Monday, June 24, 2013

Sampai Kapan Facebook Terus Menjiplak

Facebook meniru Google Plus
Penjiplakan atau peniruan merupakan hal yang sangat mudah dilakukan saat ini. Teknologi yang sangat maju memungkinkan sebuah layanan, situs atau aplikasi bisa dibuat kloningannya, bahkan sebelum aplikasi asli yang ditiru berhasil meraih banyak pengguna. Instagram banyak ditiru, bahkan nama depannya saja "INSTA" banyak dipakai untuk beberapa aplikasi dengan tujuan yang berbeda.Padahal dulu sebelum terkenal, mungkin kita tak mengenal aplikasi dengan awalan "INSTA" tersebut.

Facebook beberapa waktu yang lalu merilis tambahan layanan di aplikasi Instagram, yaitu fitur video yang berdurasi 15 detik. Sebelumnya ada aplikasi Vine buatan Twitter yang sangat populer karena mampu merekam video selama 6 detik dan membaginya ke Twitter. Semenjak ada Vine, kepopulerannya membuat Instagram kalah karena link yang menuju Vina lebih banyak dibandingkan ke Instagram.

Untuk membedakan dari Vine, Facebook mengakalinya dengan memberikan durasi video yang lebih panjang, yaitu 15 detik. Namun tetap ide dasarnya adalah Vine.

Jadilah Facebook berpikir untuk melawan Vine dengan menghadirkan fitur video di Instagram. Percaya atau tidak kemampuan rekam video tak berbeda dengan yang ada di Vine. Facebook mungkin berpikir, untuk menghadang laju Vine, mereka perlu menyediakan layanan yang sama, sehingga muncullah video di Instagram.

Tentunya bukan sekali dua hal yang sama dilakukan Facebook. Dulu mereka merilis Poke, sebuah aplikasi yang bisa mengirimkan gambar yang akan terhapus dengan sendirinya setelah beberapa waktu tertentu. Facebook membuat aplikasi Poke sebagai jawaban atas populernya aplikasi Snapchat. Tentu fungsinya pun sama. Saya kira Facebook hanya membedakan sedikit saja Poke dari Snapchat yaitu gambar akan terhapus dalam waktu tertentu yang bisa ditentukan pengguna misalnya 10 detik atau lebih.

Bisa dikatakan Poke merupakan carbon copy dari aplikasi Snapchat. Facebook pun tak malu kalau hanya menjadi peniru, mereka sepertinya hilang ide dan terpaksa meniru sesuatu yang telah ada sebelumnya. Pengguna pun tak begitu mengapresiasi apa yang dilakukan Facebook dengan Poke. Sempat ramai diberitakan, kini Poke hampir tidak ada berita lagi. Penekanannya adalah pada kata Hampir, karena saya tak lagi menemukan berita tentang Poke tersebut dan seberapa banyak yang menggunakan, sedangkan Snapchat terus membuat berita dan dipakai banyak pengguna terutama remaja.

Tidak kalah hebohnya adalah ketika Facebook meniru desain Google Plus. Peniruan ini dilakukan untuk memungkinkan pengiklan membuat iklan yang lebih besar dan lebih terlihat. Peniruan terbaru adalah menghadirkan foto di komentar yang sebelumnya terdapat di Disquss.

Tidak cukup itu saja, kabar terbaru mengatakan bahwa Facebook akan membuat aplikasi seperti Flipboard yang sangat sukses sampai hari ini dengan pengguna 50 juta. Ini merupakan usaha carbon copy berikutnya dari Facebook. Apakah Facebook kehilangan inovasi hingga hanya bisa menjiplak?

Saya rasa sebagai sebuah perusahaan teknologi yang besar, cara kerja Facebook ini tidaklah bagus untuk citra mereka. Apa yang bisa diharapkan dari sebuah perusahaan yang kebanyakan meniru? Meskipun secara legal hal itu tidak salah, namun Facebook terlihat kedodoran dalam hal inovasi dan ide-ide baru untuk tetap membuat layanan mereka relevan.

