Friday, May 29, 2015

Sharp Aquos Crystal Murah Rp3,9 Juta?

Sharp Aquos Crystal
(Engadget)
Setelah seminggu sebelumnya informasinya di-buzz di Twitter dan media sosial lainnya, Sharp akhirnya merilis smartphone pertama mereka di Indonesia, yaitu Aquos Crystal. Sayangnya saya tak bisa mengikuti acara tersebut secara langsung sehingga hanya bisa menikmatinya melalui timeline Twitter.

Perlu diketahui, Aquos Crystal bukanlah smartphone baru sama sekali. Selain Jepang, Aquos Crystal telah dijual di Amerika Serikat melalui Amazon dan Boost Mobile sekitar bulan Agustus tahun yang lalu. Jadi Aquos Crystal ini sudah berumur hampir satu tahun, meskipun baru masuk pasar Indonesia bulan Mei 2015 ini.

Jika kita melihat, spesifikasi yang diusung oleh Sharp Aquos Crystal, smartphone ini adalah kelas menengah. Dengan layar IGZO seluas 5 inchi HD 720p yang terlihat seperti bezelless, smartphone ini terlihat sangat cantik. Tampaknya fokus Sharp di sini adalh mengupayakan bagaimana layar tersebut memiliki luas yang lebih besar dibandingkan smartphone lainnya dengan layar 5 inchi. Tampaknya usaha Sharp tersebut berhasil jika kita melihat perbandingan layar berikut ini.

Sumber:  Reddit
Bila kita melihat perbandingan layar di atas, Sharp Aquos Crystal berada di posisi pertama karena bagian depannya memiliki layar paling luas, yaitu 78,5%. Hal ini sesuatu yang patut diapresiasi. 

Namun hal tersebut bukan tanpa risiko. Demi mengejar kesan bezelles tersebut posisi kamera depan jadi berada di bagian bawah smartphone. Ini posisi yang aneh dan semacam joke yang tidak lucu karena kebanyakan kamera depan untuk selfie berada di bagian atas smartphone. Tentunya hal ini akan memberikan kesulitan tersendiri.

Hal lain yang perlu dikritisi dari Aquos Crystal ini adalah harganya yang termasuk mahal untuk smartphone kelas menengah. Dengan harga 3,9 juta rasanya terlalu mahal, padahal di Amerika sana dirilis dengan harga 149 USD. Saya bisa mengatakan harga Aquos Crystal ini mahal karena spesifikasinya yang kelas menengah namun harga menengah premium. Mungkin Sharp terlalu menghargai desain smartphone yang bezelles tersebut.

Bagi saya kesesuaian spesifikasi dengan harga adalah kunci bersaing di pasar Android yang sangat banyak pemain ini. Saya rasa desain belum merupakan bagian yang dipertimbangkan, artinya kalau desain bagus pengguna suka, tetapi tidak bagus pun asal harganya masuk akal akan dibeli.

Harga tetap menjadi pertimbangan penting. Tak banyak orang yang mau membayarkan 3,9 juta untuk memperoleh smartphone dengan spesifikasi ROM hanya 8GB (meskipun tersedia slot micro SD Card hingga 128GB) dan RAM 1,5 GB karena di pasar tersedia smartphone yang memiliki ROM dan RAM yang lebih besar dan kemampuan kamera yang  setara  atau lebih baik, tetapi dengan harga jauh lebih murah meskipun desainnya tidak bezelles. Dua contoh yang bisa saya kemukakan adalah ZTE Blade S6 dan Xiaomi Mi 4i. Tambahan lagi Aquos Crystal masih berbasis KitKat meskipun sudak ada drop test untuk Lollipop. 

Demikian juga dengan prosesor. Aquos Crystal mengandalkan Snapdragon 400 1,2 Ghz quad core. Prosesor ini sudah cukup berumur (sekitar 2 tahun) dan juga digunakan oleh Moto G 2nd.

Sebagai produsen layar, Sharp Aquos Crystal tidak diragukan kecemerlangan layarnya. Namun demikian, spesifikasi layar seperti Mi 4i juga sangat bagus dengan memberikan Full HD 1080p. 

Saya membaca beberapa review terhadap Sharp Aquos Crystal ini. Sejauh yang saya baca, kesannya biasa saja

Saya rasa Sharp perlu lebih realistis dalam menentukan harga Aquos Crystal ini. Saya merekomendasikan harga 2,7 juta hingga 2,9 juta untuk Aquos Crystal ini. Itupun jika melihat besarnya ROM masih kalah dibandingkan vendor lain, namun bisa sedikit bersaing karena desain yang jauh lebih baik.

Wednesday, May 27, 2015

Mobile Traffic Tinggi, Desktop Tak Kunjung Mati

Traffic internet  melalui dekstop tetap stabil di tengah
populernya mobile internet.
Saat ini eranya mobile internet. Didorong oleh harga perangkat (terutama Android) yang sangat terjangkau, mobile internet melaju dengan sangat pesat. Pertambahan traffic mobile internet diperkirakan terus meningkat seiring makin banyaknya bagian dari populasi dunia yang dijangkau oleh perangkat bergerak seperti smartphone dan tablet. Namun hal itu bukan berarti desktop internet telah mati.

Beberapa waktu yang lalu, penjualan perangkat komputer seperti PC dikabarkan terus mengalami penurunan. Banyak vendor yang tidak mengantisipasi peralihan pengguna dari PC ke perangkat mobile yang lebih leluasa digunakan. Berbagai vendor yang selama ini fokus di komputer PC, ramai-ramai beralih membuat perangkat mobile. Ini tentunya sebuah usaha yang cukup bagus untuk menyelamatkan bisnis mereka yang lesu seiring menurunnya penjualan PC. 

Seiring dengan membaiknya bisnis vendor di perangkat mobile, vendor tetap tidak meninggalkan dasar mereka sebagai produsen komputer PC. Meskipun melemah, bisnis komputer PC ini tetap menarik karena harga perangkat yang lebih stabil dan jarang terjadi perang harga. 

Konsumen pun sebenarnya meskipun membeli perangkat mobile lebih banyak, tidak seratus persen meninggalkan komputer desktop. Bagi sebagian pengguna, perangkat mobile apapun bentuknnya belumlah bisa menggantikan desktop. 

Sebagian pengguna yang lain tetap tidak berpaling dari komputer desktop dan terus menggunakannya untuk mengakses internet sehingga jargon go mobile tidak sepenuhnya diamini pengguna.

Anggapan yang mengatakan bahwa pengguna meninggalkan desktop untuk beralih ke mobile pun seharusnya tidak ditelan mentah-mentah karena ternyata traffic internet dari desktop tetap masih tinggi. Paling tidak hal ini dibuktikan di Amerika Serikat.

Sumber: WSJ
Data dari Comscore menyebutkan bahwa waktu keseluruhan yang dihabiskan untuk online dengan perangkat desktop di AS relatif tetap stabil selama dua tahun terakhir. Waktu yang dihabiskan dengan perangkat mobile telah berkembang pesat dalam kurun waktu tersebut, namun jumlah penggunaan mobile internet ternyata menambah penggunaan desktop, bukannya mengurangi penggunaan perangkat desktop.

Hal ini berarti mobile internet tidak sepenuhnya mengurangi traffic internet dari desktop, bahkan cenderung pengguna mobile turut mengakses internet melalu dekstop. Dilihat saat penggunaan, pengguna mobile internet cenderung menggunakan pada pagi dan malam hari, sedangkan ketika bekerja penggunaan dekstop tetap dominan. Dengan kata lain porsi mobile tumbuh tumbuh, tetapi traffic secara keseluruhan  juga tumbuh.

Fakta ini tentu memiliki implikasi penting bagi pemilik media dan pemasar yang sering mengatakan bahwa mereka mengubah situs dan strategi mereka untuk memenuhi pengguna mobile yang terus tumbuh. Hal itu tentu masuk akal karena mengoptimalkan untuk mobile yang penggunanya terus bertambah dan tumbuh pesat. Namun sama sekali meninggalkan desktop internet bukanlah hal yang benar juga karena traffic-nya selalu stabil dalam dua tahun terakhir.

