Wednesday, July 16, 2014

Liquid E700 dan Z200 Smartphone Terbaru Andalan Acer Indonesia

Acer merilis Liquid E700 dan Liquid Z200
Bertempat di Empirica Bar and Lounge, SCBD Sudirman, Acer Indonesia merilis dua smartphone baru andalan mereka untuk bersaing di pasar smartphone Android yang semakin sesak. Kedua smartphone tersebut adalah Liquid E700 dan Liquid Z200. Masing-masing smartphone ini menyasar pengguna yang berbeda, di mana Liquid E700 menyasar para pebisnis profesional yang ingin selalu terhubung, sedangkan Z200 untuk mereka para pemakai pemula smartphone yang berpindah dari feature phone.

Liquid E700
Dalam rilis pers yang saya terima Acer Indonesia mengatakan bahwa Liquid E700 merupakan smartphone yang tepat untuk menemani aktivitas pebisnis profesional. Hal ini karena ditunjung oleh tiga slot kartu SIM dan baterai besar, 3.500 mAh. Baterai sebesar ini diklaim mampu menunjang kegiatan pebisnis profesional yang sangat sibuk sehingga bisa berbicara hingga 24 jam serta ditambah dengan kemampuan waktu siaga hingga 60 jam.
Liquid E700

Liquid E700 menawarkan layar IPS zero gap technology seluas 5 inchi non gorilla glass. Franki Djingga, GM Sales for Android Tablet & Smartphone, Acer Indonesia dalam presentasinya mengatakan Liquid E700 adalah produk premium Acer dengan tampilan elegan bagi para pebisnis profesional, dilengkapi dengan non-stop power. Mungkin yang dimaksud dengan non stop power ini adalah kekuatan baterai yang sebesar 3.500 mAh tersebut.

Acer Indonesia cukup bangga mengatakan bahwa Liquid E700 merupakan smartphone pertama yang memiliki tiga slot kartu SIM. Alasannya adalah sering pengguna harus berganti kartu jika sedang melakukan perjalanan atau klien yang memiliki operator yang berbeda-beda. Dengan tiga kartu SIM pengguna bisa meminimalisasi biaya berlangganan terutama dalam hal percakapan karena tiga SIM tersebut on dan tidak harus melakukan panggilan antaroperator yang berbeda yang biasanya biayanya jauh lebih mahal. Selain itu, jika berada di luar negeri, pengguna dapat membeli SIM dari operator lokal sebab Liquid E700 sudah mendukung quad band sehingga bisa bekerja di negara manapun yang sesuai.

Liquid E700
Kemampuan Liquid E700 ini juga ditunjang oleh RAM sebesar 2GB dan ROM sebesar 16 GB yang bisa diekspansi dengan SD Card. Di sisi software Acer Indonesia merilis E700 dengan Android KitKat ditambah dengan fitur yang dikembangkan oleh Acer, yaitu Acer Float untuk meningkatkan kemampuan multitasking.

Secara hardware Liquid E700 tidaklah begitu menarik karena dilapisi oleh plastik. Dengan ketebalan 9,9 mm dan berat 155 gram, Liquid E700 mengingatkan saya pada seri Galaxy Note generasi pertama. Dari hands on yang saya lakukan, smartphone seluas 5 inchi Liquid E700 ini serasa lebih besar dari smartphone 5 inchi lainnya, misalnya Nexus 5. 

Acer menawarkan Liquid E700 dengan harga Rp3.099.000,00 (sesuai dengan press release yang saya terima). Warna yang ditawarkan ada dua, yaitu hitam dan merah dan akan mulai tersedia pada bulan Agustus 2014. 

Liquid Z200
Berbicara soal smartphone murah, Acer Indonesia ternyata punya perhatian serius untuk kelas ini. Keseriusan Acer Indonesia ini dibuktikan dengan merilis Liquid Z200, smartphone Android kelas bawah dengan keunggulan warna-warni cover belakang empat pilihan, yaitu merah, kuning, biru, dan hitam.
4 Warna Liquid Z200

Liquid Z200 merupakan smartphone dengan layar 4 inchi dan didukung oleh Android KitKat. Kelebihan yang ditawarkan selain harga yang murah (Rp899.000) adalah kualitas audio jernih dengan membenamkan teknologi DTS Sound. Selain itu, kemampuan dua SIM untuk kemudahan data dan telepon serta RapidButton yang memungkinkan pengguna untuk mengoperasikan kamera belakang 2 megapiksel agar bisa mengambil foto dengan mudah dan menyenangkan. 