Secara umur produk, Facebook sudah di titik matang. Mereka sudah berumar 9 tahun. Usia produk seperti ini rentas ditinggalkan pengguna karena pengguna melirik layanan yang lebih baru. Kita melihat pada kasus Friendster dan MySpace yang sebelumnya terkenal kemudian digantikan oleh Facebook. Facebook sebentar lagi juga akan hilang jika masih itu-itu saja.

Untuk menunda ditinggalkan pengguna Facebook memberikan tambahan layanan. Namun sayangnya kebanyakan berupa jiplakan dari produk lain. Pengguna pun tahu akan hal itu dan akan tetap meninggalkan Facebook atau minimal tidak menggunakan aplikasi atau inovasi Facebook tersebut karena mereka sudah menggunakan layanan/aplikasi lain yang ditiru Facebook tersebut. 

Hal yang patut kita lihat adalah bila mana Facebook sendiri yang berinovasi atau melahirkan produk layanan baru, hasilnya juga tidak maksimal. Kasus Facebook Home di Android misalnya, merupakan sebuah kegagalan Facebook dalam berinovasi. Tidak banyak pengguna yang mau Home smartphone mereka dikuasai Facebook. Ini tanda bahwa Facebook sebenarnya sedang bingung apa yang hendak diberikan ke pengguna karena berinovasi gagal, meniru pun tidak sukses. 

Thursday, June 13, 2013

Hitler Ungkap Aksi Copycat Apple Inc. di iOS 7

Sistem operasi iOS Apple Inc. terbaru dirilis dua hari yang lalu dengan nama iOS 7. Sistem operasi tersebut menuai berbagai tanggapan positif dan setuju dengan beberapa pernyataan Tim Cook, CEO Apple Inc. bahwa sistem operasi iOS 7 ini merupakan sebuah revolusi. 

Sangat banyak hal yang diubah olah Apple Inc. di iOS 7. Secara kasat mata bisa kita lihat  penanda sinyal kini dengan dot yang jumlahnya tergantung kekuatan sinyal. Selain itu, ada live wallpaper, shortcut setting yang bisa menghemat waktu pengguna dan sangat banyak lagi jika kita telusuri satu per satu.

Selain tanggapan positif, tentu ada tanggapan negatif dari berbagai pihak terkait dengan fitur iOS7 tersebut. Mantan pegawai Apple Inc. yang kemudian menjadi CEO di Palm (kemudian dijual ke HP) Jon Rubinstein beranggapan fitur iOS 7 Apple Inc. tersebut meniru WebOS yang layu sebelum berkembang.Tidak hanya iOS 7, Rubinstein beranggapan bahwa OS X juga meniru dari WebOS.

Sejauh ini, Google secara resmi tidak memberikan pernyataan terkait dengan iOS 7 tersebut. Sundar Pichai, kepala divisi Android dan Chrome malah antusias untuk bisa mencicipi sesegera mungkin iOS 7. Meskipun demikian, tidak sedikit sebenarnya fitur-fitur Android yang ditiru Apple Inc. dan dimasukkan ke iOS 7. 

Cult of Android dan Android Life merilis tujuh fitur Android yang sebenarnya sudah cukup lama ada di Android kini ditiru Apple Inc. dan dimasukkan ke iOS 7. Masih banyak ladi sumber yang beranggapan sama bahwa iOS 7 setidaknya meminjam banyak fitur dari Android. 

Bila yang lain mengungkapkan peniruan tersebut melalui teks, ada yang lebih pintar mengungkapkannya, yaitu melalui video.  Adalah Eli Fennel, seorang yang mengaku freelance menggarap sebuah video meme dari Film Downfall. Film tentang perang dunia kedua ini memang cukup banyak dijadikan meme karena adanya aksi marah-marah Hitler. Eli Fennel pun memanfaatkan cuplikan ketika Hitler memarahi para stafnya tersebut dengan memberikan teks berbahasa Inggris yang sebenarnya tentu tak cocok dengan bahasa Jerman yang dipakai oleh Hitler.

