Thursday, January 29, 2015

Facebook Dominasi Aplikasi Paling Banyak Didownload 2014

Facebook tampaknya mulai menancapkan pengaruhnya dalam pasar iklan menantang Google. Laporan keuangan terbaru mereka menunjukkan bahwa sebagian besar pendapatan mereka berasal dari iklan mobile. Selain itu trend pengguna Facebook terus bertambah dibandingkan tahun lalu meskipun ada kekhawatiran para remaja tidak lagi menggunakan Facebook dan beralih ke Instagram (masih milik Facebook) atau SnapChat.

Hal yang melegakan bagi Facebook adalah terkait dengan akuisisi yang dilakukannya terhadap Instagram dan WhatsApp. Data dari analis aplikasi App Annie menunjukkan posisi aplikasi yang paling banyak didownload di seluruh dunia dikuasai oleh Facebook. App Annie mengumpulkan jumlah download aplikasi dari dua pasar aplikasi terbesar saat ini yaitu Google Play Store dan Apple App Store. Dari kedua pasar aplikasi tersebut aplikasi milik Facebook mendominasi posisi 1 sampai dengan 4 dengan urutan satu ditempati oleh Facebook Messenger, posisi kedua Facebook, posisi ketiga WhatsApp Messenger, dan posisi keampat Instagram. Bila kita lihat daftar tersebut sekian banyak pengguna smartphone dunia bergantung dari satu pemilik aplikasi yaitu Facebook. Tampaknya aplikasi sosial sudah mutlak dikuasai oleh Facebook.

Posisi kelima ditempati oleh Skype dari Microsoft, dan posisi selanjutnya berturut-turut adalah Clean Master, Viber, Line, Twitter, dan SnapChat. Namun dari sisi pendapatan, aplikasi LINE dari Jepang menempati posisi pertama. Aplikasi LINE sangat populer di kawasan Asia. Sementara aplikasi kembaran LINE, yaitu LINE Play berada di posisi ketiga dalam hal pendapatan.

Laporan App Annie juga menunjukkan game mana yang memperoleh download terbanyak di Android dan iOS. Candy Crush Saga menempati posisi pertama sebagai game yang paling banyak didownload sepanjang tahun 2014. Posisi berikutnya ditempati oleh Subway Surfers, My Talking Tom, Farm Heroes Saga, Clash of Clans, Pou, Despicable Me, Temple Run 2, Don't Tap The White Tile, dan Hill Climb Racing. Untuk pendapatan, game yang memperoleh pendapatan tertinggi adalah Clash of Clans meskipun dari sisi download jauh tertinggal dibandingkan Candy Crush Saga.

Bila dilihat di pasar Amerika Serikat, terdapat sedikit perbedaan dalam hal aplikasi paling banyak didownload sepanjang tahun 2014 baik di Play Store maunpun di App Store. Di pasar AS, Facebook Messenger masih menjadi aplikasi yang paling banyak didownload diikuti oleh Facebook dan Instagram, tetapi WhatsApp Messenger terlempar ke posisi 10. Posisinya digantikan oleh Pandora yang kemudian diikuti oleh SnapChat, Netflix, Skype, Kik Messenger, dan Spotify. Tampaknya di AS, WhatsApp tidak begitu digemari karena ada beberapa aplikasi lain yang lebih menarik seperti Pandora dan Spotify.

App Annie juga melaporkan bahwa Google Play kini sudah melewati App Store dalam jumlah download, yaitu 60% lebih banyak dibandingkan App Store, namun App Store masih lebih baik dalam pendapatan, yaitu 70% lebih banyak dibandingkan Play Store.

Sumber: App Annie via GigaOm

Friday, January 23, 2015

Tanggal 27 Januari One Plus One Dijual di Indonesia

Sumber: One Plus
Akhirnya penantian itu berakhir juga. One Plus One, smartphone Flagship dari One Plus yang diberi julukan Flagship Killer seminggu lagi atau tepatnya tanggal 27 Januari sudah bisa dipesan di Indonesia, eksklusif melalui Lazada.

Kepastian dijualnya One Plus One di Indonesia sebenarnya sudah mulai tercium seminggu yang lalu. Saat itu Kompas Tekno memberitakan bahwa One Plus berencana menjual One Plus One di Indonesia. Namun waktu pastinya belum disebutkan.

Kabar pasti dijualnya One Plus One di Indonesia saya peroleh dari situs Android Police yang mengutip blog One Plus yang secara resmi mengumumkan penjualan One Plus One di Indonesia. Perlu diketahui bahwa One Plus One adalah hot smartphone yang cukup banyak dicari pengguna. Namun dijual terbatas melalui undangan. Kadang meskipun tidak melalui undangan, seperti beberapa hari yang lalu, jumlah yang dijual juga sangat terbatas.

