Saturday, November 28, 2015

Ketika Start Up Membakar Uang Kas Investor

Tidak diragukan lagi, dunia start up tengah populer di Indonesia, terutama yang terkait dengan pemanfaatan teknologi mobile internet. Banyak sekali start up yang tumbuh, layaknya cendawan di musim penghujan, padahal 8 bulan terakhir Indonesia mengalami musim kemarau yang panjang.

Demam start up, tentu saja mengikuti arus yang sama yang sebenarnya sudah cukup lama terjadi di Silicon Valley, AS. Google misalnya merupakan sebuah start up di kala memasuki bisnis mesin pencari di tahun 1998. Demikian juga ikon internet terdahulu, Yahoo yang kini tengah dilanda kesulitan. Di sekitar tahun sebelum muncul Facebook, ada Friendster, MySpace dan kemudian Facebook, Twitter, dan masih banyak lainnya. 

Di Indonesia ada sebuah start up fenomenal, yaitu GoJek yang sudah merambah ke berbagai sektor bisnis dengan andalah di sektor ojek online. Memanfaatkan kondisi kota Jakarta yang macet, pendirinya mendirikan sebuah perusahaan ojek online yang berbasis teknologi internet/smartphone. Pengguna tinggal menggunakan aplikasi untuk melakukan permintaan jasa ojek. Suka atau tak suka, start up ini sudah sedemikian berkembang saat ini, terutama jika dilihat bisnis yang mereka lakukan dan driver yang terus bertambah.

Start up Gojek juga mendisrupsi pasar ojek yang selama ini dikuasai oleh ojek pangkalan dengan tarif tidak bersahabat. Dengan GoJek, bukan hanya penumpang yang untung, tetapi juga driver yang bisa memiliki penghasilan yang sangat banyak berkat kebijakan yang menguntungkan.

GoJek beroperasi atas dasar ekonomi subsidi. Logikanya seperti ini. Untuk bisa memperoleh banyak penumpang, GoJek akan melakukan perang tarif. Perang tarif merupakan cara efektik untuk menyingkirkan ojek pangkalan sehingga penumpang akan beralih ke GoJek. Driver akan tetap dapat penghasilan yang sama dan mungkin lebih besar daripada ojek pangkalan, tetapi penumpang membayar dengan harga promosi yang sangat panjang. Harganya memang tidak masuk di akal, misalnya cuma 10.000 ke semua tujuan kurang dari 25 km. 

Rp10.000 tentu saja tidak cukup untuk membayar driver plus pendapatan untuk GoJek. GoJek menyiasatinya dengan membakar kas yang berasal dari investor yang tertarik dengan hype publik terhadap GoJek. Istilahnya, GoJek menjual prospek mereka ke investor dengan berbagai logika dan kemajuan yang telah mereka peroleh. Investor tertarik untuk beli saham GoJek, uang mengalir dari investor, GoJek beroperasi, driver dapat penghasilan dan seterusnya.

Perlu juga diketahui, pada awalnya, demi mencari driver yang banyak, GoJek akan memberikan penawaran yang sangat menarik bagi calon driver, misalnya pembagian pendapatan per tujuan. Contohlah, dari Hotel Indonesia ke UKI Cawang, tarif normal mungkin sekitar Rp25.000,00. Saya menebak, awalnya sekitar 60% dari tarif normal tersebut akan diperoleh oleh driver dan sisanya untuk GoJek. Namun seiring majunya GoJek dan makin banyaknya calon driver, GoJek akan merevisi ketetapan tersebut dengan membaliknya menjadi 60% untuk GoJek (dengan alasan merugi) dan selebihnya untuk driver.

Hal ini tentu nantinya akan menimbulkan gejolak di kalangan driver. Namun, pada dasarnya driver tidak bisa melakukan apapun, selain menerima ketetapan tersebut sebab prospek dan hype GoJek lebih tinggi dari harapan mereka akan persentase pembagian pendapatan.

Seiring waktu, layanan GoJek ini akan semakin diminati masyarakat karena lebih murah secara tarif karena terus-menerus disubsidi. Namun pertanyaannya, sampai kapan terus disubsidi?

Pertanyaan yang sulit untuk dijawab karena ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama adalah konsumen sudah terbiasa dengan tarif subsidi. Jika mereka harus bayar dengan harga yang sama dengan ojek pangkalan, GoJek tidak lagi menarik. Kedua, GoJek bukan satu-satunya pemain ojek online. Jika tarif mereka naik, bandul akan bergeser ke pemain lain yang lebih kuat permodalannya atau disokong modal yang lebih baik dan terus-menerus memberikan subsidi. Ketiga, GoJek jika harus menaikkan tarif, nilai disruptifnya akan jauh berkurang sehingga hype-nya akan turun sehingga di mata publik tidak lagi menarik dan ujungnya investor akan tidak mau lagi menyediakan uang untuk dibakar.