Saya sendiri bisa dikatakan mengadopsi mixing strategy seperti kebanyakan pengguna lainnya. Mobile internet lebih kepada karena berada dalam perjalanan di pagi hari atau pulang di malam hari. Desktop internet tetap dominan saya gunakan sepanjang hari waktu bekerja. Berbagai kelemahan di mobile internet membuat pengguna dekstop internet tetap sesuatu yang tak kunjung mati dan traffic-nya akan terus stabil.

Bahan Bacaan: WSJ Blog


Saturday, May 23, 2015

ZTE Blade S6 Versus Xiaomi Mi 4i Pilih Mana?

ZTE Blade S6
Perang sengit terjadi di pasar smartphone dengan harga maksimal 3 juta. ZTE Blade S6 head to head dengan Xiaomi Mi 4i. 
Dua minggu yang lalu, ZTE Indonesia merilis ZTE Blade S6 di Indonesia. Tidak lama kemudian, Apple dari China atau Xioami merilis Mi 4i yang menjadi andalan mereka di pasar di bawah Rp 3 Juta rupiah. Secara harga kedua smartphone ini cukupt berdekatan. ZTE memberikan harga 2.999.000 untuk Blade S6, sedangkan Xiaomi mmemberikan harga 2.799.000 untuk Mi 4i. 

Dengan harga yang sangat dekat ini, tentu saja konsumen perlu melirik ke spesifikasi yang ditawarkan untuk memutuskan membeli, apakah Blade S6 atau Mi 4i. Spesifikasi kedua smartphone ini adalah sebagai berikut.

Spesifikasi ZTE Blade S6
Jaringan:  LTE:  B3/B5/B8, UMTS: 900/2100 MHz, GSM: 850/900/1800/1900
Prosesor:  Qualcomm Snapdragon™ 615 octa-core 1,7 GHz (MSM8939)
Sistem Operasi:   Android Lollipop
Ukuran:  144 x 70.7 x 7.7mm, 134gr
Layar: HD berukuran 5.0 inci dengan In-Cell Technology
Kamera: Sony IMX214 13M AF + 5M wide-angle FF
Baterai  2400mAh
Port: 3.5mm Earphone Port, Dual Nano SIM, 5 pin Micro USB, Micro SD 
Memori: 16GB eMMC + 2GB RAM DDR3
RAM/Memori Internal: 2GB/16GB plus micro sd card
Fitur: HI-FI,Proximity, Ambient Light, Accelerometer, Compass, Gyro, A-GPS/GPS/FM/BT 4.0/Wifi, Wifi: 802.11a/b/g/n/ac, Smart Sense, Aliveshare, MiFavor 3.0 UI

Spesifikasi Xiaomi Mi 4i

Jaringan: 4G LTE B3/B7 1.800 MHz, WiFi MU-MIMO
Prosesor: Qualcomm Snapdragon 615 octa-core 1,7 GHz (quad-core 1.7 GHz & quad-core 1,1 GHz)
Sistem operasi: Android 5.0 Lollipop MIUI 6
Ukuran:  138.1 x 69.6 x 7.8 mm 130 gr
Kamera: utama/depan Sony 13 megapiksel, two tone flash/5 megapiksel, f/1.8
Xiaomi Mi 4i
Bentang layar 5 inci
Resolusi layar IPS LCD, 1920 x 1080 piksel (full HD), 441 ppi, Sunlight Display
Baterai 3.120 mAh
GPU Adreno 405
RAM/memori internal 2 GB/16 GB
Fitur lain Dual-SIM (microSIM)

Kalau dilihat secara spesifikasi, kedua smartphone ini tampaknya hampir identik. Pengguna prosesor yang sama, kekuatan kamera belakang dan depan yang sama, bentang layar juga persis sama, yaitu 5 inchi. 

Secara desain kedua smartphone ini berbentuk bar dengan bahan plastik di bagian penutup belakangnya. Kedua smartphone juga sama-sama ringan, meskipun Xiomi Mi 4i lebih ringan (130 gr) dibandingkan dengan ZTE Blade S6 (134 gr).

Dengan prosesor yang persis saya saya kira kinerjanya akan berdekatan. Namun tentu ini tergantung sejauh mana kedua vendor bisa memaksimalkan prosesor tersebut. ZTE melakukan menanamkan MiFavor 3.0 untuk UI-nya sedangkan Xiaomi MIUI terbaru, yaitu MIUI 6.

Bila dilihat spesifikasi di atas, tampaknya Xiaomi Mi 4i sedikit lebih unggul dalam hal kualitas layar yang Full HD, sedangkan ZTE Blade S6 hanya HD 720p. Demikian juga dari sisi kekuatan baterai, Xaomi Mi 41 jauh berada di atas Blade S 6 (3120 vs 2400 mAh). 

Xiaomi juga dikenal karena mengambil margin keuntungan yang tipis untuk harga smartphone mereka. Hal ini tetap mereka berlakukan di Mi 4i di mana harganya hanya 2.799.000,00 lebih murah dibandingkan Blade S6 yang 2.999.000. 

Saya rasa jika dilihat selintas, Xiaomi Mi 4i patut diprioritaskan. Layar full HD, baterai lebih besar dan harga lebih murah. Namun bila Anda kurang sreg dengan UI yang mirip-mirip iOS, mungkin Blade S6 lebih baik. Perlu diketahui Blade S6 menanamkan fitur Smart Sense (fitur ini tidak terdapat di Mi 4i) untuk penggunaan smartphone yang lebih ringkas. Ini merupakan keunggulan tersendiri bagi Anda jika memilih Blade S6.

Tambahan lagi Xiaomi Mi 4i tidak menyertakan slot micro SD Card, melainkan memberikan fitur USB On The Go. Ini artinya pengguna tidak bisa menambahkan tambahan storage dan hanya bisa mentransfer file atau memindahkan file jika storage sudah penuh atau memainkan media lain di USB dengan memanfaatkan fitur USB OTG. Selain itu, daya baterai yang lebih besar di Xiaomi Mi 4i juga terkait dengan layarnya yang full HD. Tentunya akan tidak bagus jika layar full HD sementara daya baterai sekitar dua ribuan mAh.

Jika diperbandingkan, pilih slot micro SD Card atau fitur USB on the go, saya lebih memilih fitur micro sd card. Tambahan lagi di ZTE Blade S6 tersedia koneksi 3G untuk data. Ini artinya bisa digunakan di banyak tempat karena ketersediaan koneksi 3G lebih merata dibandingkan dengan 4G.

Saya sudah melakukan hands on terhadap ZTE Blade S6 ini dan saya rasa smartphone ini cukup bagus di kisaran harga 3 juta. Sementara dengan Xiaomi Mi 4i saya tak akrab karena memang belum pernah memegang smartphone ini. Akan tetapi, jika anda melihat spesifikasi dan harga tampaknya Mi 4i adalah pemenangnnya.

Nah Anda mau pilih yang mana, ZTE Blade S6 atau Xiaomi Mi 4i? Silahkan berikan komentar Anda di kolom komentar di bawah ini.

Friday, May 22, 2015

Acer Rilis Smartphone 4G LTE Harga Satu Jutaan

Persaingan smartphone kelas 1 jutaan rupiah bakal makin memanas. Saat ini vendor berlomba-lomba merilis smartphone di kelas ini, tidak ketinggal Acer yang kemarin merilis tiga smartphone sekaligus, yaitu Liquid Z520, Liquid Z410 dan Liquid Z220.

Bertempat di Xplore Senayan City, kemarin (21/5) Acer Indonesia merilis tiga smartphone andalan mereka untuk bersaing di kelas 1 jutaan. Acer Indonesia merilis Liquid Z520, Liquid Z410 dan Liquid Z220 yang kesemuanya berada di harga 1 jutaan rupiah.

Dalam sambutannya Herbet Ang, President Director Acer Indonesia, mengatakan, Rich content, koneksi data cepat dan smartphone dengan performa danvalue terbaik memainkan peranan yang sangat penting saat era mobile broadband telah diimplementasikan. Acer Indonesia bangga tiga smartphone terbarunya yang diluncurkan untuk mengisi ekosistem mobile broadband tersebut, dengan Liquid Z410 hadir sebagai smartphone 4G dengan performa terbaik dan Liquid Z520 diciptakan sebagai smartphone stylish untuk penikmat konten multimedia.

