengan penutupan layanan seperti yang dialami oleh Vimeo, Reddit, Imgur dan banyak lainnya.

Kewajiban melakukan sensor bagi penyedia layanan OTT kadang juga bertentangan dengan TOS OTT itu sendiri. Mungkin beberapa OTT secara eksplisit mengatakan bahwa mereka menginjinkan konten dewasa. Ini artinya bertentangan dengan apa yang diinginkan aturan tentang OTT ini yang pada ujungnya akan berakibat diblokirnya layanan. Bahkan Facebook pada kondisi tertentu tidak mempermasalahkan konten dewasa.

Sudah seharusnya filtering atau sensor ini bukan lagi sesuatu yang datang dari atas, tetapi diusahakan dan dikampannyekan dengan kampanye Filter Sendiri (Self Censorship). Caranya tiada lain selain melakukan kampanye digital literasi untuk membuat pengguna bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya di internet.

Penempatan pasal atau ketentuan filtering pada akhirnya akan menjadi rujukan atau justifikasi regulator untuk melakukan pemblokiran layanan OTT.

4. Data Center

Rancangan aturan penyedia layanan OTT ini juga menyebutkan tentang kewajiban menggunakan nomor protokol internet Indonesia dan menempatkan sebagian server dalam pusat data (data center) di Wilayah Negara Republik Indonesia. 

Saya rasa aturan ini mengada-ada mengingat sejak tahun entah kapan, BlackBerry dipaksa membangun data center tetap tidak terlaksana. Apalagi kalau ingin memaksa Google, Facebook, WhatsApp untuk menaruh sebagian data center-nya di Indonesia.

Saya rasa kita harus tetap logis bahwa membangun data center bukan sesuatu yang datang tiba-tiba dan harus direncanakan serta disesuaikan dengan layanan yang akan diberikan. Misalnya, pengguna Facebook di Indonesia sekitar 80 juta. Apakah pengguna sebanyak ini perlu data center tersendiri di Indonesia?

Membangun data center tentu terkait pula dengan capital expenditure OTT. Logisnya, buat apa OTT mendirikan atau menyewa data center tersendiri di Indonesia sementara data center mereka yang terdekat sudah mampu melayani pengguna Indonesia. Jika yang disasar adalah data pengguna Indonesia supaya ditempatkan di Indonesia, saya rasa keharusan menempatkan data center terlalu jauh. Dan lagi jika benar-benar  OTT membangun atau menyewa data center di Indonesia apa kemudahan yang bisa mereka peroleh sementara kebanyakan aturan di malah memperberat kondisi mereka.

5. Penyadapan

Isu penyadapan mengemuka tiga tahun terakhir dan layanan OTT kini bergerak untuk melakukan end to end encryption. Namun rancangan aturan ini sepertinya tidak melihat perkembangan tersebut dengan mewajibkan OTT menjamin akses untuk penyadapan informasi secara sah (lawful interception) dan pengambilan alat bukti untuk keperluan penyidikan atau penyelidikan perkara pidana oleh aparat penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagi saya penyadapan tidak ada yang lawful interception karena ini terkait dengan keamanan dan privasi pengguna sehingga mengatakan ada lawful interception (sepertinya) mengada-ada. Namun coba kita anggap saja hal tersebut ada dan OTT diwajibkan memberikan akses. Saya kira OTT tidak akan pernah memberikannya.

Kasus nyata yang baru-baru ini terjadi di Brazil adalah contoh yang bisa kita pelajari. Otoritas Brazil menginginkan WhatsApp untuk hands over data pengguna yang terkait dengan peredaran obat terlarang. WhatsApp menolak, bukan saja karena tidak memiliki data tersebut tetapi  juga karena mereka menerapkan end to end encryption sehingga hanya user yang bisa melihat pesan.

Lalu apakah nanti WhatsApp akan bernasib sama dengan yang di Brazil? Sekali lagi aturan ini akan berujung pada pemblokiran layanan OTT.

Tentang kewajiban OTT terkait penyerahan data ini pasal 9 rancangan aturan mengatakan:

1. Penyedia Layanan OTT wajib menyimpan data rekaman transaksi dan trafik Layanan OTT paling sedikit 3 (tiga) bulan.2.  Untuk keperluan proses peradilan, penyedia Layanan OTT wajib menyimpan data rekaman yang terkait langsung dengan proses peradilan dimaksud berdasarkan permintaan aparat penegak hukum sampai dengan putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap.
Sekali lagi, tidak hanya OTT, secara lebih umum perangkat pengguna kini telah dilindungi oleh enkripsi sehingga bahkan pembuatnya sendiri seperti Apple tidak bisa masuk untuk mengambil informasi. Hal ini bisa kita lihat pada sengketa Apple Inc. vs FBI.