Kalimat-kalimat Hitler yang berisi kemarahan tersebut diberikan teks Bahasa Inggris yang berisi beberapa aksi copycat Apple Inc. terhadap Android. Bila kita tonton seluruh video tersebut, tidak hanya aksi copycat Apple Inc. yang dikemukakan. Beberapa kelemahan produk Apple Inc. seperti maps dan SIRI juga mengemuka. Selain itu persaingan antara Android, iPhone, BlackBerry bahkan Windows Phone juga diungkap. Tidak ketinggalan pengungkapan Fanboy Apple Inc. seperti Mike Elgan yang berpindah ke Android.

Secara keseluruhan video ini sangat lucu dan menohok Apple Inc. Hebatnya video ini adalah sesuatu yang sebenarnya serius namun disampaikan dengan cara yang lucu dengan tokoh sekaliber Hitler. Saya rasa pemilihan tokoh Hitler dan Film Downfall sangat tepat untuk mengungkap betapa Apple Inc. juga tidak terlepas dari aksi-aksi copycat.

Penasaran dengan video tersebut? Silahkan ditonton di bawah ini.


Wednesday, June 12, 2013

Aplikasi Traffic Mapping Waze Tambahan Bagus Bagi Google

Akhirnya, Google merampungkan pembelian aplikasi traffic Mapping Waze di angka 1,1 miliar dollar (sebagian ada yang menyebut 1 miliar dollar saja). Dalam blog resminya, semalam Google menyampaikan rampungnya pembelia Waze yang seperti terkatung-katung beberapa pekan terakhir.

Pada mulanya, perusahaan favorit yang bisa membeli Waze adalah Facebook. Facebook dikabarkan menawar Waze juga di angka 1 miliar dollar. Namun Facebook menginginkan karyawan Waze pindah ke Silicon Valley untuk bergabung dengan Facebook. Dikabarkan juga Facebook bisa memblok pihak lain karena menawar terlebih dahulu.

Tampaknya Waze tidak ingin pindah dari markasnya saat ini. Aplikasi social maps ini berbasis di Israel dan sudah cukup lama berdiri, yaitu hampir 6 tahun. Oleh karena negosiasi dengan Facebook mandeg, Google  masuk dan menawar Waze. Banyak pihak skeptis Google bisa membeli Waze karena ada Microsoft yang memiliki saham di Waze. Apalagi Facebook telah terlebih dahulu melakukan penawaran. Google menawar Waze di angka kurang lebih sama dengan Facebook dan mereka lebih fleksibel dengan membiarkan karyawan Waze untuk tetap berada di Israel. Apalagi Google punya kantor di Israel, hal ini mempermudah negosiasi.

Google membuktikan bahwa mereka cukup serius untuk membeli Waze. Dua hari yang lalu, sebuah harian di Israel mengabarkan bahwa Google dan Waze sudah hampir pada kata final pembelian Waze di angka 1,3 miliar dollar. Kabar tersebut ternyata menjadi kenyataan dua hari kemudian dengan konfirmasi Google.

Bila kita lihat, angka 1,1miliar dollar bukanlah angka yang kecil untuk sebuah aplikasi. Dulu Instagram dibeli Facebook senilai 1 miliar dollar (sebelum penyesuaian). Kira-kira apa yang diharapkan Google dari Waze karena pada dasarnya Google Maps sudah sangat superior. Dan lagi mungkin timbul kekhawatiran terkait aturan antitrust karena pemain di Maps sangat sedikit. 

Google dalam blognya mengatakan akan membiarkan Waze sementara ini tetap independen. Mereka diberikan kebebasan untuk terus memperbaiki produk dengan kolaborasi Google. Di masa depan Google berharap Waze bisa berkontribusi dan dimasukkan ke Google Maps dan mesin pencarian.

Saya rasa Waze merupakan tambahan bagus bagi Google. Dengan Waze produk Google Maps akan makin bernilai dan makin sulit disaingi oleh pemain lain. Kelebihan Waze yang memperoleh data dari 50 (28 juta aktif) juta pengguna yang terdaftar saat ini adalah kontribusi penggunanya dalam berbagi traffic. Saya sendiri menggunakan Waze dan saya rasa aplikasi ini cukup bagus dan detail.

