Friday, March 29, 2013

Apple Inc. Kalahkan Samsung di Twitter

Samsung Galaxy S4 dan iPhone 5
Jika jumlah tweet yang menjadi ukuran, Samsung kalah telak oleh Apple Inc. Bloomberg melaporkan bahwa ketika iPhone 5 dirilis pada September tahun 2012 yang lalu, terdapat 2,4 juta tweet yang menyebutkan iPhone 5 di Twitter, sedangkan ketika Samsung Galaxy S4 dirilis dua minggu yang lalu, hanya seperlima dari 2,4 juta saja yang tweet yang menyebutkan Galaxy S4.

Hal ini dikemukakan oleh Gene Munster seorang  analis Piper Jaffray sebagaimana dikutip oleh Bloomberg. Menarik karena kedua perusahaan ini sedang head to head dalam pasar smartphone yang sangat ketat dan juga bersengketa di pengadilan paten. Samsung boleh berbangga karena saat ini menjadi raja smartphone. Samsung juga memperkirakan akan mengapalkan sekitar 300 juta smartphone di tahun 2013 ini meneguhkan posisi mereka.

Sementara Apple Inc. meski kini berada di posisi kedua pasar smartphone dunia, namun memiliki tingkat keuntungan yang tinggi. Hal ini tidak lain karena loyalitas tinggi dari penggunanya karena brand Apple Inc sangat kuat. Sudah bukan hal yang aneh, produk Apple Inc. selalu ditunggu penggemarnya, meskipun kuantitas penggemar tersebut kini tidak lagi semasif ketika Steve Jobs masih memimpin Apple Inc.

Kembali ke masalah di atas. Kemenangan Apple Inc. di Twitter ini meneguhkan bahwa appeal iPhone lebih tinggi dibandingkan dengan Galaxy. Hal ini sebenarnya sesuatu yang sangat wajar karena iPhone sudah beredar dari tahun 2007, sedangkan seri Samsung Galaxy S baru masuk pasar di tahun 2010 yang lalu. 

Gene Musnter juga menyebutkan bahwa Apple Inc. akan tetap bisa mempertahankan market share mereka. Meskipun demikian, tidak dijelaskan market share Apple Inc. yang mana yang bisa dipertahankan tersebut karena kini hanya di Amerika Serikat Apple Inc . menjadi penguasa pasar. Secara global penguasaan pasar smartphone ada di tangan Samsung. Namun Apple Inc. cukup bisa berbangga bahwa di Amerika Serikat yang sering dijadikan kiblat perkembangan teknologi smartphone, mereka menjadi nomor satu.

Saya rasa ukuran banyaknya tweet di Twitter belum tentu dapat dijadikan sebagai ukuran bahwa sesuatu merek tertentu lebih memiliki appeal dibandingkan merek lain. Sampai saat ini mungkin belum bisa dibuktikan sepenuhnya bahwa jika suatu merek tertentu berjaya di Twitter akan berjaya pula di pasar. Namun setidaknya hal ini bisa dijadikan tanda bahwa satu merek tertentu memiliki fans atau orang yang menyukai lebih banyak dibandingkan merek lain.

Bila kita lihat seri Galaxy S4 dari Samsung, secara teknologi bisa bersaing dengan iPhone 5. Bahkan pada sisi tertentu bisa mengungguli iPhone 5. Namun masalahnya bukan hanya teknologi tetapi lebih kepada merek yang dibangun secara susah payah. Secara merek tentu saja iPhone Apple Inc. lebih kuat dibandingkan Galaxy S4. Nah ini menjadi dasar ketika orang menyebutkan iPhone 5 lebih banyak dibandingkan Galaxy S4.


Thursday, March 21, 2013

Google Keep Aplikasi Taking Note Penantang Evernote

Setelah beberapa kali muncul rumornya, akhirnya aplikasi Google Keep secara resmi diluncurkan Google. Aplikasi untuk membuat catatan ini merupakan aplikasi kesekian kalinya yang mencoba peruntungan di ranah note yang sudah dikuasai oleh Evernote. Seperti saya tulis sebelumnya, Evernote merupakan aplikasi untuk membuat catatan, contekan, ide, atau apa pun mulai dari daftar belanja, jadwal  dan lainnya yang sangat laku dan memiliki pengguna yang banyak. Kesuksesan Evernote diganjar dengan Editor Choices Apps yang diberikan Google Play kepadanya.

