Saturday, October 24, 2015

Review Hisense Pureshot Plus: Phablet yang Cepat dan Stabil


Vendor smartphone Android terus-menerus membombardir pasar smartphone Indonesia dengan seri smartphone terbaru. Kita bisa menyaksikan, hampir setiap bulan ada smartphone terbaru yang dirilis oleh vendor di pasar smartphone Indonesia. Rata-rata karena melihat pasar, smartphone yang dirilis kebanyak berada di pasar menengah ke bawah. Pasar menengah ke bawah ini merupakan pasar yang gemuk, kebanyakan pengguna berada di pasar ini.

Hisense Indonesia juga tidak mau ketinggalan untuk mencoba peruntungan di kelas menengah ini. Sekilas, kembali ke belakang, Hisense merupakan vendor yang sudah lama ada di pasar Android, namun mereka mem-branding handset yang mereka keluarkan dengan berbagai operator, yang di Indonesia terutama dengan Smartfren.

Tidak tanggung-tanggung Hisense merilis dua smartphone sekaligus, yaitu Pureshot dan Pureshot Plus. Review yang akan Anda baca ini adalah review Hisense Pureshot Plus yang ditenagai oleh jaringan 4G LTE Advanced dari Smartfren.

What's In The Box

1. Phablet Hisense Pureshot Plus 4G
1. Buku Panduan
1. Kartu Garansi
1. Headphone
1. Charger + Kabel Data
1. Baterai
1. SIM Smartfren 4G LTE
1. Paket Bonus Data 2GB + 6GB selama satu minggu

Spesifikasi

Spesifikasi Hisense Pureshot Plus adalah sebagai berikut:

SIM: Dual-SIM, Untuk jaringan 4G dan semua operator termasuk 3G, GSM dan CDMA
Layar:  5 Inci HD 1280 x 720 piksel, IPS Kapasitif + Gorillas Glass 3
Konektivitas: Bluetooth, GPS, port microUSB
Internet: 4G LTE-A, 3G HSPA, WiFi
Kamera Belakang: 13MP, dual LED Flash, autofocus, aperture f/2.0
Kamera Depan 5MP
Sistem Operasi Google Android 5 Lollipop + Vision UI
Chipset Qualcomm Snapdragon 415
Prosesor octa-core ARM Cortex-A53 64-bit 1,4GHz
RAM 2GB
GPU Adreno 405
Storage/Memori Penyimpanan 16GB
MicroSD Yes
HD Audio with Dolby Digital Plus
Baterai 2500mAh

Bila melihat spesifikasi, Hisense Pureshot Plus lebih ditujukan ke pasar mid end. Dengan layar HD lebar 5,5 inchi dan dilapisi Gorilla Glass 3 serta  2.5D Glass Screen yang didesain dengan sisi sudut melengkung 2.5D glass screen, menjadikan Hisense PureShot Plus sebuah smartphone high class yang bergaya elegan.

Desain dan Hardware

Hisense Pureshot Plus berbentuk berbentuk bar yang agak tebal. Hisense Pureshot Plus meskipun layarnya lebar, tetapi masih enak untuk dipegang. Saya biasanya memegang smartphone maksimal dengan layar 5 inchi, namun Hisense Pureshot Plus tidak terasa lebih berat dan masih bisa dipegang dengan nyaman.  

Layar Hisense ini adalah HD 720p yang cerah. Pelapis anti gores Gorilla Glass 3 menambah nilai plus layar Hisense Pureshot Plus ini. Secara desain mungkin tidak ada yang terlalu menarik. Ini bukan berarti desainnya tidak bagus. Bagian belakang Hisense Pureshot Plus ini adalah plastik yang dapat dibuka dengan mudah.  

Baterai Hisense Pureshot Plus berkekuatan 2500 mAh yan bisa dilepas dengan mudah. Pada bagian atas di dekat baterai terdapat slot kartu 4G LTE Smartfren, kartu GSM dan slot micro SD Card.

Tombol ON/OFF berada segaris dengan tombol volume +/-. Port charger ada di bagian bawah ponsel, sedangkan port jack 3,5 mm ada di bagian atas. Selain itu terdapat speaker di bagian bawah ponsel.

Prosesor yang ditanamkan Smartfren di Hisense Pureshot Plus ini Qualcomm Snapdragon 415 Octacore 64bit 1,4 Ghz dengan GPU Adreno 405. RAM sebesar 2GB dan ROM 16GB yang bisa diekspansi dengan micro SD Card.

Dari sisi desain dan hardware ini yang patut diapresiasi adalah Hisense Pureshot Plus ini nyaman dipegang dan lapisan Gorilla Glass 3 memberikan perlindungan sempurna untuk layar. Prosesor, RAM dan ROM juga cukup sesuai dengan kelas midend yang membutuhkan prosesor kencang 64bit dan RAM dan ROM yang lebih besar. Bila pertama kali menggunakan, untuk ROM masih tersisa sekitar 10 GB lebih. Ini jumlah yang cukup besar untuk menambahkan berbagai macam aplikasi dan file musik, video dan foto.