Padahal sangat banyak review positif dan mengapresiasi One Plus One baik dari sisi desain, spesifikasi, kinerja dan yang terpenting harganya yang sangat murah untuk sebuah smartphone flasgship.

One Plus One ditawarkan dalam dua versi ROM, yaitu 16GB dengan harga 299 USD dan 64GB dengan harga 349 USD. Untuk sebuah smartphone kelas atas harga ini sangat murah. Perhatikan saja spesifikasinya yang gahar dengan RAM 3GB, dan kamera beresolusi 13 megapiksel. Belum lagi desain dan layarnya yang 5,5 inchi dengan prosesor Snapdragon 801 2.5GHz Quad-core plus GPU Adreno 330.

Saya rasa One Plus One ini secara harga dan spesifikasi lebih baik dibandingkan dengan beberapa smartphone kelas atas seperti Galaxy S5 dan LG G3. Dan tidak mengherankan, harga yang murah dengan spesifikasi hampir sama dengan yang harganya hampir dua kali lipat One Plus One membuat konsumen sangat menginginkan One Plus One.

Tampaknya kebijakan harga murah tersebut juga sampai di Indonesia. Bekerja sama dengan Lazada, One Plus menjual One Plus One warna hitam degan ROM 64GB hanya Rp4.499.000,00. Jauh lebih murah dibandingkan dengan smartphone flagship lainnya.

Tentunya untuk dapat membeli One Plus One ini perlu usaha ekstra. Saya rasa metode penjualannya adalah flash sale, dimana peminat akan mendaftar terlebih dahulu di Lazada. Setelah mendaftar barulah bisa ikutan flash sale dengan undangan khusus dari Lazada dan mungkin juga ada ketentuan siapa cepat dia dapat. Sejauh ini tidak diketahui berapa unit One Plus One yang akan dijual. Semoga saja jumlahnya lebih dari 10.000 unit agar pengguna yang penasaran dapat memilikinya.

So, siapkan uang Anda pada tanggal 27 Januari 2015. Bakal rugi jika tak bisa memperoleh smartphone bagus nan murah ini.

Friday, January 16, 2015

Google Glass Is Death

Model menggunakan Google Glass
Isu akan suramnya masa depan Google Glass telah bergulir jauh sebelum memasuki tahun 2015. Bila kita kembali ke tahun 2013 saat smart gadget ini pertama kali tersedia untuk Glass Explorer, Google sudah sangat hati-hati dalam memasarkannya dengan cara membuat program rintisan yang disebut Glass Explorer (bukan Dora The Explorer :D ).

Google pun menjualnya secara bertahap dan terus-menerus memberikan update software dan aplikasi yang tampaknya mulai banyak tertarik untuk mencoba hadir di smart gadget yang digadang-gadang sangat prestesius oleh Google dan banyak kalangan lainnya.

Peluncurannya juga sangat wah dengan melibatkan beberapa penerjun yang langsung dipimpin oleh co-founder Google Sergey Brin. Tentunya Google sangat berharap, Google Glass memberikan Google beberapa langkah di depan para pesaingnya terutama soal  device yang tidak dimiliki oleh para pesaing seperti Apple Inc.

Hampir dua tahun berlalu, pada awalnya Google berharap bisa menjual versi konsumen pada awal tahun 2014 yang lalu, namun hal tersebut tidak terwujud. Alih-alih merilis versi konsumen, Google hanya mampu menawarkan berbagai macam frame yang berbeda dan terus melakukan kampanye termasuk dengan desainer pakaian Diane Furstenberg.

Namun publik terus menanti kapan Google bisa menghadirkan versi publik yang bisa mereka beli dengan harga yang lebih rasional dibandingkan dengan 1.500 USD untuk mereka yang terlibat dalam program Glass Explorer. Nyatanya, sampai dengan tadi malam, saat Google memberitakan bahwa Google Glass telah lulus dari Google X Lab dan kini berada di bawah Tony Fadell (Nest) keinginan tersebut tidak terwujud. Malah banyak yang memperkirakan atau menduga keluarnya Google Glass dari Google X Lab bukan lulus (sebagaimana dikatakan Google), tetapi menuju kematiannya karena kurangnya minat konsumen dan sedikit terjualnya Google Glass.

Sebagai bukan pengguna, saya tentu tidak tahu persis bagaimana kegunaan Google Glass ini. Namun seorang teman asal Indonesia yang tinggal di Amerika menggunakan Google Glass dan saya rasa sejauh ini ia nyaman dengan Google Glass. Saya rasa, Google Glass adalah gadget futuristik yang sangat menarik untuk digunakan karena penggunaannya yang jauh berbeda dibandingkan dengan smartphone sehingga tidak akan mudah bagi Google untuk menghentikan pengembangannya. 

Namun tentu sangat menarik untuk mengetahui mengapa Google Glass tidak berkembang setelah dua tahun diluncurkan?