Bisa dikatakan Evernote merupakan aplikasi taking note paling populer. Dengan fungsi yang banyak, cara kerja sederhana dan kelebihan lainnya, Evernote mampu mengalahkan banyak aplikasi serupa. Namun dengan lahirnya Google Keep, akahkah Evernote bisa ditandingi?

Pertama sekali, pagi ini seketika saya mengetahui bahwa Google Keep sudah dirilis, saya langsung menginstall aplikasi ini. Aplikasi ini cukup ringan, hanya 1,5 MB dan kompatibel dengan Android Ice Cream Sandwich atau yang di atasnya. Setelah di instal saya coba untuk membuat sedikit note, seperti terlihat di gambar berikut ini.

Seketika akan menempelkan gambar, ternyata aplikasi ini langsung ke kamera (atau saya yang belum begitu bisa menggunakan). Artinya Aplikasi ini (belum) bisa mengakses galeri foto yang telah kita ambil sebelumnya. Bagusnya, note yang sudah kita buat bisa diedit via Google Drive di dekstop. Ini artinya aplikasi ini terintegrasi dengan Google Drive.

Bila kita telusuri lebih jauh, saya rasa Google memang makin fokus membuat aplikasi-aplikasi baru yang lebih terintegrasi dan fokus utamanya adalah mobile.  Dalam rilisnya di Google Play, Google menyebutkan beberapa fungsi penting Google Keep, yaitu sebagai berikut.
• Keep track of your thoughts via notes, lists and photos
• Have voice notes transcribed automatically
• Use homescreen widgets to capture thoughts quickly
• Color-code your notes to help find them later
• Swipe to archive things you no longer need
• Turn a note into a checklist by adding checkboxes
• Use your notes from anywhere - they are safely stored in the cloud and available on the web at http://drive.google.com/keep
Dengan fungsi yang cukup banyak dan terintegrasi secara cloud, saya rasa Google Keep memberikan hal yang berbeda dibandingkan dengan aplikasi sejenis. Sayangnya, aplikasi ini sangat banyak pesaingnya dan terutama tentu saja dari Evernote. Kita tunggu saja, apakah Google Keep bisa menyaingi Evernote

Wednesday, March 20, 2013

Samsung Galaxy S4 Kalah Kelas dari iPhone 5 dan HTC One?

Samsung Galaxy S4
Sumber: flickr/samsungtomorrow
Seperti telah diduga sebelumnya, Samsung Galaxy S4 berbahan plastik polikarbonat layaknya Samsung Galaxy S3, generasi sebelumnya. Dari sisi desain, hampir tidak ada yang berubah dari Galaxy S4 ini. Bila anda sandingkan dua smartphone Samsung ini, mungkin sulit menebak mana Galaxy S3 dan mana Galaxy S4. Perluasan layar juga tidak terlalu signifikan, Galaxy S3 layarnya seluas 4,8 inchi, sedangkan Galaxy S4 4,99 inchi.

Tentu saja rumor yang sudah cukup lama beredar menemui kebenarannya. Hampir tidak ada kejutan yang diberikan Samsung dari sisi desain dan material yang membangun Galaxy S4. Namun demikian, BOM (Bill of Materials) Galaxy S4 versi 16 GB lebih mahal dibandingkan dengan Galaxy S3 versi 16 GB. Setidaknya hal itu menurut iSuppli yang melakukan virtual tear down terhadap Galaxy S4. Bill of Materials Galaxy S4 sebesar 236 dollar AS dan bila ditambahkan dengan biaya pembuatan yang sebesar 8 dollar AS, maka total biayanya menjadi 244 dollar AS. Jumlah ini merupakan kenaikan sebesar 30 dollar dari Galaxy S3 versi 16 GB tahun lalu.