Berikut ini foto Hisense Pureshot Plus:

Bagian depan boks
Hisense Pureshot Plus

Bagian belakang boks Hisense
Pureshot Plus

Layar HD 5,5 inchi

Port charger dan speaker

Port jack 3,5 mm

Baterai dan slot SIM dan micro
SD Card

Saturday, October 17, 2015

Kalah di Pengadilan, Apple Harus Bayar 234 Juta Dollar

Apple Inc
Perang paten tidak hanya melibatkan vendor yang bersaing di pasar smartphone seperti Apple, Samsung, Microsoft atau Motorola. Salah satu yang patut dilihat dalam perang paten ini adalah University of Wisconsin-Madison yang menyeret Apple Inc. ke pengadilan karena penyalahgunaan paten mereka terkait dengan efficiency and speed of computer processing yang diikutsertakan dalam berbagai produk buatan Apple seperti iPhone, iPad dan Apple TV.

Klaim penggunaan paten tanpa izin ini pertama kali diajukan Wisconsin Alumni Research Foundation (WARF) pada tahun 2014 yang lalu. WARF mengajukan gugatan pelanggaran paten terhadap Apple Inc pada tahun 2014 di Pengadilan Federal di Western District of Wisconsin.  WARF mengklaim bahwa Apple Inc telah menggunakan teknologi to speed computer processing by allowing the efficient out-of-order execution of computer instructions with a data speculation circuit yang telah dipatenkan oleh WARF beberapa tahun sebelumnya. US Patent dan Trademark Office mengeluarkan paten untuk WARF pada tahun 1998 atas nama University Wisconsin-Madison Computer Science Profesor Gurindar Sohi dan tiga mahasiswa pascasarjana, yaitu Andreas Moshovos, Scott Breach, Terani Vijaykumar.

Setelah hampir setahun berlalu, hari Jumat waktu AS, pengadilan AS memenangkan gugatan WARF atas Apple Inc tersebut. Apple Inc diharuskan membayar lebih dari 234 juta dollar atas penyalahgunaan paten WARF yang mereka lakukan. Jumlah 234 juta dollar tersebut jauh lebih kecil dari tuntutan WARF yang berada di angka 400 juta dollar (bahkan sebelumnya dikabarkan lebih dari 800 juta dollar). Apple mengatakan akan mengajukan banding atas vonistersebut, tetapi menolak berkomentar lebih lanjut.

WARF memuji putusan tersebut dan mengatakan bahwa adalah penting untuk melindungi penemuan universitas dari penggunaan yang tidak sah. WARF Managing Director Carl Gulbrandsen dalam sebuah pernyataan mengatakan keputusan tersebut adalah berita bagus. Menurut WARF, beberapa produk Apple memperoleh manfaat dari teknologi yang telah dipatenkan oleh WARF, termasuk prosesor A7 Apple, A8 dan A8X yang ditemukan di iPhone 5S, 6 dan 6 Plus, serta beberapa versi dari iPad.

Namun demikian, Apple tentu bisa banding atas keputusan tersebut. Pihak WARF pun mengakui hal ini dan ingin bisa terus bekerja sama dengan Apple Inc untuk menyelesaikan permasalahan dan membangun hubungan kuat antara kedua belah pihak. 

Sumber: WARF

Saturday, October 10, 2015

Microsoft Sebaiknya Menghentikan Windows (Phone)?

Lumia 950 XL (Phone Arena)
Beberapa hari yang lalu, Microsoft merilis dua smartphone flagship mereka yang baru untuk terus bisa relevan dengan pasar smartphone yang semakin dikuasai oleh duopoly Google dan Apple. Ini adalah usaha Microsoft yang kesekian kalinya untuk menarik banyak pengguna untuk menggunakan smartphone yang mereka rilis. 

Untuk persaingan, usaha Microsoft ini patut dipuji. Setelah merasa gagal dalam pembelian Nokia dan harus melakukan write off lebih dari 7 miliar dollar, Microsoft tetap punya semangat untuk meneruskan seri Lumia peninggalan Nokia yang tak kunjung membaik penjualannya. 

Hal ini bukan salah Microsoft sendiri sebenarnya. Di zaman di mana developer/aplikasi dan pengguna ekosistem ibarat menemukan mana yang lebih dulu telur atau ayam, Microsoft yang terlambat datang ke arena smartphone harus menghadapi bukit yang tinggi untuk membawa banyak pengguna untuk menggunakan smartphone berbasis Windows (phone). Pengguna yang sangat sedikit membuat developer malas membuat aplikasi. Lalu aplikasi yang sedikit akan berdampak pada pengguna yang tidak mau beralih dengan alasan apapun karena akan kehilangan yang lebih baik. Ini akan terus berputar seperti lingkaran setan yang tak ada ujungnya dan mungkin butuh suatu terobosan yang sangat besar untuk mendobraknya.