Warna-warna yang ditawarkan oleh Liquid Z200 ini cukup menarik perhatian karena biasanya smartphone kelas bawah hanya hadir dalam satu warna, yaitu hitam. Dengan memberikan 4 warna pilihan, Acer berharap pengguna memilih Z200 yang lebih berwarna sesuai dengan mereka pengguna awal smartphone.
Liquid Z200

Friday, July 11, 2014

Review: ZTE Nubia Z5S Mini, Smartphone Tipis nan Menawan

ZTE Nubia Z5S Mini
Berbicara tentang smartphone Android tak ada habis-habisnya. Hampir setiap saat smartphone terbaru dirilis. Hal ini merupakan salah satu kelebihan Android yang diisi oleh banyak vendor. Bila kita lihat saat ini, puluhan vendor, dari yang besar seperti Samsung sampai vendor lokal seperti Cross ikut meramaikan pasar smartphone Android.

Di antara vendor Android tersebut terselip nama besar yang kurang bergema karena terlalu sibuk melayani vendor lain, yaitu ZTE. ZTE merupakan vendor besar Android, namun perangkat yang mereka buat diperuntukkan untuk vendor lain seperti Smartfren di Indonesia. Namun, kini berbekal kemampuan yang sangat lebih dari cukup mereka membuat brand mereka sendiri dengan nama Nubia.

Smartphone yang saya review kali ini merupakan sebuah smartphone flagship dari ZTE, yaitu Nubia Z5S Mini. Sebelum terlalu jauh, ada baiknya saya cantumkan spesifikasi penting Nubia Z5 S Mini terlebih dahulu.

* Jaringan GSM 850 / 900 / 1800 / 1900, 3G Network HSDPA 
* SIM  Micro SIM
* Dimensi 134.8 x 65.8 x 7.6 mm (5.31 x 2.59 x 0.30 in)
* Berat 120 gram
* Tipe Layar IGZO capacitive touchscreen, 16M colors
* Ukuran Layar 720 x 1280 pixels, 4.7 inches (~312 ppi pixel density)
* Slot Kartu memori microSD up to 32 GB
* ROM 16 GB, RAM 2 GB
* Kamera Utama 13 MP, 4128 x 3096 pixels, autofocus, LED flash, Features Geo-tagging,        touch focus, face detection, panorama, HDR, Video 1080p@30fps
* Kamera Depan 5 MP
* OS Android OS, v4.2.2 (Jelly Bean) (Tersedia Update KitKat)
* Chipset Qualcomm Snapdragon 600
* CPU Quad-core 1.7 GHz Krait 300
* Sensors Accelerometer, gyro, proximity, compass
* Messaging SMS(threaded view), MMS, Email, Push Email, IM
* GPS with A-GPS, GLONASS

Kalau dilihat dari spesifikasi tersebut, ZTE Nubia Z5S Mini memang merupakan sebuah smartphone andalan atau flagship dari ZTE. Namun bagaimana kemampuannya? Kita akan segera tahu dengan membaca review berikut ini.

1. Rancang Bangun yang Cantik
Sudah seminggu terakhir ini saya menggunakan ZTE Nubia Z5S Mini sebagai smartphone utama yang menemani keseharian saya, baik ketika bekerja maupun bermain. Satu hal yang saya lihat sangat bagus dari ZTE Nubia Z5S Mini ini adalah rancang bangunnya sangat cantik. Smartphone ini sangat tipis, ringan dan memiliki layar yang sangat bagus berteknologi IGZO. Jika anda belum kenal dengan IGZO bisa saya informasikan bahwa layar IGZO terdapat di iPad Air. Dengan teknologi IGZO dimungkinkan body smartphone/tablet menjadi sangat tipis. 

Jika dilihat sepintas, bentuk ZTE Nubia Z5S Mini ini mirip dengan iPhone seandainya iPhone memiliki layar yang sama besarnya. Bodinya memanjang ramping dengan bagian belakang berlapis plastik yang sedikit agak licin jika dipegang. Bagian belakang smartphone ini sangat mudah dibuka, jadi jika anda hendak mengganti SIM Card atau menambahkan memory card akan sangat mudah melakukannya. 

