Saturday, June 13, 2015

Apple: Kebohongan Soal Data dan Privasi

Beberapa waktu terakhir CEO Apple sangat sering menyerang perusahaan lain terkait penanganan data dan privasi pengguna. Tidak jelas perusahaan mana yang dituju, namun bisa disimpulkan Google adalah sasaran tembak utama Tim Cook soal data dan privasi pengguna ini. 

Coba saya kutip apa yang dikemukakan oleh Tim Cook tersebut sebagaimana ditulis ulang oleh Thomas Baekdal di Google Plus:
I’m speaking to you from Silicon Valley where some of the most prominent and successful companies have built their businesses by lulling their customers into complacency about their personal information. They’re gobbling up everything they can learn about you and trying to monetize it. We think that’s wrong. And it’s not the kind of company that Apple wants to be. So we don’t want your data. “
“We don’t think they’re worth have your email or your search history or now even your family photos data-mined and sold-off for God-knows-what advertising purpose.”
Beberapa waktu kemudian, di WWDC 2015, Apple merilis aplikasi baru mereka yang disebut News. Ini mungkin semacam Google News atau Flipboard versi Apple. Dan saya rasa Apple mungkin mengambil sebagian ide untuk News dari aplikasi tersebut. 

Di halaman produk News, Apple mengatakan: 
The stories you really care about. The more you read, the more personalized the News app becomes, refining the selection of stories delivered to your screen so they are relevant to you. Easily share articles with others and save them to read offline. News stays on top of the stories you’re interested in. So you can, too.”
Selama saya menggunakan layanan internet, tentu saya mengenal tracking, salah satunya melalui cookie. Cookie akan melakukan tracking halaman apa saja yang dibuka pengguna, kebiasaan browsing pengguna, dan hal-hal lain yang memudahkan pengguna dalam berselancar di internet. Saya kira demikian juga sebagian aplikasi yang kita pakai. Misalnya Flipoard akan melakukan tracking berita yang menjadi minat pengguna, apa saja kesukaannya.

Saya kira hal yang sama dilakukan oleh Google dan juga Apple. Seperti kata Thomas Baekdal dalam postingannya adalah suatu yang sulit untuk menentukan minat pengguna terhadap News dan menghadirkan yang sesuai minat tersebut tanpa melakukan tracking.  Jika dengan demikian hampir tak ada bedanya Apple dan Google, mereka sama semua melakukan tracking pengguna.

Lalu mengapa Apple seolah-olah berlaku sebagai pembela soal data dan privasi pengguna nomor satu di dunia?

Hal ini mengingatkan saya pada mantra Distortion of Fields yang sangat terkenal itu. Apple berusaha berbohong secara halus soal data dan privasi pengguna dan belagak pembela data dan privasi pengguna karena desakan luar yang sulit mereka hindari terutama head to head dengan Google. Mereka ingin mengalihkan perhatian pengguna ke data dan privasi, padahal yang Apple alami saat ini adalah kompetisi yang semakin keras antara Apple dan Google.

Anda dapat membaca secara keseluruhan apa yang dikemukakan oleh Thomas Baekdal dalam postingannya tersebut di Google Plus. Kesimpulannya bagi saya adalah Apple mencoba menarik pengguna menggunakan Apple dengan mengagungkan data dan privasi pengguna karena seolah-olah Google menelantarkan hal ini. Padahal bila kita selami lebih jauh penanganan data pengguna Google selama ini baik-baik saja. Bahkan pengguna dapat memasang adblock secara bebas di Chrome browser untuk menghindari iklan yang ditampilkan oleh Google.

Distortion Fields merupakan senjata yang dipakai oleh Apple yang melenakan sebagian besar penggunanya, meskipun hasil akhirnya akan sama saja. Ini pun kemudian terus dipakai setelah Steve Jobs tak ada lagi yang sayangnya makin dikenali oleh banyak pihak. 

Bagi saya sendiri adalah lucu bila kita selami lebih jauh, ternyata Apple pun melakukan hal yang sama dan memiliki kebijakan data dan privasi yang sama dengan Google lalu seolah-olah berlaku sebagai pembela data dan privasi pengguna. Ini semacam kebohongan yang disengaja.

Tentu saja ada tujuan yang ingin dicapai Apple dari hal tersebut. Salah satunya adalah menjaga harga produk mereka tetap premium sehingga keuntungan tetap tinggi. Pengguna yang merasa data dan privasi mereka akan lebih baik dengan Apple tentu akan lebih memilih produk Apple meskipun harganya jauh lebih mahal. 

Harus diakui bahwa Apple dan Google memiliki basic yang berbeda. Google sebagai internet company sebagian besar pemasukannya dari iklan dengan memanfaatkan data pengguna. Apple tentu saja dari penjualan perangkat. Namun saya tidak percaya Google memberikan data dan privasi saya kepada pihak ketiga dengan cara-cara kotor hanya untuk segelitir uang. Sebagai pengguna layanan Google saya merasa layanan gratis yang mereka bayarkan sepadan. Toh saya masih sangat bisa memilih untuk tidak menampilkan iklan, menghapus cookies, bahkan sama sekali melakukan private browsing. Ini lebih kepada bahwa pengguna memiliki pilihan bukan karena membuat pengguna seolah-olah terlindungi.

Hal yang kita khawatirkan semestinyalah bukan Apple atau Google itu sendiri, tetapi data broker yang tidak jelas TOR-nya. Misalnya bila anda mengunjungi situs tertentu, situs tersebut bekerja sama dengan pihak ketiga mendulang data pengguna dan kemudian memperjualbelikannya. Ini seharusnya menjadi perhatian kita bersama dan mendorong Apple dan Google untuk lebih ketat mengawasi pihak ketiga yang masuk ke dalam ekosistem mereka. Bisa juga aplikasi-aplikasi yang Anda pakai yang begitu dalam meminta data Anda untuk bisa memasang aplikasinya, seharusnya menjadi perhatian karena bukan tidak mungkin aplikasi tersebut hanya payung untuk mendulang data dan privasi pengguna.


ASUS Rilis ASUS ROG GX800, Notebook Gaming Seharga Mobil

ASUS ROG GX800 Seberapa mahal sebuah notebook yang pernah Anda beli? Rp25 juta? atau Rp50 juta? Pernah dengar sebelumnya sebuah noteboo...