Tuesday, December 30, 2014

Must Have Android Apps Tahun 2014

Aplikasi Android sudah berkembang sedemikian rupa. Sebagai platform mobile nomor satu saat ini ketersediaan aplikasi merupakan hal yang krusial. Namun karena sedemikian banyaknya  aplikasi bisa jadi pengguna malah bingung aplikasi apa yang akan mereka download (mungkin untuk pertama kali). 

Untuk yang seperti ini, sepertinya Google sudah menyediakan berbagai pengelompokan aplikasi ke berbagai kategori. Beberapa waktu yang lalu, Google merilis Aplikasi Terbaik di Tahun 2014. Dalam kategori ini, Google memberikan data beberapa aplikasi yang termasuk terbaik yang tidak melulu merupakan aplikasi yang banyak dipakai seperti GMail.

Kemudian Google merilis Aplikasi yang Harus Dimiliki Setiap Pengguna Android atau Must Have Apps. Sesuai dengan namanya, sepertinya Must Have Apps merupakan aplikasi esensial di setiap kategori aplikasi.

Google mendata sebanyak 127 aplikasi yang harus dimiliki oleh setiap pengguna Android. Aplikasi tersebut bisa saja tidak pernah Anda gunakan sebelumnya, seperti Umano sebuah aplikasi News Agregator yang bisa didengarkan pengguna. Terus terang saya tak pernah melirik aplikasi ini karena saya lebih suka menggunakan FlipBoard, Google News Stand dan SmartNews. Namun tentu sangat banyak juga aplikasi yang sudah banyak digunakan seperti FlipBoard, Evernote, SoundCloud, eBay, Pocket, EyeEm, Tumblr dan masih banyak lainnya. 

Tentu Google tidak menyatakan secara tegas seperti apa kriteria sebuah aplikasi masuk ke dalam kategori Must Have Apps ini. Terlebih lagi dalam satu kategori tertentu, terdapat beberapa aplikasi, misalnya untuk kategori foto ada EyeEm, Aviary, dan lainnya. Tampaknya bagi saya sendiri Google memberikan beberapa pilihan dalam satu kategori tertentu dan memasukkan beberapa aplikasi ke dalam satu kategori. Nantinya, pengguna dapat memilih aplikasi mana yang termasuk Must Have tersebut yang akan dipakai.

Tentunya dengan makin dekatnya tahun baru, Google ingin menyimpulkan dari sekian banyak aplikasi yang berada di Play Store aplikasi mana saja yang terbaik dan mana yang harus dipakai oleh pengguna. Ini adalah semacam tools yang bisa memudahkan pengguna untuk tidak terlalu repot mencari aplikasi yang akan digunakan.

Untuk mengetahui aplikasi apa saja yang termasuk Must Have Apps ini bisa dilihat di link INI

Wednesday, December 24, 2014

Beli Aplikasi di Google Play Tidak Repot Lagi Berkat Indosat Billing

Indosat Carrier Billing
Membeli aplikasi di Google Play  tidak pernah saya lakukan. Ada beberapa alasan mengapa hal tersebut terjadi. Pertama saya tidak memiliki kartu kredit, kedua saya tampaknya belum butuh aplikasi berbayar, masih terasa enak menggunakan aplikasi gratisan, meskipun tentu saja terbatas dan disertai oleh iklan.

Alasan lain adalah bagi saya sepertinya operator di Indonesia kurang kreatif atau kurang memaksa Google untuk bekerja sama dengan mereka dengan sistem potong pulsa. Padahal sistem ini lumayan mudah untuk dilakukan karena pengguna tinggal membebankan pembelian aplikasi tersebut ke tagihan bulanan atau potong pulsa langsung bagi mereka yang menggunakan prepaid.

Sampai dengan awal Desember yang lalu, sebelum Indosat mengumumkan kerja sama mereka dengan Google, tidak ada satupun operator yang berhasil mengajak Google untuk bekerja sama. Operator sepertinya hanya mengumbar janji dan tak pernah merealisasikan janji tersebut.

Demikianlah pada tanggal 8 Desember yang lalu, Indosat secara resmi mengumumkan kerja sama mereka dengan Google. Dengan kerja sama ini, pelanggan Indosat dalam membeli aplikasi kini dapat menggunakan Indosat Billing. Nantinya bila membeli aplikasi, jumlah pembayaran akan ditagihkan ke tagihan bulanan bagi pelanggan paska bayar dan akan dipotong pulsa untuk pelanggan prabayar.

Kerja sama ini tentu sangat menarik. Kerja sama ini merupakan pertama dan satu-satunya di Indonesia sejauh ini karena operator lain belum melakukan hal yang sama dengan Google. Selain itu, kerja sama ini memberikan efek pengganda yang cukup besar terkait dengan aplikasi buatan anak Indonesia yang kini bisa mengadu untung di Google Play dengan memberikan harga tertentu dan bisa dibeli banyak pengguna karena sistem pembayaran yang lebih mudah. Nantinya karena kemudahan yang ditawarkan oleh Indosat Billing akan semakin banyak pengguna Android yang ingin membeli aplikasi. Selama ini salah satu faktor banyak pengguna tidak mau membeli aplikasi adalah tidak adanya kartu kredit sehingga Indosat Billing merupakan solusi cerdas yang patut disyukuri.

Namun tentunya, kerja sama ini tidak sekaligus bisa dinikmati semua pelanggan Indosat. Saya sendiri setelah tiga minggu terus-menerus mencoba membeli aplikasi, belum juga tersedia Indosat Billing dalam pilihan pembayaran. Namun kebanyakan teman saya sudah bisa menggunakannya, bahkan satu hari setelah adanya pengumuman resmi kerja sama tersebut. Ini artinya tinggal menunggu waktu saja.

Tentunya pengguna akan memilih metode pembayaran yang paling mudah dan paling sederhana. Saya percaya Indosat Billing punya masa depan yang cukup baik karena pengguna Indosat akan terdorong untuk menggunakannya dibandingkan dengan menggunakan kartu kredit. Jadi kartu kredit sudah tidak diperlukan lagi.



Sambil menunggu adanya pilihan Indosat Billing dalam metode pembayaran di akun saya, ada baiknya saya ceritakan pengalaman teman dalam membeli aplikasi dengan metode pembayaran Indosat Billing ini.

Pertama sekali tentu saja masuk ke Google Play. Kemudian tentukan akan membeli apa, misalnya membeli buku. Kliklah buku yang akan dibeli seperti terlihat seperti ini.



Setelah terlihat apa yang akan dibeli selanjutnya klik BUY IDR 22,500. Nantinya setelah mengklik akan muncul metode pembayaran seperti terlihat di atas. Klik Enable Indosat Billing seperti gambar berikut ini.