iSuppli berkesimpulan bahwa peningkatan biaya BOM ini terkait dengan: 
 a $236 bill of materials (BOM), up significantly from last year’s model—the Galaxy S III—due to major upgrades in the display, sensors and application processor and supporting memory.
Bill of Materials Galaxy S4 juga lebih mahal dibandingkan dengan iPhone 5 versi 16 GB. iPhone 5 versi 16 GB memiliki Bill of Material 207 dollar AS seperti dinyatakan oleh Business Insider. Pertanyaannya adalah mengapa Samsung dengan bahan polikarbonat lebih mahal dibandingkan dengan iPhone 5 yang berbahan aluminium?

Sebagian pengguna berpendapat bahwa Samsung Galaxy S4 sebenarnya bisa lebih bersinar, jika konsep desain berbahan plastik bisa diupgrade oleh Samsung ke desain berbahan aluminium. Bayangkan saja sebuah smartphone Android yang selama ini bisa head to head dengan iPhone akhirnya bisa memberikan material yang lebih mahal sehingga benar-benar tidak ada clue lagi bagi mereka yang selama ini menganggap seri Galaxy S Samsung murahan karena berbahan plastik.

Nyatanya Samsung tidak mengambil arah tersebut. Bagi saya sendiri, ini sebuah kesalahan dan kesempatan yang terbuang percuma. Jika Samsung mau sedikit saja mendengar dan mengupgrade material Galaxy S4, saya percaya ledakannya akan lebih besar dan Apple benar-benar harus buru-buru memberikan jawaban dengan produk terbaru mereka. Namun jika dengan kondisi seperti ini, Apple Inc. masih bisa tersenyum lebar karena mereka masih punya keuntungan dibandingkan dengan smartphone terbaru Samsung. Bukti paling dekat ditunjukkan dengan meningkatnya harga saham Apple Inc. setelah Galaxy S4 dirilis.

Samsung sendiri bukannya tidak mendengar. Saya percaya mereka juga tahu bahwa sisi desain iPhone dan material pembangunnya masih berada di atas Galaxy S4. Namun mereka lebih fokus kepada pengalaman pengguna. Mungkin Samsung beranggapan, apa pun materi pembangun sebuah smartphone akan sia-sia jika pengguna mengalami pengalaman yang buruk waktu menggunakan smartphone tersebut. 

Sayangnya selama beberapa tahun terakhir pengalaman pengguna iPhone tetaplah yang paling tinggi. Ini artinya, Samsung belum bisa bersaing di sisi tersebut meskipun menghadirkan segudang aplikasi guna meningkatkan dan memudahkan pengguna dalam menggunakan Galaxy S4 seperti Smart Pause, Smart Scroll, WatchON, S Voice Drive, Home Sync Air View, Air Gestures, S Translate, Group Play, Drama Shot, Sound Shot, Dual Camera, S Health dan Adapt Display.

Dengan menghadirkan Galaxy S4 berbahan polikarbonat, Samsung juga kalah selangkah dengan rival terdekatnya di Android, yaitu HTC yang merilis HTC One beberapa waktu sebelum Galaxy S4. Seperti sudah banyak dirilis media, HTC One bentuknya agak mirip dengan iPhone. Bahan pembangunnya juga dari aluminium dengan konsep zero gap. Artinya tidak ada celah di pinggiran smartphone tersebut. HTC juga sangat berani di sisi desain dengan sedikit meniru iPhone meskipun dengan layar yang jauh lebih luas, yaitu 4,7 inchi.

Saya kira, jika kita melihat ketiga smartphone ini saat dipersandingkan, tentunya iPhone 5 dan HTC akan sangat menarik untuk dilihat. Dengan bahan aluminium, tentu saja kesan mahalnya akan jelas terlihat. Saya rasa dari sini Galaxy S4 jelas kalah kelas dibandingkan dengan iPhone 5 dan HTC One.