Liquid Z410
Liquid Z410 merupakan smartphone 4G pertama Acer yang telah dilengkapi dengan dengan prosesor Mediatek  MT6732M 64bit dengan kecepatan 1,3 GHz serta RAM 1 GB. Liquid Z410 memiliki memori internal 8 GB plus slot micro sd card dan baterai berkapasitas 2000 mAh. Liquid Z410 memiliki layar 4,5 inchi. 

Liquid Z410  didukung kamera utama 5 MP autofocus & kamera depan 2MP dengan fitur dual-shot yang memungkinkan penggunanya dapat menggunakan kedua kamera dalam waktu yang bersamaan untuk mengambil gambar. Kamera depan Liquid Z410 ini pun sudah memakai wide angle lens.

Jaringan 4G LTE yang didukung oleh Liquid Z410 adalah LTE 900 dan 1800. Ini artinya, apabila nantinya LTE 1800 sudah berjalan di Indonesia, smartphone bisa juga digunakan. Saat ini LTE di Indonesia masih berada di 900 Mhz.

Acer Liquid Z410 tersedia dalam dua pilihan warna yaitu Black and White dengan harga Rp1.349.000,00. 

Liquid Z520
Acer Liquid Z520 merupakan smartphone stylish untuk pengguna yang menyukai konten multimedia. Liquid Z520 memiliki layar lebar 5 inchi yang dilengkapi dengan fitur Reading Mode sehingga pengguna tidak akan mengalami kelelahan pada mata saat berlama-lama menatap layar. Kamera Liquid Z520 beresolusi 8MP autofocus dan kamera depan beresolusi 2MP dengan  fitur voice camera control. Voice camera control memungkinkan pengguna untuk memotret hanya dengan perintah suara yang sederhana, tidak perlu lagi menekan tombol kamera pada layar.

 Acer Liquid Z520 dapat diperoleh dalam dua pilihan warna yaitu mystic black dan pure white dengan harga 1.399.000,00

Liquid Z220
Liquid Z220 merupakan smartphone pertama Acer yang hadir dengan sistem operasi terbaru Android 5.0 Lollipop. Dengan sistem operasi terbaru tersebut, Liquid Z220 memiliki sistem operasi antar muka yang lebih dinamis dan responsif.  Liquid Z220 menggunakan prosesor Qualcomm Snapdragon Dual Core 1.2 GHz dan RAM 1GB, dengan kamera belakang 5MP dan kamera depan 2MP. Liquid Z220 akan mulai tersedia pada bulan Juni 2015 dengan harga yang belum diumumkan , tetapi pasti di bawah harga Liquid Z520 dan Z410.

Foto:

Model memperagakan Liquid Z520

Liquid Z220

Liquid Z410

Liquid Z220 berbasis Lollipop


Wednesday, May 20, 2015

Smartphone Mahal Untuk Apa?

iPhone 6 dan iPhone 6 Plus untuk apa? (:p)
Mahal itu relatif. Ini artinya, ya relatif. Tergantung kondisi masing-masing individu. Bagi saya, semenjak tahu membeli smartphone, harga 5 jutaan ke atas termasuk mahal dan saya tak bisa membeli smartphone tersebut. Namun bagi Anda yang membaca artikel ini bisa saja 5 jutaan ke atas itu masih termasuk murah, bahkan 10 juta ke atas masih murah karena kondisi dompet yang memang tak berbatas. Akan tetapi bagi yang lainnya, mungkin saja harga smartphone 2-3 jutaan sudah termasuk mahal sehingga hanya membeli smartphone di bawah harga tersebut.

Saya sendiri beranggapan bahwa sesuka-sukanya saya terhadap sebuah smartphone, saya tidak akan membeli jika harganya 5 juta ke atas. Saya beranggapan meskipun smartphone bisa membantu manusia dalam bekerja, namun fungsinya belumlah benar-benar bisa membantu secara penuh. Ini artinya beberapa pekerjaan yang membutuhkan resources tinggi, seperti edit video, edit naskah, edit foto dan pekerjaan berat lainnya seperti membuat spreadseat belum bisa sepenuhnya diserahkan ke smartphone.

Dengan berbagai keterbatasan tersebut, saya memang berpikir berulang kali untuk membeli smartphone mahal. Saya masih sangat suka bekerja di PC dan laptop sepanjang hari. Menggunakan smartphone lebih kepada media sosial, edit foto ringan, mendengarkan musik atau menonton video pendek dan chatting. Unsur pekerjaan di smartphone yang saya gunakan lebih kepada tetap connected, misalnya email pekerjaan. Ini artinya pekerjaan tersebut tidak sepenuhnya saya lakukan di smartphone sehingga pada dasarnya smartphone tetap saya gunakan untuk selain bekerja.

Saya beranggapan smartphone mahal apakah itu berbasis Android atau iOS tidak lebih untuk penampilan. Ini berarti jika Anda menggunakan smartphone mahal, orang akan lebih melirik kepada smartphone yang Anda pakai dan mungkin juga anggapan teman sejawat lebih baik kepada Anda karena smartphone yang mahal yang Anda pakai. 

Keputusan saya untuk tidak membeli smartphone mahal tersebut makin mantap setelah membaca sebuah artikel di CNet yang secara umum mengatakan bahwa apapun smartphonenya, apapun OS-nya dan berapapun harganya terdapat dua kelemahan di setiap smartphone tersebut, yaitu terlalu ringkih dan daya tahan baterai yang so-so saja. Ini artinya risiko ketika membeli smartphone mahal menjadi lebih besar dibandingkan dengan smartphone yang lebih murah.

Cobalah Anda telusuri, setiap smartphone mahal harus dilapisi dengan lapisan lain agar ketika jatuh tidak begitu ringsek. Harga rangka pelapis ini juga tidak bisa dikatakan murah. Ini artinya tambahan biaya lagi. Setelah diberi lapisan pelindung, ketika tidak sengaja jatuh, toh tetap rusak juga meskipun kerusakannya lebih berkurang. Ini adalah bukti betapa ringkihnya smartphone zaman sekarang ini. 

Tentu saja biaya yang ditanggung pengguna menjadi lebih besar. Pertama harga smartphone yang sudah mahal, namun ternyata mudah sekali pecah atau durabilitasnya rendah. Bagi saya sendiri adalah sangat mengesalkan ketika smartphone dibeli mahal-mahal, jatuh sedikit saja sudah rusak. Membeli smartphone mahal belum tentu memiliki durabiltas yang lebih baik. Ini akan membuat pengguna lebih berisiko, belum lagi risiko kehilangan misalnya.

Kedua adalah masalah daya tahan baterai. Saya pernah menggunakan smartphone tidak mahal, tetapi daya tahan baterainya bagi saya mengagumkan. Baterainya memang memiliki daya yang cukup besar, yaitu 3500 mAh dengan kualitas layar hanya HD 720p. Meskipun bisa bertahan lebih dari 15 jam dengan pemakaian standar, tetap saja baterai masih menjadi masalah terbesar bagi smartphone.

Apalagi smartphone mahal karena dituntut memiliki desain yang keren, terpaksa melakukan trade off dengan mengurangi daya baterai. Kita bisa melihat, smartphone mahal dari Samsung atau Apple baterainya kadang cuma bisa bertahan kurang lebih 8 jam. Setelah itu terpaksa diisi ulang dengan lama pengisian yang membuat bosan. Terlebih lagi jika smartphone mahal tidak memiliki teknologi fast charging. Ini akan membuat smartphone mahal ini terlalu berat di ongkos karena kinerja baterai yang kadang lebih buruk dibandingkan dengan smartphone yang lebih murah.

Perlu diketahui, teknologi baterai perangkat bergerak khususnya baterai smartphone hampir-hampir bisa dikatakan tidak bergerak. Penelitian dan penemuan teknologi baterai baru memang terus lahir, tetapi masalahnya belum ekonomis untuk dipasarkan atau ada masalah lain yang menganggu. Ini mengakibatkan risiko tinggi pada smartphone yang dibeli dengan harga mahal. Padahal dengan daya tahan baterai sama atau mungkin lebih baik, ada smartphone dengan harga yang jauh lebih murah.