 Setelah klik Enable Indosat Billing nantinya akan terbuka jendela baru seperti berikut ini.


Setelah itu akan muncul jendela untuk mengisi data. Isilah data dengan lengkap dan kemudian klik SAVE.


Isi dengan data yang lengkap sehingga nantinya akan dilanjutkan ke langkah berikutnya. 



Klik Acceptdan akan terbuka jendela berikutnya seperti di bawah ini. 



Setelah mengisikan password akun Google dan klik CONFIRM akan ada pemberitahuan berikut ini.



Dari cara yang diterangkan di atas, ternyata memang sederhana bukan? Setelah konfirmasi tentu saja aplikasi, buku, atau berlangganan koran atau majalah sudah bisa dinikmati.

Metode pembayaran dengan Indosat Billing tentu saja mudah dan sederhana. Dengan kelebihan tersebut, saya percaya akan makin banyak pengguna yang memanfaatkan metode seperti ini.

Sumber Gambar: Atas Kebaikan Mataharitimoer

Google Jadi Pemenang Penjualan Paten Konsorsium Rockstar

Pada tahun 2011 yang lalu, Google melakukan pertarungan  dengan Konsorsium Rockstar yang dipimpim oleh Apple Inc. untuk memperebutkan 6.000 paten Nortel yang bangkrut. Saat itu, sebagaimana saya cata di Kompasiana, Google hanya datang sebagai penggembira. Bentuk ketidakseriusan Google adalah dengan memberikan penawaran berdasarkan konstanta Matematika. 
Pertama Google memberikan penawaran di angka 1.902.160.540 yang merupakan Konstanta Brun.  Angka kedua yang diberikan Google adalah sebesar 2.614.972.128 yang merupakan Konstanta Meissel–Mertens. Angka terakhir yang diberikan Google adalah  3,14159 (miliar) saat penawaran mencapai 3 miliar dollar. Angka ini dikenal dengan Pi. 
Menurut Dan Lyons Google tidak pernah serius dalam penawaran paten Nortel tersebut. Keikutsertaan mereka lebih karena keinginan agar rival-rivalnya seperti Apple dan Microsoft ikut serta dan membayar mahal untuk paten tersebut. Artinya Google ikut agar harga paten Nortel membubung sehingga rivalnya membayar mahal karena kekhawatiran mereka jika Google memenangkan lelang paten Nortel tersebut.
Hal ini dibuktikan beberapa waktu kemudian, Google membeli Motorola Mobility yang memiliki paten sekitar 24.500 (termasuk yang dalam proses). Dengan membayar hanya 12,5 miliar dollar Google memperoleh 24.500 paten dan bonus handset maker, pembuat handset, yaitu Motorola. Artinya Motorola sebenarnya diperoleh secara gratis oleh Google karena fokus mereka lebih kepada paten yang dimiliki oleh Motorola. Hal ini tentu jauh lebih murah dibandingkan yang dibayar oleh rival-rival mereka yang 4,5 miliar hanya untuk 6.000 paten tanpa mendapatkan bonus karena Nortel sebenarnya sudah bangkrut.

Konsorsium Rockstar-lah yang sangat serius untuk mendapatkan paten Nortel tersebut. Konsorsium ini dipimpin oleh Apple Inc, beranggotakan Microsoft, BlackBerry Ericsson, dan Sony. Keseriusan mereka terutama Apple dan Microsoft adalah karena dominasi Android yang semakin menjalar ke mana-mana jika tidak dihadang dengan paten. 

Paten yang dibeli oleh Konsorsium Rockstar tersebut kemudian digunakan untuk menggugat Google dan beberapa produsen Android seperti HTC, Huawei, dan Samsung atas pelanggaran paten. Namun ternyata, gugatan paten tersebut berakhir damai karena adanya kesesuaian pembayaran tertentu di antara kedua belah pihak.

Tampaknya, Konsorsium Rockstar mungkin menyadari bahwa angka yang mereka bayarkan memang terlalu tinggi dan sadar terbawa oleh permainan Google karena sepanjang tahun 2011 hingga 2014 hampir tidak ada kasus gugatan konsorsium ini yang maju ke pengadilan dan memaksa Google dan produsen Android lainnya berhenti memproduksi atau menjual handset karena pelanggaran paten.

Ujungnya adalah beberapa waktu yang lalu, Google dan beberapa produsen Android bersepakat untuk membayar lisensi paten yang nantinya akan diteruskan oleh RPX, sebuah perusahaan berbasis di San Fransisco yang membeli 4.000 paten dari Konsorsium Rockstar.

Bila kita analisis, jumlah yang dibayarkan Konsorsium Rockstar pada tahun 2011 adalah sebesar 4,5 miliar dollar. Sementara ketika menjualnya ke RPX sebesar 900 juta dollar saja. Jumlah ini tentu sangat jauh dengan 4,5 miliar yang mereka bayarkan sebelumnya.

Saya menduga bahwa ongkos peran paten yang sangat besar memaksa konsorsium Rockstar pada akhirnya mencari jalan damai. Ujung-ujungnya mereka menjual paten tersebut ke RPX, nantinya RPX akan melisensikan paten tersebut ke 30 perusahaan, termasuk Sisco dan Google.

Hal ini juga pertanda baik dalam sistem paten, di mana pihak-pihak bersengketa menghindari jalan ke pengadilan dan lebih suka untuk mencari nilai yang bisa disepakati bersama untuk melisensikan paten yang dipermasalahkan karena biaya perang paten seperti yang dilakukan Apple Inc, terhadap Samsung sangat besar, tidak hanya biaya uang tetapi juga psikologis karena beberapa rahasia perusahaan harus dibuka di pengadilan.

Bagi Google sendiri, tampaknya ketidakseriusan mereka menawar paten Nortell pada tahun 2011 dan kemudian membeli Motorola dan menjualnya kembali ke Lenovo tampaknya memberikan hasil yang maksimal. Konsorsium Rockstar terbawa suasana dan membeli paten Nortell senilai 4,5 miliar dan hanya dapat 900 juta ketika menjualnya kembali, sedangkan Google sampai saat ini tetap memegang 24.000 lebih paten Motorola dan bisa meminjam paten Nortel dengan biaya yang jelas lebih murah dibandingkan membelinya dulu di angka 3,1 miliar dollar.

Saya percaya, paten di bisnis smartphone adalah hal yang sangat krusial dan bisa menjamin kelangsungan bisnis perusahaan. Oleh karena itu, sudah sewajarnya para pemegang paten untuk lebih mencari jalan damai dengan melisensikan paten dibandingkan membawanya ke pengadilan. 

Pengalaman Konsorsium Rockstar yang merugi karena terburu-buru membeli paten karena hendak membawa Google dan produsen Android ke pengadilan menjadi alasan yang menarik untuk tidak seharusnya berperang melalui paten. Lebih baik memajukan inovasi dan saling melisensikan paten dengan nilai yang bisa disepakati bersama.