Kembali ke pertanyaan mengapa smartphone berbahan plastik seperti Galaxy S4 jauh lebih besar BOM-nya dibandingkan iPhone yang berbahan aluminium? Saya kira banyak faktor yang memengaruhi, faktor yang jelas adalah luas layar, jenis layar yang digunakan, prosesor, kemampuan kamera, dan banyak lainnya. Tampaknya dengan spesifikasi yang bisa dikatakan   buas, cukup masuk akal jika BOM Samsung Galaxy S4  lebih mahal daripada iPhone. Nah jika ditambah dengan bahan aluminium, biaya produksinya jelas akan meningkat secara signifikan. Dan ini menjadi pertimbangan penting bagi Samsung karena akan berujung di harga jual ke konsumen yang lebih mahal.

Saya kira, Samsung akan mematok harga Galaxy S4 kurang lebih sama dengan Galaxy S3. Samsung akan terus berusaha menyajikan harga yang lebih murah sebagai penarik utama agar konsumen membeli Galaxy S4. Fitur-fitur baru yang ditawarkan menjadi penarik konsumen sebelumnya untuk melakukan upgrade seketika Galaxy S4 berada di pasar. Namun demikian, jika Samsung memberikan material aluminium, tidak hanya pengguna tetap Sansung saja yang akan membeli Galaxy S4. Mereka yang selama ini menganggap seri Galaxy S murahan karena berbahan palstik bisa berpaling ke Galaxy S4. Jadi kesan Galaxy S4 kalah kelas dari iPhone dan HTC One tidak akan timbul di pasar.

Tuesday, March 19, 2013

Mengapa Google Mengubur Google Reader

Google sangat akrab dengan aksi bersih-bersih. Aksi yang disebut dengan cleaning ini biasanya menghapus beberapa produk yang mereka nilai sudah tidak layak lagi, mungkin karena traffic yang tidak bagus atau karena alasan lain, misanya dialihkan ke produk lain. Pada tanggal 13 Maret kemarin, dalam sebuah artikel blog yang berjudul A Second Spring of Cleaning, Google mengumumkan bahwa produk Google Reader akan ditutup pada 1 Juli 2013. Dalam artikel tersebut tentu saja tidak hanya Google Reader yang dihapus, ada beberapa produk lain, namun tidak begitu familiar bagi pengguna umum seperti CAIDAV API.

Terang saja publik bereaksi dengan rencan penghapusan Google Reader tersebut. Berbagai artikel menganalisis, sebagian menolak keinginan Google tersebut. Sampai ada yang membuat petisi yang ditujukan kepada Google agar tidak mengubur Google Reader. Petisi tersebut kini sudah hampir 130.000 orang yang menandatanganinya. Namun tentu saja keputusan ada pada Google dan sepertinya tenggat 1 Juli 2013 tersebut adalah angka pasti dan kemungkinan besar Google akan tetap mengubur Google Reader.

Pertanyaannya, mengapa Google mengubur Google Reader?

Jika kita lihat sekian banyak orang yang tidak setuju, itu artinya produk ini memiliki pengguna fanatik. Mereka akan sangat kehilangan jika Reader dihapus. Reader yang didesain ulang pada tahun 2011 ini merupakan poduk yang memberikan news feed ke pengguna yang melakukan subscribe ke berbagai sumber berita melalui situs dan blog. Tujuannya jelas, pengguna cukup membuka Google Reader dan tidak harus ke situs untuk melihat berita baru karena semua berita yang mereka subscribe akan masuk ke dalam inbox. Tinggal klik untuk membuka dan pengguna akan memperoleh berita yang mereka inginkan.

Dalam artikel blog rencana mengubur Google Reader, Google menyampaikan beberapa alasan mengapa mereka akhirnya memutuskan untuk mengubur Google Reader. Coba kita perhatikan kalimat berikut ini.
We’re living in a new kind of computing environment. Everyone has a device, sometimes multiple devices. It’s been a long time since we have had this rate of change—it probably hasn’t happened since the birth of personal computing 40 years ago. To make the most of these opportunities, we need to focus—otherwise we spread ourselves too thin and lack impact.
Khusus mengenai Google Reader, Google menyatakan hal berikut ini.
While the product has a loyal following, over the years usage has declined. So, on July 1, 2013, we will retire Google Reader. 
Dari yang dikemukakan Google terdapat dua hal penting yang mendasar keputusan mengubur Google Reader. Pertama fokus. Tampaknya Google ingin lebih fokus terutama terhadap Google Plus sebagai social layer yang akan menghantar traffic ke situs berita. Google Plus yang digadang-gadang sebagai saingan Facebook diharapkan menjadi tempat satu-satunya sebagai tempat pengumpulan news feed yang kemudian akan menghantar traffic ke situs-situs lain.