Ketiga yang perlu dilihat adalah product life cycle smartphone semakin pendek. Kalau dulu mungkin orang hanya perlu beli smartphone setahun sekali, kini produk baru bisa saja lahir setiap empat bulan. Produk smartphone baru khususnya Android hampir tidak ada matinya. Ini membuat produk lama seperti ketinggalan dan terkadang memaksa pengguna untuk melakukan upgrade yang tidak perlu.

Nah, masih beli smartphone mahal?

Monday, May 18, 2015

Algoritma dan Fenomena Gagal Move On

Fenomena 10 tahun terakhir di Indonesia adalah makin banyaknya pengguna internet lalu kemudian media sosial sepeti Facebook. Berbagai data bisa kita ajukan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat cukup pesat, meskipun infrastruktur internet bergerak sedemikian lambat. Salah satu pemicu meningkatnya pengguna internet (terutama mobile internet) adalah semakin murahnya perangkat serta akses wireless broadband yang makin membaik. 

Saya percaya bahwa pengguna mobile internet di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan fixed line seperti PC. Pengguna mobile internet dimanjakan dengan adanya berbagai aplikasi yang membuat mereka sedemikian mudah untuk terhubung satu sama lain. Setiap hari, setiap saat membuat hubungan tersebut menjadi hyper connected

Salah satu tempat favorit pengguna internet saat ini adalah media sosial, di mana di sini Facebook merupakan tempat berkumpul sebagian besar pengguna. Facebook dengan kemampuan algoritmanya mampu membius semiliar lebih orang di bumi untuk terus mengecek situsnya setiap saat. Facebook adalah salah satu bukti adanya hyper connected tersebut.

Facebook sudah menjadi sumber informasi dan sekaligus petaka bagi banyak orang hingga menimbulkan fenomena gagal move on yang berakibat sangat sulit untuk berubah. Hal ini bisa kita lihat ketika berlangsungnya Pemilu pada tahun 2014 yang lalu.

Siapapun yang log in ke Facebook saat Pilpress 2014 pasti mengetahui betapa kerasnya pertarungan antara kubu yang bersaing dan menjagokan calon mereka. Mereka yang ikut salah satu kubu pasti mengetahui bahwa sebagian besar news feed yang masuk ke wall mereka pada waktu itu adalah tentang kelompok mereka.

Algoritma Facebook memang membutakan banyak orang. Algoritma Facebook cenderung menguatkan keyakinan salah satu kubu dan menjelekkan kubu pesaing. Lama-kelamaan algoritma ini membuat para pengguna Facebook percaya bahwa merekalah yang benar. Kebanyakan pengguna akan langsung percaya apa yang ada muncul di wall mereka tanpa cek dan ricek. Fitnah akan menjadi keseharian, kebodohan malah diagungkan dan isu aneh-aneh, kata-kata kasar menjadi hal yang tidak perlu dipermasalahkan.

Hal lebih lanjut adalah mereka yang selama ini kita kira sopan dan paham agama, berubah menjadi orang yang lebih percaya isu daripada yang lain. Mereka yang selama ini kita kira cukup pintar, ternyata tidaklah pintar dan diakali oleh algoritma. Adalah aneh bagi kita orang yang selama ini kita kira sopan dan paham agama ternyata kemudian menyebar fitnah dan berkata kasar dan membuat isu yang sulit dipercaya dan kemudian diamini oleh mereka yang ada di jalur pertemanan mereka di Facebook dan disebarkan tanpa takut hal tersebut dicek orang lain kadar kebohongannya.

Selanjutnya akan banyak terjadi spin isu, isu sebenarnya dipelintir untuk tetap menjaga pengguna di jalur pertemanan agar tidak keluar. Isu yang sebenarnya berdiri sendiri, lalu dipelintir, dikaitkan dengan isu agama, ras, dan kesukuan untuk memperoleh dampak yang lebih dahsyat, Tidak jarang isu tertentu mengutip seorang tokoh, yang sebenarnya tidak mengatakan seperti apa yang diberitakan, namun diarahkan sesuai selera pembuat isu agar para pengguna tetap merasa percaya yang dipercayainya adalah benar.

Sekali lagi apapun beritanya, apakah itu fitnah, isu yang dipelintir atau lainnya akan muncul di news feed mereka yang telah ikut dengan jalur pertemanan tersebut. Algoritma tidak pernah memverifikasi apakah suatu berita benar atau tidak, tugas mereka menghadirkan yang sesuai selera yang dipilih pengguna. 

Fenomena mereka yang langsung percaya dan terus-menerus percaya ini adalah sisi gelap algoritma yang kadang sulit untuk kita pahami. Pengalaman kita bermedia sosial berjalan dengan lancar berkat algoritma media sosial tersebut. Siapa yang hendak kita jadikan teman, artikel mana yang akan kita baca,  disajikan dengan baik oleh algoritma. Kita tidak perlu susah-susah mencari seseorang di media sosial seperti Facebook atau Twitter karena ada pengguna yang disarankan oleh algoritma untuk diikuti. Juga tidak perlu repot mencari kebenaran berita karena berita yang benar menurut kepercayaan pengguna ada di news feed dan disediakan oleh algoritma.

Facebook khususnya telah dituding membuat penggunanya terkungkung oleh algoritma yang mereka buat. Algoritma tersebut cenderung menambah kepercayaan pengguna terhadap apa yang mereka percayai benar. Algoritma tersebut cenderung membatasi pengetahuan pengguna di posisi itu-itu saja selingkar pertemanan. Hal ini membuat fenomena katak di dalam tempurung menjadi tidak terelakkan.

Seiring waktu, konsumsi berita yang dihadirkan oleh algoritma tersebut terus menumpuk. Pengguna direcoki oleh hal-hal yang sama sepanjang waktu sehingga membuat pikiran mereka mentok. Akibatnya ketika di dunia nyata apa yang diharapkannya tidak menjadi kenyataan, ia akan sulit sekali move on. Tidak bisa move on atau gagal move on ini juga sebagai kata lain dari tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Hal ini karena pengaruh yang disajikan algoritma kepada mereka sedemikian besar. Hal ini menimbulkan tindakan yang disalurkan dengan berbagai cara yang hampir tidak berbeda dengan cara-cara sebelumnya.

Tentu pertanyaannya apakah ini salah algoritma atau pengguna?

Saya cenderung berpendapat bahwa manusia memiliki banyak pilihan dan yang lebih penting adalah pikiran. Karena algoritma adalah barang mati, statis, manusia bisa meninggalkannya kapan saja. Ditambah dengan olah pikir, cek-ricek fakta dan melihat ke diri sendiri, algoritma itu akan tak ada artinya. Memilih untuk mundur dari suatu kelompok, berusaha berpikir lebih jernih mungkin bisa menolong anda dari cengkeraman algoritma Facebook.

Namun itu hanya teori di atas kertas. Kebanyakan pengguna Facebook sangat sulit untuk meninggalkan Facebook bahkan hanya untuk beberapa saat. Mereka sudah sedemikian lengketnya dan mungkin akan menjadi sebuah akhir yang tidak mengenakkan untuk keluar atau tidak lagi menggunakan Facebook. 

Hal tersebut membuat manusia pengguna Facebook hampir-hampir otomatis. Mereka akan segera memberikan LIKE, memberikan komentar dan membagi ulang apa yang mereka dapatkan di news feed, tidak peduli apakah itu benar atau tidak sehingga sulit sekali tercipta suasana di mana mereka bisa mengakui kondisi sebenarnya.

Internet melalui Facebook yang diperkirakan bisa menumbuhkan demokrasi, menyuburkannya karena tersedianya ruang untuk berbicara bebas, ternyata berdampak negatif bagi demokrasi secara keseluruhan. Orang tidak perlu lagi sopan santun atau tata krama, misalnya. Algortima telah mendorong banyak orang untuk terlibat dalam berbagai kegiatan yang bisa dikategorikan anti demokrasi.