Thursday, December 18, 2014

BlackBerry Classic, BlackBerry Back to Basic

BlackBerry Classic
Situs The Verge menjuluki BlackBerry Classic yang baru saja dirilis oleh BlackBerry sebagai Smartphone For Yesterday. Ungkapan The Verge tersebut tidaklah salah karena di zaman sekarang ini layar sentuh hampir melingkupi semua smartphone yang dijual di pasar. iPhone, Android dan Windows Phone semuanya fokus pada layar sentuh. Namun BlackBerry ingin berbeda, mereka tetap merilis smartphone dengan fokus kepada keyboard fisik yang mumpuni dan layar sentuh kecil sebagai "hiasan" dan jawaban bahwa mereka sama sekali tidak meninggalkan layar sentuh.

BlackBerry Classic yang dirilis BlackBerry menganut konsep sebagai alat untuk produktifitas para pekerja profesional. Sudah bukan rahasia bahwa keyboard fisik selalu lebih unggul dalam hal pekerjaan seperti mengetik email. Jumlah kesalahan yang terjadi, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan keyboard yang dilayar sentuh karena pengguna benar-benar menekan apa yang ingin mereka tampilkan. Ini menjadi kekuatan BlackBerry sejak lama, selain keamanan. Namun di pasar yang dipenuhi oleh touchscreen seberapa kuat BlackBerry bersaing dengan keyboard fisik?

Bila kita lihat dan telusuri, sejak John Chen menjadi CEO BlackBerry, BlackBerry makin terlihat untuk memenangkan pelanggan profesional mereka yang berpindah haluan ke iPhone dan Android. Mereka tidak begitu peduli bahwa smartphone yang mereka rilis mendapat cibiran karena desain kotak yang aneh seperti BlackBerry Passport. Demikian juga dengan BlackBerry Classic.

Secara spesifikasi, hampir tidak ada yang menonjol yang bisa diberikan oleh BlackBerry di Classic. Dengan prosesor Snapdragon yang bisa dikatakan uzur yaitu 1,5 GHz dual core (2012), layar kotak sebesar 3,5 inchi beresolusi 720 x 720, kamera 8 dan 2 megapiksel, RAM 2GB dan ROM 16GB plus sd card up to 128GB. 

BlackBerry fokus kepada keyboard fisik yang nyaman digunakan untuk mereka yang ingin produktifitas lebih baik. Ini adalah tujuan utama BlackBerry Classic, yaitu untuk produktifitas. Jadi jangan harapkan kamera depan yang ber-megapiksel besar untuk mengikuti trend selfie atau layar sentuh lebar kualitas full HD untuk menikmati film atu YouTube.

BlackBerry seolah memberikan garis tegas antara mereka dengan iPhone dan Android. Mereka sengaja tidak ikut trend layar sentuh lebar seperti dulu pernah mereka lakukan dan ternyata kemudian gagal total karena pelanggan setia mereka merasa hampir tidak ada lagi perbedaan antara BlackBerry dengan iPhone dan Android karena sama-sama memiliki layar sentuh yang lebar dan hilangnya keyboard fisik yang mereka sukai.

John Chen tampaknya memahami hal ini. Ia sepertinya tidak takut untuk dicap So Yesterday dengan merilis smartphone berlayar minimalis dan keyboard fisik elegan. Ia fokus untuk memenangkan pelanggan BlackBerry yang sangat mencintai keyboard fisik karena mereka adalah pekerja profesional yang ingin memiliki smartphone yang membantu meningkatkan produktifitas dalam bekerja, bukan smartphone untuk selfie atau menonton YouTube dan film.

Saya rasa John Chen berada di jalur yang benar dalam membawa BlackBerry untuk bisa kembali bersaing di pasar smartphone. Pengguna die hard BlackBerry masihlah sangat banyak dan mereka meskipun mungkin telah menggunakan iPhone atau Android tetap membutuhkan BlackBerry untuk bekerja dan keamanan. Di sini serasa BlackBerry Classic menjadi masuk akal meskipun review menunjukkan bahwa kinerjanya juga tidak istimewa

Satu hal yang perlu pula dikritisi adalah soal harga yang juga tidak tergolong murah. Dengan spek kelas menengah yang dimiliki oleh BlackBerry Classic, harga 449 USD Unlocked terasa cukup mahal. Namun, mungkin memang bukan di sana fokus BlackBerry. Mungkin BlackBerry memperkirakan bagi profesional harga 449 USD bukanlah harga yang mahal karena memang ditujukan untuk mereka. Bukan untuk mereka yang suka selfie atau menonton YouTube.

Satu lagi, meskipun ditujukan untuk para profesional yang ingin terus produktif berkat keyboard fisik, belum tentu juga pekerja profesional akan beralih ke BlackBerry Classic atau Passport. Android dan iPhone sudah menunjukkan bahwa mereka juga cukup baik untuk dibawa bekerja meskipun berbasis layar sentuh. Ini tantangan yang cukup berat bagi BlackBerry plus apakah carrier mau bekerja sama kembali dengan mereka, misalnya carrier di AS.

Spesifikasi lengkap BlackBerry Classic bisa dilihat di link INI


Tuesday, December 16, 2014

Review Aplikasi: Yogrt, Lebih Dekat dari yang Dekat

Aplikasi Yogrt
Seberapa banyak aplikasi media sosial yang Anda miliki? Seberapa banyak teman yang benar-benar menjadi teman dari media sosial yang Anda ikuti tersebut?

Kebanyakan pengguna media sosial berteman dengan siapa saja hingga orang-orang yang ada di ujung dunia. Padahal sangat banyak teman lain yang lokasinya dekat dan masih berada dalam suatu daerah yang mungkin akan jadi teman akrab karena bisa bertemu offline dengan lebih mudah. Dengan berada di lokasi terdekat, seorang calon teman akan bisa diketahui lebih detail hingga mungkin bisa menjadi teman yang sangat akrab. Pertanyaannya, bagaimana menemukan teman yang berada dalam satu lokasi tersebut?

Jawabannya dengan menggunakan Aplikasi Yogrt

Sudah hampir dua bulan ini saya menggunakan aplikasi Yogrt di Android (sementara hanya tersedia untuk Android). Aplikasi berbasis lokasi ini cukup menarik karena aplikasinya ringan (hanya sekitar 4 MB), tidak boros space dan baterai. Selain itu antarmukanya menarik dengan warna ungu yang menarik mata.

Untuk menggunakan aplikasi ini tentu saja pertama sekali harus men-download-nya dari Play Store di LINK INI. Setelah mendownload aplikasi Yogrt, pengguna kemudian bisa mendaftar melalui email atau akun Facebook. Setelah itu petualangan mencari teman baru di lokasi terdekat bisa dimulai.