Dengan adanya pasal di atas saya ragu apa maunya aturan tentang OTT ini.


 6. Kerja sama OTT dengan Penyelenggara Telekomunikasi

Sudah diketahui publik bahwa provider telekomunikasi gerah dengan dengan kemajuan dan pendapatan OTT yang berjalan di atas layanan mereka yang menurut mereka menuai keuntungan lebih besar dan mereka tidak mendapat apa-apa.

Anggapan provider telekomunikasi ini tidak sepenuhnya benar. Untuk bisa menikmati layanan OTT, pengguna membeli data dari provider telekomunikasi. Ini adalah sesuatu yang pasti. Pembelian paket data tentu saja uang masuk bagi provider telekomunikasi. Makin banyak menggunakan layanan OTT, kebutuhan data makin besar dan uang yang masuk ke provider telekomunikasi juga semakin besar. Coba lihat pendapatan provider telekomunikasi plat merah seperti Telkomsel, tidak pernah turun sejak era data dan kemajuan aplikasi.

Lalu provider mengatakan tidak diuntungkan dengan adanya OTT?

Dalam rancangan aturan tersebut ada yang cukup menarik, yaitu opsi 2 yang menyatakan bahwa dalam hal layanan OTT yang disediakan memiliki fungsi sama atau substitutif dengan layanan jasa telekomunikasi, Penyedia Layanan OTT wajib bekerja sama dengan penyelenggara jasa telekomunikasi.

Sementara opsi 3 menyatakan bahwa dalam hal Layanan OTT yang disediakan memiliki fungsi sama atau substitutif dengan layanan jasa telekomunikasi, Penyedia Layanan OTT wajib menjadi penyelenggara jasa telekomunikasi.

Bagi saya kedua opsi ini bukanlah hal yang baik bagi OTT dan terlalu berpihak ke provider telekomunikasi. Hal ini bisa kita lihat pada contoh WhatsApp, Line dan berbagai layanan OTT lainnya yang memberikan layanan perpesanan dan telepon. Layanan ini identik dan merupakan pengganti layanan yang disediakan operator, yaitu SMS dan telepon. 

Dengan demikian, nantinya WhatsApp dan berbagai OTT lainnya wajib bekerja sama dengan operator atau menjadi operator sendiri. Kedua pilihan ini tidak masuk akal karena untuk dapat menggunakan layanan OTT, pengguna telah membeli data dari operator sehingga ketika mereka menggunakan perpesanan dan calling OTT mereka dikenakan biaya data oleh OTT yang berimbas kepada berkurangnya kuota dari operator (jika berbayar).

Jika nantinya OTT bekerja sama dengan operator, ujungnya adalah pengguna yang akan dikenakan biaya tambahan oleh OTT. Misalnya untuk biaya calling dengan menggunakan LINE, pengguna kini harus membayar lebih karena OTT harus membayar bagian tertentu kepada operator.

Pilihan menjadi penyelenggara jasa telekomunikasi juga bukan pilihan bagus karena OTT kebanyakan adalah aplikasi sehingga tidak masuk akal bagi OTT untuk menjadi penyelenggara telekomunikasi. Saya rasa aturan ini memperlihatkan kelemahan operator yang tidak mampu bersaing dalam memberikan layanan sehingga memaksakan OTT untuk tunduk dalam aturan pemerintah.

Saya rasa asal rancangan aturan ini jelas untuk memfasilitasi operator yang tidak senang kepada OTT. Aturan ini terlalu menguntungkan operator dan pemerintah sehingga peran OTT dimarginalkan.

Tuesday, May 3, 2016

Kasus Antitrust Google, Europe (EU) vs Google dari Sisi Pengguna

European Union's competition chief Margrethe Vestager
Kabar Google berseteru dengan European Union via European Commission bukan sesuatu yang baru lagi. Google sudah lama diselidiki oleh EU atas praktiknya terutama dengan sistem operasi Android sehingga ketika EU mengirimkan surat keberatan resmi atas praktik bisnis Google di Android bukan sesuatu yang mengejutkan lagi, meskipun beberapa sisi tetap sesuatu yang agak membingungkan bagi sebagian orang.

Sedikit saya uraikan komplain EU terhadap Google setidaknya ada tiga. Pertama adalah App Bundling. Apps Bundling yang dimaksud di sini adalah aplikasi Google yang ada di perangkat Android. Bila Anda pengguna Android, tentu cukup paham aplikasi apa saja yang wajib di bawa oleh vendor atau produsen Android, antara lain GMail, Google Maps, Google Play (apalagi ya?). Mungkin itu beberapa aplikasi wajib yang harus diikutkan karena menggunakan Android secara resmi dari Google dengan berbagai kesepakatan dengan Google yang mungkin bisa termasuk ke dalam trade secret.