Kalaupun ada developer yang mau membuat aplikasi mereka untuk Windows, kualitas aplikasi tersebut jauh tertinggal dibandingkan dengan platform Google dan Apple. Ini membuat frustasi pengguna yang telah rela berpindah ke Windows sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke platform Google atau Apple.

Namun bukan berarti Windows tidak menarik. Seperti platform lainnya, Windows menjanjikan pengalaman menggunakan smartphone yang bisa dikatakan setara dengan iOS dan Android. Ditambah lagi, dengan Continuum, pengguna bisa memfungsikan smartphone mereka sebagai PC dan bisa bekerja dengan smartphone tersebut. Ini sesuatu yang sangat bagus di mana platform mobile seperti Windows bisa digunakan untuk bekerja. iOS dan Android justru belum memiliki fitur seperti ini di mana Android dan Chrome terpisah, demikian juga iOS dan OSX.

Namun hal ini belum lagi menjadi perhatian banyak pengguna. Sebagian besar pengguna masih menggunakan smartphone mereka untuk hiburan dan media sosial. Ini membuat mereka tetap bisa memakai dua platform yang berbeda, yaitu untuk bekerja dan untuk hiburan dan media sosial.

Sayapun tidak tertarik untuk mencoba Continuum saat ini. Meskipun menjajikan pengalaman seamless sewaktu bekerja dengan memanfaatkan smartphone, saya tetap lebih memilih smartphone sebagai bagian yang terpisah dari dunia kerja yang serius. Saya memposisikan smartphone/tablet untuk pekerjaan yang mudah dan on the go, seperti memeriksa email. Namun tidak untuk kerja serius seperti mengedit naskah, mengedit foto secara serius, dan lainnya.

Saya kira masih banyak pengguna yang seperti saya. Mereka tetap bekerja di laptop, tetapi memiliki smartphone untuk bisa memperlancar pekerjaan tersebut, misalnya berhubungan dengan klien, membuat janji bertemu, meeting dan media sosial. Hal ini bagi saya membuat fitur Continuum tersebut menjadi tidak menarik untuk dipakai sehingga mengurangi ketertarikan saya terhadap Windows.

Dengan berbagai upaya yang telah dan akan dilakukan Microsoft untuk membuat platform Windows menarik bagi pengguna dan developer, sejauh ini belumlah memberikan hasil yang menggembirikan. 

Bila kita lihat penguasaan pasar Windows di pasar smartphone pada kuartal kedua tahun 2015, Windows hanya menguasai 2,6% pasar (sumber IDC). Posisi ini jauh di bawah penguasaan pasar iOS, apalagi Android. Dengan hanya 2,6% sebenarnya Microsoft agak sia-sia jika terus memperjuangkan platform Windows ini karena hasilnya lebih banyak rugi dibandingkan dengan untung. Bisa dikatakan proyek Windows phone ini gagal karena tidak juga mampu meningkatkan pangsa pasar mereka setelah lebih dari empat tahun berjalan.

Apalagi dalam acara Code Mobile dua hari yang lalu, Andy Rubin mengatakan bahwasanya pengguna tidak membutuhkan platform ketiga. Cukup dengan iOS dan Android karena, terutama dengan Android semua bisa dilakukan. Ini seharusnya menjadi pertimbangan bagi Microsoft. Artinya Microsoft ada baiknya tidak meneruskan proyek Windows (namun itu sepertinya mustahil).

Ada beberapa pertimbangan yang bagus bagi Microsoft agar tidak meneruskan proyek Windows untuk smartphone ini. Pertama, Microsoft sejatinya adalah perusahaan software. Mereka membuat software yang bagus seperti Office. Bagusnya mereka terus memperkuat sisi ini dan memberikan software terbaik mereka untuk platform iOS dan Android.

Kedua, Microsoft lebih banyak gagal jika membuat hardware. Pengalaman di XBox yang tidak kunjung untung dan smartphone KIN bisa jadi pelajaran yang bagus untuk tidak memaksakan diri membuat smartphone sendiri seperti seri Lumia.

Ketiga, Microsoft memiliki paten yang sangat banyak yang digunakan di perangkat Android dan Chrome. Pendapatan dari lisensi paten ini sangat besar. Ada baiknya Microsoft terus memperluas lisensi paten ini, terutama dengan vendor-vendor baru asal China yang sangat banyak menghasilkan smartphone berbasis Android. Ini akan meningkatkan pendapatan Microsoft secara signifikan.

Keempat, paten Microsoft bisa dijadikan senjata untuk "memaksa" vendor Android menanamkan software buatan Microsoft di perangkat smartphone yang mereka rilis. Ini sebenarnya sudah terlihat di smartphone Samsung dan yang terbaru di ASUS. Dengan cara ini, software seperti Offine, One Drive, One Note dan masih banyak lagi bisa bisa dipakai pengguna di smartphone dan menjadi sumber pendapatan Microsoft.

