Saturday, February 14, 2015

Di Galaxy S6, Samsung Mengalah Demi Microsoft

Teaser Galaxy S6
(Engadget)
Kelahiran Samsung Galaxy S6 kini tinggal beberapa hari lagi. Jika perkiraan banyak sumber benar, Galaxy S6 kemungkinan besar dirilis pada tanggal 1 Maret 2015. Smartphone yang merupakan kelanjutan dari Galaxy S5 yang merupakan lawan sepadan bagi iPhone tersebut digadang-gadang memiliki beberapa kelebihan dan mungkin merupakan smartphone tercepat yang pernah ada jika beberapa bocoran terkait Galaxy S6 menjadi kenyataan. 

Namun sebelum sampai ke peluncuran Galaxy S6 tersebut kita perlu menyimak beberapa hal yang secara langsung atau tidak terkait dengan Galaxy S6 tersebut. Hal yang perlu kita lihat adalah perdamaian antara Samsung dengan Microsoft terkait pembayaran royalti paten. 

Samsung digugat Microsoft tahun lalu terkait dengan licensing agreement di pengadilan New York. Dalam gugatannya, Microsoft menuduh Samsung melanggar kesepakatan bersama terkait dengan pembayaran royalti paten Microsoft setelah Microsoft mengakuisisi Nokia. Dalam gugatan tersebut Microsoft menyebutkan Samsung berutang bunga sebsar 6,9 juta dollar dalam pembayaran royalti sebesar 1 miliar dollar lebih yang tertunda pembayarannya. Itu artinya Samsung menolak untuk membayar ke Microsoft sekitar 1,7 miliar dollar.

Samsung tentu bukan tanpa alasan menolak untuk menbayar royalti beserta bunga yang tertunggak tersebut. Samsung berkilah bahwa akuisisi Nokia oleh Microsoft membuat Microsoft menjadi hardware company yang akan head to head dengan Samsung sehingga Samsung keberatan untuk berbagi informasi bisnis yang sifatnya rahasia dengan Microsoft. 

Dengan demikian perjanjian yang disetujui oleh kedua pihak pada tahun 2011 tersebut tersendat karena Samsung menolak membayar royalti. Oleh karena itulah, Microsoft akhirnya menggugat Samsung. Untuk mempertahankan pendapatnya tersebut Samsung meminta arbitrase dengan pengadilan Hongkong dan International Court of Arbitration of the International Chamber of Commerce.

Setelah setahun berjalan, tiba-tiba beberapa hari yang lalu muncul kesepakatan bahwa Samsung dan Microsoft sepakat untuk mengakhiri sengketa di antara mereka, tetapi terms of deal-nya tidak dipublikasikan ke publik.

Kesepakatan ini membuat banyak pihak menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah akhirnya Samsung membayar tunggakan royalti dam bunganya ataukah ada deal lain terkait dengan agresivitas Microsoft di ekosistem Android?

Saya mencoba menebak apa sebenarnya dibalik deal tersebut dengan mengaitkannya dengan peluncuran Galaxy S6. Seperti yang telah diketahui bahwa Samsung di Galaxy S6 dikabarkan memangkas bloatware yang selama ini membuat jelek Samsung di sisi software. Samsung sangat banyak menyertakan aplikasi buatannya sendiri dalam perangkat mereka sehingga membuat banyak orang agak kapok ketika membeli perangkat mereka.

Aplikasi seperti S Note, S Voice, Scrapbook dan S Health sering diikutsertakan dalam perangkat seperti Galaxy Note dan seri Galaxy S. Padahal aplikasi semacam itu tidak banyak digunakan dan aplikasi setara dapat diperoleh di pasar aplikasi Google Play. 

Untuk Galaxy S6 Samsung dikabarkan telah membuang aplikasi mubazir tersebut. Selain itu memperbaiki TouchWiz sehingga berjalan lebih cepat. Nantinya Samsung berharap Galaxy S6 bisa seresponsif seri Nexus dari Google yang tidak membawa bloatware yang berlebihan layaknya Samsung.

Namun selain itu, dikabarkan juga bahwa setelah membuang aplikasi bawaan tersebut, Samsung menempatkan aplikasi Microsoft sebagai gantinya. Tidak terlalu jelas apakah aplikasi Microsoft tersebut bisa dibuang dengan mudah atau sama sekali tidak bisa dibuang layaknya aplikasi bloatware Samsung terdahulu.

Seperti yang dikabarkan oleh Engadget, di Galaxy S6 nanti aplikasi dari Microsoft seperti  Office, OneDrive, OneNote dan Skype akan tersedia out of the box. Ini artinya aplikasi Microsoft tersebut tak perlu lagi diinstall pengguna karena Samsung telah menyertakannya di dalam Galaxy S6.

Bila dikaitkan dengan agresivitas Microsoft setelah dipimpin oleh Satya Nadella dalam membuat aplikasi Microsoft di ekosistem Android, terdapat kemungkinan bahwa salah satu isi kesepakatan perdamaian antara Samsung dengan Microsoft terkait pembayaran paten adalah menyertakan aplikasi Microsoft out of the box di smartphone flagship Samsung, dimulai dengan Galaxy S6.

Saya rasa sangat masuk akal adanya kesepakatan tersebut di atas. Di satu sisi Microsoft sedang berubah dan ingin pengguna Android menggunakan aplikasi buatan mereka sebanyak mungkin, bahkan mereka cenderung sedikit kurang peduli dengan ekosistem mereka sendiri (Windows). Di sisi lain, Samsung adalah pemimpin di pasar smartphone Android sehingga menjadi sangat menarik bagi Microsoft untuk bekerja sama agar aplikasi mereka makin banyak penggunanya.

Di luar hitungan finansial, saya rasa alasan ini sangat masuk akal. Galaxy S6, sebagaimana pendahulunya, adalah lawan sepadan bagi iPhone. Hal ini akan menjadikan Galaxy S6 menarik dan diburu banyak pengguna. Menempatkan aplikasi Microsoft bersama Galaxy S6 adalah cara pintar untuk menarik pengguna Android menggunakan aplikasi Microsoft.

Tentunya berhasil atau tidaknya aplikasi Microsoft tersebut dipakai oleh pengguna tergantung seberapa baik aplikasi itu sendiri. Namun langkah penting telah dilakukan oleh Microsoft. Lompatan ini akan menyengat Google yang juga menyediakan aplikasi serupa dan banyak developer lain yang juga merilis aplikasi office.

Tentu baiknya kita tunggu pada 1 Maret nanti untuk melihat tampilnya Microsoft di ekosistem Android secara langsung melalui Galaxy S6.

Sumber: Engadget, Sam Mobile, Reuters, dan lainnya

BukBer, Berbagi Bersama Blue Bird Group dan Rumah Harapan

BukBer Blue Bird Group Di sela-sela kesibukan, dua hari yang lalu saya sempatkan untuk hadir di Buka Bersama (BukBer) Blue Bird Group y...