Fokus Google juga terlihat ketika menggunakan kata Everyone has a divice, sometimes multiples device yang   ditujukan kepada mobile device. Sementara ini Google tidak membuat aplikasi mobile (Android) untuk Google Reader. Aplikasi yang tersedia adalah Google Currents dan Google Plus yang peminatnya cukup banyak dan desainnya sangat baik. Ini artinya Google lebih memilih Currents dan Google Plus sebagai produk andalan sebagai penampung news feed meskipun cara kerja produk ini jauh berbeda secara teknis.

BuzzFeed memberikan fakta bahwa traffic Google Reader masih jauh lebih besar dibandingkan Google Plus. Hal ini sesuatu yang wajar karena Reader sudah berusia hampir 8 tahun. Dengan pengguna yang sangat banyak yang dikumpulkan selama waktu tersebut jelas saja traffic-nya akan lebih besar. Ini artinya Google lebih memilih Google Plus sebagai andalan dibandingkan Google Reader. Besarnya traffic Google Reader tidak mencegaht Google untuk mengubur Google Reader. Dengan makin banyaknya pengguna Google Plus, traffic suatu saat kelak juga akan besar dan kesempatan Google lebih banyak karena tujuan penggunaan Google Plus lebih besar dibandingkan Google Reader.

Kedua masalah penggunaan yang menurun. Penggunaan yang menurun merupakan sebuah kewajaran karena kini banyak terdapat alternatif produk yang fungsinya hampir sama dengan Google Reader. Namun sampai sejauh mana penggunaan yang menurun tersebut bisa memengaruhi keputusan Google untuk mengubur Google Reader? Saya rasa dari yang ditemukan oleh BuzzFeed, traffic Google Reader masih lebih baik dibandingkan Google Plus. Namun ini bukan alasan sebenarnya yang dipakai oleh Google. Mereka lebih memilih Google Plus sebagai social layer dan penampung news feed dibandingkan Google Reader.

Ini artinya ke depannya Google Plus merupakan andalan Google dan merupakan satu-satunya social layer Google untuk mengetahui habit pengguna internet. Dengan Google Plus Google berharap akan banyak sekali yang terjadi. Hal yang berbeda dengan Google Reader karena interaksi pengguna yang terbatas hanya menerima news feed dan tidak bisa mengomentari di tempat news feed tersebut diletakkan.

Saya rasa dua alsan tersebut cukup logis sehingga Google akhirnya memutuskan untuk mengubur Google Reader.

Friday, March 15, 2013

Dengan Galaxy S4, Samsung Makin Meninggalkan Google?

Peluncuran Galaxy S4, sumber: flickr.com/samsungtomorrow
Setelah rumor, desas-desus serta leaked image dan video yang sangat banyak, mulai dari akhir tahun 2012 yang lalu, Samsung akhirnya merilis generasi penerus seri Galaxy S mereka, yaitu Galaxy S4. Dalam peluncuran yang diadakan di New York, hampir tidak ada kejutan yang diberikan oleh Samsung. Semua fitur dan perkiraan melalui rumor serta leaked image yang bereda bisa dikatakan benar. 

Dari berbagai sumber yang sudah mempublikasikan, Samsung Galaxy S4 hampir tidak berbeda desainnya dengan Samsung Galaxy S3. Jika dipersandingkan, mungkin kita agak sedikit sulit untuk menentukan mana Galaxy S3 dan mana yang Galaxy S4. Bentuknya sangat identik, kecuali jika kita perhatikan lebih saksama, Galaxy S4 sedikit lebih lebar dan makin tipis dibandingkan Galaxy S3.

