Friday, July 26, 2013

Iconia A1-811, Tablet Android Quad Core Terbaru dari Acer Indonesia

Acer Iconia A1-811
Berapa budget yang anda anggarkan untuk membeli sebuah tablet Android branded baru? Jika anggaran anda maksimal 3 juta rupiah, anda perlu melirik Acer Iconia A1-811 dari Acer Indonesia.

Tablet Iconia A1-811 merupakan tablet Android terbaru dari Acer Indonesia yang dirilis dalam acara berbuka puasa pada tanggal 25 Juli 2013. Dengan harga kurang dari 3 juta rupiah dan akan tersedia pada bulan Agustus 2013 nanti, Iconia A1-811 siap menantang vendor lain semisal Samsung di pasar tablet di Indonesia.

Bila dilihat dari spesifikasi, Iconia A1-811 memberikan spesifikasi yang lebih baik dari para penantangnya di kisaran harga 3 jutaan. Hal ini karena Iconia A1-811 berbasis Android Jelly Bean 4.2.2 yang mendekati seri Nexus karena tidak ada skin. Selain itu prosesor 1,2 GHz dari Mediatek dengan 4 core menjanjikan kinerja mulus untuk melakukan multitasking.

Iconia A1-811 memiliki beberapa kelebihan lain seperti adanya port HDMI untuk menyambungkan tablet ke layar televisi. Ini merupakan sebuah hal yang patut diapresiasi karena tablet yang beredar saat ini kebanyakan tidak memiliki port HDMI sehingga konten yang ada di tablet tidak bisa ditonton di televisi. 

Sekilas karena aspect ratio-nya 4:3 Iconia A1-811 mirip dengan iPad Mini yang memiliki aspect ratio sama. Apalagi layarnya juga sama, seluas 7,9 inchi. Jadi agak berbeda dengan tablet Android lainnya yang luas layarnya 7 inchi dan memanjang. Tentu saja dengan ukuran seperti itu Iconia A1-811 memiliki luas layar lebih luas dengan ukuran panjang 208,7 milimeter dan lebar 145 milimeter dengan ketebalan hanya 11,1 milimeter. Namun beratnya hanya 410 gram. 

Iconia A1-811 menggunakan layar jenis IPS LCD dengan resolusi 1.024 x 768 TFT dengan LED Backlight. Membaca buku atau menonton serta bermain game akan lebih terasa nyaman, apalagi terdapat sensor Gyroscope. 

Kelebihan lain adalah Iconia A1-811 ini sudah menggunakan koneksi 3G sehingga tidak bertumpu hanya kepada jaringan Wifi. Terlebih dengan storage internal yang diberikan sebesar 16 GB plus micro SD card up to 32 GB. Sewaktu saya lihat seberapa banyak storage yang tersedia, ternyata masih cukup banyak yaitu 5 GB untuk versi 8 GB. Namun versi 8 GB ini nantinya tidak akan ada di pasar karena yang tersedia adalah versi 16 GB. Saya perkirakan karena tidak ada skin dan tidak banyak aplikasi bawaan yang dibawa Iconia A1-811, storage yang tersedia setidaknya sebesar 12 GB. Jumlah ini tentu saja sangat besar apalagi ditambah dengan micro SD card.
Acer Iconia A1-811 berwarna putih susu

Sisi kamera juga tidak luput dari perhatian Acer. Acer memberikan kamera belakang sebesar 5 megapiksel dan kamera depan 0,3 megapiksel. Kamera Iconia A1-811 bisa merekam video 30 fps 1080 full HD. 

Pertanyaannya, untuk menopang kinerja multi tasking dan menonton video HD seberapa besar kekuatan baterai yang ada di Iconia A1-811? Acer memberikan baterai dengan kekuatan 4.960 mAh yang diklaim bisa bertahan terus-menerus selama 9,5 jam jika menonton film dengan kualitas HD. Masa standby diperkirakan 408 jam. Tentu saja kekuatan baterai ini sangat dipengaruhi bagaimana pengguna mengatur tablet, misalnya tingkat kecerahan layar. Selain itu juga sinyal operator yang diterima turut memengaruhi, jika sinyal 3G operator sulit didapat, baterai biasanya akan lebih cepat habis.