Baterai smartphone tidak bisa dipisahkan dari tubuh smartphone alias menyatu dengan smartphone. Hal ini menjadikan kerugian tersendiri ketika hendak mengganti baterai, namun menurut saya hal ini lebih baik karena pengguna akan terbiasa mengganti baterai dengan baterai asli, bukan yang aspal dengan cara membawanya ke pusat layanan ZTE.

Di bagian belakang ini terdapat kamera utama berkekuatan 13 MP. Pada bagian bawah terdapat speaker dan colokan untuk mengisi baterai. Bagian atas terdapat tombol on/off dan apad bagian kiri terdapat tombol volume. Foto dapat dilihat berikut ini.





Bagian layar depan seperti sudah dituliskan sebelumnya berteknologi IGZO. Layar seluas 4,7 inchi sangat cerah, namun tidak membuat mata cepat lelah. Kecerahan layar dapat diatur secara cepat dengan mengetuk bagian atas layar smartphone sehingga muncul shortcut pilihan kecerahan layar, mulai dari paling rendah, otomatis hingga paling terang.

Bagian depan ini terdapat speaker atas dan kamera depan beresolusi 5 MP dengan fitur AutoBeauty. Nantinya fitur AutoBeauty ini akan dibahas lebih jauh pada bagian kamera. Dengan kamera 5 MP Nubia Z5S Mini sangat cocok untuk yang suka selfie apalagi dengan tambahan fitur AutoBeauty.

2. Kinerja
Sebagai smartphone flagship tentu saja kinerja merupakan ukuran yang sangat penting untuk dilihat. Dalam lebih dari seminggu menggunakan ZTE Nubia Z5S Mini ini saya merasakan kinerja yang sangat baik. Hal ini terutama ditunjang oleh prosesor Quardcore 1,7 Ghz-nya yang cukup powerful dalam menjalankan multitasking. 

Sebagai orang yang technology minded, saya lebih mengarahkan penggunaam smartphone saya untuk selalu terhubung dengan banyak aplikasi news terutama soal teknologi. Berbagai aplikasi news saya pasang seperti Flipboard, Scoop, News 360 dan pastinya Playnews Stand. Membaca artikel dan membaginya ke berbagai media sosial seperti Twitter dan Google Plus merupakan hal yang rutin saya lakukan.

Saya juga pengguna Twitter yang sangat aktif. Ambil foto dan menguploadnya ke Twitter merupakan bagian keseharian yang saya lakukan di smartphone. Selain itu, membaca link-link berita yang dibagi teman-teman ke Twitter merupakan hal yang sangat saya sukai. Hal ini bisa dilakukan dengan sangat baik oleh Nubia Z5S Mini. 

Selain itu, tentunya menulis dan mengirimkan email, menggunakan Google Maps, bermain Games, dan nonton video di YouTube. Dalam menonton video YouTube sangat terbantu dengan layar Nubia Z5S Mini yang brilian. Layarnya sangat bagus sehingga ketika menonton video terasa sangat enak.

Tentunya fungsi multitasking merupakan fungsi yang penting dari sebuah smartphone. Menonton video, dan membaginya ke Twitter bisa dengan mudah dilakukan tanpa jeda. Layarnya cukup responsif dan enak sekali ketika mengetikkan huruf demi huruf. Sering saya membagi foto-foto bagus yang saya temukan di Google Plus ke Twitter. Perpindahan dari Google Plus ke Twitter lalu dari Twitter kembali ke Google Plus sangat nyaman. Kinerja Nubia Z5S Mini bisa saya berikan nilai 8 dalam rentang 1-10. Sangat responsif, bekerja cukup kuat dalam multitasking. 

Tuesday, July 1, 2014

Windows Phone, Nasibmu Hingga Kini

Microsoft punya ambisi besar terhadap Windows Phone. Ambisi ini telah dimulai lima tahun yang lalu dan semakin terasa dengan pembelian Nokia dan menjadikannya Microsoft Mobile. Pembelian Nokia merupakan langkah strategis Microsoft guna mempercepat banyaknya ketersediaan smartphone berbasis Windows Phone di pasar. Dengan mengontrol Nokia, Microsoft menjadi perusahaan hardware sekaligus software sehingga tidak ada lagi jarak dan harmonisasi produk dapat dilakukan dalam satu atap.