Tentu tidak hanya di Facebook algoritma bekerja. Hampir seluruh layanan internet membuat algoritma agar mereka bisa dengan mudah mengidentifikasi kesukaan pengguna. Tentu bukan hanya Facebook di mana algortima begitu terasa. Namun perlu kita akui, bahwa Facebook adalah tempat berkumpulnya sebagian besar pengguna media sosial sehingga menjadi tujuan penting berbagai kelompok. Di sini peran algortima begitu terasa karena jumlah pengguna yang sedemikian banyak dan tingkat pemakaian pengguna yang sangat tinggi.

Pengaruh algoritma itu saat ini masih sangat terasa. Kita banyak menemukan mereka yang terus-terusan gagal move on. Ini sebuah tanda algoritma telah bekerja untuknya dengan sangat baik.


Friday, May 15, 2015

The Long Tail dan Film Lawas Kontroversial

Brooke Shields dalam Pretty Baby
Hukum ekonomi mengenal adanya kelangkaan. Jika Anda pernah belajar ilmu ekonomi dasar di sekolah menengah, pasti mengetahui bahwa dengan adanya kelangkaanlah maka sesuatu di dunia ini ada harganya. Akan tetapi, bagaimana jika kelangkaan itu tidak ada, dan barang dan jasa tidak ada harganya?

Dalam beberapa tahun terakhir kita melihat pergeseran yang mungkin tidak kita sadari. Sejak ditemukannya internet, pasar lokal kini hampir-hampir tidak ada artinya. Pasar kini sedemikian luasnya dengan penawaran yang hampir-hampir tanpa batas. Internet adalah daya baru pembuat sedemikian banyak penawaran sekaligus permintaan dan harga keseimbangan.

Saya masih ingat, sekitar tahun 2000 sampai dengan 2006, saya sibuk mencari album-album lawas di berbagai tempat di Bogor, Jakarta dan Bandung. Masalah di ketiga pasar album lagu bekas itu adalah terbatasnya pasokan atau langkanya pasokan. Hal ini berakibat album lawas itu memiliki harga yang bisa dikatakan tidak murah. Para penyuka Led Zeppelin, Guns N Roses, Metallica dan banyak grup lawas lainnya saling berebut memperebutkan pasokan yang sedikit sehingga tentu saja sebagian dari mereka tidak memperoleh apa yang diinginkannya.

Kenyataannya kini Anda tidak perlu lagi mengunjungi pasar album bekas untuk memiliki album yang Anda inginkan. Anda cukup membuka internet, ketikkan kata kunci di search bar Google dan sim sala bim, sangat banyak penawaran yang sebagian besar adalah gratis. Ini adalah dunia baru yang mungkin tak pernah kita impikan di masa lalu. Ini adalah internet yang mengubah kelangkaan dalam ilmu ekonomi menjadi sesuatu yang tiada batas, penawaran tiada batas, menimbulkan permintaan tanpa batas, tanpa batas negara dan ras. Sesuatu yang ajaib.

Demikianlah, sebagaimana telah Anda baca di buku The Long Tail, bahkan mereka yang lahir di tahun 2000-an kini bisa menikmati lagu-lagu The Eagles, Scorpion, bahkan album grup paling lawas sekalipun.

Saya pun menikmati The Long Tail ini dengan mencari-cari film lawas kontroversial. Tentu ada daftarnya di sebuah situs yang saya temukan. Ada film berangka tahun 1972 (itu artinya sebelum saya lahir), tahun 1978, 1980, hingga tahun 2004.

Internet dengan pasar yang tiada batas ini telah membantu saya menemukan Brooke Shields yang baru berusia 12 tahun di Film Pretty Baby yang dituding sebagai membawa-bawa Child Pornograpy. Ada Henry and June di mana Ema Thurman bermain sangat baik dan ada juga Blue Velvet karya David Lynch yang menjadi salah satu dari 100 film terbaik sepanjang masa. 

Pustaka tanpa batas terhadap lagu, acara televisi, film dan sebagainya itu tersimpan rapi di sebuah situs yang disebut BitTorrent. Situs ini adalah situs penolong banyak orang yang ingin menemukan koleksi lampau. Penawarannya sedemikian banyak dan tetap laku dengan harga nol rupiah.

Jika kita kembali ke hukum ekonomi, tentu hal ini mustahil terjadi. Sesuatu pasti ada harganya karena ia langka dan dihasilkan dengan faktor produksi. Namun internet meragukan hal ini dan membalik premis tersebut menjadi segala sesuatu itu tidak ada harganya dan tersedia tanpa batas alias tidak langka.

Mengapa hal tersebut terjadi?

Jawabannya karena internet. Internet adalah daya pencipta penawaran baru tanpa batas. Banyak orang dengan sukarela menawarkan apa saja di internet dengan harga nol rupiah. Batasan negara, hukum, ras dan lainnya yang telah diterabas oleh internet memungkinkan orang dari sudut kota di Kairo atau Moskow menawarkan apa yang bisa ia tawarkan dengan harga nol rupiah untuk dibeli oleh orang Indonesia. 

Oleh karena pasar yang sedemikian luas, selera konsumen pun sedemikian berwarna. Ada yang ingin mengenang masa lalu orang tuanya di tahun 70-an. Ada yang meskipun lahir di tahun 2000-an memiliki selera klasik terhadap musik dan film. 

Hal ini membuat pencarian konten sedemikian menjadi penting. Untuk menemukan konten yang ada di sepanjang tail yang panjang itu butuh alat pengulik yang cerdas dan hal itu dilayani dengan baik oleh mesin pencari seperti Google.

Sebagaimana pernah saya tuliskan sebelumnya, konten yang ada di sisi kiri atas dari kurva Long Tail ini adalah konten populer. Bila kita andaikan itu kurva film, maka yang ada di kiri atas adalah film-film terkenal yang masuk kategori box office. Sayangnya tak semua film yang masuk box office bahkan hanya sebagian kecil saja dari jumlah film yang diproduksi. 

Film-film yang tidak masuk box office itu berebut di sepanjang ekor kurva yang panjang. Jika Anda ingin memiliki film Jepang tertentu, Anda tak akan menemukan film itu di kategori box office, tetapi mungkin di ujung kurva. Film Jepang tersebut sepertinya tidak laku, tapi percayalah semua yang ada di internet laku, meskipun yang membeli/mendownload hanya satu dua orang.

Internet telah membuat pasar yang sangat besar tanpa batas. Ia memberikan kesempatan kepada sangat banyak orang untuk menyediakan sesuatu tanpa batas. Internet juga menimbulkan permintaan tanpa batas. Selera kini menjadi bagian yang sangat penting bagi seseorang untuk memperoleh konten yang diinginkan.  

Internet membuat penawaran barang tanpa batas hingga meninmbulkan permintaan yang juga tanpa batas. Berbagai situs legal dan ilegal menyediakan sedemikian banyak barang yang siap diunduh. Konsumen dengan berbagai selera datang dan memperoleh apa yang mereka sukai, sering tanpa harus membayar (dalam arti sebenarnya). 

Inilah internet, dunia tanpa batas. Anda bisa menikmatinya kapanpun dan di mana saja dan darinya Anda menemukan apa saja dari masa silam.


Thursday, May 14, 2015

Review: Andromax C3s dan C3si Smartfren

Pasar entry level masih sangat menarik bagi operator telekomunikasi Smartfren. Hal ini dibuktikan dengan merilis dua smartphone seri C terbaru mereka beberapa waktu yang lalu, yaitu Andromax C3s dan C3si. 

Sekilas dilihat hampir tidak ada yang membedakan antara C3s dan C3si ini. Namun jika diteliti terdapat perbedaan yang cukup signifikan di mana Cs3 dibuat oleh Haier, sedangkan C3si dibuat oleh Hisense. Selain itu kekuatan batera berbeda, yaitu C3s berkekuatan 1400 mAh, sedangkan C3si berkekuatan 1500 mAh. Dari sisi teknologi audio juga terdapat perbedaan teknologi yang dibenamkan, yaitu C3s menggunakan DTS, sedangkan C3si menggunakan Dolby. Spesifikasi lengkap kedua smartphone ini dapat di artikel yang sebelumnya sudah dipublikasikan. 

