Wednesday, May 20, 2015

Smartphone Mahal Untuk Apa?

iPhone 6 dan iPhone 6 Plus untuk apa? (:p)
Mahal itu relatif. Ini artinya, ya relatif. Tergantung kondisi masing-masing individu. Bagi saya, semenjak tahu membeli smartphone, harga 5 jutaan ke atas termasuk mahal dan saya tak bisa membeli smartphone tersebut. Namun bagi Anda yang membaca artikel ini bisa saja 5 jutaan ke atas itu masih termasuk murah, bahkan 10 juta ke atas masih murah karena kondisi dompet yang memang tak berbatas. Akan tetapi bagi yang lainnya, mungkin saja harga smartphone 2-3 jutaan sudah termasuk mahal sehingga hanya membeli smartphone di bawah harga tersebut.

Saya sendiri beranggapan bahwa sesuka-sukanya saya terhadap sebuah smartphone, saya tidak akan membeli jika harganya 5 juta ke atas. Saya beranggapan meskipun smartphone bisa membantu manusia dalam bekerja, namun fungsinya belumlah benar-benar bisa membantu secara penuh. Ini artinya beberapa pekerjaan yang membutuhkan resources tinggi, seperti edit video, edit naskah, edit foto dan pekerjaan berat lainnya seperti membuat spreadseat belum bisa sepenuhnya diserahkan ke smartphone.

Dengan berbagai keterbatasan tersebut, saya memang berpikir berulang kali untuk membeli smartphone mahal. Saya masih sangat suka bekerja di PC dan laptop sepanjang hari. Menggunakan smartphone lebih kepada media sosial, edit foto ringan, mendengarkan musik atau menonton video pendek dan chatting. Unsur pekerjaan di smartphone yang saya gunakan lebih kepada tetap connected, misalnya email pekerjaan. Ini artinya pekerjaan tersebut tidak sepenuhnya saya lakukan di smartphone sehingga pada dasarnya smartphone tetap saya gunakan untuk selain bekerja.

Saya beranggapan smartphone mahal apakah itu berbasis Android atau iOS tidak lebih untuk penampilan. Ini berarti jika Anda menggunakan smartphone mahal, orang akan lebih melirik kepada smartphone yang Anda pakai dan mungkin juga anggapan teman sejawat lebih baik kepada Anda karena smartphone yang mahal yang Anda pakai. 

Keputusan saya untuk tidak membeli smartphone mahal tersebut makin mantap setelah membaca sebuah artikel di CNet yang secara umum mengatakan bahwa apapun smartphonenya, apapun OS-nya dan berapapun harganya terdapat dua kelemahan di setiap smartphone tersebut, yaitu terlalu ringkih dan daya tahan baterai yang so-so saja. Ini artinya risiko ketika membeli smartphone mahal menjadi lebih besar dibandingkan dengan smartphone yang lebih murah.

Cobalah Anda telusuri, setiap smartphone mahal harus dilapisi dengan lapisan lain agar ketika jatuh tidak begitu ringsek. Harga rangka pelapis ini juga tidak bisa dikatakan murah. Ini artinya tambahan biaya lagi. Setelah diberi lapisan pelindung, ketika tidak sengaja jatuh, toh tetap rusak juga meskipun kerusakannya lebih berkurang. Ini adalah bukti betapa ringkihnya smartphone zaman sekarang ini. 

Tentu saja biaya yang ditanggung pengguna menjadi lebih besar. Pertama harga smartphone yang sudah mahal, namun ternyata mudah sekali pecah atau durabilitasnya rendah. Bagi saya sendiri adalah sangat mengesalkan ketika smartphone dibeli mahal-mahal, jatuh sedikit saja sudah rusak. Membeli smartphone mahal belum tentu memiliki durabiltas yang lebih baik. Ini akan membuat pengguna lebih berisiko, belum lagi risiko kehilangan misalnya.

Kedua adalah masalah daya tahan baterai. Saya pernah menggunakan smartphone tidak mahal, tetapi daya tahan baterainya bagi saya mengagumkan. Baterainya memang memiliki daya yang cukup besar, yaitu 3500 mAh dengan kualitas layar hanya HD 720p. Meskipun bisa bertahan lebih dari 15 jam dengan pemakaian standar, tetap saja baterai masih menjadi masalah terbesar bagi smartphone.

Apalagi smartphone mahal karena dituntut memiliki desain yang keren, terpaksa melakukan trade off dengan mengurangi daya baterai. Kita bisa melihat, smartphone mahal dari Samsung atau Apple baterainya kadang cuma bisa bertahan kurang lebih 8 jam. Setelah itu terpaksa diisi ulang dengan lama pengisian yang membuat bosan. Terlebih lagi jika smartphone mahal tidak memiliki teknologi fast charging. Ini akan membuat smartphone mahal ini terlalu berat di ongkos karena kinerja baterai yang kadang lebih buruk dibandingkan dengan smartphone yang lebih murah.

Perlu diketahui, teknologi baterai perangkat bergerak khususnya baterai smartphone hampir-hampir bisa dikatakan tidak bergerak. Penelitian dan penemuan teknologi baterai baru memang terus lahir, tetapi masalahnya belum ekonomis untuk dipasarkan atau ada masalah lain yang menganggu. Ini mengakibatkan risiko tinggi pada smartphone yang dibeli dengan harga mahal. Padahal dengan daya tahan baterai sama atau mungkin lebih baik, ada smartphone dengan harga yang jauh lebih murah.

Ketiga yang perlu dilihat adalah product life cycle smartphone semakin pendek. Kalau dulu mungkin orang hanya perlu beli smartphone setahun sekali, kini produk baru bisa saja lahir setiap empat bulan. Produk smartphone baru khususnya Android hampir tidak ada matinya. Ini membuat produk lama seperti ketinggalan dan terkadang memaksa pengguna untuk melakukan upgrade yang tidak perlu.

Nah, masih beli smartphone mahal?

Selular Award 2017 : ZenFone 3 Deluxe Smartphone Terbaik

Aliudin Sute d ja (National Sales Manager ASUS) menerima penghargaan Selular Award 2017 ASUS berhasil menempatkan dua smartphone mereka...