Fitur Pencarian Teman
Ketika mencari teman ada beberapa pilihan opsi yang dapat dilakukan. Opsi yang pertama tentu saja berdasarkan lokasi terdekat atau Nearby dan yang kedua Random. Dalam pilihan Random ini nantinya akan muncul teman-teman, tidak hanya dari lokasi terdekat tetapi juga yang jaraknya sangat jauh. 

Masih ada pilihan di bawah pilihan Nearby tersebut, yaitu Most Active, Most Liked dan Most Viewed. Bila yang dipilih Nearby dan Most Active, maka profil calon teman yang muncul adalah mereka yang berada di lokasi terdekat dan paling aktif. Demikian juga dengan pilihan Most Liked dan Most Viewed.

Hal yang saya sukai dari Yogrt ini adalah Mini Games-nya. Ada beberapa pilihan Mini Games yang digunakan untuk menantang teman sebelum menerimanya sebagai teman. Saya suka sekali memberikan tantangan ke banyak calon teman untuk melihat sejauh mana cocoknya ia dengan saya. Ini artinya jika kita menggunakan tantangan ini kita akan mengetahui sejauh mana kecocokan dengan calon teman tersebut. Jika cocok 100% artinya bisa menjadi teman, lalu saling chatting atau bertemu offline untuk hal yang lebih serius. Setidaknya kita mengetahui beberapa hal penting yang disukai atau tidak disukai oleh calon teman tersebut sehingga kita bisa memperkirakan seperti apa dirinya nanti ketika bertemu.
Kalau sudah cocok, jadi teman, bisa chatting
dan menantang main game
Hal ini merupakan cara baru untuk berteman di media sosial. Selama ini orang cenderung hanya melihat profil seseorang (misalnya di Facebook atau di Twitter) lalu percaya begitu saja dengan profil tersebut dan kemudian berteman. Namun sayang sekali teman yang ditemukan dengan cara ini, kecuali sangat sering berjauhan jarak, tetapi juga kadang merepotkan dengan segala update status yang tidak menentu dan malah sering jualan.

Fitur History
Dengan mencari teman menggunakan Mini Games, kita mengetahui bahwa seseorang cocok atau tidak dengan kita. Ini sebuah cara inovatif untuk melakukan pertemanan sehingga kalau benar-benar cocok bisa bertemu secara offline. Di sini saya melihat kelebihan aplikasi Yogrt yang tidak dimiliki oleh aplikasi media sosial lainnya.

Terdapat juga cara mudah untuk mencadi teman seseorang, yaitu dengan memberikan LIKE pada profil seseorang. Jika ia membalas memberikan LIKE maka akan menjadi teman dan dapat saling chatting atau bertemu offline. Cara seperti ini jarang saya gunakan karena saya tidak bisa mengetahui karakteristik calon teman tersebut, misalnya apa yang ia suka dan apa yang tidak disukainya. Dengan bermain Mini Games saya lebih bisa memilih teman yang cocok atau sesuai. 

Untuk mendokumentasikan segala yang dilakukan di Yogrt terdapat fitur History. Fitur ini menarik karena merupakan catatan ringkas tentang apa saja yang dilakukan di Yogrt. Bila ada teman yang menantang main games akan terlihat di History. Demikian juga bila mengirimkan tantangan, cocok atau tidak cocok dengan calon teman atau bila tantangan yang diberikan ditolak. Demikian pula bila ada LIKE dan siapa saja yang sudah melakukan LIKE.

Setelah berteman lalu apa?

Bisa chatting juga di Yogrt dengan
berbagai Emoji
Tentu setelah berteman pertanyaannya, What Next? Banyak yang dapat dilakukan setelah berteman dengan seseorang di Yogrt. Chatting adalah salah satunya dengan berbagai pilihan emoji yang menarik untuk mengungkapkan perasaan atau situasi. Selain itu aktivitas menantang teman dengan Mini Games tidak akan berhenti setelah seseorang menjadi teman. Kita dapat menantang teman untuk mengalahkan skor yang kita peroleh dalam games tertentu, misalnya Color Blind atau Beat The Penguin. Tentunya Anda tak mau kalah dengan teman, untuk itu dengan bermain mini Games ini akan sangat menarik karena selama ini setelah berteman dengan seseorang, kita tak dapat menantangnya bermain games secara langsung. Hal yang sering dilakukannya hanya chatting atau saling berkirim DM. Ini tentunya tidak menarik.

Yogrt telah menyediakan beberapa mini games yang menantang untuk dilakukan. Tantang teman Anda untuk mengalahkan skor yang Anda peroleh. Anda dapat memberikan hadiah, misalnya jika ia bisa mengalahkan Anda, Anda harus mentraktir dirinya. Lain kali jika ia kalah, gantian ia mentraktir atau memberikan hadiah tertentu kepada Anda. Menarik bukan?
Mini Games di Yogrt
Bagi saya sendiri, Yogrt ini menarik, dan perlu pengembangan lebih lanjut. Pertama sekali tentu menyediakan aplikasi serupa bagi pengguna iOS Apple (iPhone dan iPad). Kemudian tentu memperbanyak mini Games karena mini Games ini merupakan hal yang sangat menarik di Yogrt. 

Terkait dengan Mini Games ini ada yang menarik dari Yogrt. Sepanjang 15 Desember hingga akhir Desember 2014 Yogrt menyediakan iPhone 6 gratis dan voucher belanja jutaan rupiah. Caranya sangat mudah, pertama download Aplikasi Yogrt, kedua mainkan game YogSanta dan ketiga bagikan skor yang diperoleh di Facebook. Mudah bukan? Kapan lagi download Aplikasi dapat iPhone 6 dan voucher belanja gratis?

Yuk download Yogrt temukan saya di  sana yah ...

Friday, December 12, 2014

Review Andromax G2 Limited Edition dari Smartfren

Andromax G2 Limied Edition
Sekitar bulan Oktober yang lalu, Smartfren merilis smartphone terakhir yang mereka rilis sepanjang tahun 2014, yaitu Andromax G2 Limited Edition. Pada seri sebelumnya, yaitu G2, Smartfren menggandeng Haier, sedangkan untuk seri G2 Limited Edition ini Smartfren menggandeng Coolpad yang menyediakan perangkat sekaligus Cool UI untuk navigasi.

Perlu diketahui bahwa G2 Limited Edition ini benar-benar TERBATAS karena hanya diproduksi sebanyak 100.000 unit dan tidak akan ditambah lagi meskipun permintaan dari konsumen lebih tinggi.

Saya berkesempatan  menggunakan Andromax G2 Limited Edition ini hampir dua minggu sebagai smartphone yang saya bawa sehari-hari. Kesan dan dan pengalaman saya dapat dibaca berikut ini.