Sebenarnya, sebelum pembelian Nokia secara resmi dilakukan, geliat Windows Phone di beberapa pasar penting seperti Eropa dan China mulai terasa. Di beberapa pasar Eropa seperti Italia, Windows Phone menunjukkan perkembangan sangat bagus. Di China, Microsoft juga punya harapan bagus lantaran selama ini Nokia cukup punya nama di sana.

Namun trend peningkatan tersebut tampaknya mulai melambat. Di beberapa pasar penting seperti Amerika Serikat, Jerman, dan China, Windows Phone mengalami penurunan market share sebagaimana dipublikasikan oleh Kantar Worldpanel Comtech via GigaOm.

Menurut GigaOm Windows Phone tidak lagi berkembang di Amerika Serikat dan China. Di Amerika Serikat, China, dan Jerman, persentase penjualan Windows Phone turun bila dibandingkan dengan bulan yang sama (Mei) setahun lalu. Ini berarti dalam tahun kelima Windows Phone itu, platform besutan Microsoft ini mengalami kesulitan di dua pasar smartphone terbesar di dunia. 

Di Amerika Serikat, Windows Phone memiliki pasar 3,8 persen dari penjualan smartphone selama Mei 2014 atau mengalami penurunan sebesar 0,9 persen dari tahun lalu, ketika Windows Phone menyumbang 4,7 persen dari penjualan smartphone. Windows Phone mengalami nasib yang lebih buruk di China karena mengalami penurunan 2,4 persen menjadi hanya 0,06 persen pada bulan Mei 2014. Android mendominasi di China, dengan  penguasaan sekitar 83 persen smartphone yang dijual di sana pada bulan Mei 2014. 

Persentase penjualan Windows Phone juga turun di Jerman. Namun demikian di lima pasar besar Eropa yaitu Jerman, Inggris, Perancis, Italia dan Spanyol  Windows Phone tetap OS ketiga setelah iOS dan Android dengan penguasaan pasar 8,1 persen dari ponsel yang dijual.

Melihat kondisi ini tentu saja agak membingungkan karena Windows Phone mengalami pasang surut penguasaan pasar yang cukup besar, terutama bila dilihat pada pasar China. Di AS pun sebenarnya, penguasaan pasar Windows Phone tidak bisa dikatakan membaik karena tetap berada di bawah 5%. Bandingkan dengan Android yang sebesar 61,9% pada bulan Mei 2014.

China merupakan pasar yang sangat menjanjikan karena ukuran jumlah penduduk yang sangat banyak plus perkembangan ekonomi yang terus naik. Bila kita lihat data dari Kantar, Windows Phone mengalami penurunan yang sangat signifikan dibandingkan bulan Mei 2013 yang lalu. Kini Windows Phone di China hanya menyumbang 0,06 persen dari pangsa pasar di bulan Mei 2014. Sebuah angka yang sangat kecil bila dibandingkan dengan besarnya usaha Microsoft mengembangkan platform Windows Phone.

Saya sendiri berkesimpulan bahwa pengguna saat ini memang sangat sulit untuk menggunakan Windows Phone. Hal yang terjadi adalah pengguna berpindah dari Android ke iOS atau sebaliknya. Sedikit sekali pengguna yang benar-benar pindah ke Windows Phone. Hal ini bukan karena pengguna itu sendiri, tetapi lebih kepada platform Windows Phone yang tidak kunjung menemukan perbaikan.

Empat hal yang dikemukakan oleh CNet beberapa waktu yang lalu, sampai sekarang masih menjadi nilai minus dari Windows Phone. Dengan kekurangan tersebut cukup wajar Windows Phone mengalami kemerosotan dalam penguasaan pasar. Mungkin banyak pengguna yang menggunakan Windows Phone, setelah beberapa lama kemudian meninggalkan Windows Phone untuk kembali memakai Android atau iPhone atau bahkan BlackBerry.

Bagi saya sendiri, Windows Phone tidak pernah jadi daftar belanja smartphone. Saya terkadang lebih tertarik untuk mencoba BlackBerry versi baru dibandingkan mencoba Windows Phone.

ASUS Rilis ASUS ROG GX800, Notebook Gaming Seharga Mobil

ASUS ROG GX800 Seberapa mahal sebuah notebook yang pernah Anda beli? Rp25 juta? atau Rp50 juta? Pernah dengar sebelumnya sebuah noteboo...