Friday, February 28, 2014

Build Your Own Smartphone dengan Project ARA dari Google

Ketika dijualnya Motorola oleh Google ke Lenovo ada satu divisi yang tetap dipertahankan, yaitu Advanced Technology and Projects (ATAP). Divisi ini seperti Google X di Google, yaitu merancang teknologi baru atau sesuatu proyek yang ambisius. Salah satu yang cukup menyita perhatian adalah Project ARA.

Project ARA yang berada di bawah ATAP dari semula (ketika Motorola masih a Google Company) sudah menyita perhatian dengan merekrut salah satu bintang terang dari DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency, lembaga di bawah Departemen Pertahanan AS), yaitu  Regina Dugan. Perekrutan Regina Dugan ini merupakan pertanda bahwa ATAP sangat serius membidik proyek-proyek masa depan terutama terkait dengan teknologi baru. Tentunya bukan hanya Regina Dugan yang direkrut Google dari DARPA, beberapa ahli lain seperti Paul Eremenko juga direkrut. 

Demikianlah pada bulan Oktober 2013 yang lalu, Project ARA secara resmi dirilis ke publik. Dalam rilis awal proyek ini bertujuan membuat smartphone yang bisa dibuat sendiri oleh pengguna, layaknya dulu (dan sekarang pun masih) membuat PC desktop sendiri dari berbagai komponen yang secara bebas di diperoleh di pasar. 

Sebenarnya sebuah hal yang cukup aneh bila mana setiap pengguna bisa membangun smartphone sendiri. Kalau di PC desktop suatu hal yang biasa karena komponennya cukup besar dan bisa dirakit dengan sedikit keahlian. Namun di smartphone, komponennya ada yang sangat kecil dan cukup susah untuk disatukan dalam satu paket yang bisa berfungsi. 

Sebuah hal mustahil merakit smartphone sendiri sebelum dirilisnya Project ARA. Banyak vendor smartphone terutama Apple memiliki device yang sangat sulit untuk diurai. Bahkan pada derajat tertentu smartphone Android juga memiliki kesulitan yang cukup tinggi untuk diurai, meskipun tidak sesulit iPhone.

Namun Google memiliki pemikiran lain. Dengan suatu cara tertentu, Google berkeinginan setiap orang bisa membangun smartphone sendiri dengan serangkaian hardware yang tersedia. Project ARA ditujukan untuk hal ini. Nantinya dengan berbagai komponen yang dihasilkan oleh Project ARA ini, pengguna bisa memilih layar tertentu, prosesor dan bagian-bagian lain lalu disatukan jadi satu alat yang bisa berfungsi layaknya smartphone yang diproduksi oleh vendor lain.



Perlu diketahui bahwa platform untuk Project ARA ini tentulah Android. Dengan demikian nantinya (diperkirakan awal tahun 2015) pengguna sudah bisa membangun smartphone Android mereka sendiri dengan harga yang diperkirakan sangat bersahabat, yaitu mulai dari 50 USD. 

Project ARA ini nantinya akan merilis tiga jenis smartphone sebagaimana dicatat oleh Times:
What the Ara team and its outside collaborators have created is a platform that supports three sizes of phone: mini (rather basic), medium (mainstream) and jumbo (an oversized, phablet-style variant). The size of each is determined by its endoskeleton, or endo for short — the one component of an Ara phone that will be Google-branded, as opposed to being devised by a third-party company.
Bagi saya, Project ARA ini sangat menarik. Membayangkan nantinya dengan komponen-komponen yang tersedia saya bisa membangun smartphone Android sesuai keinginan, baik dari sisi hardware maupun software. Namun menjadi tanda tanya adalah apakah proyek ini nantinya akan melahirkan suatu bentuk tertentu yang dirasa paling cocok dengan pengguna. Ini artinya, bentuk smartphone yang bisa dibangun mungkin akan terbatas berbentuk candy bar atau sejenisnya. Selain itu, teknologi kamera ponsel saat ini sudah sangat maju. Dengan Project ARA ini apakah sisi software kamera dan software smartphone secara keseluruhan sesuatu yang sudah ada (default). Ini artinya akan sulit bagi pengguna untuk melakukan modifikasi secara ekstrim (mengambil software lain) terhadap smartphone yang hendak dibangun.