GoJek tentu bukan tidak berusaha menyiasati tarif ini. Salah satu cara mencari peruntungan di bisnis lain sehingga hype terhadap GoJek tetap tinggi. Misalnya jasa pengantaran makanan atau GoFood. Penganekaragaman bisnis ini adalah salah satu cara untuk tetap bisa memberikan tarif subsidi sampai pada suatu batas di mana GoJek bisa percaya diri untuk memberlakukan tarif yang sesuai pasar yang entah kapan itu terjadi.

Sementara di sisi lain, GoJek dipandang sebagai lawan ojek pangkalan yang selama ini menikmati rente ekonomi yang tidak bisa diatur pemerintah secara jelas. Ini membuat posisi mereka di mata pembuat aturan tidak begitu bagus, meskipun ojek pangkalan juga sama tidak jelas aturannya. Hal ini tentu sebuah posisi yang sulit sehingga GoJek harus bisa melakukan tarik ulur dan mendekati penguasa dengan people power yang selama ini merasakan manfaat GoJek.

Hal yang dialami GoJek adalah jamak dialami oleh start up pada umumnya. The Economist pernah mengkritik cara-cara start up ini di sebuah artikel terkait dengan sebuah start up yang didirikan oleh Elizabeth Holmes, yaitu Theranos.

Theranos sudah termasuk ke dalam Unicorn karena sudah dinilai lebih dari 1 miliar dollar AS. Theranos adalah start up yang mencoba mendisrup pasar blood test di Amerika Serikat yang nilai pasarnya sekitar 75 miliar dollar setahun. Theranos menjajikan teknologi yang memungkinkan konsumen membayar lebih murah dibandingkan dengan harga yang ada sekarang. Namun, demikian pasar kesehatan adalah pasar yang sangat ketat aturannya di AS sehingga Theranos tidak bisa leluasa dan fisibilitas teknologi mereka diragukan.

Hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi Theranos untuk populer. Bahkan pendirinya, self entrepreneur, Elizabeth Holmes digelari The Next Steve Jobs berkat teknologi yang ia janjikan. 

The Economist menulis:
Today there are 142 unicorns, more than three times as many as in 2013. Many of them are growing quickly. But in terms of reaching profitability, they are often far behind the stock market-listed competitors they are seeking to displace, and thus are burning through cash. Theranos, for example, is not believed to have any significant revenues or profits, yet it is valued about as highly as Quest Diagnostics, a listed laboratory company, which last year achieved $7.4 billion in revenues and nearly $600m in net profits.
Kata kunci yang bisa kita ambil adalah Burning through Cash alias membakar uang yang berasal dari para investor yang tertarik dengan hype publik terhadap start up. Kini, daripada sulit mencari pendapatan langsung, start up lebih condong memasarkan diri mereka ke investor yang tertarik dengan hype publik terhadap mereka. Hype start up terus-menerus diperbesar, teknologi mereka digembar-gemborkan, publik diminta untuk membela mereka untuk memperlihatkan ke investor start up memiliki prospek yang sangat cerah. Start up akahirnya terjebak menjual hype daripada layanan. Istilahnya mana tahu ada perusahan yang established mau membeli teknologi yang mereka tawarkan dan sesungguhnyalah hal ini menjadi tujuan utama start up saat ini.

Ini sepertinya tidak akan kita temukan beberapa tahun yang lalu, terutama ketika mendirikan perusahaan bukanlah ditujukan untuk dijual melainkan untuk dikelola dengan baik. 

Hal yang sama bisa kita lihat pada Uber, taksi swasta yang berusaha mendisrup pasar "taksi" yang sudah sekian lama dikuasai oleh pemain lama. Uber hadir menawarkan mobil pribadi yang dirawat dengan baik oleh pemilik sekaligus sopirnya. Sampai sekarangpun, setelah beroperasi sekian lama, Uber tetap tak pernah bisa untung dan terus membakar uang dari investor meskipun dinilai memiliki nilai pasar 51 miliar dollar pada Agustus yang lalu. Berbagai kendala hukum setempat memaksa Uber untuk keluar (misalnya di Jerman) dan aturan plat kuning memaksa Uber harus kucing-kucingan dengan polisi di Jakarta. 

Selalu dari sisi pengguna (dan mungkin driver) start up seperti GoJek atau Uber sangat menguntungkan. Baik itu Uber atau GoJek, start up memberikan alternatif angkutan yang murah dan nyaman seperti yang banyak dicitakan pengguna selama ini sehingga hype publik terhadap mereka sangat tinggi. Sayangnya, publik tak mau membayar mahal atau terbiasa diberikan tarif murah sehingga meskipun tertolong, mereka tetap tak mau membayar lebih banyak demi kenyamanan yang lebih baik.

Ini akan memaksa start up untuk terus membakar uang kas mereka sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan. Mereka akan terus-menerus diinjeksi oleh investor, sampai suatu waktu investor lelah karena tidak lagi bisa melihat prospek yang bagus dari start up tersebut yang akan berakibat gagalnya start up.

Penjualan Perdana Galaxy Note8 Tandai Peresmian Galaxy International Experience Store Terbesar se-Asia Tenggara

Pengguntingan pita tanda dibukanya Galaxy International Experience Store Pada tanggal 29 September yang lalu, Samsung Electronics Ind...