Spesifikasi lengkap Iconia A1-811 dapat anda lihat di gambar berikut ini. 
Spesifikasi Acer Iconia A1-811
Tertarik dengan Acer A1-811? Saya rasa dengan spesifikasi tersebut di atas, tablet ini bisa dikatakan murah. Cukup banyak fitur yang diberikan dan harga sebesar 2,899 juta sangat realistis. Jika anda tertarik tidak ada salahnya membeli Acer Iconia A1-811 ini karena adanya jaringan 3G plus Wifi dan prosesor 4 core untuk kinerja lebih mulus.

Monday, July 1, 2013

Adakah Rumah Sakit Berpredikat Green Hospital?

Seberapa sering anda mengunjungi rumah sakit? Saya bisa dikatakan sangat sering. Tentu saja lebih banyak karena sakit dan harus berobat ke dokter. Saya ingat, sekitar tahun 2005 anak saya yang pertama lahir di rumah sakit melalui operasi Caesar. Begitupun di awal tahun 2012 yang lalu ketika anak kedua saya lahir, lagi-lagi harus melalui operasi Caesar. 

Tidak berhenti di sana, ketika anak saya diare dan istri saya harus operasi usus buntu, saya harus kembali ke rumah sakit dan menginap dua sampai tiga hari di rumah sakit Jumlah kunjungan ke rumah sakit bertambah lagi ketika ada kakak, adik atau tetangga yang harus dijenguk ke rumah sakit. 

Ingatan saya terhadap rumah sakit adalah tembok putih dingin, sepi dan kadang membuat takut. Hal ini mungkin juga ingatan sebagian besar orang lain. Di rumah sakit sungguh terasa kesedihan, selain tentu ada kegembiraan di saat-saat tertentu. Tembok-tembok rumah sakit putih pucat membuat saya berniat tak sering-sering kembali ke sana. 

Sejauh mata memandang terpampang koridor panjang tempat orang lalu-lalang. Di sisi koridor hanya dibatasi tembok yang memanjang. Belum lagi, jika anda menginap beberapa hari lamanya di rumah sakit. Saya sering menemukan sampah yang dibuang sembarangan, meskipun sudah ada peringatan jangan membuang sampah sembarangan. Hampir tak ada pohon yang bisa menyejukkan mata. Rumah sakit menjadi sesuatu yang kaku, angkuh dengan warna putih yang pucat.

Melihat pengalaman tersebut saya rasa jangankan untuk mencapai predikat Green Hospital, pengelolaan dasar rumah sakit yang bersih mungkin masih banyak rumah sakit yang belum menerapkannya. Kadang saya menemukan kesan kumuh rumah sakit sehingga timbul pertanyaan, bagaimana bisa sebuah rumah sakit kumuh?

Pertanyaan saya seperti di judul artikel ini sebenarnya meragukan akan adanya Green Hospital. Selama berkunjung ke rumah sakit di sekitar Bogor saya belum pernah menemukan sesuatu yang bisa diasosiakan dengan green hospital tersebut. Tentunya klaim saya tersebut berdasarkan beberapa standar yang saya baca. 