Mengenai hal ini, Paul Eremenko mengatakan:
The endo is an aluminum frame that contains a bit of networking circuitry so the modules can talk to each other, a tiny back-up battery and not much else. Everything from the screen to the processor to the battery is provided in the form of a module — the medium-sized endo has space for ten of them — which you slide into place to form a phone. In the first prototype, the modules use retractable pins to connect to the endo’s network; later this year, Google plans to replace that approach with more space-efficient capacitive connections. 
Like the expansion slots on a desktop PC’s motherboard, each compartment on the endo is designed to handle any module of the correct size, regardless of its function. Though basic technical issues are sometimes a factor — an antenna can’t just go anywhere on a phone’s body, for instance — the general idea is to design the phone so that you can swap modules in and out at will.

Sebenarnya masih sesuatu yang agak gelap bagi saya sendiri bagaimana nantinya cara kerja Project ARA ini. Namun setidaknya, pemahaman awal saya adalah, saya bisa membangun smartphone Android yang saya inginkan dari serangkaian modul yang terpisah dan kemudian disatukan dengan cara tertentu sehingga bisa berfungsi layaknya smartphone dari vendor seperti Samsung, HTC, LG dan lainnya.

Semoga saja tahun depan saya bisa mencicipi Project ARA ini.

Wednesday, February 26, 2014

Muhammad Arsyad, Aktivis Garda Tipikor Makassar Ditahan Karena Status BBM

Sudah bukan rahasia lagi, Pasal 27 Ayat 3 Undang-Undang ITE menjadi momok yang menakutkan bagi banyak orang yang berinteraksi di dunia internet. Semakin hari, semakin dirasakan penggunaan pasal ini semakin serampangan dan menimpa siapa saja yang tidak disukai oleh suatu pihak dengan alasan Pencemaran Nama Baik.

Kali ini yang terkena getah pasal 27 ayat 3 ini adalah seorang aktivis Garda Tipikor Makassar, Muhammad Arsyad, yang telah dijerat pasal pencemaran nama baik hanya karena status yang terpasang di BlackBerry Messenger (BBM)-nya. Arsyad telah ditetapkan sebagai tersangka karena menulis di status BBM miliknya, “No Fear Nurdin Halid Koruptor!!! Jangan pilih adik koruptor!!!” sejak 13 Agustus 2013. 

Penahanan Muhammad Arsyad ini tentu saja makin menegaskan bahwa Pasal 27 Ayat 3 UU ITE ini digunakan tanpa pilih-pilih dan bisa menimpa siapa saja dengan alasan pencemaran nama baik, apalagi kali ini hanya berupa status BBM. Oleh karena itu beberapa organisasi yang peduli dengan Freedom of Expression di internet melirilis press release yang mengungkapkan ketidaksetujuan mereka atas tindakan penahanan Muhammad Arsyad ini.

Enam organisasi, yaitu Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet – safenetvoice.org), ICT Watch (ictwatch.com), ELSAM (elsam.or.id), LBH Pers (lbhpers.org),  Institute for Criminal Justice Reform (ICJR – icjr.or.id), ICW (antikorupsi.org), Indonesia Online Advocacy (IDOLA) dan Change.org secara bersama menyatakan sikap:

“menolak penggunaan UU ITE yang berakibat pada penahanan Muhammad Arsyad, dan sekaligus menuntut pembatalan atas penahanan tersebut atas nama hak kebebasan berpendapat dan berekspresi”.

  1. Status pada BlackBerry Messenger bukanlah komunikasi yang ditujukan untuk publik luas, melainkan bersifat pribadi dan terbatas dan karena itu tidak bisa dijadikan bukti materi kasus pencemaran nama.
  2. Abdul Wahab sebagai pihak pelapor, bukanlah sebagai “korban” langsung dari pasal pencemaran nama yang dituduhkan, yaitu Nurdin Halid, menandakan proses pemeriksaan dan penahanan atas Muhammad Arsyad tidak berjalan pada aturan hukum yang semestinya
  3. Semakin banyaknya masyarakat umum yang dikriminalisasi dengan penggunaan pasal 27 ayat 3 UU ITE hanya karena mereka berani dan kritis menyuarakan pendapatnya, menggugat ketidakadilan ataupun melantangkan kebenaran.
Penahanan Muhammad Arsyad ini merupakan kasus kesekian kalinya setelah sebelumnya dimulai dengan dijeratnya Prita Mulyasari. Perlu diketahui berdasarkan data dari Safenet, cukup banyak kasus lain yang tidak mengemuka ke publik. Ini artinya kasus Benhan dan Muhammad Arsyad ini hanyalah puncak gunung es dari sekian banyak korban yang dikenakan dengan Pasal 27 Ayat 3 UU ITE ini. Ini menjadi preseden buruk bagi freedom of expression di Indonesia. Untuk itu sudah sewajarnya mereka yang peduli dengan freedom of expression menuntut agar Pasal 27 Ayat 3 UU ITE ini segera dicabut. Jika tidak dalam beberapa waktu ke depan akan  berjatuhan korban lain dan dan makin membungkam pihak-pihak yang kritis dalam menyuarakan pendapat mereka di internet.