Banyak hal yang bisa dijadikan alasan. Dari sisi Google saya rasa apa yang telah mereka tempuh dalam pengembangan dan pemasaran Google Glass serta teknologi yang dibawanya sudah sangat hati-hati dan bertahap. Ini terlihat bahwa Google melakukan program Glass Explorer dan mengundang banyak developer untuk membuat aplikasi untuk Glass. Meskipun kemudian beberapa aplikasi kemudian menarik diri karena pengguna yang tidak berkembang, mungkin itu cerita lain.

Saya melihat bahwa konsumen yang belum sepenuhnya siap adalah salah satu faktor mengapa Google Glass untuk publik tidak berkembang. Di awal-awal kemunculannya sangat banyak tempat seperti bar atau bioskop yang melarang pengguna menggunakan Google Glass karena berbagai alasan. Ini semacam sisi negatif yang membuat banyak orang berpikir untuk membeli Google Glass.

Hal ini dengan baik dikemukakan oleh Kevin C. Tofel dalam artikelnya dalam mengomentari dialihkannya proyek Google Glass ke Tony Fadell. 
Society isn’t ready for cameras that are aimed at them when having a face-to-face conversation. It doesn’t matter if the camera is on or not.
Masyarakat bahkan yang sangat maju dalam teknologi sekalipun seperti AS belumlah siap berhadapan atau melakukan percakapan face to face dengan seseorang di mana di mata orang tersebut ada kamera, tidak peduli apakah kamera itu nyala atau mati sekalipun. Kesan bahwa pemakai Google Glass layaknya robot dan kekhawatiran terhadap privasi turut menambah keengganan calon pengguna untuk terlibat memakai Google Glass.

Saya rasa hal ini berdampak jelek bagi pengembangan Google Glass untuk publik sehingga mungkin di bawah Tony Fadell Google Glass akan mencari ceruk lain untuk mengembangkan Google Glass ke depannya. Hal ini sebenarnya sudah diungkapkan oleh salah satu Googler yang bekerja di Google Glass, yaitu Timoty Jordan melalui update-nya di Google Plus.
Glass is graduating from Google[x] labs to focus on the future of Glass.  The Explorer program is closing, but if you need a second, third, or fourth Glass you've got a few more days to buy 'em!  ;)
The team is now working on future versions of Glass. We learned a ton from the Explorer Program and we’re closing it so we can better focus on building what’s next – you’ll see the next version when it’s ready.  At the same time, the Glass at Work program is starting strong and is a great opportunity for development today.
Sebagaiman pernah diungkapkan oleh Eric Schmidt bahwa time frame dari Google Glass paling tidak sekitar 3 tahun semenjak pertama kali dijual, yaitu dari tahun 2013 hingga 2016. Ini artinya masih ada tersedia satu tahun ke depan untuk melihat untuk tujuan apa Google Glass yang pas. Saya rasa Google tidak salah untuk memberikan tanggung jawab pengembangan Google Glass berikutnya kepada Tony Fadell. Namun tentu saja sebuah tantangan yang berat bagi Tony Fadell mengingat beberapa kelemahan dan batasan yang ada di Google Glass saat ini.

Pertanyaan berikutnya tentunya apakah program Google Glass dimatikan oleh Google dengan ditutupnya program Glass Explorer? Saya tidak bisa berspekulasi bahwa Google menutup atau terus melanjutkan program tersebut. Yang jelas program tersebut tidak mati, minimal dalam satu tahun ke depan. Setelah tahun 2016 kita bisa melihat apakah Google akan menghentikan atau meneruskannya.

Wednesday, January 14, 2015

Dari Mana Apple Dapat Duit?

Tentu selalu menarik untuk membahas Apple. Di pasar smartphone, perusahaan warisan Steve Jobs ini merupakan satu-satunya perusahaan yang terus memperoleh kenaikan penjualan dan keuntungan. Meskipun hanya menguasai sebagian kecil dari pasar smartphone, Apple boleh berbangga bahwa merekalah yang paling tinggi dalam hal keuntungan. Hal ini tidak terlepas dari harga iPhone yang memang sangat mahal.

Sampai saat artikel ini dipublikasikan iPhone merupakan penyumbang terbesar bagi pendapatan Apple. Hal ini diungkapkan oleh info grafis sederhana yang dibuat oleh Business Insider. 


Dari info grafis di atas dapat dilihat bahwa iPod hanya menyumbang pemasukan bagi Apple sekitar 2,2 miliar dollar, asesoris sebesar 6 miliar dollar, iTunes dan Software 18 miliar dollar, Mac sebesar 24 miliar dollar, iPad 30,2 miliar dollar dan iPhone sebesar 101,9 miliar dollar.