Whats in The Box:
1. Smartphone Andromax G2 Limited Edition
1. Buku Panduan
1. Kartu Garansi
1. Headphone
1. Charger + Kabel Data
1. Baterai
1. SIM Smartfren yang sudah terpasang
1. Paket Bonus Data 600 MB selama satu minggu
1. Flip cover
1. Pelindung layar


Bila kita perhatikan dari spesifikasi di atas, spek yang ditawarkan oleh Andromax G2 Limited Edition tidak jauh berbeda dengan seri G2 sebelumnya. Perbedaan terdapat di luas layar, dimana G2 berlayar 4,5 inchi, sedangkan G2 Limited Edition berlayar 5 inchi. Untuk jenis layar G2 Limited Edition sama dengan seri G2, yaitu  FWVGA dengan kepadatan piksel yang sama, yaitu 450 x 854 piksel. Untuk software terdapat perbedaan di mana G2 berbasis Jelly Bean 4.3, sedangkan G2 Limited Edition KitKat 4.4.2. 

 

Perbedaan kecil lain yang terdapat di G2 Limited Edition adalah adanya Cool Life UI unuk bernavigasi. Selain itu baterai G2 Limited Edition sebesar 2000 mAh, lebih besar dibandingkan dengan seri G2 yang sebesar 1750 mAh. Untuk ROM dan RAM, G2 Limited Edition mempertahankan apa yang ada di seri G2, yaitu 4GB dan 512 MB.

Di sisi kamera, Smartfren juga tetap mempertahankan apa yang ada di seri G2 terdahulu dengan kameran belakang ber LED Flash berkekuatan 5 megapiksel dan kamera depan 1,3 megapiksel (interpolasi). Bagian sensor pada G2 Limited Edition, Smartfren mengurangi satu sensor yang ada di seri G2, yaitu Magenetic Field. Di sektor Audio, Snapdragon Audio+ pada seri G2 digantikan oleh Dolby Digitasl Plus Audio untuk kualitas suara yang lebih baik.

Kesimpulannya, G2 Limited Edition tidak terlalu jauh berbeda dengan seri G2 sebelumnya. Perbedaan terdapat di luasnya layar, besarnya kekuatan baterai, dan audio. Sayang sekali sektor RAM dan ROM tidak ditingkatkan sehingga menjadikan G2 Limited Edition ini dari segi ROM dan RAM sama persis dengan G2. Saya berharap RAM yang diberikan setidaknya 1GB dengan ROM tetap di 4GB.

Seperti biasa ketika pertama kali unboxing, Smartfren menyertakan cukup banyak aplikasi bawaan yang sebagian besar bisa di uninstall dengan mudah. Dari sekian banyak aplikasi bawaan tersebut hanya aplikasi Uangku dan Excite Point yang tidak bisa diuninstall. Selebihnya aplikasi seperti My Smartfren saya biarkan, demikian juga aplikasi antivirus Smartshield.

Dengan ROM yang hanya 4GB  tentulah akan sangat terbatas yang bisa dilakukan. Dengan beberapa aplikasi yang saya download, ruang yang bersisa sekitar 1 GB lebih. Untuk itu, sangat disarankan ketika membeli seri G2 Limited Edition ini untuk sekaligus membeli micro SD Card.

Cool Life UI
RAM yang hanya 512 MB tentu membuatnya terbatas untuk dipasangi berbagai game berat. Saya menyarakan aplikasi yang dipasang seperti Candy Crush, WhatsApp atau Telegram, Facebook, dan Twitter. Untuk aplikasi agar tetap terhubung dengan teman dan komunitas, saya rasa G2 Limited Edition ini sudah sangat memenuhi.

Prosesor yang dipakai untuk G2 Limited Edition adalah prosesor yang sama pada seri G2 yaitu Snapdragon Quad Core 1,2 Ghz.  Kinerja keseluruhan ketika menggunakan media sosial, browsing dan chatting hampir tidak ada masalah. Meski terdapat beberapa lag kecil ketika membuka beberapa aplikasi secara bersamaan, misalnya Twitter dan Google Plus. Pun ketika membuka panel notifikasi, layar kadang bergerak sendiri, namun tidak cukup menganggu.

Pada G2 Limited Edtion ini Coolpad dan juga Smartfren menyertakan Cool Life UI untuk bernavigasi. UI Cool Life ini memberikan efek transisi di layar sesuai keinginan. Nantinya jika berpindah dari satu layar ke layar yang lain seperti ada kesan tiga dimensi yang cukup elok untuk dilihat. UI Cool Life ini membagi aplikasi menjadi Apps dan Downloaded Apps. Sayangnya saya bukan penyuka tampilan seperti ini. Namun bagi Anda yang suka efek transisi dan tak mau capek mendownload launcher lain, Cool Life ini  tidak masalah anda gunakan.

Thursday, December 11, 2014

Erica Griffin, Techno Vlogger Cantik yang Menyita Perhatian

Erica Griffin
Tidak banyak perempuan dengan fokus review gadget saat ini yang saya ikuti. Kebanyakan kalaupun ada beberapa seperti di situs CNet ataupun ReCode, mereka umumnya tidak membuat video sendiri untuk gadget yang mereka review. Di antara yang sedikit itu, muncullah satu nama, yaitu Erica Griffin.

Beberapa hari terakhir saya menonton beberapa video review smartphone dan tablet yang tidak hanya terbatas pada Android, tetapi juga iPhone dan Windows dari Erica Griffin. Satu videonya yang cukup menarik perhatian adalah mengenai layar Nexus 6 yang burn. Temuan Erica Griffin ini menarik karena beredar anggapan bahwa Motorola memakai layar AMOLED versi lama. Hal tersebut juga membuat Motorola mengganti Nexus 6 yang layarnya burn tersebut.

Beberapa waktu yang lalu, Pocket Now menjuluki Erica Griffin sebagai Angel of Tech dan merilis video yang menampilkan Erica Griffin. Saya rasa di mana dunia review gadget dengan menggunakan video (Vlogger) saat ini dikuasai oleh laki-laki di mana Marques Brownlee berada di pucuknya, kehadiran Erica Griffin memang patut diberikan julukan seperti itu.

Sejauh ini Erica Griffin sudah menghasilkan 386 video dengan kualitas semuanya HD dan sangat enak untuk ditonton. Hal yang saya sukai dari Erica Griffin ini adalah detail yang ia berikan. Ia sangat detail, berbeda dengan Marques Brwonlee yang cenderung lebih melihat secara umum. 

Durasi videonya pun tergolong cukup panjang, seperti Review Nexus 9 yang hampir 30 menit. Setiap ia merilis videonya dan membaginya di Google Plus, komentar pun berhamburan. Update yang dilakukannya selalu mengundang banyak komentar dan pujian karena detail yang ia tampilkan.