Press Release:

Saturday, February 22, 2014

Mengapa Facebook Ngebet Beli WhatsApp?

Saat ini sangat banyak aplikasi perpesanan sosial. Mulai dari WhatsApp, WeChat, Line, Kakao Talk, Facebook Messenger, dan masih banyak lagi. Saat ini perpesanan sosial sangat digemari, terutama oleh kaum remaja. Hal ini karena aplikasi perpesanan sosial tidak lagi hanya pesan tulisan, tetapi juga foto dan sekaligus bisa bermain game dan bertemu idola seperti artis. 

Tentunya sebagai media sosial nomor satu Facebook bisa dikatakan selangkah di depan untuk perpesanan sosial dengan fitur Facebook Messenger-nya. Sayangnya tidak demikian. Sebuah statistik yang dikutip dari Forbes beberapa waktu yang lalu, hasil dari pendataan di Amerika Serikat, Brazil, Afrika Selatan, China dan Indonesia menunjukkan Facebook Messenger hanya unggul di Amerika Serikat. Selebihnya di negara seperti Brazil, Indonesia, Afrika Selatan Facebook dikalahkan oleh WhatApp, WeChat, Line,  dan BlackBerry Messenger.

Di AS, Facebook Messenger memimpin dengan perolehan 46%, diikuti WhatsApp dengan 35%, dan Twitter 24%. Hal yang cukup menarik adalah di Indonesia, di mana WhatsApp memimpin dengan angka 43%, lalu diikuti oleh BlackBerry Messenger 37% dan Line 36%. Artinya Facebook Messenger tidak masuk dalam tiga besar aplikasi perpesanan sosial populer di Indonesia.
Ini artinya Facebook Messenger kurang populer di Indonesia. Pengguna smartphone Indonesia lebih suka menggunakan WhatsApp, BBM, dan Line. Hal ini menjadikan WhatsApp dan aplikasi perpesanan lainnya musuh Facebook. 
Mungkin karena data inilah kemudian Facebook membeli WhatsApp seharga 19 miliar dollar, sebuah rekor bagi startup yang mungkin sulit untuk terulang kembali. Melihat betapa berkuasanya WhatsApp di berbagai emerging market, seperti di Indonesia dan negara-negara di kawasan Afrika. Cukup masuk akal Facebook membeli startup ini, yang sudah hampir dua tahun terus dilihat oleh Mark Zuckerberg. Selain itu, pembelian mahal WhatsApp bisa menghindarkan startup ini dimiliki oleh Google sekaligus menyelesaikan persoalan kurang bagusnya Facebook di perpesanan sosial. Tambahan lagi sebenarnya dengan membeli WhatsApp Facebook berhasil mengalahkan musuh yang selama ini sangat mengancam keberadaan Facebook.
Statistik lain mengungkapkan ada 450 juta pengguna WhatsApp, 70% di antaranya selalu menggunakan aplikasi ini. Bisa dikatakan WhatsApp merupakan raja perpesanan sosial dan bisa mengalahkan BlackBerry Messenger yang lebih dulu ada.
Namun tentunya bukan tanpa efek negatif. Salah satu yang cukup terasa adalah turunnya harga saham Facebook sekitar 2% setelah pembelian WhatsApp diumumkan. Tampaknya analis khawatir bagaimana cara monetisasi WhatsApp sehingga mungkin dalam beberapa waktu ke depan tidak akan memberikan efek positif bagi pendapatan Facebook.
Selain itu, prinsip pendiri WhatsApp, Jan Koum yang tidak suka iklan menambah berat tugas Mark Zuckerberg untuk menempatkan iklan sesegera mungkin di WhatsApp. Efek negatif lain yang cukup terasa adalah yang dilaporkan oleh The Next Web. Menurut situs tersebut semenjak pengumuman pembelian WhatsApp ada 500 ribu pengguna WhatsApp yang pindah ke aplikasi lain yang cukup sepadan, yaitu Telegram. Selain itu di Jerman dilaporkan pengguna pindah ke layanan yang lebih terjamin keamanannya karena khawatir soal privasi akan melanda WhatsApp setelah dibeli oleh Facebook.
Sumber: Forbes

BukBer, Berbagi Bersama Blue Bird Group dan Rumah Harapan

BukBer Blue Bird Group Di sela-sela kesibukan, dua hari yang lalu saya sempatkan untuk hadir di Buka Bersama (BukBer) Blue Bird Group y...