Dengan empat pertimbangan tersebut dan modal yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan harus memajukan platform Windows, masuk akan kiranya jika Microsoft berubah fokus. Lebih baik biarkan iOS dan Android terus melaju asalkan, aplikasi yang dipakai pengguna tetap aplikasi Microsoft.

Thursday, October 8, 2015

Masih Jomblo? Temukan Pasanganmu dengan Aplikasi Gather

Aplikasi Gather
Masih JOMBLO? Sulit menemukan pasangan yang tepat? Terlalu sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan pasangan hidup? Sulit Jodoh?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan di atas dialami oleh sebagian besar mereka yang masih Jomblo. Terkadang karena sedemikian tidak ada waktu untuk memikirkan pasangan, status Jomblo harus diterima dengan lapang dada. Banyak dari mereka yang Jomblo, mungkin bukan karena ingin men-Jomblo, lebih kepada ketiadaan waktu dan usaha untuk mencari pasangan.

Untuk kondisi seperti ini, ada jalan pintas untuk menemukan jodoh yang tepat dan mengakhiri masa-masa Jomblo, yaitu dengan menggunakan aplikasi GatherGather adalah aplikasi kencan gratis yang membantu jomblo bertemu dengan orang yang cocok. Aplikasinya menggabungkan fitur hyperlocation, jarak, kencan, dan berkirim pesan. Diciptakan di Silicon Valley, Gather telah mendapatkan adopsi pengguna organik yang signifikan di Kanada. 

Gather merupakan sebuah layanan pencari jodoh berbasis di cloud,  hadir untuk membantu pengguna khususnya di Jakarta untuk menjalin hubungan asmara. Aplikasinya unik dan memiliki sebuah fitur canggih yang hanya dapat digunakan oleh pengguna di Jakarta. Kunci utamanya ialah akun Facebook pengguna. Dengan Gather, masyarakat Indonesia dapat dijodohkan dengan orang-orang yang berada di dalam lingkaran teman Facebook mereka, termasuk lingkaran tingkat kedua dan ketiga (teman dari teman).

Gather sangat seru dan mudah digunakan. Setelah masuk menggunakan akun Facebook, pengguna dapat segera mencari calon pasangan. Mereka dapat melihat informasi singkat pengguna lainnya yang diambil dari Facebook seperti foto profil, pekerjaan, serta kesamaan hobi dan teman. Pengguna lalu dapat memilih untuk menyukai atau tidak menyukai seseorang. Apabila keduanya saling menyukai, mereka akan dapat melihat profil masing-masing dan mulai berkirim pesan di dalam aplikasi. Sebagai alternatif, pengguna juga dapat mengirimkan balon virtual untuk menunjukkan ketertarikan mereka kepada pengguna lain.

Gather memposisikan dirinya sebagai antitesis dari Tinder, aplikasi yang memiliki reputasi menjodohkan pengguna dengan orang asing. Dengan Gather, pengguna dapat berhubungan dengan teman dari teman mereka. Fitur ini sangat berguna di mana pengguna, khususnya wanita bisa merasa lebih aman dan nyaman saat mereka bisa mendapatkan referensi tentang pasangannya di Gather dari teman sebelum melakukan pertemuan.

Gather juga menyediakan analisis berdasarkan lokasi. Menggunakan fitur ini, pengguna dapat mencari pasangan berdasarkan rutinitas perjalanan mereka di Jakarta. Sebagai contoh, apabila dua pengguna Gather bertemu saat menaiki busway, keduanya bisa saling terhubung di Gather. Fitur ini bisa dibilang unik karena aplikasinya juga memberitahu kedua pengguna di mana dan kapan mereka berpapasan di dunia nyata.

Jim Yang, Co-Founder dan CEO Gather mengatakan bahwa ada banyak sekali yang bisa disimpulkan dari lokasi. Sebagai contoh, apabila pengguna bertemu dengan seseorang di sebuah konser atau festival, pengguna sudah bisa membuat perkiraan tentang kepribadian orang tersebut.

Kedua fitur tersebut akan dapat membantu kaum jomblo di Jakarta khususnya dan di mana pun untuk menemukan cinta. Masyarakat di Jakarta sekarang dapat menemukan teman kencan dengan kualitas lebih tinggi karena dipilih tidak hanya berdasarkan foto, tetapi juga berdasarkan informasi penting lainnya.

Aplikasi Gather diciptakan oleh dua entrepreneur asal Silicon Valley, yaitu Jim Yang dan Min Gyung Kang selaku CTO. Lahir di Indonesia, Jim Yang sudah sempat menjual perusahaan teknologi miliknya bernama Identyx kepada Red Hat tahun 2008. Semenjak itu, ia telah menjadi angel investor dan advisor di sejumlah startup di Amerika Serikat. Gyung Kang sebelumnya memegang posisi sebagai senior software engineer di Google. Ia juga merupakan anggota awal dari proyek Android Bouncer, sebuah inisiatif untuk melindungi pengguna Google Play dari aplikasi berbahaya.

Gather dapat didownload secara gratis dan sudah tersedia untuk platform iOS, dengan versi Android-nya akan segera menyusul. Aplikasinya juga tersedia dalam bahasa Indonesia.

