Tuesday, April 5, 2016

BlackBerry Priv Gagal, BlackBerry Bangkrut?

Judgement Day itu akhirnya datang juga. Setelah berada di pasar sekitar 4 bulan, BlackBerry Priv dinilai telah gagal menolong BlackBerry dari keterpurukan. Mengenaskan. Smartphone yang digadang-gadang sebagai upaya terakhir BlackBerry untuk tetap bisa relevan di pasar smartphone ternyata tak mampu menolong BlackBerry.

Hal ini diketahui dari jumlah penjualan smartphone yang dilakukan BlackBerry. BlackBerry dalam laporannya untuk kuartal keempat mengatakan hanya menjual sebanyak 600.000 smartphone. Jumlah ini meskipun tidak di-break down untuk menunjukkan seberapa banyak BlackBerry Priv ikut berkontribusi tetap menunjukkan penurunan dibandingkan jumlah penjualan di kuartal sebelumnya yang 700.000. Bahkan jauh di bawah perkiraan Wall Street yang mematok sekitar 850.000.

Mengenai perkiraan BlackBerry Priv ini sebelumnya saya telah menulis artikel di sini. Dalam artikel tersebut saya beralasan BlackBerry Priv yang berbasis Android too little too late. Saya khawatir, upaya terakhir BlackBerry tersebut berujung kegagalan. Dan kini saya rasa perkiraan tersebut menemui kenyataan.

Namun tentu perlu kita bersabar sebelum memvonis BlackBerry Priv sebagai gagal total. Setidaknya ada sedikit harapan di BlackBerry Priv yang akan mampu mengangkat kembali BlackBerry di pasar smartphone. Sayang sekali, BlackBerry tidak bisa mengoptimalkan hal tersebut.

Kegagalan BlackBerry Priv bisa kita lihat dari berbagai sisi. Sebuah artikel di Cult of Android menyatakan bahwa BlackBerry Priv bukan hanya kurang bagus dari sisi software, tetapi juga hardware. Bahkan ada beberapa pengguna yang melakukan penggantian handset sebanyak tiga kali.

Selain itu, dengan merilis BlackBerry Priv, BlackBerry tidak hanya head to head dengan iPhone di kelas atas, tetapi juga dengan vendor Android yang lebih dulu ada di pasar seperti LG, Sony, Samsung dan puluhan vendor China yang kini tumbuh seperti jamur di musim hujan. Hal ini membuat pemasaran BlackBerry menjadi tidak mudah. Lawan terlalu banyak, sering dengan fitur yang lebih baik dan harga lebih murah.

Harga lebih murah ini menjadi kendala tersendiri bagi BlackBerry sekaligus kelemahan mereka yang paling nyata. Dipasarkan dengan harga sekitar 700 dollar AS tanpa kontrak membuat BlackBerry Priv jauh dari lirikan banyak pembeli potensial. Harga 700 USD bukanlah harga bagus untuk sebuah merek yang berada di ambang kebangkrutan. Saya menilai, BlackBerry terlalu percaya diri dengan BlackBerry Priv sehingga tidak melihat pasar dengan lebih jeli. Saya membayangkan sewaktu pertama kali dirilis, BlackBerry memberikan harga sekitar 350 USD untuk Priv, nyatanya dua kali lipat dari perkiraan tersebut.

Selanjutnya, BlackBerry Priv dirilis di pasar yang terbatas. Pasar yang sedikit tentu saja penjualannya sedikit, plus persaingan yang sengit di pasar yang sedikit tersebut, misalnya AS tak akan memberi ruang untuk BlackBerry. 

Jika melihat rencana BlackBerry yang akan merilis satu atau dua lagi BlackBerry berbasis Android di tahun 2016 ini, sudah seharusnya BlackBerry mengambil pelajaran dari Priv. Namun demikian, saya condong untuk mendorong BlackBerry pindah haluan ke sofware dan provider. Sudah saatnya divisi hardware BlackBerry ditutup karena terus-menerus menunjukkan pelemahan bahkan setelah produk baru yang berbasis Android diperkenalkan.

Namun jika BlackBerry masih ingin mencoba memasuki pasar smartphone dengan smartphone baru di tahun 2016 ini, syarat murah, hardware dan software bagus serta pasar yang lebih banyak merupakan hal yang harus dipenuhi. Akan tetapi, saya ragu BlackBerry bisa memenuhi syarat tersebut. Mereka sudah jauh dari mampu untuk merilis smartphone bagus karena berbagai kendala, misalnya kendala sumber daya manusia dan sumber daya modal. BlackBerry sudah harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa mereka dalam waktu dekat bangkrut.

BukBer, Berbagi Bersama Blue Bird Group dan Rumah Harapan

BukBer Blue Bird Group Di sela-sela kesibukan, dua hari yang lalu saya sempatkan untuk hadir di Buka Bersama (BukBer) Blue Bird Group y...