Angka penjualan sebesar 101 miliar dollar tersebut merupakan jauh di atas penjualan iPod, asesoris, iTunes & Software, Mac, dan iPad yang hanya mencapai sekitar 81 miliar dollar. Itu artinya iPhone merupakan urat nadi bisnis Apple sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2007 yang lalu.

Bila dibandingkan dengan perusahaan lain, jumlah pendapatan Apple berada di posisi ketiga di bawah Walmart dan Exxon Mobile. Namun kedua perusahaan ini bukanlah perusahaan teknologi atau core business mereka bukan berada di bidang teknologi.

Di bidang teknologi, sudah jelas Apple merupakan perusahaan nomor satu dilihat dari sisi pendapatan. Penjualan iPhone saja mengalahkan pendapatan total banyak perusahaan lain seperti Microsoft, Amazon, Google, dan Facebook.

Dengan kondisi tersebut, tidak heran Apple sangat protektif terhadap iPhone. Hal ini bisa kita lihat dari peristiwa video BBC Panorama yang mengorek kondisi pekerja iPhone di Foxconn dan kondisi tambang timah liar di Bangka.

Tim Cook sampai bereaksi bahwa apa yang diungkapkan oleh BBC tersebut ofensif. Namun, peristiwa tersebut bukan sekali dua diungkap ke publik. Sekitar tahun 2012 yang lalu, kondisi tambang dan timah ilegal yang dipasok ke pembuat iPhone juga menjadi konsumsi publik selain kondisi pekerja yang juga buruk.

iPhone dengan harga premium tersebut menjadi tumpuan Apple karena pengguna yang sedemikian terobsesi dengan apa yang Apple kampanyekan. Dengan perkiraan pasar iPad yang diperkirakan akan terus melemah, iPhone akan semakin jadi bisnis paling utama bagi Apple karena permintaannya yang tak pernah menyusut. Ditambah dengan bisnis Mac yang juga tidak begitu baik, meskipun terus menunjukkan pertumbuhan. Namun Apple tetap berada di bawah lima besar dalam pasar PC sebagaimana dirilis oleh IDC.

Saya memperkirakan untuk tahun 2015 ini Apple akan merilis setidaknya dua atau tiga seri iPhone terbaru. Hal ini semakin menjadi lumrah bagi Apple sejak sukses merilis dua iPhone sekaligus, yaitu iPhone 5S dan 5C dua tahun yang lalu. Di tahun 2014 Apple merilis iPhone 6 dan 6 Plus yang berukuran jumbo.

Di tahun 2015 ini sekuel dari iPhone 6 dan 6 Plus kemungkinan akan dirilis oleh Apple plus sebuah iPhone baru berukuran 4 inchi untuk memenuhi permintaan mereka yang kurang nyaman dengan layar 6 Plus yang jumbo. Pengguna di AS tampaknya sangat meminati iPhone 6, tetapi kurang begitu berminat dengan iPhone 6 Plus yang terlalu besar layarnya. Mereka menginginkan ukuran 4 inchi yang bisa dipakai satu tangan sehingga Apple mungkin saja memenuhi permintaan ini. Dengan tiga seri iPhone baru tersebut, nantinya pendapatan Apple  dari iPhone tentu akan terus meningkat.

Monday, January 12, 2015

Review: ZTE Blade Vec Pro Smartphone Octa Core dari ZTE

Oleh Galeshka untuk Socio Geeks.
Akhir November 2014 yang lalu ZTE meluncurkan tiga handphone terbaru yang akan dipasarkan di Indonesia dari seri ZTE Blade. Ketiga model tersebut adalah ZTE Blade G, ZTE Blade G Lux dan ZTE Vec Pro.

Di kelas paling atas dari perangkat yang dirilis ini adalah ZTE Blade Vec Pro. Mengusung processor octa-core dan layar 5 inchi, handphone ini dibanderol dengan harga Rp 2.499.000,00. Dengan paket penjualan yang berisi:
     Handphone ZTE Blade Vec Pro
     SIM ejector
     Headset
     Charger + kabel USB
     Panduan dan kartu garansi

Spesifikasi dan Software
Prosesor
MTK6592 octa-core 1.4 GHz
Layar
Layar 5-inch IPS HD, resolusi 1280 x 720
RAM
1 GB of RAM
Memory
Internal storage 8 GB dibagi 2 partisi 4 GB Internal Storage & 4 GB Phone Storage
MicroSD Slot up to 32 GB
Kamera
Kamera belakang 13 Megapixel, kamera depan 5 Megapixel
Konektivitas
Dual GSM, Bluetooth, Wi-fi
Radio
FM Radio
Geolocation
AGPS
Baterai
2300 mAh
OS
Android KitKat 4.4.2

Desain dan Hardware
Dari bentuk kemasan ZTE Blade Vec Pro bisa dilihat keseriusan ZTE dalam mendesain produk smartphone-nya secara keseluruhan. Kemasan dengan warna dasar coklat dan tulisan biru ini sederhana namun memberikan citra eksklusif yang menarik.