Sejauh ini subscriber-nya di YouTube masih sangat jauh dibandingkan Marques Brownlee, yaitu 316.566 dan jumlah view sekitar 39 juta lebih. Namun saya percaya, mungkin tak butuh waktu lama baginya untuk bisa mendekati Marques Brownlee karena Vlogger cantik ini memang menguasai apa yang dikatakannya.


Apa yang diperlihatkan oleh Erica Griffin ini adalah bukti bahwa perempuan juga punya sense yang sangat bagus terhadap gadget dan bisa mereview gadget sebaik pria melakukannya. Erica Griffin juga memberikan persepktif bagus untuk perempuan agar bisa menjadi Vlogger techno karena di bidang ini perempuan belumlah sesukses bidang lainnya.


Monday, December 8, 2014

Liquid Leap Fitness Tracker Untuk Hidup Sehat

Liquid Leap
Pertama kali melihat Liquid Leap pada akhir Oktober 2014 yang lalu. Waktu itu sempat memegang sebentar dan tidak sempat menanyakan kapan smartband (gelang pintar) tersebut akan dirilis Acer Indonesia untuk pasar Indonesia. Dan ternyata di akhir tahun 2014 (sekitar hampir dua bulan dari pertama kali saya lihat) Acer Indonesia resmi merilis gelang pintar mereka ke pasar. Gelang ini sebagaimana pada awalnya disebut Liquid Leap.

Bertempat di Double Bay (di samping) Taman Menteng, Acer Indonesia pada hari Sabtu yang lalu (6/12) merilis Liquid Leap untuk pasar Indonesia. Perangkat kecil minimalis ini cukup menarik karena berfungsi sebagai fitness tracker yang independen tidak tergantung kepada satu smartphone tertentu seperti kebanyakan wearable yang dirilis oleh produsen lainnya. Dengan independensinya tersebut, Liquid Leap diarahkan kepada tujuan yng lebih umum dan bisa digunakan siapa saja asal memiliki smartphone berbasis minimal Android Kitkat dan iPhone iOS 7 dan Bluetooth 4.0.

Spesifikasi Liquid Leap: 
Display : 1 inch OLED (128x32) touchscreen display
Waterproof csrtified: IPX7
Sensor: Accelerometer
Battery: Rechargeable (Non Replaceable)
Dimension: 243 x 17.3 x 9,9 mm
System Requirement: Android KitKat adn above, iOS 7 and above, Bluetooth 4.4, Acer Leap Manager (downloadable on PlayStore and AppStore)

Kalau melihat spesifikasi ini, gelang pintar Liquid Leap ini didesain minimalis dengan lebar hanya 17 milimeter dan layar OLED 1 inchi. Layar sentuh 1 inchi ini bisa menjadi navigator untuk berbagai aktivitas yang dilakukan seperti lari, jalan kaki, hiking, bahkan tidur. Sesuai dengan tujuannya, Liquid Leap didesain untuk men-track kegiatan apa pun yang dilakukan penggunanya, menampilkan notifikasi dari smartphone, menampilkan SMS (meskipun hanya nama pengirim dan dua baris pertama, dan sebagai kontrol musik.

Sebagaimana dipaparkan oleh Dimas Setyo, Product Specialist PT Acer Indonesia, Liquid memberikan ketahanan baterai hingga 7 hari. Dengan satu kali pengisian baterai, Liquid Leap akan merekam aktivitas pengguna termasuk jumlah langkah, jarak tempuh lari, kalori yang terbakar dan siklus tidur selama 24 jam 7 hari tanpa henti. 

Dengan menghubungkan Liquid Leap kepada smartphone melalui Leap Manager via Bluetooth, Liquid Leap akan memungkinkan pengguna terhubung dengan smartphone. Penerima bisa menerima notifikasi secara realtime melalui Liquid Leap.

Selain itu, Liquid Leap bisa memberikan kemudahan mengontrol lagu yang sedang dimainkan pada smartphone pengguna. Liquid Leap bisa memutar lagu, menghentkannya, memutar lagu berikutnya atau kembali ke track sebelumnya tanpa harus menyentuh layar smartphone.

Liquid Leap didesain tahan air hingga kedalam 1 meter selama 30 menit. Ini artinya Liquid Leap ini bisa dibawa untuk aktivitas air yang seperti berenang atau mandi. Itu artinya pada aktivitas basah  tersebut Liquid Leap masih bisa merekam kegiatan penggunanya. 

Hands On
Pada acara tersebut juga dilakukan hands on dengan melakukan berbagai kegiatan, terutama lari keliling Taman Menteng. Hands on dimulai dengan menghubungkan Liquid Leap ke Leap Manager yang telah di-download sebelumnya. Menghubungkan Liquid Leap dengan smartphone/leap manager sangat mudah dan tentunya Bluetooth harus dinyalakan terlebih dahulu.
Tampilan Leap Manager ketika dibuka

Leap akan menampilkan empat angka unik
Masukkan empat angka unik tersebut dan
Leap Manager akan tersambung dengan Liquid Leap
Setelah Liquid Leap tersambung dengan smartphone, Liquid Leap tersebut siap untuk dipakai ke mana pun pengguna pergi. Menariknya atau poin plus dari Liquid Leap ini ada pada universalitas pemakainnya yang tidak tergantung kepada smartphone atau software perangkat tertentu. Ini artinya jika Anda menggunakan iOS dan Android sekaligus keduanya bisa digunakan untuk memantau data kesehatan atau aktivitas yang anda lakukan sehari-hari.

Setelah Liquid Leap terpasang kegiatan apa pun bisa diukur, misalnya berlari keliling Taman Menteng seperti yang dilakukan Sabtu kemarin. Berapa jarak tempuh, berapa kalori yang dibakar akan ditampilkan  Liquip Leap ini.  Dalam hands on dilakukan berbagai kegiatan antara lain lari dan main bola. 

Tentu saja sebuah alat yang menarik plus tampilan Liquid Leap ini yang cukup bergaya dengan warna hitam yang bisa dipadupadankan dengan pakaian, baik untuk bekerja maupun untuk berolahraga.
Liquid Leap terpasang di tangan dan akan merekam kegiatan pengguna

Ketika bermain bola, Liquid Leap tetap dapat digunakan
Untuk hands on sambil olahraga renang tidak sempat dilakukan. Namun, demikian, Liquid Leap dapat dibawa mandi tanpa harus khawatir rusak karena sudah water proof (bukan water resistant).