Nah bagi Jomblo yang masih saja kesulitan menemukan jodoh, ada baiknya menggunakan aplikasi Gather ini. Mana tahu Jodoh memang ditakdirkan bertemu melalui aplikasi Gather.

Tuesday, October 6, 2015

Review Andromax M2S, MiFi 4G LTE Advanced Keren Smartfren


Andromax M2S
Kebutuhan untuk selalu terhubung orang Indonesia saat ini terus meningkat. Diperkirakan ke depannya akan makin banyak orang Indonesia Go Online sehingga kebutuhan koneksi akan menjadi kebutuhan utama bagi sebagian orang. 

Untuk bisa online, tentu saja pengguna membeli paket data operator sesuai dengan SIM Card yang mereka pakai. Boleh dikatakan sebagian besar pengguna menggunakan cara ini karena kemudahan. Namun demikian seringkali cara ini lebih aus baterai dan paket data yang harganya lebih mahal. Hal ini membuat pengguna mencari cara yang mungkin butuh dua langkah, namun dapat menikmati koneksi yang lebih baik dan harga yang lebih terjangkau.

Cara kedua ini dapat ditempuh dengan membeli MiFi. Apa itu MiFi? Untuk jawabannya Anda dapat membaca artikel di Wikipedia ini. Perusahaan pun melihat adanya peluang bisnis di sini sehingga merilis MiFi andalan mereka. Salah satunya adalah Smartfren yang beberapa waktu yang lalu merilis MiFi 4G LTE Advanced Andromax M2S.

Berbeda dengan operator lain yang masih berkutat di koneksi 3G HSDPA, Smartfren bisa berbangga dengan koneksi mereka yang lebih maju, yaitu 4G LTE Advanced (kecepatan download hingga 150 Mbps) yang kini sudah tersedia di 22 kota di Indonesia. Dengan koneksi 4G LTE ini Smartfren menjanjikan kecepatan sekaligus kestabilan koneksi melalui smartphone atau MiFi Andromax M2S.

Sudah lebih dari dua minggu saya menggunakan MiFi Andromax M2S dari Smartfren ini. Pengalaman memakai Andromax M2S dapat saya uraikan dalam review berikut ini.

Desain dan Spesifikasi

Dari sisi desain, Andromax M2S ini berbentuk kotak pipih dengan sudut lengkung di setiap sudutnya. Konstruksinya kuat meskipun terlihat kecil. Untuk diketahui Andromax M2S ini diproduksi oleh LG Innotek Indonesia di Cikarang. Smartfren mengatakan bahwa mereka perlu waktu satu tahun untuk mendesain hingga membuat Andromax M2s ini  menjadi produk yang dapat digunakan. 
Andromax M2S

Andromax M2S ini ringan dah mudah di bawa ke mana-mana. Diletakkan di saku, di dalam tas punggung atau tas kecil juga bisa. Dengan kemudahan untuk dibawa-bawa, Andromax M2S menjanjikan koneksi yang selalu On di mana saja, kapan saja.

Andromax M2S tersedia dalam tiga warna pilihan yang menarik, yaitu Hitam, Biru dan Merah.




Spesifikasi

Spesifikasi Andromax M2S adalah sebagai berikut:
  1. Mobile Wi-Fi LTE cat4
  2. Chipset Qualcomm MDM 9320
  3. Dapat dikoneksikan dengan Tablet, PC, Smartphone dan perangkat Wi-Fi lainnya
  4. Mendukung Wi-Fi 2.4 GHz
  5. Mendukung sampai dengan 15 koneksi pengguna dalam waktu bersamaan
  6. Mendukung Mobile Wi-Fi App untuk penyetelan lebih ringkas, Mylink M2S yang dapat diunduh dari Google Play Store dan Apple App Store
  7. Baterai 2000mAh (Maksimum 10 jam waktu kerja LTE dan 300 jam waktu kerja LTE dan 300 jam waktu siaga) 
Dengan spesifikasi di atas Andromax menjanjikan tidak hanya kecepatan koneksi 4G LTE Advanced, tetapi juga sebuah perangkat yang dapat dipakai untuk kebutuhan apa saja, baik itu smartphone, tablet, laptop, PC dan connected device lainnya seperti iPod. Bagusnya lagi, Andromax M2S ini dapai dipakai hingga 15 pengguna sekaligus.

Bagian belakang Andromax M2S

Tambahan aplikasi MyLink yang dapat didownload di Google Play dan App Store menjadikan Andromax M2S ini lengkap karena pengguna dapat melihat pemakaian mereka dan mengatur Andromax M2S seperti mengganti nama perangkat dan password dengan mudah.