Tampak Depan ZTE Blade Vec Pro
Desain dari ZTE Blade Vec Pro ini sendiri tidak mengecewakan. Terinspirasi dari bangunan Arc de Triomphe di Prancis, sekalipun material utama yang digunakan untuk body handphone ini plastik, namun secara desain menampilkan citra elegan, dengan dimensi 70.4 x 142.3 x 7.8 mm dan berat hanya 155 gram. Secara keseluruhan fisik dari ZTE Blade Vec Pro ini berbentuk kotak dengan bagian atas dan bawah membulat. Hal ini juga ditunjang dengan build quality yang kokoh secara keseluruhan, sehingga handphone ini terasa mantap untuk dipegang dan tidak mengganggu saat dikantungi.

Bagian Belakang ZTE Blade Vec Pro
 Sisi belakang handphone ini menggunakan bahan plastik dengan corak carbon fiber sehingga nyaman dipegang. Kamera utama 13 Megapixel dengan autofocus ditempatkan di sudut kiri atas, dengan flash tepat dibawahnya. Logo ZTE sendiri ada di bagian tengah atas dan speaker ditempatkan di bagian kanan bawah.

Di sisi kiri terdapat 2 slot untuk microSIM dan satu slot untuk microSD. Untuk memasukkan kartu ke dalam slot-slot tersebut harus menggunakan SIM-ejector yang disertakan dalam paket penjualan. Hal ini mungkin agak menyulitkan mereka yang senang berganti nomor. Kedua SIM card tersebut dapat aktif pada waktu bersamaan, namun hanya SIM card pertama yang dapat terhubung ke jaringan 3G.

Di sisi kanan, terdapat tombol pengaturan volume di bagian atas dan tombol power di bagian tengah. Disisi bawah handphone terdapat jack headset 3.5mm dan jack micro-USB untuk charge dan koneksi ke perangkat lain. ZTE Blade Vec Pro ini juga sudah mendukung USB on the go, sehingga dengan kabel adapter yang sesuai bisa dihubungkan ke berbagai perangkat USB lain, misalnya USB Flashdisk atau mouse.

Port ZTE Blade Vec Pro
Bagian depan dari handphone didominasi oleh layar touchscreen. Kamera sekunder 5 megapixel ditempatkan di bagian kiri atas bersama dengan lampu indikator. Di bagian atas tengah terdapat earpiece dan proximity & light sensor.

Layar dari ZTE Blade Vec Pro sendiri berukuran 5 inch dengan resolusi 1280 x 720 menghasilkan kerapatan pixel 294 ppi. Display ini juga sudah mengadopsi teknologi IPS sehingga dapat menampilkan gambar dengan lebih baik. Secara kualitas, layar ZTE Blade Vec Pro ini cukup baik, baik dalam ruangan maupun di luar ruangan.

Hardware yang dibenamkan dalam handphone ini dimotori oleh prosesor octa-core Mediatek MTK 6592, dengan RAM sebesar 1 GB. Internal memory sebesar 8 GB dibagi menjadi dua partisi, internal storage 4GB dan phone storage sebesar 4 GB. Saat baru, internal storage ini sudah terisi 1.83 GB dengan ruang kosong 1.62 GB. Phone storage sendiri, bisa digunakan seluruhnya untuk data pengguna seperi foto maupun musik. Pengaturan seperti ini agak kurang menguntungkan bagi pengguna yang biasa memasang banyak aplikasi.

Satu masalah utama dengan ZTE Blade Vec Pro ini adalah, konektivitas. Baik dalam jaringan seluler maupun WiFi, koneksi seringkali sangat lambat, bahkan terputus, sekalipun indikator menunjukan adanya koneksi. Dalam pengetesan sederhana, di jaringan WiFi antara dua handphone (ZTE Blade Vec Pro dan Sony Xperia ZL) dalam waktu bersamaan dengan menggunakan aplikasi Speedtest, terlihat bahwa dari 10 kali pengetesan, ZTE Blade Vec Pro gagal menyelesaikan test sebanyak 4x sementara Sony Xperia ZL mampu menyelesaikan keseluruhan test.
TEST
ZTE Blade Vec Pro
Xperia ZL
Ping
Download
Upload
Ping
Download
Upload
Test #1
Failed
Failed
Failed
717
0.46
-
Test #2
782
0.28
0.10
271
0.43
0.12
Test #3
492
0.53
0.17
336
0.28
0.17
Test #4
Failed
Failed
Failed
293
0.47
-
Test #5
402
0.07
0.07
170
0.25
0.10
Test #6
Failed
Failed
Failed
249
0.12
0.08
Test #7
389
0.10
0.07
391
0.15
0.08
Test #8
324
0.12
0.07
364
0.14
0.07
Test #9
602
0.18
0.07
572
0.08
0.09
Test #10
Failed
Failed
Failed
534
0.09
0.14