The Verge memberikan alasan mengapa Waze merupakan aplikasi yang cukup berharga bagi Google.
 Waze also uses crowdsourcing to add context that many other mapping applications don't have. Drivers can upload information about traffic accidents, construction, gas prices, and detours, adding photos and flagging problem spots on the map to alert other drivers. The app also lets users see when their friends are driving to a common destination.
Intinya Waze adalah aplikasi user generated content yang bagus dengan menyediakan teknologi tepat bagi pengguna. Pengguna dapat melaporkan berbagai hal yang mereka alami di jalan dan berbagi informasi tersebut dengan teman mereka di media sosial lain seperti Twitter dan Facebook. Hampir tidak ada aplikasi lain serupa Waze yang fokus di maps dan menggabungkannya dengan media sosial. 


Friday, June 7, 2013

Acer Liquid E2 Smartphone Kelas Menengah Canggih dari Acer

Acer meramaikan pasar smartphone Indonesia dengan merilis smartphone seri Liquid E2 di Plaza Senayan pada hari Rabu tanggal 5 Juni yang lalu. Dalam peluncuran  yang diikuti oleh President Director Acer Indonesia, Mr. Jason Lim, Acer menjanjikan kinerja Liquid E2 tidak kalah, bahkan bisa mengungguli  beberapa smartphone sekelasnya yang telah ada di pasar. Patut dipuji, Acer yang bekerja sama dengan MediaTek bisa menghadirkan sebuah smartphone Quad Core yang bisa dikatakan murah, hanya sekitar 2,499 juta.

Dalam Press Release yang saya terima, Acer Liquid E2 merupakan smartphone quad core Acer pertama yang menggunakan prosesor MT6589 berkekuatan 1,2 GHz. RAM nya sebesar 1 GB dan ROM nya 4 GB yang bisa diekspansi hingga 32 GB. Acer Liquid E2 hadir dengan dukungan dual SIM Card. Baterai yang ada di Acer Liquid E2 berkekuatan 2.000 mAH menjanjikan talk time 9 jam dan masa stand by sebesar 450 jam.

Fitur lain yang sangat penting adalah kamera. Acer membenamkan kamera belakang sebesar 8 megapiksel Auto Focus pada Acer Liquid E2 dengan fitur zero shutter delay. Fitur ini memungkinkan pengambilan foto 10/20/40/99 dengan satu kali pengambilan. Menariknya Liquid E2 menawarkan 9 fitur lain di kameranya yang selama ini hanya ada pada smartphone high end. Fitur tersebut adalah Normal Mode, High Dynamic Range, Beauty Mode, Panorama Mode, Multiangle View, Autoscene, Smile Detection, Best Shot dan Exposure. Sedangkan kamera depan Acer Liquid E2  berkekuatan 2 megapiksel.

Layar qHD seluas 4,5 inchi yang terdapat di Acer Liquid E2 memberikan pengalaman multimedia yang lebih baik. Menonton film dan bermain game akan lebih menyenangkan dengan layar smartphone Acer Liquid E2 yang lebih lebar dibandingkan smartphone sekelasnya seperti Galaxy Ace 2 dan HTC Desire V.

Acer Liquid E2 menggunakan Android Jelly Bean dengan UI Android Default. Ini artinya tidak ada skin seperti Sense yang terdapat di HTC atau Touchwiz yang ada di smartphone Samsung. Dengan demikian, anda bisa merasakan pengalaman menggunakan seri smartphone Nexus dari Google karena UI nya Android default.

Fitur lain yang ditawarkan oleh Acer adalah kecanggihan sistem suara DTS. Kualitas suara yang dihasilkan Acer Liquid E2 luar biasa jernih dengan dukungan DTS Sound. Acer Liquid E2 menjanjikan jangkauan suara yang lebih luas, lebih jelas dan jernih serta natural. Ini tentu sangat bermanfaat sekali ketika mendengarkan musik atau menonton film.