Smartfren Rilis Andromax C3s dan C3si Seharga 799 Ribu


Setelah menggunakan kedua smartphone ini secara bergantian selama beberapa hari terakhir, saya bisa katakan bahwa kinerja C3s dan C3si ini hampir identik. Berikut ini penjelasannya.

What's In The Box

1. Smartphone Andromax C3s dan C3si
1. Buku Panduan
1. Kartu Garansi
1. Headphone
1. Charger + Kabel Data
1. Baterai
1. SIM Smartfren yang sudah terpasang
1. Paket Bonus Data 600 MB selama satu minggu



Desain dan Hardware

Andromax C3s dan C3si berbentuk bar yang dilapisi plastik. Untuk smartphone di entry level saya rasa sudah sangat cukup. Desain bukan hal yang penting untuk dilihat pada smartphone entry level. Hal yang saya rasakan, kedua smartphone ini enak dipegang. Layar 4 inchinya bisa dipakai untuk satu tangan. Bagian belakang C3s dan C3si ini bisa dibuka di mana bagian belakang Andromax C3si lebih mudah dibandingkan C3s. 

Jika dilihat lebih teliti, design wise sepertinya C3si sedikit lebih cantik dibandingkan dengan C3s. Hal ini dibuktikan oleh bagian bawah smartphone C3si yang melengkung dan enak dilihat, tidak rata layaknya C3s.

Seperti biasa Smartfren selalu menggunakan prosesor Snapdragon. Untuk C3s dan C3si Smartfren menanamkan chip Snapdragon Dual Core 1.2GHz  Cortex A7. Prosesor ini cukup mampu memberikan kinerja yang baik di kedua smartphone ini. 

Untuk kamera, Smartfren tidak membedakan resolusi kamera C3s dan C3si ini, masing-masing berkekuatan 5 megapiksel untuk kamera belakang dan 3 megapiksel kamera depan. Saya rasa, untuk entry level resolusi kamera ini sudah lebih dari cukup karena bukan ditujukan untuk mengambil gambar yang bagus. Foto-foto Androma C3s dan C3si dapat dilihat berikut ini.


Kiri Andromax C3si, kanan AncromaC3s


Andromax C3si

Andromax C3s

Andromax C3si
Kinerja

Bagi saya, Smartfren selalu jadi pilihan smartphone yang murah dan bagus untuk bersosial media. Selain smartphone utama, saya juga menggunakan Smartfren untuk smartphone kedua. Hal yang selalu saya sukai dari Smartfren adalah harganya yang di bawah satu juta rupiah. Ini artinya smartphone ini memang ditujukan untuk beragam fitur dasar yang sehari-hari banyak dipakai pengguna, seperti menelpon, sms, ambil foto dan media sosial. Untuk bermain game pun masih bisa, namun tentu terbatas kepada game yang ringan-ringan seperti Subway Surfer dan Race The Stig dan lainnya.

Selama menggunakan Andromax C3s dan C3si kinerjanya identik. Kedua smartphone ini bisa digunakan dengan baik untuk menelpon, mengirim sms, chatting via WhatsApp dan bersosial media seperti Twitter dan Google Plus. Pun membaca berbagai berita saya melakukannya di kedua smartphone ini meskipun layarnya cuma 4 inchi dengan kualitas WVGA (480x800 pixel). 

Dengan RAM yang hanya 512MB dan ROM 4GB memang terasa terasa sempit. Akan tetapi, untuk pemula ini sudah lebih dari cukup. Beberapa teman yang berpindah dari feature phone selalu saya sarankan untuk terlebih dahulu mencoba smartphone entry level seperti Andromax C3s dan C3si ini. Kesan mereka cukup baik dan mudah digunakan. Mereka lebih sering menggunakan fitur media sosial dan chatting seperti WhatsApp atau BBM hal ini dapat dipenuhi dengan baik oleh C3s dan C3si.

Dalam pengujian saya, saya membuka email, maps, media sosial dan membaca berbagai berita teknologi. Semuanya bisa berjalan dengan baik. Saya rasa meskipun berharga di bawah satu juta rupiah, untuk fungsi utama smartphone C3s dan C3si ini sudah mencukupi.

Untuk ketahanan baterai, baik C3s maupun C3si memiliki kinerja yang identik meskipun C3si memiliki baterai 1500 mAh lebih tinggi dibandingkan C3s yang 1400 mAh. Jika pengguna masif, baterai dapat bertahan 4 jam, sedangkan jika kurang sekitar 6 sampai 7 jam. Dalam pengujian saya menggunakan kedua smartphone ini untuk bermain game, mengambil foto, mengecek emal, membaca berita dan bersosial media. 

Kamera

Foto seperti apa yang bisa diperoleh dengan kamera beresolusi 5 megapiksel? Foto yang dihasilkan kamera C3s dan C3si ini sudah sangat baik. Objek terlihat dengan jelas dan bisa dengan mudah dibagi ke media sosial. Tentu saja terdapat jeda setelah sebuah foto diambil. Lag seperti ini sering saya temukan di smartphone di bawh satu juta atau entry level. 

Untuk entry level, Andromax C3s dan C3si ini bisa memberikan hasil foto yang lumayan bagus. Dengan fitur Auto, objek yang ditangkap terlihat jelas dan hal itu sudah sangat mencukupi. Contoh foto dari Andromax C3s dan C3si:


Andromax C3s, luar ruang
Andromax C3si, luar ruang
Androma C3si, Luar Ruang

Androma C3si, luar ruang
Androma C3si, dalam ruang
Kesimpulan dari hasil foto dari kamera Andromax C3s dan C3si ini adalah cukup bagus untuk smartphone entry level. Objek terlihat jelas itu sudah lebih dari cukup.

Kesimpulan

Seperti telah dijelaskan di atas, secara spesifikasi Andromax C3s dan C3si ini bisa dikatakan identik dengan perbedaan minor di beberapa segi. Saya berkesimpulan Andromax C3s dan C3si ini dapat anda jadikan pilihan selain smartphone berbasi GSM karena harga murah. Jika di wilayah Anda tersedia jaringan Smartfren, saya sarankan untuk memiliki salah satu dari Andromax C3s atau C3si ini. Untuk fungsi media sosial, email dan game ringan kedua smartphone ini bisa bekerja dengan baik. Selain itu, kualitas fotonya tidak mengecewakan.

Pertanyaannya, pilih  Andromax C3s atau Andromax C3si. Saya menguji tangkapan sinyal kedua smartphone ini di tempat yang sama. Untuk kekuatan sinyal, saya menemukan C3s lebih baik dibandingkan C3si karena di tempat yang sama di mana C3s bisa penuh indikator sinyalnya, sementara C3si hanya tiga perempat dari indikator sinyal. Saya juga merasakan bahwa C3s lebih lancar ketika berinternet, sedangkan dengan C3si agak tersendat. Namun demikian, saya melihat foto hasil bidikan C3si sepertinya sedikit di atas C3s. Sisi desain juga C3si terlihat lebih enak dilihat. Untuk kualitas audio bisa dikatakan sama. Mendengarkan lagu terasa enak di C3s dan C3si ini berkat teknologi audio di kedua smartphone ini.

Update: Dua hari yang lalu Smartfren memberikan update Software untuk C3si. Update ini menghasilkan tangkapan sinyal makin baik sehingga tidak ada lagi perbedaan kekuatan sinyal antara C3s dan C3si. Jadi, baik itu C3s maupun C3si sama baiknya dalam hal kekuatan sinyal. Keputusan mana yang ingin dibeli mungkin hanya ditentukan desain C3si yang sedikit lebih enak dilihat.

Tuesday, May 12, 2015

Manusia Kekinian Dibodohi Algoritma

..... news-filtering algorithms narrow what we know, surrounding us in information that tends to support what we already believe (Eli Pariser)
Manusia di zaman mesin dipengaruhi oleh seberapa baik algoritma mesin bekerja. Judul artikel ini mungkin keterlaluan dan hanya akan membelalakkan mata sekejap untuk kembali ke kondisi semula, yaitu tidak peduli. Namun kenyataannya, kita hidup di zaman algoritma bekerja, entah itu Google, Twitter, Facebook, Apple, entah apalagi, sebut saja.