Friday, January 9, 2015

Amazon AppStore Cara Mudah Memperoleh Aplikasi Berbayar Gratis

Seringkali aplikasi gratis yang sangat banyak ditawarkan oleh Google belumlah memenuhi keinginan pengguna Android. Aplikasi gratis selain  harus rela disusupi iklan, kadang juga menjengkelkan karena pada tahap tertentu harus dibeli (jika ada pilihan in app purchase). Oleh karena itu terasa benar butuhnya aplikasi berbayar, tetapi sedapat mungkin aplikasi berbayar yang digratiskan. 

Boleh dibilang, saya adalah penikmat aplikasi gratisan premium, yaitu aplikasi yang sebenarnya berbayar namun digratiskan tersebut.  

Beberapa waktu terakhir, mungkin lebih dari sebulan yang lalu, saya menggunakan Amazon Appstore. Kebetulan saya pernah baca di sebuah situs dalam satu kali promosi, di Amazon Appstore harga kumulatif aplikasi sekitar 200 dollar AS digratiskan oleh Amazon Untungnya saya sudah lama punya akun Amazon yang saya buat dulu waktu jadi partner Amazon dalam promosi buku-buku yang mereka jual. 

Demikianlah, berkat punya akun Amazon itu, saya tinggal mendownload aplikasi Amazon Appstore. Kemudian mencari aplikasi apa saja yang digratiskan pada hari tertentu. Biasanya setiap akhir pekan, makin banyak aplikasi berbayar yang digratiskan. Misalnya minggu lalu ada resep dari The Naked Chef Jamie Oliver senilai 7 dollar berisi video selama 20 menit digratiskan.

Dari menggunakan Amazon Appstore beberapa waktu saya telah mendapatkan beberapa aplikasi bagus berbayar secara gratis, mulai dari 20 Minutes Meals Jamie Oliver, Deep Lout, Pho.to Lab PRO, PicsPlay PRO, Sago Mini Ocean, Toto Panda, Weather Plus dan satu yang paling berharga adalah Oxford English Dictionary seharga 24 dollar AS lebih.

Tentunya ini sebuah berkah yang teramat bagus karena bagi saya membeli aplikasi masih bukan merupakan pilihan. Saya berusaha sedapat mungkin tidak membeli aplikasi, tetapi saya juga tidak mau sembarangan mendownload aplikasi gratisan. Dengan adanya program aplikasi berbayar yang digratiskan Amazon Appstore ini, saya beruntung sekali bisa memperoleh aplikasi berbayar bagus dengan cara gratisan.

Perlu diingat, promo aplikasi berbayar gratisan tersebut tidak menentu. Artinya  aplikasi yang digratiskan tidak tetap, bisa saja suatu waktu 20 Minutes Meal Jamie Oliver gratis, tetapi lain waktu bisa saja promonya sudah selesai. Ini artinya Anda harus menengoknya setiap hari seperti yang saya lakukan.

Perlu juga diingat bahwa untuk dapat menginstall aplikasi dari Amazon Appstore yang telah didownload, Anda perlu mencentang Unknown Sources di bagian Security smartphone/tablet Android Anda. Karena aplikasi dari Amazon Appstore diperlakukan sama seperti mendownload APK dari situs internet.


Nah, ayo download Amazon Appstore dan nikmati aplikasi berbayar gratis. Anda dapat mendownload Amazon Appstore di LINK INI

Tuesday, January 6, 2015

Asus Rilis Smartphone Terbaru Zenfone 2 dan Zenfone Zoom

Zenfone 2
Tepat setahun yang lalu ASUS, vendor asal Taiwan merilis seri smartphone mereka yang dinamakan Zenfone terdiri dari Zenfone 4, Zenfone 5 dan Zenfone 6. Kini di ajang yang sama di CES Las Vegas, ASUS merilis seri kedua Zenfone yang diberi nama Zenfone 2. Berbeda dengan pendekatan setahun yang lalu di mana ASUS membedakan kategori berdasarkan luasnya layar, kini ASUS memberikan luas layar yang sama, yaitu 5,5 inchi dengan kualitas full HD.

Sebagaimana banyak diberitakan oleh kanal teknologi, ASUS Zenfone 2 mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan dengan generasi pertama. Bila dilihat sekilas desain Zenfone 2 ini terutama bagian belakangnya mirip dengan LG G3 dari LG. Spesifikasi yang dibenamkan ASUS lumayan baik dengan menggunakan prosesor 2.3GHz Intel Atom Z3580 64 bit dengan RAM terdiri dari 2GB dan 4GB. Kamera belakang beresolusi 13 megapiksel dan kamera depan sebesar 5 megapiksel plus quick charging technology

Harga yang dipatok untuk Zenfone 2 dengan RAM 2GB mulai dari 199 USD, sedangkan untuk RAM 4GB ASUS tidak menyebutkan harga pastinya. 