Spesifikasi yang disandang oleh Galaxy S4 adalah sebagai berikut.
The 5-inch screen features a 1080p resolution, as expected, is covered with Corning's Gorilla Glass 3, and it's known as a "full HD super AMOLED" screen with 441 pixels per inch. The phone comes with 802.11ac Wi-Fi (which also runs on the standard a/b/g/n bands), Bluetooth 4.0, and Cat 3 100 / 50 Mbps LTE, and also comes with an IR blaster like the HTC One. Key specs include a removable 2,600 mAh battery, 2GB of RAM, and 16, 32, or 64 GB of storage. Also of note is the new processor — either a Samsung Exynos 5 or Qualcomm Snapdragon S4 Pro processor, depending on the region.
Bisa dikatakan spesifikasinya sangat bagus. Spesifikasi tersebut ditopang oleh kamera berkekuatan 13 megapiksel dengan berbagai fitur software yang menjanjikan kemudahan dalam penggunaan, seperti Smart Scrolling dan Simultaneous Photo Shoots. Samsung Galaxy S4 dijanjikan mulai tersedia di pasar bulan April.

Tentu saja spesikasi Galaxy S4 tersebut diharapkan dapat melanjutkan kisah sukses Galaxy S3 yang sejauh ini terjual 40 juta unit di seluruh dunia. Kesuksesan Galaxy S3 dan beberapa varian lain smartphone Samsung mampu  mengerek nama Samsung hingga bersaing head to head dengan Apple Inc. Tidak hanya itu, Samsung menjadi satu-satunya vendor Android yang bisa bersaing dengan Apple Inc. guna memperebutkan keuntungan di pasar smartphone. Kombinasi kedua vendor ini bisa mencapai lebih dari 90% penguasaan pasar smartphone dunia.

Satu hal yang patut kita perhatikan bahwa makin hari eksistensi nama Galaxy makin meninggalkan nama Android yang merupakan otak smartphone Samsung yang sukses di pasar. Dalam peluncuran di New York kemarin, sengaja atau tidak, Samsung menafikan kehadiran Android dan Google. Dalam catatan Search Engine Land, nama Android hanya disebut sekali saja, sedangkan Google sama sekali tidak disebut. Pertanyaannya, apakah Samsung tidak mengakui eksistensi kedua nama tersebut yang mana sangat penting bagi handset mereka?

Bila kita perhatikan, Samsung sebenarnya sudah bersiap untuk meninggalkan nama Android dan Google dari beberapa waktu yang lalu. Silahkan tengok smartphone Samsung, mereka punya pasar aplikasi sendiri, juga memiliki aplikasi perintah suara dan berbagai aplikasi lain yang sebenarnya bisa mereka andalkan dari Google. Kecuali Maps dan mesin pencari (di mana Google memang superior) Samsung hampir bisa mengganti semua aplikasi Google dengan aplikasi mereka sendiri. Kini pun orang lebih mengenal nama Galaxy dibandingkan dengan Android. Ini artinya Samsung dengan kepopuleran mereka memaksa Android berada di bawah mereka.

Jika demikian, tidak disebutnya nama Google sewaktu peluncuran Galaxy S4 cukup masuk akal. Samsung tidak mau dipercampurkan dengan Google. Samsung adalah Samsung dengan seri Galaxy, Google ada di pihak lain yang tidak perlu disebut karena sebagian saja dari produk Samsung. Jika Samsung berhasrat mereka mungkin bisa mengikuti jejak Amazon yang mempreteli Android dan bekerja sama dengan Microsoft agar mesin pencari Bing bisa menggantikan Google.

Saya rasa hal ini masuk akal. Saat ini vendor Android yang paling populer adalah Samsung. HTC, LG, Motorola, dan Sony punya masalah mereka sendiri-sendiri serta kekuatan mereka belum sebesar Samsung. Dengan kondisi sekarang Google harus khawatir kalau-kalau Samsung membelot dengan tetap menggunakan Android, tetapi tidak mengikutkan layanan Google. Caranya bisa saja secara resmi menghadirkan aplikasi-aplikasi mereka sendiri sehingga mengurangi ketergantungan mereka terhadap Google. 

