Monday, July 13, 2015

Apakah Iklan Google Melakukan Diskriminasi terhadap Perempuan

Kehidupan online kita adalah representasi kehidupan offline. Bila Anda tidak percaya, sesekali ikutilah sebuah forum di mana kegiatan caci-maki sudah menjadi hal yang biasa. Bisa diperkirakan mereka yang suka memaki di online, di offline cenderung lebih mudah memaki. Namun tentu saja ini masih dalam perdebatan dan keakuratan hipotesis ini masih perlu diulik agar tidak terkesan menggeneralisasi. Akan tetapi sesuatu yang pasti adalah, pengguna internet cenderung akan selalu membawa apa yang mereka lakukan di offline ke online.

Demikianlah. Pada dasarnya kita memiliki anggapan-anggapan tertentu tentang bagaimana dunia ini berlaku. Kebanyakan dari kita masihlah mengiyakan adanya supremasi atas perempuan oleh laki-laki, sengaja atau tidak. Jika Anda tidak percaya, silahkan lihat seberapa banyak hadiah yang diperoleh oleh pemenang perempuan di kejuaraan Tennis yang berpredikat Grand Slam. Umum diketahui bahwa hadiah untuk laki-laki lebih besar dari perempuan pada kategori yang sama. Ini tentu bukan sesuatu yang ideal. Ini tidak setara. Kondisi seperti ini juga akan muncul di online karena semua orang membawa yang mereka pahami dan yakini ke internet.

Internet juga tidak terlepas dari kondisi tidak setara tersebut. Baru-baru ini sebuah penelitian dari peneliti di Carnegie Mellon University yang berjudul Automated Experiments on Ad Privacy Settings : A Tale of Opacity, Choice, and Discrimination memberikan bukti bahwa :
Google’s online advertising system, for instance, showed an ad for high-income jobs to men much more often than it showed the ad to women.
We also found that setting the gender to female resulted in getting fewer instances of an ad related to high paying jobs than setting it to male. 
Ini berarti, iklan Google terutama iklan pekerjaan dengan kualifikasi high paying jobs lebih banyak muncul kepada laki-laki dibandingkan kepada perempuan. Hal ini tentu akan mempersempit kesempatan kaum perempuan untuk memperoleh pekerjaan dengan bayaran tinggi sehingga jelas terjadi diskriminasi. 

Sampai di sana saya kira pertanyaannya adalah apakah iklan Google melakukan diskriminasi gender dengan lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan untuk pekerjaan dengan bayaran tinggi? Apakah algoritma Google memang dirancang seperti itu sehingga bisa mempersempit kesempatan perempuan memperoleh pekerjaan dengan bayaran tinggi?

Sebentar kita kembali ke belakang untuk memahami algoritma. 
Algorithms, which are a series of instructions written by programmers, are often described as a black box. Often, algorithms and online results simply reflect people’s attitudes and behavior. Machine learning algorithms learn and evolve based on what people do online.
Saya memahami algoritma pencarian Google seperti yang dikemukakan di atas. Algoritma belajar dari apa yang dilakukan manusia di internet. Semakin banyak yang dilakukan pengguna tentang suatu topik tertentu, akan lebih mudah bagi algoritma untuk menentukan hal-hal selanjutnya. 

Oleh karena pengguna online membawa sekian banyak anggapan-anggapan offline yang mereka pahami, tentu saja hasilnya tidak akan jauh berbeda dengan anggapan yang mereka pahami tersebut. Mereka yang cenderung partisan akan mudah bertemu dengan yang partisan lainnya. Mereka yang suka memaki akan berkelompok dengan tukang maki lainnya. Demikian juga dengan kasus pekerjaan dengan bayaran tertinggi tersebut.

Tentu hal ini tidak menafikan peran manusia. Meskipun sedemikian pintarnya algoritma, namun peran manusia dibaliknya tentu perlu ditelisik. Apakah manusia turut campur dalam menentukan algoritma Google tersebut dan cenderung dikendalikan untuk menampilkan hasil pekerjaan tinggi kepada laki-laki daripada perempuan. Namun bila itu terlepas sama sekali dari campur tangan manusia, hal ini menggambarkan dunia nyata yang kita hadapi.

Kita harus mengakui masih banyak orang, tidak hanya di Indonesia di mana budaya patriaki begitu kentara, namun juga negara maju yang beranggapan bahwa pekerjaan bagus dengan upah tinggi lebih cocok untuk laki-laki dibandingkan perempuan. Perempuan masih dipandang sebagai kaum kelas dua sehingga isu kesetaraan itu sebenarnya memiliki dinding yang lebih tinggi untuk dihancurkan dibandingkan dengan yang diperkirakan sebelumnya.

Dalam kasus iklan yang diskriminatif ini saya berpendapat bahwa isu kesetaraan dalam setiap hal memang belum sepenuhnya tuntas, bahkan di dunia maju yang menganggap perempuan (sebenarnya) sudah setara dengan laki-laki. Majikan yang mampu membayar tinggi untuk posisi tertentu cenderung lebih suka laki-laki dibandingkan perempuan, padahal perempuan punya kemampuan yang tidak kalah bagusnya. Posisi strategis dengan bayaran tinggi lebih sering diiklankan kepada laki-laki karena (kemungkinan) lebih mudah untuk terisi (karena adanya) dominasi laki-laki atasi perempuan yang belum sepenuhnya luruh.

Hal-hal seperti itu, anggapan-anggapan dominasi laki-laki atas perempuan saya kira akan memengaruhi hasil pencarian mesin Google yang memang belajar dari perilaku pengguna. Seperti telah saya tulis sebelumnya bahwa apa yang dihasilkan di dunia internet ini (hampir) tidak akan jauh berbeda dengan dunia offline, meskipun dalam beberapa kasus hal ini sama sekali bertolak belakang.

Saya percaya yang mencari pekerjaan dengan bayaran tertinggi tersebut lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan. Di sisi lain, pemberi kerja juga memiliki persepsi yang serupa, bahwa pekerjaan dengan bayaran tertinggi lebih cocok untuk laki-laki (meskipun harus diakui oleh karena isu gender, perempuan seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk posisi tersebut).

Saya kira butuh penelitian lebih lanjut untuk menentukan sejauh mana sebenarnya real world menampilkan gambaran manusia di internet. Namun setidaknya kita mengetahui bahwa persepsi kita, pengetahuan yang kita miliki, pendapat kita bisa muncul di internet dan membentuk diri kita yang lain yang seharusnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di dunia nyata tersebut. Iklan pekerjaan dengan bayaran tinggi yang lebih sering muncul untuk laki-laki tersebut adalah fakta real world yang harus segera kita perbaiki.

ASUS Rilis ASUS ROG GX800, Notebook Gaming Seharga Mobil

ASUS ROG GX800 Seberapa mahal sebuah notebook yang pernah Anda beli? Rp25 juta? atau Rp50 juta? Pernah dengar sebelumnya sebuah noteboo...