Tentunya jika dilihat desain dan bentuk Zenfone 2 ini mengalami kemajuan cukup baik dibandingkan generasi pertama. Layar full HD (1920x1080) 5,5 inchi dengan 72% body to screen ratio memungkinkan  layar yang lebih lebar dan bezel tipis. Bila dilihat sudut-sudutnya yang melengkung, sudut tersebut sangat tipis, hanya 3,9 milimeter. ASUS juga melengkapi Zenfone 2 dengan Android 5.0 Lollipop dengan ZenUI terbaru. 

Selain Zenfone 2, ASUS juga merilis seri baru Zenfone, yaitu Zenfone Zoom untuk pengguna yang berminat di bidang fotografi. Secara spesifikasi Zenfone Zoom sepertinya tidak berbeda dengan Zenfone 2, tetapi di bagian kamera ASUS menanamkan 3x optical zoom di kamera berkekuatan 13 megapiksel.

Zenfone Zoom memiliki laser outofocus, optical image stabilization dan bisa memberikan kontrol manual terhadap ISO, white balance, exposure dan lainnya. Untuk Zenfone Zoom, ASUS mematok harga 399 USD. Tampaknya Zenfone Zoom ini cukup menarik untuk lebih digali informasinya.

Untuk ketersediaan, Zenfone 2 akan tersedia mulai bulan Maret 2015, sedangkan Zenfone Zoom mulai di kuartal kedua tahun 2015.

Sumber: ASUS, Ars Technica, The Verge dan lainnya

Monday, January 5, 2015

Langkah Maju Xiaomi Menjadi Raja Smartphone

Xiaomi Redmi 2
Sepanjang minggu terakhir tahun 2014, berita kanal teknologi tentang Xiaomi tiada henti. Berita tentang vendor ajaib dari China yang dijuluki Apple China tersebut menutupi pemberitaan tentang beberapa vendor besar Android yang sudah lama eksis dibandingkan dengan Xiaomi.

Xiaomi memang tengah menjadi hits. Beberapa waktu lalu dengan pembiayaan baru yang mereka peroleh, Xiaomi menjadi start up paling bernilai sejagad dengan nilai pasar 46 miliar dollar lebih. Sebelumnya, ramai diberitakan mereka dilarang berjualan di India karena digugat oleh Ericsson tentang penyalahgunaan paten meskipun kemudian bisa berjualan kembali dengan syarat tertentu.

India merupakan pasar sukses Xiaomi setelah China, Sepanjang lima bulan memasarkan produk smartphone mereka di India, Xiaomi menjual satu juta lebih smartphone. Baru-baru ini, hanya dalam 6 detik melakukan flash sale Redmi Note 4G laku sebanyak 40 ribu unit.

Kesuksesan Xiaomi tersebut kemudian dikunci oleh Lei Jun, CEO Xiaomi yang selalu meniru gaya Steve Jobs dengan sebuah postingan blog di Weibo tentang kesuksesan Xiaomi selama tahun 2014 yang lalu. 

Lei Jun mengatakan dalan blog post nya bahwa penjualan sebelum pajak Xiaomi selama tahun 2014 adalah 12 miliar dollar AS dengan jumlah smartphone yang dijual sebanyak 61,12 juta unit, meningkat sebesar 227% dibandingkan tahun 2013. Namun tidak disebutkan seberapa banyak keuntungan Xiaomi sepanjang tahun 2014.

Bila dirunut ke atas apa yang diungkapkan secara garis besar tersebut adalah kesuksesan Xiaomi yang mungkin terbilang cepat. Tentunya Xiaomi tidak akan mengendorkan ekspansi mereka di tahun 2015 ini dan mungkin saja target mereka adalah menjual sebanyak 100 juta smartphone.

Target 100 juta smartphone tersebut telah dimulai dengan merilis seri lanjutan dari Redmi 1S, yaitu Redmi 2 yang warna-warni dengan spesifikasi yang lebih bagus dan koneksi 4G dengan harga kurang lebih sama dengan Redmi 1S. Strategi harga murah, tetapi bukan murahan ini merupakan strategi yang akan terus dilakukan Xiaomi sampai satu titik nanti di mana mereka akan memberikan harga kurang lebih sama dengan vendor lain yang lebih dulu eksis.

Selain itu, rumor tentang seri lanjutan dari flagship Mi4 terus berembus yang kabarnya dalam waktu dekat juga akan dirilis Xiaomi. Bahkan mungkin bukan Mi5 yang akan dirilis tetapi Mi4S dengan spesifikasi paling baik dengan harga jauh lebih murah dari pesaing seperti Samsung, LG, Lenovo atau Huawei.