Sebagian besar pengalaman internet kita dirangkai dengan sangat baik oleh algoritma yang dibuat oleh berbagai layanan yang kita pakai. Jikalah Anda pengguna setia Google seperti saya, pengalaman internet saya sebagian besar rely on Google. Apa yang saya baca, apa yang disarankan oleh Google untuk saya baca, tempat yang saya kunjungi dan jadwal-jadwal meeting (sesekali saya lakukan) diingatkan sangat baik oleh Google.

Contohlah salah satu layanan Google yang hampir setiap saat saya gunakan, yaitu Google Plus. Google dengan sangat baik merekomendasikan teman mana yang sesuai dengan minat saya. Bacaan tentang smartphone mana yang bagus untuk saya baca. Tentu saja, saya punya kekuasaan untuk mendiamkan apa yang disarankan Google meskipun saya sebenarnya menyukainya dan berminat untuk membacanya. Tidak jarang juga apa yang disarankan Google tersebut sedemikian tepaynya sehingga saya pun mengoleksinya. 

Lama-kelamaan algoritma itu membentuk sebuah perilaku yang sadar atau tidak memberikan suatu ketetapan tentang apa yang Anda percayai. Saya cenderung percaya bahwa Google memiliki bisnis yang lebih baik dibandingkan Facebook. Saya percaya bahwa Android adalah sistem operasi smartphone yang bagus. Saya percaya ini dan itu berdasarkan pengalaman apa yang saya alami dan teman-teman di jalur pertemanan yang saya bentuk di internet.

Demikian juga Anda. Apa yang Anda alami di internet, iklan apa yang anda lihat hari ini telah disesuaikan dengan apa yang Anda sukai, meskipun hal tersebut bukanlah ukuran untuk melakukan pembelian saat itu juga.

Di Facebook misalnya, algoritma Facebook telah merancang dan menghadirkan apa yang Anda sukai, apa yang disukai teman Anda dan segala macamnya. Bila Anda berteman dengan sebagian besar orang sealiran, maka berita yang mampir ke wall Anda tidak pernah lepas dari aliran Anda tersebut. Algoritma Facebook membuat Anda percaya bahwa yang Anda percayai benar karena memang hanya itu yang Anda lihat. Ketika bertemu dengan orang yang berbeda aliran jelas terjadi sengketa karena:

algorithms narrow what we know, surrounding us in information that tends to support what we already believe.

Fenomena selanjutnya yang muncul adalah fenomena banyaknya katak di bawah tempurung yang merasa tempurung di atas kepalanya merupakan satu-satunya langit di dunia. Dan oleh karena langit dari tempurung tersebut sekian waktu, sekian tahun ia pelototi, ia percaya bahwa warna langit adalah hitam dan tidak ada langit lagi setelah itu. Namun ketika ada orang iseng menendang tempurung tersebut, ia tahu sudah bahwa langit (mungkin) terkadang berwarna biru. Namun ia tidak siap menerima kenyataan tersebut dan berusaha selalu menyangkal dan membenarkan pendapat apa yang selama ini algoritma telah berikan kepadanya.

Mungkin itu semacam pembodohan yang korbannya secara sadar mau dibodohi. Padahal manusia zaman kekinian sangat merdeka dan memiliki beragam pilihan untuk menjauh dari algoritma berbagai layanan yang ada.

Ini artinya meskipun mesin bisa bekerja untuk Anda, Google bisa menghadirkan pengetahuan apa pun yang Anda minati hanya dengan mengetikkannya di search bar, kekuasaan tetap ada di tangan pengguna. Meskipun Facebook bisa memperkuat aliran politik yang Anda yakini dengan segala macam berita, namun Anda tetap bisa belajar kepada orang lain dan menengok-nengok tetangga untuk belajar. Sayangnya manusia memang cenderung lebih suka kemudahan daripada kesulitan. Belajar adalah hal yang sulit, sementara masa bodoh adalah yang biasa.

Manusia kekinian sangat bergantung kepada mesin yang di dalamnya algoritma bekerja. Kita sebenarnya, manusia kekinian ini harus mengakui bahwa separuh dari diri kita ini sudah menjadi robot. Kita bisa sangat otomatis mengerjakan sesuatu, meskipun kita punya rasa lelah yang tidak dimiliki oleh robot.

Algortima telah membentuk diri kita, mempertegas apa yang kita percayai benar dan cenderung membuat kita merasa yang paling benar. Lingkungan perkawanan di internet telah dieksploitasi oleh algoritma untuk membuat kita menari-nari hanya di sekitar lingkungan perkawanan tersebut. Kita cenderung menyukai apa yang disukai teman dan sering sangat cepat berpendapat sesuatu jelek hanya karena teman jalur pertemanan kita mengatakan hal tersebut jelek.

Dan ini mungkin baru setengah jalan. Di masa depan, seluruh kehidupan manusia mungkin akan dimasuki oleh algoritma. Pemerintah akan mengatur masyarakat dengan komputer. Apa yang baik dan tidak baik tergantung keputusan algoritma. Hidup akan bubar, manusia hanyalah robot bernyawa.

Bacaan Rujukan: Eli Pariser

Friday, May 8, 2015

Hands On ZTE Blade S6 dari ZTE Indonesia


ZTE Blade S6
Persaingan di pasar smartphone kini semakin sengit dan menuntut vendor untuk terus-menerus berinovasi dan menghasilkan smartphone yang tidak hanya bagus dari sisi desain, tetapi juga dari sisi kinerja dan harga yang bersahabat. Sebagai sebuah vendor yang sudah lama berada di pasar, jelas ZTE tidak mau ketinggalan dan berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik bagi pengguna. Salah satunya dengan merilis seri Blade terbaru mereka, yaitu ZTE Blade S6.

Bertempat di Penang Bistro, Kebon Sirih dua hari yang lalu (Rabu, 6/5-2015), ZTE Indonesia mengundang para blogger untuk merasakan kecanggihan ZTE Blade S6 ini dalam sebuah acara yang bertajuk Bincang Sore. Di acara ini blogger diberikan pengetahuan tentang fitur-fitur penting yang ditawarkan ZTE di Blade S6. Selain itu, tentu saja para blogger bisa langsung hands on ZTE Blade S6 tersebut.

Secara spesifikasi saya melihat bahwa ZTE Blade S6 ini memberikan spek kelas menengah premium. Secara lengkap spesifikasinya adalah sebagai berikut: 

Jaringan:  LTE:  B3/B5/B8, UMTS: 900/2100 MHz, GSM: 850/900/1800/1900
Platform:  Qualcomm Snapdragon™ 615 octa-core chipset (MSM8939)
Sistem Operasi:   Android Lollipop
Ukuran:  144 x 70.7 x 7.7mm
Layar: HD berukuran 5.0 inci dengan In-Cell Technology
Kamera: Sony IMX214 13M AF + 5M wide-angle FF
Baterai  2400mAh
Port: 3.5mm Earphone Port, Dual Nano SIM, 5 pin Micro USB, Micro SD 
Memori: 16GB eMMC + 2GB RAM DDR3
Fitur: HI-FI,Proximity, Ambient Light, Accelerometer, Compass, Gyro, A-GPS/GPS/FM/BT 4.0/Wifi, Wifi: 802.11a/b/g/n/ac, Smart Sense, Aliveshare, MiFavor 3.0 UI

Hands On

1. Hardware
Seri Blade dari ZTE sebelumnya diakui oleh banyak pengguna sebagai smartphone yang bandel dan bagus dari sisi hardware. ZTE Blade S6 tetap melanjutkan tradisi ini. Hal ini terlihat pada modul kamera yang menggunakan Sony IMX 214. Selain itu pemilihan chipset terbaru,  Qualcomm Snapdragon™  615, chipset  octacore  pertama  dari  Qualcomm  yang memiliki  solusi  system on chip dan  image  processor Adreno  405  yang  mampu  untuk men-decode  format  Full-HD  H.265 adalah tanda bahwa secara hardware Blade S6 ini memberikan yang terbaik di kelasnya. Dengan hardware bagus ini tentu saja kinerja yang dijanjikan ZTE Blade S6 rata-rata lebih baik dibandingkan dengan smartphone di kelasnya.