Pengalaman Penggunaan

Andromax M2S dikemas dalam boks warna hitam. Isi dalam boks adalah Andromax M2S, SIM Card 4G LTE Smartfren, charger beserta kabelnya dan panduan pemakaian. Untuk pertama kali, yang saya lakukan adalah memasukkan kartu SIM (sebenarnya Micro SIM Card), namun karena slot kartu di Andromax M2S ini adalah untuk SIM Card standar yang besar maka Anda tidak boleh memotong SIM Cardnya. Saya masukkan SIM Card standar tersebut ke dalam slot kartu dan langsung di-charge.

Slot SIM Card Andromax M2S

Port untuk melakukan charging
Untuk pengecasan yang pertama kali, saya menunggu lebih dari dua jam hingga lampu indikator baterai berwarna biru. Dengan indikator baterai berwarna biru ini berarti baterai sudah terisi penuh dan siap dipakai.

Pertama kali menggunakan Smartfren memberikan kuota sebesar 4,5GB gratis yang berlaku selama seminggu. Untuk kuota berikutnya, pengguna cukup melakukan pengisian ulang dan tidak perlu beli kuota lagi karena akan otomatis terdaftar dalam paket yang dipilih. Misalnya jika pengguna melakukan top up Rp100.000,00, maka pengguna akan memperoleh data kuota utama sebesar 5GB, kuota bonus 2GB dan kuota tengah malam (berlaku pukul 01.00 - 07.00) sebesar 12GB.

Dengan paket data yang cukup besar tersebut (19GB secara total) pengguna hanya membayar Rp100.000,00. Ini sebuah terobosan yang sangat menguntungkan bagi konsumen karena mereka bisa menikmati kencangnya koneksi 4G LTE Advanced Smartfren dengan harga yang murah.

Dalam pemakaian sehari-hari, Andromax M2S ini memberikan koneksi 4G LTE Advanced Smartfren yang bagus, terutama di Bogor. Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa indikator yang perlu diperhatikan pengguna, yaitu indikator sinyal (biru berarti kuat), indikator pancaran sinyal wifi dari Andromax M2S (biru berarti kuat) dan indikator baterai. Jika semuanya menunjukkan warna biru berarti kondisinya sangat bagus.

Indikator Sinyal, WiFi dan Baterai
Andromax M2S
Saya melakukan pengukuran kecepatan koneksi yang diperoleh dengan menggunakan Andromax M2S ini. Sejauh ini kecepatannya memang lumayan bagus dan jauh lebih baik dibandingkan dengan koneksi 3G HSDPA dari operator yang saya pakai. 

Tes kecepatan Andromax M2S dapat dilihat berikut ini.






Sejauh menggunakan di sekitar Bogor, mulai dari Gadog, Ciawi, Tajur, Sukasari, Bantarkemang, Baranangsiang, RS PMI Bogor dan jalan Raya Pajajaran, saya tidak pernah menemukan  kegagalan membuka halaman situs. Halaman terbuka penuh dengan sangat cepat. Menonton video di YouTube tanpa buffering dan download aplikasi dengan file besar seperti game Township juga berlangsung tidak lama.

Saya menggunakan Andromax M2S ini bersama tiga smartphone dan satu laptop, jadi ada lima gadget yang terkoneksi dengan Andromax M2S meskipun yang selalu terhubung hanya satu, yaitu smartphone saya. Empat lainnya akan langsung terhubung jika saya sampai di rumah.

Dengan koneksi yang sedemikian lancar tidak heran paket internet yang Rp100.000,00 tersebut sangat cepat habis, apalagi ada empat gadget lain yang terhubung meskipun hanya ketika ada di rumah. Saya merasakan bahwa paket data utama yang sebesar 5GB dan bonus 2GB yang diberikan oleh Smartfren tidak cukup. 

Pengalaman dengan pemakaian biasa/standar, yaitu media sosial, browsing, nonton video YouTube beberapa kali, chatting, download dan upload foto, download dan update aplikasi, paket data terasa cepat habisnya. Kuota utama 5GB dan kuota bonus 2GB saya habis dalam 10 hari saja. Ini ibaratnya memakai mobil yang sangat kencang sehingga membutuhkan bensin yang juga lebih banyak.

Secara pengalaman berinternet, Andromax M2S ini memberikan pengalaman berinternet yang menyenangkan. Halaman situs yang terbuka penuh dengan cepat, nonton video YouTube tanpa buffering dan download aplikasi yang tidak butuh waktu lama, membuat kegiatan berinternet beberapa tingkat lebih baik dari sebelumnya ketika menggunakan koneksi mobile operator lain di 3G HSDPA.

Andromax M2S ini juga memberikan keuntungan lain, yaitu pengguna tidak perlu membeli perangkat/smartphone 4G LTE baru. Cukup menggunakan perangkat 3G yang sudah ada saja sehingga bisa berhemat dan tetap bisa merasakan koneksi kencang 4G LTE Smartfren. Ini artinya pengguna dengan modal sekitar Rp500.000 bisa merasakan koneksi 4G. Ini jauh lebih hemat dibandingkan dengan membeli smartphone 4G LTE terbaru.