Kedua adalah keharusan menggunakan Google Search sebagai alat pencarian dengan berbagai cara yang digunakan Google, baik finansial maupun nonfinasial agar produsen Android menggunakan search engine Google yang pada ujungnya akan mendatangkan pendapatan bagi Google.

Ketiga larangan produk alternatif. Jika vendor melisensi Android dari Google, vendor tersebut dilarang membuat produk alternatif AOSP. Ini artinya jika satu vendor menggunakan Android resmi dari Google, tidak ada jalan lain kecuali mereka berkomitmen terhadap hal tersebut dengan tidak membuat produk tandingan dengan AOSP.

Bila kita lihat, kasus EU vs Google ini adalah kasus yang rumit dan berbelit. Tidak hanya dari sisi Android sebagai Open Source yang dituding terlalu menguntungkan Google, tetapi juga dari segi lain seperti model bisnis dan pengalaman pengguna yang bisa saja dikorbankan untuk memuaskan pihak tertentu yang mendorong kasus ini.

Bagi saya, sebagai pengguna tentu dilihat dari segi kemudahan dan pengalaman pengguna sehingga kasus tersebut tidak harus pelik dan berbelit. 

Semua masalah di atas dapat dijelaskan dengan premis Android adalah Open Source meskipun sebagian hanya sepakat bahwa Android is partly Open Source. Android AOSP mungkin ini yang dimaksud dengan Open Source, tetapi Android Google (yang sebagian besar digunakan vendor) tidaklah open source. 

Anggapan ini mungkin benar, namun bisa juga salah. Android tidak sepenuhnya open source bisa salah karena pada dasarnya pengguna bisa melakukan apa saja, termasuk mempreteli aplikasi Google dan menggantinya dengan layanan atau pasar aplikasi lain, misalnya Amazon App store dengan mudah. Hal ini dapat dilakukan siapa saja, bahkan vendor yang merilis Android Google (bukan AOSP), di smartphone mereka tetap bisa dihilangkan dari aplikasi Google dengan mudah dan menggantinya dengan aplikasi yang serupa (namun belum tentu memiliki kualitas yang sama) dengan aplikasi Google.

Hal yang lebih membuktikan adalah adanya AOSP. Dengan ini siapapun bisa membuat Android versi mereka sendiri tanpa harus bergantung kepada Google. Ini dibuktikan oleh vendor-vendor China yang karena layanan Google di-block di China mereka membuat pasar aplikasi yang bebas dari Google sehingga Google hampir-hampir tidak memiliki pendapatan dari pengusaan Android di China yang mencapai 90% lebih pasar smartphone.

Dalam pandangan saya sebagai user, apa yang dilakukan Google dengan merilis AOSP dan Google Android adalah pilihan bagus bagi produsen. Jika mereka ingin Google tidak ada dalam smartphone mereka, pilihan AOSP adalah pilihan masuk akal. Namun bagi pengguna hal ini bukan sesuatu yang bagus karena ketiadaan layanan Google membuat mereka sulit untuk menikmati aplikasi yang diuji dan dijamin oleh Google. 

Salah satu hal yang sangat dikhawatirkan pengguna adalah masalah privasi dan keamanan karena AOSP biasanya menghadirkan berbagai aplikasi dari berbagai pasar aplikasi yang belum tentu bisa setara dengan pasar aplikasi Google Play. Hal ini membuat vendor yang memasarkan AOSP seperti di China beralih bergabung dengan Google ketika mereka merilis versi internasional dari smartphone mereka karena hal ini merupakan prasyarat penting agar pengguna bisa menggunakan smartphone tersebut dengan baik.

Saya rasa dari penjelasan ini sudah terlihat bahwa Google yang dari awal sudah sangat baik di sisi software tentu menjadi pilihan banyak vendor Android. Tampaknya EU memandang hal ini sebagai sesuatu yang menguntungkan Google. Dalam pandangan  European Union's competition chief Margrethe Vestager Google abused its market power to restrict competition.

Kita tentu tidak tahu sejauh mana Google memiliki kesepakatan dengan vendor tentang lisensi Android. Namun bila kita lihat poin-poin keberatan EU terhadap Google saya rasa sebagai pengguna poin-poin tersebut sangat mudah untuk dihilangkan dari smartphone/tablet Android. Namun untuk sama sekali tidak menempatkan aplikasi Google di Android saya rasa bukan sesuatu yang mungkin karena Google punya Android dan punya power untuk menekan vendor ketika vendor ingin merilis smartphone berbasis Android berlisensi. Tengoklah misalnya GMail yang menjadi hub untuk Google Play. Jika GMail tidak ada di Android Google (bukan AOSP) tentu layanan Google Play tidak bisa dipakai.