Standar tersebut antara lain tidak punya limbah yang berdampak bagi lingkungan, desain gedung rumah sakit hijau, dan efisiensi penggunaa listrik dan air. Standar desain gedung rumah sakit hijau merupakan standar yang paling cepat dilihat dan dinilai publik, salah satunya melalui tersedianya ruang terbuka hijau. Standar lain butuh pendalaman dan informasi yang sangat banyak agar bisa menyimpulkan apakah sebuah rumah sakit sudah menerapkan green hospital

Seperti saya ungkapkan sebelumnya, beberapa rumah sakit di Bogor hampir tidak memiliki ruang terbuka hijau. Di salah satu rumah sakit yang sering saya kunjungi, tersedia sedikit ruang terbuka di sisi koridor yang tidak dimanfaatkan, namun tidak dikelola secara sengaja sebagai sebuah ruang terbuka hijau. Saat itu (sekitar tahun 2010) area terbuka tersebut dibiarkan begitu saja. Tidak ada pohon yang sengaja ditanam untuk memberikan kesan hijau. Malah ruang terbuka tersebut dimanfaatkan pengunjung rumah sakit untuk tempat istirahat dan tidur-tiduran, bahkan sampah berserakan di dekat area tersebut.

Belum lagi jika kita telisik lebih jauh untuk standar apakah sebuah rumah sakit memiliki limbah yang membahayakan lingkungan sekitarnya. Hal ini sangat penting mengingat rumah sakit lebih sering berada di lingkungan tempat tinggal masyarakat. Rumah sakit yang saya kunjungi di Bogor, semuanya berada di lingkungan tempat tinggal masyarakat. Bayangkan jika sisa-sisa barang medis tidak dikelola dengan baik, bisa dipastikan mencemari lingkungan sekitarnya.

Standar di atas merupakan sebagian dari standar sebuah rumah sakit bisa dikatakan green hospital. General Electric mendeskripsikan green hospital sebagai:
Green Hospital project is based on a multi-dimensional approach: the combination of ecology, economy and well-being of people in a hospital.
Konsep General Electric tersebut diterjemahkan ke dalam tujuh standar oleh Hospital 2020, yaitu sebagai berikut.
1. Makanan di Rumah Sakit
2. Penggunaan Air di Rumah Sakit
3. Limbah di Rumah Sakit
4. Penggunaan Alternatif Energi di Rumah Sakit
5. Desain Gedung Hijau Rumah Sakit
6. Efisiensi energi di rumah Sakit
7. Transportasi di Rumah Sakit

Tentunya dengan melihat tujuh standar tersebut di atas, pelaksanaangreen hospital itu sebuah proyek jangka panjang yang cukup berat. Rumah sakit harus memiliki inisiatif yang paling tidak memenuhi sebagian besar dari standar tersebut di atas. Jika bisa 75% saja dari standar tersebut bisa dilaksanakan dengan konsisten, saya percaya rumah sakit tersebut sudah bisa disebut sebagai green hospital.

RSUD Daya Makassar patut diapresiasi karena berkeinginan menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang menerapkan Green Hospital. Namun keinginan saja tentu belum cukup. Butuh banyak hal untuk bisa menyandang predikat Green Hospital tersebut. Namun paling tidak saya percaya, pengelola RSUD Daya Makassar memahami apa makna green hospital tersebut dan bagaimana cara meraihnya.

Satu hal yang lebih penting adalah predikat Green Hospital tersebut sebenarnya tiada artinya, jika setelah dicapai rumah sakit tidak konsisten lagi menerapkan standar green hospital. Kebanyakan dari kita adalah meraih predikat lebih mudah daripada menjaga predikat tersebut. Artinya dengan adanya predikat, sebenarnya upaya green hospital tersebut baru saja dimulai. Diperlukan konsistensi dan upaya terus-menerus agar green hospital tersebut benar-benar diterapkan dalam jangka waktu sangat panjang. Semoga saja RSUD Daya Makassar bisa melaksanakannya dengan baik.


Naik Kereta Api Argo Parahyangan Ekonomi Premium Tuuut Tuuut Tuuut Siapa Hendak Turut Dari Bandung ke Jakarta

Gerbong Kereta Argo Parahyangan Ekonomi Premium Satu hal yang saya senangi kalau bepergian, baik untuk mengurus urusan ini maupun urusa...