Friday, May 15, 2015

The Long Tail dan Film Lawas Kontroversial

Brooke Shields dalam Pretty Baby
Hukum ekonomi mengenal adanya kelangkaan. Jika Anda pernah belajar ilmu ekonomi dasar di sekolah menengah, pasti mengetahui bahwa dengan adanya kelangkaanlah maka sesuatu di dunia ini ada harganya. Akan tetapi, bagaimana jika kelangkaan itu tidak ada, dan barang dan jasa tidak ada harganya?

Dalam beberapa tahun terakhir kita melihat pergeseran yang mungkin tidak kita sadari. Sejak ditemukannya internet, pasar lokal kini hampir-hampir tidak ada artinya. Pasar kini sedemikian luasnya dengan penawaran yang hampir-hampir tanpa batas. Internet adalah daya baru pembuat sedemikian banyak penawaran sekaligus permintaan dan harga keseimbangan.

Saya masih ingat, sekitar tahun 2000 sampai dengan 2006, saya sibuk mencari album-album lawas di berbagai tempat di Bogor, Jakarta dan Bandung. Masalah di ketiga pasar album lagu bekas itu adalah terbatasnya pasokan atau langkanya pasokan. Hal ini berakibat album lawas itu memiliki harga yang bisa dikatakan tidak murah. Para penyuka Led Zeppelin, Guns N Roses, Metallica dan banyak grup lawas lainnya saling berebut memperebutkan pasokan yang sedikit sehingga tentu saja sebagian dari mereka tidak memperoleh apa yang diinginkannya.

Kenyataannya kini Anda tidak perlu lagi mengunjungi pasar album bekas untuk memiliki album yang Anda inginkan. Anda cukup membuka internet, ketikkan kata kunci di search bar Google dan sim sala bim, sangat banyak penawaran yang sebagian besar adalah gratis. Ini adalah dunia baru yang mungkin tak pernah kita impikan di masa lalu. Ini adalah internet yang mengubah kelangkaan dalam ilmu ekonomi menjadi sesuatu yang tiada batas, penawaran tiada batas, menimbulkan permintaan tanpa batas, tanpa batas negara dan ras. Sesuatu yang ajaib.

Demikianlah, sebagaimana telah Anda baca di buku The Long Tail, bahkan mereka yang lahir di tahun 2000-an kini bisa menikmati lagu-lagu The Eagles, Scorpion, bahkan album grup paling lawas sekalipun.

Saya pun menikmati The Long Tail ini dengan mencari-cari film lawas kontroversial. Tentu ada daftarnya di sebuah situs yang saya temukan. Ada film berangka tahun 1972 (itu artinya sebelum saya lahir), tahun 1978, 1980, hingga tahun 2004.

Internet dengan pasar yang tiada batas ini telah membantu saya menemukan Brooke Shields yang baru berusia 12 tahun di Film Pretty Baby yang dituding sebagai membawa-bawa Child Pornograpy. Ada Henry and June di mana Ema Thurman bermain sangat baik dan ada juga Blue Velvet karya David Lynch yang menjadi salah satu dari 100 film terbaik sepanjang masa. 

Pustaka tanpa batas terhadap lagu, acara televisi, film dan sebagainya itu tersimpan rapi di sebuah situs yang disebut BitTorrent. Situs ini adalah situs penolong banyak orang yang ingin menemukan koleksi lampau. Penawarannya sedemikian banyak dan tetap laku dengan harga nol rupiah.

Jika kita kembali ke hukum ekonomi, tentu hal ini mustahil terjadi. Sesuatu pasti ada harganya karena ia langka dan dihasilkan dengan faktor produksi. Namun internet meragukan hal ini dan membalik premis tersebut menjadi segala sesuatu itu tidak ada harganya dan tersedia tanpa batas alias tidak langka.

Mengapa hal tersebut terjadi?

Jawabannya karena internet. Internet adalah daya pencipta penawaran baru tanpa batas. Banyak orang dengan sukarela menawarkan apa saja di internet dengan harga nol rupiah. Batasan negara, hukum, ras dan lainnya yang telah diterabas oleh internet memungkinkan orang dari sudut kota di Kairo atau Moskow menawarkan apa yang bisa ia tawarkan dengan harga nol rupiah untuk dibeli oleh orang Indonesia. 

Oleh karena pasar yang sedemikian luas, selera konsumen pun sedemikian berwarna. Ada yang ingin mengenang masa lalu orang tuanya di tahun 70-an. Ada yang meskipun lahir di tahun 2000-an memiliki selera klasik terhadap musik dan film. 

Hal ini membuat pencarian konten sedemikian menjadi penting. Untuk menemukan konten yang ada di sepanjang tail yang panjang itu butuh alat pengulik yang cerdas dan hal itu dilayani dengan baik oleh mesin pencari seperti Google.

Sebagaimana pernah saya tuliskan sebelumnya, konten yang ada di sisi kiri atas dari kurva Long Tail ini adalah konten populer. Bila kita andaikan itu kurva film, maka yang ada di kiri atas adalah film-film terkenal yang masuk kategori box office. Sayangnya tak semua film yang masuk box office bahkan hanya sebagian kecil saja dari jumlah film yang diproduksi. 

Film-film yang tidak masuk box office itu berebut di sepanjang ekor kurva yang panjang. Jika Anda ingin memiliki film Jepang tertentu, Anda tak akan menemukan film itu di kategori box office, tetapi mungkin di ujung kurva. Film Jepang tersebut sepertinya tidak laku, tapi percayalah semua yang ada di internet laku, meskipun yang membeli/mendownload hanya satu dua orang.

Internet telah membuat pasar yang sangat besar tanpa batas. Ia memberikan kesempatan kepada sangat banyak orang untuk menyediakan sesuatu tanpa batas. Internet juga menimbulkan permintaan tanpa batas. Selera kini menjadi bagian yang sangat penting bagi seseorang untuk memperoleh konten yang diinginkan.  

Internet membuat penawaran barang tanpa batas hingga meninmbulkan permintaan yang juga tanpa batas. Berbagai situs legal dan ilegal menyediakan sedemikian banyak barang yang siap diunduh. Konsumen dengan berbagai selera datang dan memperoleh apa yang mereka sukai, sering tanpa harus membayar (dalam arti sebenarnya). 

Inilah internet, dunia tanpa batas. Anda bisa menikmatinya kapanpun dan di mana saja dan darinya Anda menemukan apa saja dari masa silam.


ASUS Rilis ASUS ROG GX800, Notebook Gaming Seharga Mobil

ASUS ROG GX800 Seberapa mahal sebuah notebook yang pernah Anda beli? Rp25 juta? atau Rp50 juta? Pernah dengar sebelumnya sebuah noteboo...