Kedua soal keharusan menggunakan mesin pencari Google. Google melindungi search engine-nya dengan sangat baik, bahkan mengucurkan miliaran dollar agar mesin pencari mereka ada di iOS. Hal ini mungkin juga dilakukan Google terhadap vendor Android. Namun meskipun demikian, di sisi pengguna hal ini dapat diganti dengan mudah karena pasar Google Play menyediakan berbagai pilihan search engine seperti Bing, Duck Duck Go, dan masih banyak lainnya.

Masalahnya adalah bahwa superioritas mesin pencari Google mengalahkan mesin pencari tersebut sehingga pengguna kembali menggunakan Google. Ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba karena Google sudah membangun search engine mereka sejak tahun 1998 sehingga mereka yang datang belakangan kekurangan sumber daya untuk melakukan hal serupa Google sehingga pengguna tidak memiliki pengalaman yang sama ketika menggunakannya. Ini membuat meskipun mesin pencari Google tidak default pun, pengguna akan tetap mencari lalu menggunakannya karena hasil yang lebih baik.

Ketiga masalah larangan vendor merilis AOSP jika melisensi Android Google. Seperti dikemukakan Google larangan ini semata untuk user experience. Ketika vendor diperbolehkan merilis AOSP selain Google Android, pengguna tidak akan memiliki user experience yang sama. Pengguna yang AOSP mungkin senang dengan keharusan menggunakan layanan Google, namun mereka sebenarnya rugi karena aplikasi terbaik justru ada di pasar Google. 

Saya tidak tahu sejauh apa pelarangan ini berakibat bagi kompetisi. Namun bila kita lihat, AOSP tentu aplikasinya tidak disertifikasi oleh Google sehingga pengguna akan memiliki perbedaan pengalaman dan mungkin akan merugikan vendor. 

Sekali lagi dari sisi pengguna, saya rasa keberatan EU itu bisa dihilangkan dengan mudah karena pada dasarnya pengguna memiliki kekuatan maksimal di Android. Namun dari segi bisnis, mungkin EU memiliki pandangan lain sehingga mereka menuduh Google mematikan kompetisi dengan cara terus memperbaiki layanan mereka dengan sumber daya yang hampir tidak terbatas. Saya kira ada hal penting yang perlu kita lihat, yaitu bahwa pejabat EU mungkin tidak menggunakan Android sehingga tidak paham betapa leluasanya pengguna Android.

Jika Android mengusai pasar smartphone, bukan berarti Google perkasa atau memaksa. Google dalam hal ini bisa disetarakan dengan pembuat aplikasi lain, namun karena mereka memiliki keuntungan di  sumber daya mereka lebih baik, namun bukan berarti karena keperkasaannya membuat bisnis lain mati. Contoh nyata yang bisa Anda lihat adalah Facebook. 

Hampir 80% dari pendapatan iklan Facebook adalah dari mobile dan hampir sebagian besar daro 80% tersebut berasal dari aplikasi mereka di Android. Sekarang coba lihat Google Plus. Saya percaya tidak ada pendapatan yang disumbang Google Plus ke Google. Lalu apakah Google melarang aplikasi Facebook dan memaksa pengguna menggunakan Google Plus?

Kasus yang sama bisa kita lihat di beberapa aplikasi bagus lain yang menghasilkan sangat banyak dollar bagi penciptanya. Ini bukan sesuatu yang terjadi tiba-tiba karena Google mengusahakannya dari beberapa tahun yang lalu. Lalu dengan cara apa kira-kira Google mematikan kompetisi?

Dari sisi pengguna saya hampir-hampir tidak mengerti apa yang dimaksud EU dalam keberatan mereka terhadap Google terkait praktik bisnis Google di Android. Jika Google Android menguasai pasar, lalu iOS yang malah tak ada pilihan sama sekali selain pasar aplikasi Apple Inc. apakah tidak mematikan kompetisi? (mungkin beda kasus?).

Saya rasa, kita bisa melihat sejauh mana perkembangan teknologi smartphone sejak adanya Android Google. Bila masih hanya Symbian, windows mobile, blackberry dan iOS yang datang belakangan, akankah perkembangan perangkat mobile sehebat saat ini? Saya bisa memastikan bahwa perkembangan perangkat mobile terutama smartphone tidak akan pernah mencapai seperti sekarang ini.

Android membuat perkembangan perangkat sangat kencang. Semua bisa berkompetisi dengan merilis Android versi mereka sendiri. Jika ingin lebih diterima user, tentu harus melakukan lisensi ke Google dan sangat masuk akal jika Google memberikan syarat tertentu sepanjang tidak merugikan. 

BukBer, Berbagi Bersama Blue Bird Group dan Rumah Harapan

BukBer Blue Bird Group Di sela-sela kesibukan, dua hari yang lalu saya sempatkan untuk hadir di Buka Bersama (BukBer) Blue Bird Group y...