2. Desain
Bila kita lihat sejenak, secara desain ZTE Blade S6 ini mungkin mengingatkan kita kepada desain iPhone 6. Desainnya tipis layaknya iPhone 6. Namun soal desain bukan sesuatu yang patut dipertentangkan karena hal ini sangat mudah ditiru sehingga kinerja perangkat adalah yang lebih dikedepankan. 

Desain tipis ini tidak membuat ZTE menghilangkan salah satu fitur penting di Android, yaitu tambahan slot micro SD Card. Hal ini suatu yang patut dipuji karena kebanyakan vendor memilih memperbesar ROM dan menghilangkan slot micro SD card karena alasan desain yang super tipis. Percaya atau tidak slot micro SD card merupakan salah satu primadona kebanyakan pengguna Android sehingga dengan tetap menyediakannya di Blade S6, ZTE mengerti terhadap keinginan pengguna. Perlu juga diketahui bahwa desain unibody di Blade S6 ini membuat baterainya tidak bisa dibongkar pasang dengan mudah.  

Secara desain ZTE Blade S6 ini adalah smartphone yang enak dipandang. Mungkin agak sulit bagi pengguna untuk membedakannya dengan iPhone 6 jika disandingkan side by side. Namun demikian it is ok. Setiap vendor punya alasan tersendiri, terlebih desain smartphone adalah sesuatu yang terus-menerus berubah.

3. Layar
Saya selalu lebih memilih smartphone Android dengan layar 5 inchi. Saya berpendapat bahwa layar seluas 5 inchi ini adalah layar paling tepat untuk sebuah smartphone. Tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil dan ini dipenuhi dengan baik oleh Blade S6. ZTE Blade S6 menggunakan layar HD 720 x 1280 dengan kerapatan piksel 294 ppi dan 67,7% screen to body ratio

Hal ini menjadikan layar Blade S6 cerah dan enak dipandang. Dengan In Cell Technology, layar Blade S6 ini mampu menghadirkan smartphone yang lebih tipis, screen imaging yang lebih baik, mengurangi berat smartphone, dan bisa memperbesar baterai. Ketika saya pegang ZTE Blade S6 ini memang terasa sangat ringan, sekitar 134 gram saja.   

4. Kamera
Dengan mengandalkan modul kamera IMX214 berkekuatan 13 megapiksel dari Sony, hasil foto yang diberikan oleh Blade S6 ini dijamin sangat baik. Saya mencoba mengambil beberapa foto dengan Blades S6 ini dan secara kualitas menurut saya sangat baik. Selain itu kamera depannya yang berkekuatan 5 megapiksel dan bisa mengambil banyak objek sekaligus sehingga memungkinkan untuk selfie beramai-ramai atau wefie.

Tentu saja dengan waktu yang singkat belum semua fitur di kamera ini dapat dieksplorasi. Namun dari paparan ZTE, ZTE menyediakan opsi Simple dan Pro di kamera Blade S6 ini. Saya biasanya cenderung hanya menggunakan opsi Simple (terdapat opsi Auto, HDR) karena memang bukan photography minded dan sudah cukup senang dengan apa yang dihasilkan oleh Blade S6 ini.

5. UI MiFavor 3.0
Setiap vendor Android memiliki UI tersendiri yang membedakannya dengan vendor lainnya. ZTE menggunakan UI MiFavor yang sudah memasuki generasi ketiga di Blade S6. Untuk memahami dan mengambil keuntungan dan UI ini tentu saja perlu eksplorasi yang mendalam. Menurut ZTE sendiri MiFavor 3.0 ini sudah disesuaikan dengan guidance material design dari Google. Melalui MiFavor 3.0 pengguna bisa melakukan pengaturan MiColor, menu, wallpaper dan efek transisi layar. 

Harus diakui bahwa saya tidak sempat mengekplorasi MiFavor 3.0 ini lebih dalam. Namun sekilas seperti pada seri Nubia, semua aplikasi ada layar depan dan dapat bernavigasi dengan mudah.

6. Fitur Tambahan
Jika Anda pernah menggunakan seri Nubia Z5S Mini, tentu tidak akan kaget dengan fitur Smart Sense yang ada di Blade S6 ini. Fitur Smart Sense sepertinya dipinjam Blade S6 dari seri flagship Nubia. Fitur ini merupakan jalan pintas yang bisa digunakan pengguna untuk melakukan sesuatu secara cepat, misalnya menyalakan musik, senter, mematikan nada dering, dan banyak lainnya. Tahun lalu ketika menggunakan Nubia Z5S Mini fitur ini sudah saya coba dan dapat bekerja dengan baik. 


Menggogayang smartphone untuk menyalakan senter

Menyalakan musik dengan smart sense

Kini fitur ini disematkan ke Blade S6 dan merupakan tambahan yang cukup bagus. Misalnya dengan menggoyangkan smartphone sebanyak dua kali, senter bisa menyala, mengangkat smartphone secara horizontal maka kamera akan terbuka, letakkan tangan di layar untuk mematikan nada dering, dan banyak lainnya. 

Namun demikian untuk bisa memanfaatkan fitur ini, tentu pengguna perlu berlatih dan bereksplorasi dan ini membutuhkan waktu. Namun sekali bisa dilakukan, biasanya akan lebih mudah untuk berikutnya. 

Di hands on, saya dan teman-teman mencoba untuk menyalakan musik melalui gerakan membuat huruf V dan menyalakan senter dengan menggoyangkan smartphone sebanyak dua kali. Harus diakui pada awalnya cukup sulit karena memang belum paham caranya. Namun setelah dicontohkan, hal ini dapat dilakukan dengan baik.

Tambahan fitur lain yang juga menarik adalah AliveShare. Dengan fitur ini dimungkinkan perpindahan data 40 kali lebih cepat dibandingkan dengan Bluetooth. Sharing data tidak lagi menggunakan jaringan internet atau data seluler, tetapi menggunakan AliveShare yang dikembangkan ZTE dari fitur WiFi Direct. Tentunya fitur ini juga sangat menarik untuk didalami lebih jauh.

Kecuali itu patut juga dilihat pilihan ZTE menghadirkan Blade S6 dengan dual Nano SIM, yaitu LTE dan 3G dual active. Kita mengetahui bahwa penetrasi 4G LTE di Indonesia masihlah sangat minim karena memang baru dirilis oleh beberapa operator. Oleh karena itu, sambungan data 4G LTE pasti tidak semua orang bisa menikmatinya. Blade S6 menyediakan koneksi 3G HSDPA yang bisa dikatakan lebih merata di wilayah Indonesia. Jadi seandainya tidak ada koneksi LTE, koneksi 3G HSDPA di Blade S6 bisa dipakai. Ini artinya meskipun LTE Ready, Blade S6 memberikan keleluasaan kepada pengguna dengan tetap menyediakan koneksi data 3G yang ketersebarannya jauh lebih tinggi dibandingkan 4G LTE.

Kesimpulan
Terakhir kali saya menggunakan seri Blade dari ZTE adalah ketika hands on Blade Vec Pro. Saya rasa Blade S6 ini peningkatan yang cukup signifikan dari seri Blade Vec Pro, baik dari sisi desain maupun hardware yang digunakan. Sepertinya ZTE menyasar pengguna yang agak sensitif harga, tetapi menginginkan sebuah smartphone yang premium. 

Dari hands on yang saya lakukan, harga Rp2.999.000 yang diberikan ZTE untuk Blade S6 bisa dikatakan sangat sepadan dan mungkin lebih murah dibandingkan vendor lain di kelasnya jika diperbandingkan head to head secara spesifikasi. Dengan spesifikasi yang lebih baik ZTE berani memberikan harga di bawah Rp3.000.000 untuk Blade S6. Pengguna rasanya layak untuk menjadikan Blade S6 dari ZTE ini sebagai pilihan smartphone yang hendak dibeli.


ASUS Rilis ASUS ROG GX800, Notebook Gaming Seharga Mobil

ASUS ROG GX800 Seberapa mahal sebuah notebook yang pernah Anda beli? Rp25 juta? atau Rp50 juta? Pernah dengar sebelumnya sebuah noteboo...