Monday, May 18, 2015

Algoritma dan Fenomena Gagal Move On

Fenomena 10 tahun terakhir di Indonesia adalah makin banyaknya pengguna internet lalu kemudian media sosial sepeti Facebook. Berbagai data bisa kita ajukan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat cukup pesat, meskipun infrastruktur internet bergerak sedemikian lambat. Salah satu pemicu meningkatnya pengguna internet (terutama mobile internet) adalah semakin murahnya perangkat serta akses wireless broadband yang makin membaik. 

Saya percaya bahwa pengguna mobile internet di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan fixed line seperti PC. Pengguna mobile internet dimanjakan dengan adanya berbagai aplikasi yang membuat mereka sedemikian mudah untuk terhubung satu sama lain. Setiap hari, setiap saat membuat hubungan tersebut menjadi hyper connected

Salah satu tempat favorit pengguna internet saat ini adalah media sosial, di mana di sini Facebook merupakan tempat berkumpul sebagian besar pengguna. Facebook dengan kemampuan algoritmanya mampu membius semiliar lebih orang di bumi untuk terus mengecek situsnya setiap saat. Facebook adalah salah satu bukti adanya hyper connected tersebut.

Facebook sudah menjadi sumber informasi dan sekaligus petaka bagi banyak orang hingga menimbulkan fenomena gagal move on yang berakibat sangat sulit untuk berubah. Hal ini bisa kita lihat ketika berlangsungnya Pemilu pada tahun 2014 yang lalu.

Siapapun yang log in ke Facebook saat Pilpress 2014 pasti mengetahui betapa kerasnya pertarungan antara kubu yang bersaing dan menjagokan calon mereka. Mereka yang ikut salah satu kubu pasti mengetahui bahwa sebagian besar news feed yang masuk ke wall mereka pada waktu itu adalah tentang kelompok mereka.

Algoritma Facebook memang membutakan banyak orang. Algoritma Facebook cenderung menguatkan keyakinan salah satu kubu dan menjelekkan kubu pesaing. Lama-kelamaan algoritma ini membuat para pengguna Facebook percaya bahwa merekalah yang benar. Kebanyakan pengguna akan langsung percaya apa yang ada muncul di wall mereka tanpa cek dan ricek. Fitnah akan menjadi keseharian, kebodohan malah diagungkan dan isu aneh-aneh, kata-kata kasar menjadi hal yang tidak perlu dipermasalahkan.

Hal lebih lanjut adalah mereka yang selama ini kita kira sopan dan paham agama, berubah menjadi orang yang lebih percaya isu daripada yang lain. Mereka yang selama ini kita kira cukup pintar, ternyata tidaklah pintar dan diakali oleh algoritma. Adalah aneh bagi kita orang yang selama ini kita kira sopan dan paham agama ternyata kemudian menyebar fitnah dan berkata kasar dan membuat isu yang sulit dipercaya dan kemudian diamini oleh mereka yang ada di jalur pertemanan mereka di Facebook dan disebarkan tanpa takut hal tersebut dicek orang lain kadar kebohongannya.

Selanjutnya akan banyak terjadi spin isu, isu sebenarnya dipelintir untuk tetap menjaga pengguna di jalur pertemanan agar tidak keluar. Isu yang sebenarnya berdiri sendiri, lalu dipelintir, dikaitkan dengan isu agama, ras, dan kesukuan untuk memperoleh dampak yang lebih dahsyat, Tidak jarang isu tertentu mengutip seorang tokoh, yang sebenarnya tidak mengatakan seperti apa yang diberitakan, namun diarahkan sesuai selera pembuat isu agar para pengguna tetap merasa percaya yang dipercayainya adalah benar.

Sekali lagi apapun beritanya, apakah itu fitnah, isu yang dipelintir atau lainnya akan muncul di news feed mereka yang telah ikut dengan jalur pertemanan tersebut. Algoritma tidak pernah memverifikasi apakah suatu berita benar atau tidak, tugas mereka menghadirkan yang sesuai selera yang dipilih pengguna. 