Namun tentu, langkah maju Xiaomi tersebut bukan tanpa rintangan. Kita melihat satu titik lemah Xiaomi, yaitu di sisi paten. Ericsson yang menggugat Xiaomi di India tahu betul bahwa sukses Xiaomi tersebut merupakan andil mereka juga karena ada paten yang mereka miliki yang digunakan Xiaomi dalam perangkat mereka. Jika Ericsson memandang Xiaomi tidak patuh atau tidak membayar lisensi paten, maka mereka menggugatnya ke pengadilan.

Seperti yang ditulis oleh WSJ, tampaknya akan hal-hal kecil namun penting ini mungkin yang akan membuat langkah Xiaomi menjadi berat. Masalah paten Qualcomm di China yang kini tengah diselidiki oleh otoritas China mungkin akan berimbas kepada Xiaomi.
Qualcomm’s customers in China include Huawei Technologies Corp. and ZTE Corp. – established telecom companies that hold thousands of patents and have increasing ambitions to sell smartphones to consumers. But its customers also include Xiaomi, the start-up that had leapt to the top of China’s smartphone market in three short years. It holds relatively fewer patents. 
“The current situation domestic mobile phone makers are facing is that some companies own lots of patents but less market share, while some companies own fewer patens but lots of users,” said Li Junhui, contract research fellow with the IPR Study Center at the China University of Political Science and Law.
“It could become a problem in the short term for companies like Xiaomi,” said Shanghai-based patent lawyer Yuan Yang.
Semakin tinggi pohon Xiaomi, akan semakin kencang angin yang menerpa. Pengandaian itu sebenarnya sebuah logika yang nyata adanya di dunia terutama di bisnis smartphone. Lawan-lawan Xiaomi seperti vendor yang telah lebih dulu eksis tentu tidak membiarkan pasar mereka terus-terusan digerogoti oleh Xiaomi. Vendor terutama Samsung, Sony, LG akan berupaya mempertahankan pasar mereka dengan mati-matian. Samsung terutama yang kini mengalami kelesuan akan kembali dengan produk yang lebih terjangkau tetapi spesifikasi bagus. 

Demikian juga dengan vendor asal China sendiri seperti Huawei dan Lenovo. Huawei dikabarkan mengalami peningkatan penjualan cukup signifikan di tahun 2014 yang lalu berkat strategi yang pada dasarnya meniru Xiaomi. Huawei dengan seri Honor-nya memberikan spesifikasi bagus dengan harga juga terjangkau hingga bisa mendongkrak penjualan sebanyak 20 juta lebih. Pemasarannya pun meniru Xiaomi, yaitu dengan flash saleTampaknya Huawei belajar dari cerita sukses Xiaomi dalam membangun hype dan memberikan smartphone dengan spesifikasi bagus tetapi harga cukup terjangkau.

Demikian juga dengan Lenovo. Berkat kepemilikan mereka terhadap Motorola yang sedari awal sudah memberikan smartphone bagus dengan harga murah bukan hal yang sulit lagi untuk meneruskan tradisi tersebut. Tinggal menjalankan flash sale, baik untuk Lenovo sendiri dan mungkin juga nanti Motorola. Saya percaya, sukses Xiaomi akan ditiru banyak vendor lain sehingga pertarungan di tahun 2015 ini akan sangat panas.

Tentu akan sangat menarik, sejauh mana Xiaomi bisa terus melaju hingga bisa mengkudeta Samsung di posisi raja smartphone. Terlebih sebenarnya di AS, pasar yang sangat menjanjikan Xiaomi hampir-hampir tidak dikenal. Ini tantangan serius bagi Xiaomi karena mereka tidak memiliki pabrik sendiri (sejauh ini) untuk mempercepat atau melipatgandakan produksi mereka guna berekspansi ke negara-negara lain khususnya Amerika Utara dan Eropa.

Belum lagi jika dikaitkan dengan komentar sinis Jony Ive terhadap Xiomi. Tantangan untuk masuk ke pasar AS tentunya sangat berat sehingga boleh jadi Xiaomi akan fokus di pasar di mana akan sulit bagi Apple untuk mengajukan tuntutan hukum. Saya memperkirakan di tahun 2015 ini Xiaomi masih akan fokus di pasar yang telah mereka masuki di tahun 2014 seperti Indonesia, Malaysia, dan India serta mungkin ke Brazil dan bersabar untuk tidak masuk ke pasar yang berisiko tinggi seperti Korea Selatan dan Amerika Serikat.


Penjualan Perdana Galaxy Note8 Tandai Peresmian Galaxy International Experience Store Terbesar se-Asia Tenggara

Pengguntingan pita tanda dibukanya Galaxy International Experience Store Pada tanggal 29 September yang lalu, Samsung Electronics Ind...