Dari hands on yang hanya beberapa saat ini dilakukan, Liquid Leap ini cukup atraktif sebagai fitness tracker dan bikin penasaran untuk segera mencoba menggunakannya. Tampaknya tidak fully smart wearable dengan tujuan multi fungsi karena Liquid Leap tidak diberikan fungsi mengecek tekanan darah atau tool lainnya. Fungsi utama Liquid Leap adalah fitness tracker, penghubung dengan smartphone dan sekaligus pengendali smartphone pada beberapa keperluan serta bisa mengatur siklus tidur dengan memberikan notifikasi nada getar.

Akan tetapi tetap saja bagi yang suka gaya hidup sehat yang selama ini bergantung kepada berbagai aplikasi di smartphone  seperti Google Fit, Run Keeper dan lainnya tentu akan lebih mudah membawa Liquid Leap dibandingkan dengan membawa smartphone. Liquid Leap ini juga cukup keren untuk dijadikan asesoris pada pergelangan tangan. 

Tentunya hands on yang beberapa saat tersebut tidak akan memenuhi rasa penasaran bagaimana sebenarnya Liquid Leap bekerja untuk berbagai kegiatan, misalnya lari, fitness, Yoga, jalan kaki atau kegiatan lain yang ditujukan untuk membakar kalori. Semoga nanti akan ada full review yang bisa lebih menelaah sejauh mana kemampuan Liquid Leap ini.

Acer Indonesia mengatakan bahwa Liquid Leap ini sudah tersedia di Erafone tertentu. Untuk harga mungkin sebuah keunggulan tersendiri karena Acer hanya memberikan harga Rp999.000,00 dan bila konsumen membeli dalam masa promosi, tersedia opsi membeli Liquid Jade dengan Liquid Leap gratis. 

Nah tunggu apa lagi, dengan harga yang kurang dari satu juta rupiah, anda sudah dapat memperoleh sebuah fitness tracker yang keren dan canggih.

Thursday, December 4, 2014

Oktober 2014, Android Terus Memimpin, iOS Apple Mendekat

Data penguasaan pasar terbaru yang dirilis oleh Kantar World Panel menjadi bukti sahih betapa bagusnya penjualan iPhone 6. Di negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia,  penguasaan pasar iOS naik menjadi menjadi 40%. Hal ini makin mendekatkan iOS ke pesaing mereka, yaitu Android di beberapa pasar seperti AS dan Inggris meskipun jaraknya masih terlalu lebar.

Kantar World Panel seperti biasa merilis data penguasaan pasar di beberapa pasar terkemukan dunia seperti Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Spanyol, Amerika Serikat, China, Australia, dan Jepang.

Di Jerman, per Oktober 2014 pasar masih dikuasai oleh Android dengan penguasaan pasar sebesar 74,9% turun sebesar 2,6% dibandingkan Oktober tahun lalu. iOS Apple justru  mengalami kenaikan hingga 3,1% dan menguasai 16,9%. Windows mengalami kenaikan tipis, sebesar 0,7% dengan penguasaan pasar 7%.

Di Inggris, iOS Apple mengalami peningkatan sangat pesat hingga 10,4% dibandingkan tahun lalu hingga mampu menguasai 39,5% pasar. Android mengalami penurunan sebesar 2,3% dan menikmati 52,3% pasar. Windows juga mengalami penurunan penguasaan pasar cukup besar, yaitu 4,3% dari 12% menjadi hanya 7,7%.

Di Amerika Serikat tampaknya iOS Apple dengan rilis iPhone 6 dan iPhone 6 Plus tidak begitu berpengaruh karena Apple hanya memperoleh tambahan penguasaan pasar 0,7%, yaitu dari 40,8% menjadi 41,5%. 

Pasar Jepang merupakan pasar yang sangat menarik dan dikabarkan penjualan iPhone 6 dan iPhone Plus di sana juga cukup bagus. Namun jika dibandingkan dengan angka tahun lalu, iOS Apple justru mengalami penurunan yang cukup drastis dari pemimpin pasar yang menguasai 61,1% pasar kini tersisa hanya 48%. Ini artinya iOS Apple mengalami penurunan sebesar 13,1%. Di sisi lain, Android mengalami peningkatan penguasaan pasar di Jepang, yaitu dari 36,2% menjadi 48,1% dan berhasil mengalahkan iOS untuk menjadi pemimpin pasar Jepang.

Bila kita perhatikan, Android dan iOS terus mendominasi pasar dan makin mengukuhkan terjadinya duopoli di pasar smartphone. Windows dari Microsoft pada sebagian pasar yang diteliti oleh Kantar World Panel mengalami penurunan yang cukup siginifikan seperti di Inggris, Perancis, Italia, Amerika Serikat, dan China. Bahkan hampir di seluruh pasar yang diteliti oleh Kantar World Panel menunjukkan penguasaan pasar kurang dari 15%. Posisi Windows cenderung stagnan atau mengalami penurunan.

Duopoli Android dan iOS ini sepertinya akan terus berlangsung beberapa tahun ke depan mengingat Windows tidak menunjukkan perlawanan yang berarti dan keengganan beberapa produsen untuk menghasilkan smartphone berbasis Windows, seperti Huawei.

Sumber: Kantar World Panel

Tuesday, December 2, 2014

ZTE Rilis Tiga Smartphone Seri Blade Terbaru Untuk Pasar Indonesia

Bertempat di Three Buns, Kebayoran Baru Jakarta Selatan, ZTE produsen smartphone yang sangat dikenal di China merilis tiga smartphone seri Blade terbaru mereka untuk pasar Indonesia. Ketiga smartphone seri Blade tersebut adalah ZTE Blade Vec Pro, ZTE Blade G Lux, dan ZTE Blade G

Dalam acara tersebut, Fritz Wang, Managing Director ZTE Handset Unit Indonesia mengatakan bahwa ZTE Corporation melihat keinginan konsumen yang kuat untuk memiliki handset impiannya tersendiri. Sebuah handset yang memiliki teknologi tinggi, desain yang praktis, dan mampu memenuhi kebutuhan dari setiap individu serta tentunya dengan harga yang terjangkau.

ZTE yakin bahwa ZTE Blade Series akan mampu menarik setiap lapisan pasar. Ia menambahkan bahwa ZTE juga sangat menyadari bahwa sekarang ini, setiap orang membutuhkan handset yang mereka genggam untuk menjadi partner dalam kehidupan sehari-hari mereka dan inilah apa yang ditawarkan oleh ZTE Blade series. ZTE Blade Series dapat memenuhi kebutuhan dan gaya dari masing-masing individu.