Ketika saya merasakan langsung, Acer Liquid E2 memang enak dipegang. Pas di tangan dan tidak berat, hanya 140 gram. Layarnya cerah dan perpindahan antar layar ke layar berjalan dengan mulus.Bagian belakang atau back cover Liquid E2 terbuat dari plastik. Bagian atas back cover terdapat speaker yang cukup besar, lalu kamera. Di bagian bawah back cover terdapat lagi satu speaker besar. Kalau melihat desain speaker yang besar ini jadi ingat ponsel branded lokal. Namun tentu Acer punya alasan sendiri menggunakan dua speaker besar tersebut.

Saturday, June 1, 2013

Gadget Baru Acer Aspire P3, Ultrabook Apa Tablet?

Riko Gunawan, Head of Product Management Acer Indonesia
memberikan presentasi produk Acer Aspire P3.
 sumber: Acer Indonesia
Hybrid. Kata ini sepertinya kata magis untuk gadget saat ini. Bila beberapa waktu yang lalu kita mengenal hybrid antara snartphone dengan tablet yang disebut Phablet, kini ada hybri baru, yaitu antara tablet dengan Ultrabook. 

Bila sejenak kita lihat ke belakang, hybrid antara tablet dan smartphone yang digagas oleh Samsung dengan produknya Galaxy Note memperoleh sambutan meriah dari konsumen (terbukti dengan penjualan yang bagus). Bisakah hybrid antara tablet dengan Ultrabook mengikuti kesuksesan tersebut?

Saya rasa sangat banyak elemen yang menentukan kesuksesan tersebut dan bukan jawaban yang mudah. Namun setidaknya Acer mencoba mencoba memasuki pasar Hybrid tersebut dengan merilis Hybrid antara Tablet dengan Ultrabook di Senayan City pada hari Kamis 30 Mei yang lalu.

Jika dilihat selintas, Aspire P3 ini mirip dengan tablet Surface. Namun bedanya adalah Aspire P3 merupakan Ultrabook yang sudah disertifikasi oleh Intel. Jadi gadget ini adalah Ultrabook sebenarnya dengan kemampuan tablet sebagai pendamping.

Jason Lim,  President Director, Acer Indonesia mengatakan bahwa Aspire P3 menunjukkan fokus Acer untuk memberikan pengalaman baru  dalam berkomputasi melalui desain yang progresif. Acer mengerti bahwa tren konsumen bergerak pada penggunaan layar sentuh untuk berkomputasi dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Acer Aspire P3 akan melengkapi produk-produk Acer lainnya yang saat ini tersedia di pasar dan untuk menjawab kebutuhan para profesional dengan menghadirkan perpaduan fitur terbaik pada notebook dan tablet.

Kemampuan sebagai Ultrabook
Sebagai Ultrabook yang sudah disertifikasi oleh Intel, Acer Aspire P3 memiliki kemampuan yang patut dicoba. Pengguna dapat menggunakannya sebagai perangkat untuk melakukan kegiatan komputasi sehari-hari seperti membuat presentasi dan berbagi konten multimedia. Kemampuan ini juga termasuk menjalankan berbagai aplikasi sekaligus, seperti video conference sambil membuat dokumen dan mengedit foto, sehingga dapat meningkatkan produktivitas.

Prosesor Intel Core i3 dan Intel Core i5 yang responsif memberikan performa yang dibutuhkan untuk melakukan hal-hal tersebut, sekaligus membuat konsumsi baterai lebih efisien.  Aspire P3 menggunakan Windows 8, sehingga perangkat ini dapat menjalankan berbagai program Office serta program-program Windows lainnya yang penting untuk berbagai keperluan bisnis.

Samsung Rilis Galaxy J7 dan J5 Pro More Than Selfie

Galaxy J Friends di launching Galaxy J Pro  More Than Selfie! Kini bukan lagi jaman selfie Namun sudah zamannya Live Vlogging! ...