Selain itu, dengan koneksi data yang terpisah dari smartphone, Andromax M2S membantu pengguna untuk menghemat baterai smartphone. Pengalaman saya dengan menggunakan koneksi wifi dari Andromax M2S ini, baterai smartphone dapat bertahan jauh lebih lama.

Tambahan lagi, baterai Andromax M2S ini lumayan awet. Untuk pemakaian sehari-hari media sosial, baterainya bisa tahan seharian (lebih dari 12 jam). Ini tentu sangat menguntungkan pengguna karena tidak perlu sering melakukan pengisian ulang baterai.

Bagi saya sendiri, sangat masuk akal kiranya ketika kuota internet 5GB + 2GB lebih cepat habis karena pengguna lebih banyak dan pemakaian yang juga meningkat drastis. Hal yang perlu dilihat adalah kualitas berinternet dengan menggunakan Andromax M2S ini jauh meningkat. Hilangnya waktu tunggu ketika membuka situs, video YouTube tanpa buffering, download dan upload yang cepat merupakan kulitas yang didapatkan dengan menggunakan Andromax M2S ini.

Bagi Anda yang selalu online seperti saya, paket Rp100.000,00 terasa kurang. Saya berencana untuk membeli paket Rp150.000,00 dan mengatur pemakaiannya lebih baik. Misalnya, download aplikasi atau update aplikasi dilakukan dengan menggunakan kuota malam yang lebih banyak kuotanya. Selain itu, menghindari update aplikasi otomatis.

Demikian, review Andromax M2S. Semoga bisa membantu keputusan pembelian Anda.

Saturday, October 3, 2015

Review ASUS Zenfone 4S (Zenfone C, ZC451CG 2G/8G)

ASUS Zenfone 4S/Zenfone C
Kini sangat banyak smartphone murah. Vendor berusaha memikat pengguna dengan harga yang makin murah dan fitur yang semakin baik. Biasanya smartphone murah berada di entry level. Salah satu smartphone murah tersebut adalah Zenfone 4S atau yang lebih dikenal Zenfone C dari ASUS yang telah saya pakai lebih dari dua minggu.

Setelah menggunakannya ASUS Zenfone C lebih dari dua minggu, saya akan tuliskan review singkat tentang smartphone entry level ini. Review ini akan fokus pada beberapa hal penting, yaitu kinerja secara keseluruhan, kamera, dan daya tahan baterai. Kesan awal menggunakan Zenfone C ini adapat dibaca pada  artikel Hands On ASUS Zenfone 4S.

Kinerja secara Keseluruhan

ASUS Zenfone C atau Zenfone 4S ini merupakan smartphone pertama saya yang berbasis prosesor Intel. Secara kinerja keseluruhan, tidak ada perbedaan yang signifikan antara smartphone berbasis Qualcomm atau MediaTek yang biasa saya pakai dengan yang berbasisi Intel ini. Dalam pemakaian sehari-hari untuk berbagai tugas seperti media sosial, mengambil dan upload foto, bermain game, menerima dan melakukan panggilan serta mendengarkan musik dan menonton video, prosesor Intel Atom™ Multicore Processor Z2520 (1.2GHz) with Intel® Hyper-Threading Technology di Zenfone C ini tidak mengalami kendala.

Untuk diketahui spesifikasi ASUS Zenfone C atau Zenfone 4S ini adalah sebagai berikut:

Layar 4.5-inci Super Bright TFT LED Backlit FWVGA 854x480, 218 pixel per inch
Prosesor Intel® Atom™ Multicore Processor Z2520 (1.2GHz) with Intel® Hyper-Threading Technolog
2GB RAM /8GB Memory
5MP PixelMaster Camera, support Low Light Mode
2100mAh removable battery

Dengan layar 4,5 inchi, Zenfone 4S ini memang terasa kecil dari smartphone yang sehari-hari saya gunakan yang berlayar 5 inchi. Kualitas layarnyapun hanya FWVGA. Namun ASUS mengakali hal ini dengan adanya Splendid Technology di mana kecerahan layar dapat disesuaikan dengan keinginan pengguna. Secara kualitas layar tentu berada di bawah HD 720p misalnya. Namun berkat Splendid Technology kecerahan layar dapat disiasati. 

Saya menggunakan Zenfone 4S untuk kegiatan sehari-hari. Bermedia sosial, ambil dan upload foto, browsing internet, bermain game, nonton video YouTube, chatting, melakukan panggilan dan lainnya. Secara keseluruhan kinerja Zenfone 4S ini bagus. Ketika menerima dan melakukan panggilan suara terdengar jernih. Bermedia sosial tanpa kendala dan demikian juga dengan melakukan browsing. Halaman dapat terbuka dengan cepat karena Zenfone 4S mendukung jaringan 3G DC+HSPA yang memungkinkan download hingga 42 Mbps. Perbedaannya dengan smartphone yang hanya mendukung jaringan 3G 7,2 Mbps cukup terasa terutama ketika download aplikasi dan browsing.