Dalam pemaparannya, Fritz Wang mengatakan bahwa bahwa demi mengubah image ZTE sebagai perusahan komunikasi yang tradisional, ZTE Corporation telah memilih tiga kata kunci untuk menggambarkan perusahaannya, yaitu Cool, Green, dan Open, untuk menunjukkan segala inovasi-inovasi yang terus berjalan. 
“Kami ingin membuktikan bahwa ZTE lebih dari hanya sekedar sebuah perusahaan komunikasi. Kami fokus pada customer, kepada para pengguna produk kami. Kami merancang perangkat yang sesuai dengan budaya  yang ada".
ZTE Blade Vec Pro

ZTE Blade Vec Pro
Produk flagship terbaru, ZTE Blade Vec Pro memberikan konsumen pilihan smartphone octa core prosesor yang terbaik dengan harga tejangkau. Dengan pilihan 7 class exposure, 6 pilihan efek warna, 13 pilihan scene, independent focus dan exposure, panorama, dan HDR, menjadikan ZTE Blade Vec Pro memiliki keunggulan sebagai kamera profesional. ZTE Blade Vec Pro menyediakan pengalaman entertainment dengan prosesor true octa core, image processing yang lebih cepat, dan konsumsi baterai yang lebih rendah. Pengguna juga dapat merasakan perbedaan pada presisi dan glass fiber scratch retardant serta tanpa sidik jari, dan juga desain yang sangat unik dan ultra tipis dengan tebal 7,5mm.

ZTE Blade Vec Pro merupakan smartphone dual SIM dengan prosesor octa core dari MediaTek plus ROM 8GB dan RAM 1GB. ZTE Blade Vec Pro memiliki layar HD seluas 5 inchi dengan kamera belakang 13 megapiksel dan kamera depan 5 megapiksel. Baterai yang digunakan untuk mendukung kinerjanya adalah sebesar 2.300 mAh. 



ZTE Blade G Lux 
ZTE Blade G Lux memiliki desain yang ringkas dan canggih, serta merupakan smartphone berbasis Kitkat FWVGA dengan layar 4.5 inch dan 1.3GHz dual core termurah. Seri ini dibuat dengan layar anti gores dan memiliki poin ekstra pada kamera, yaitu  5 megapiksel plus 2 megapiksel, HDR, panorama, self timer & face detection, dan burst shot. Fitur AQUA touch (blue ring) memberikan kebebasan untuk penggunanya dalam mengatur BACK KEY dan MENU KEY sesuai dengan kebiasaan personal. ZTE Blade G Lux menyasar pasar anak muda sebagai segmen utama. 

ZTE Blade G Lux dengan prosesor MediaTek 1,3 Ghz dual core memberikan RAM sebesar 512MB dan ROM sebesar 4GB. Kamera belakang sebesar 5 megapiksel (interpolasi 8 megapiksel) dan kamera depan 2 megapiksel. 

ZTE Blade G
ZTE Blade G menawarkan User Interface dan sistem operasi yang mudah dipahami. Smartphone ini juga merupakan smartphone berbasis Android Kitkat termurah seharga Rp699.000,00 dengan prosesor 1.2GHz dual core. ZTE Blade G memiliki desain yang fashionable, ringkas, slim, dan terasa lebih pas dalam genggaman. Seri ini juga dilengkapi dengan layar anti gores dan beberapa poin plus untuk kameranya, seperti smile shot, self timer & face detection, continuous shot, dan video snapshot.

Bila kita lihat ketiga seri Blade yang dirilis oleh ZTE tersebut, tampaknya ZTE memberikan diferensiasi yang jelas bagi ketiganya. Untuk ZTE Blade Vec Pro, ZTE berharap smartphone ini akan menjadi ujung tombak seri Blade karena memiliki spesifikasi yang paling tinggi. Sementara untuk seri ZTE Blade G Lux dan Blade G, secara spesifikasi berada jauh dibawah Blade Vec Pro. Hal ini akan memudahkan calon pengguna untuk memilih smartphone sesuai dengan gaya dan ketersediaan dana. 


Semoga saja meskipun dengan prosesor true octa core, ZTE Blade Vec Pro harganya tidak terlalu mahal sehingga konsumen dapat mempertimbangkan segala kelebihan yang diberikan dengan harga yang masih terjangkau. Saya sendiri sangat berminat untuk mencoba ZTE Blade Vec Pro ini.

Saya percaya pasar smartphone Indonesia masih akan terus berkembang. Jika ZTE bisa memberikan spesifikasi yang lebih baik dengan harga lebih terjangkau, bukan tak mungkin tiga seri ZTE Blade ini akan menjadi primadona pasar Indonesia yang memacang cenderung lebih menyukai smartphone dengan harga yang terjangkau.

Sumber Foto: ZTE 

Monday, December 1, 2014

Aplikasi Android Terbaik Tahun 2014 (The Best Apps of 2014)

Setiap tahun, Google merilis aplikasi apa saja yang terbaik di Google Play. Kriteria yang digunakan Google tidak melulu aplikasi yang dipakai banyak pengguna. Hal ini terlihat pada aplikasi Google yang masuk ke dalam daftar The Best Apps of 2014 hanya aplikasi yang terhitung baru, yaitu Google Fit. Aplikasi yang digunakan oleh sangat banyak pengguna seperti Google Maps, GMail dan banyak aplikasi Google lainnya tidak termasuk ke dalam daftar The Best Apps of 2014.

Dalam daftar The Best Apps 2014 masih terdapat beberapa aplikasi yang masuk ke dalam daftar The Best Apps of 2013 seperti SwiftKey. Secara keseluruhan terdapat 63 aplikasi yang dimasukkan Google ke dalam The Best Apps of 2014.

Aplikasi tersebut mulai dari Wunderlist, TED, SwiftKey, Lumosity, Shazam, IFTTT, Over, Locket Lock Screen, TimeHop, Yahoo News Digest, EyeEm Camera, 7 Minute Workout, Sunrise Calendar, Afterlight, Buzzfeed, dan masih banyak lainnya. Daftar lengkap The Best Apps of 2014 dapat dilihat di link INI

Menarik juga untuk dibahas, aplikasi media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram dan WhatsApp juga tidak berada dalam daftar The Best App of 2014 ini, malah Telegram, aplikasi alternatif untuk WhatsApp yang ada dalam daftar. Selain itu, sebagian besar aplikasi terbaik 2014 tersebut adalah gratis. Hanya aplikasi 7 Minute Workout, djay 2, dan Amazing World Atlas yang berbayar. 

Tentunya dengan merilis aplikasi terbaik ini Google berharap pengguna akan menginstall aplikasi-aplikasi tersebut. Namun, sekali lagi apa yang dibuat Google belum tentu akan diikuti oleh pengguna. Namun setidaknya Google memberikan panduan, aplikasi mana saja yang termasuk terbaik menurut mereka dan tentu saja sangat pantas untuk diinstall oleh pengguna.


Samsung Rilis Galaxy J7 dan J5 Pro More Than Selfie

Galaxy J Friends di launching Galaxy J Pro  More Than Selfie! Kini bukan lagi jaman selfie Namun sudah zamannya Live Vlogging! ...