Fenomena mereka yang langsung percaya dan terus-menerus percaya ini adalah sisi gelap algoritma yang kadang sulit untuk kita pahami. Pengalaman kita bermedia sosial berjalan dengan lancar berkat algoritma media sosial tersebut. Siapa yang hendak kita jadikan teman, artikel mana yang akan kita baca,  disajikan dengan baik oleh algoritma. Kita tidak perlu susah-susah mencari seseorang di media sosial seperti Facebook atau Twitter karena ada pengguna yang disarankan oleh algoritma untuk diikuti. Juga tidak perlu repot mencari kebenaran berita karena berita yang benar menurut kepercayaan pengguna ada di news feed dan disediakan oleh algoritma.

Facebook khususnya telah dituding membuat penggunanya terkungkung oleh algoritma yang mereka buat. Algoritma tersebut cenderung menambah kepercayaan pengguna terhadap apa yang mereka percayai benar. Algoritma tersebut cenderung membatasi pengetahuan pengguna di posisi itu-itu saja selingkar pertemanan. Hal ini membuat fenomena katak di dalam tempurung menjadi tidak terelakkan.

Seiring waktu, konsumsi berita yang dihadirkan oleh algoritma tersebut terus menumpuk. Pengguna direcoki oleh hal-hal yang sama sepanjang waktu sehingga membuat pikiran mereka mentok. Akibatnya ketika di dunia nyata apa yang diharapkannya tidak menjadi kenyataan, ia akan sulit sekali move on. Tidak bisa move on atau gagal move on ini juga sebagai kata lain dari tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Hal ini karena pengaruh yang disajikan algoritma kepada mereka sedemikian besar. Hal ini menimbulkan tindakan yang disalurkan dengan berbagai cara yang hampir tidak berbeda dengan cara-cara sebelumnya.

Tentu pertanyaannya apakah ini salah algoritma atau pengguna?

Saya cenderung berpendapat bahwa manusia memiliki banyak pilihan dan yang lebih penting adalah pikiran. Karena algoritma adalah barang mati, statis, manusia bisa meninggalkannya kapan saja. Ditambah dengan olah pikir, cek-ricek fakta dan melihat ke diri sendiri, algoritma itu akan tak ada artinya. Memilih untuk mundur dari suatu kelompok, berusaha berpikir lebih jernih mungkin bisa menolong anda dari cengkeraman algoritma Facebook.

Namun itu hanya teori di atas kertas. Kebanyakan pengguna Facebook sangat sulit untuk meninggalkan Facebook bahkan hanya untuk beberapa saat. Mereka sudah sedemikian lengketnya dan mungkin akan menjadi sebuah akhir yang tidak mengenakkan untuk keluar atau tidak lagi menggunakan Facebook. 

Hal tersebut membuat manusia pengguna Facebook hampir-hampir otomatis. Mereka akan segera memberikan LIKE, memberikan komentar dan membagi ulang apa yang mereka dapatkan di news feed, tidak peduli apakah itu benar atau tidak sehingga sulit sekali tercipta suasana di mana mereka bisa mengakui kondisi sebenarnya.

Internet melalui Facebook yang diperkirakan bisa menumbuhkan demokrasi, menyuburkannya karena tersedianya ruang untuk berbicara bebas, ternyata berdampak negatif bagi demokrasi secara keseluruhan. Orang tidak perlu lagi sopan santun atau tata krama, misalnya. Algortima telah mendorong banyak orang untuk terlibat dalam berbagai kegiatan yang bisa dikategorikan anti demokrasi.

Tentu tidak hanya di Facebook algoritma bekerja. Hampir seluruh layanan internet membuat algoritma agar mereka bisa dengan mudah mengidentifikasi kesukaan pengguna. Tentu bukan hanya Facebook di mana algortima begitu terasa. Namun perlu kita akui, bahwa Facebook adalah tempat berkumpulnya sebagian besar pengguna media sosial sehingga menjadi tujuan penting berbagai kelompok. Di sini peran algortima begitu terasa karena jumlah pengguna yang sedemikian banyak dan tingkat pemakaian pengguna yang sangat tinggi.

Pengaruh algoritma itu saat ini masih sangat terasa. Kita banyak menemukan mereka yang terus-terusan gagal move on. Ini sebuah tanda algoritma telah bekerja untuknya dengan sangat baik.


Naik Kereta Api Argo Parahyangan Ekonomi Premium Tuuut Tuuut Tuuut Siapa Hendak Turut Dari Bandung ke Jakarta

Gerbong Kereta Argo Parahyangan Ekonomi Premium Satu hal yang saya senangi kalau bepergian, baik untuk mengurus urusan ini maupun urusa...