Zenfone 4S juga saya pakai untuk bermain game dan bernavigasi dengan aplikasi Waze. Sejauh menggunakan untuk navigasi dari satu tempat ke tempat lain ketepatannya patut dipuji karena menggunakan dua sistem navigasi sekaligus, yaitu GPS dan GLONASS. Lokasi juga terkunci lebih cepat dan ini sangat menolong untuk sebuah smartphone entry level.

Untuk bermain game saya menggunakan Zenfone 4S untuk bermain Race The Stig, Lego Starwars, dan beberapa game lainnya. Dalam bermain game saya mengapresiasi suara yang dikeluarkan oleh Zenfone 4S ini terutama ketika bermain Lego Starwars. Suaranya kencang.
Demikian juga ketika mendengarkan musik dan menerima/melakukan panggilan. Hal ini suara jernih berkat teknologi SonicMaster dari ASUS dan dua microphone-nya.

Kinerja Kamera

Kekuatan kamera yang diberikan oleh ASUS pada Zenfone 4s ini hanya 5 megapiksel dengan tambahan fitur Pixel Master. Saya berpendapat, untuk smartphone dengan harga kurang dari 1,5 juta, hasil foto yang diberikan oleh Zenfone 4S ini lebih dari cukup. Foto di luar dengan cahaya yang terang terlihat bagus. Objek tertangkap dengan baik. 

Selain itu, ASUS juga menyediakan fitur low light untuk menghasilkan foto yang cukup bagus di saat cahaya sangat kurang. Saya juga mencoba fitur ini dan hasilnya bagus karena objek terlihat di saat cahaya yang minim. 

Sejauh menggunakan kamera tidak ada masalah yang terkait dengan software, seperti kamera tidak bisa dibuka atau lainnya. Kamera dapat berfungsi dengan baik. Saya biasanya menggunakan mode Auto dan sesekali HDR atau low light. Hasil foto dari Zenfone 4S dapat dilihat berikut ini. Catatan, foto sama sekali tidak diedit (klik untuk melihat ukuran sebenarnya).











HDR

Low Light

Luar ruang pagi hari

Saya rasa Pixel Master dari ASUS bekerja cukup baik untuk meningkatkan kualitas foto yang dihasilkan oleh Zenfone 4S ini. Foto yang dihasilkan terlihat jelas. Ini sudah sangat baik untuk smartphone kelas entry level.

Kinerja Baterai

Baterai yang diberikan oleh ASUS pada Zenfone 4S sebesar 2100mAh. Dengan kualitas layar yang hanya FWVGA yang berukuran 4,5 inchi, baterai ini sudah lebih dari cukup. Dalam pemakaian dengan koneksi WiFi dengan menggunakan satu SIM Card, baterai dapat bertahan lebih dari 14 jam dengan pemakaian moderat dengan waktu di layar sekitar 3-4 jam. Ketika menggunakan koneksi WiFi dengan dua SIM Card hasilnya juga tidak jauh berbeda. Jika menggunakan koneksi mobile untuk berinternet, baterai dapat bertahan hampir tujuh jam dengan pemakaian moderat ke aktif.  





ASUS pun memberikan fitur penghemat baterai yang cukup membantu memperpanjang usia pemakaian baterai. Selama pemakaian saya memanfaatkan fitur ini dan sangat terasa manfaatnya.


Kesimpulan

Ini untuk pertama kalinya saya menggunakan smartphone berbasis Intel Prosesor. Sebagaimana diuraikan di atas, tidak terdapat perbedaan signifikan jika dibandingkan dengan smartphone berbasis Snapdragon atau MediaTek. Jika terdapat panas berlebih setelah menggunakan beberapa lama untuk bermain game, hal yang sama juga terjadi ketika menggunakan smartphone berbasis Snapdragon atau MediaTek dan masih di suhu yang bisa dikatakan standar sekitar 39 Celcius.

Kelebihan Zenfone C ini ada pada kinerja secara keseluruhan. Tidak ada lag, segalanya berlangsung dengan lancar. RAM-nya yang 2GB sangat membantu dalam melakukan multitasking dan bermain game. Kinerja kamera dan baterai juga cukup bagus untuk sebuah smartphone entry level.

Namun bukan berarti Zenfone 4S tanpa kekurangan. Jika Anda tidak suka dengan pre-installed apps yang banyak, Zenfone 4S ini mungkin kurang cocok karena ASUS menghadirkan pre-installed apps yang sangat banyak yang sebagian besar tidak bisa di-uninstall. Ini tentu terkait dengan kebijakan masing-masing vendor dan pada umumnya, kecuali seri Nexus vendor menyertai smartphone yang mereka rilis dengan pre-installed apss, perbedaannya hanya pada jumlah pre-installed apps yang disertakan.

Demikian review terhadap Zenfone 4S atau Zenfone C. Semoga bisa membantu keputusan pembelian Anda.

Selular Award 2017 : ZenFone 3 Deluxe Smartphone Terbaik

Aliudin Sute d ja (National Sales Manager ASUS) menerima penghargaan Selular Award 2017 ASUS berhasil menempatkan dua smartphone mereka...