Kekhawatiran Google cukup beralasan dan menjadi dilema tersendiri bagi mereka. Selagi vendor Android lain belum cukup mampu hadir di pasar sesering yang dilakukan Samsung, Google sangat bergantung kepada Samsung. Bisa jadi, rumor tentang X Phone hasil kerja sama Motorola dan Google ditujukan agar pasar tidak terlalu tersita oleh Samsung. Dalam hal ini Google perlu secepatnya menghadang Samsung dengan menghadirkan produk baru serta mensupport lebih banyak vendor guna menghasilkan Android yang bisa sebaik Samsung.

Google tentu juga bergantung kepada Samsung. Kesuksesan Android sejauh ini berkat peran Samsung yang sangat fokus menghasilkan handset Android, terutama melalui seri Galaxy S. Dengan tidak disebutnya Google dalam peluncuran Galaxy S4, Google perlu bertanya dan was-was karena Samsung semakin populer. Pengguna akan makin terpaut dengan Samsung, sedangkan nama Android dan Google tidak lagi disebut.

Thursday, March 14, 2013

Sundar Pichai Gantikan Andy Rubin di Android

Sundar Pichai, Kepala Android yang baru
Tanpa ada desas-desus sebelumnya, Andy Rubin yang telah mengepalai pengembangan sistem operasi smartphone Android sejak tahun 2005 (ketika dibeli Google) digantikan oleh Sundar Pichai yang selama ini mengepalai Chrome dan Aplikasi Google. Kabar digantikannya Rubin oleh Sundar Pichai diperoleh dari blog yang ditulis sendiri oleh CEO Google, Larry Page. Dalam blog tersebut dinyatakan bahwa sudah waktunya Andy Rubin memulai hal yang baru di Google setelah hampir delapan tahun mengembangkan Android hingga berhasil menjadi platform tersebesar smartphone dunia.

Menariknya, management shake up di Google, khususnya Android ini hampir tidak didahului oleh rumor atau kejadian luar biasa seperti yang dialami oleh Scott Forstall di Apple Inc. Scott Forstall terlempar dari Apple Inc. setelah aplikasi peta Apple mendapat kritikan pedas pengguna sehingga memaksa Tim Cook memberikan pernyataan maaf. Hal yang berbeda ketika Sundar Pichai menggantikan Andy Rubin. Tampaknya management shake up di Android ini merupakan hal yang biasa dan Andy Rubin pun tidak akan ke mana-mana. Ia akan masih berada di Google, mungkin bergabung dengan Google X untuk menghasilkan produk sophisticated lainnya seperti Google Glass karena Andy Rubin dikenal sebagai sosok yang bisa membuat produk dari nol.

Pergantian pimpinan di Android ini juga menandakan era baru bagi Google. Selama ini divisi Android dan Chrome merupakan divisi terpisah yang dipimpin oleh dua orang yang berbeda. Dengan menarik Sundar Pichai menjadi pimpinan Android, kedua divisi ini akan menyatu minimal dalam satu pimpinan. Dengan demikian Chrome yang selama ini difokuskan untuk laptop akan disatukan dengan Android yang khusus untuk perangkat mobile seperti smartphone dan tablet.

Pergantian pimpinan ini mungkin juga sebuah tanda bahwa mungkin Google akan mulai menyatukan dua sistem operasi yang berbeda, Chrome dan Android. Perlu diketahui bahwa Google dikritik mengapa harus memiliki dua sistem operasi untuk dua hal yang bisa disatukan. Hal ini menjadi tantangan baru bagi Sundar Pichai, apakah ia mampu menyatukan atau malah meneruskan apa yang selama ini dilakukan Rubin.

Membaca blog yang ditulis oleh Larry Page, kesan bahwa bahwa Sundar Pichai diserahi tugas untuk mengembangkan Android lebih jauh. Ini artinya sistem operasi Android secara pengguna sudah sangat bagus. Langkah selanjutnya mungkin menjadikan sistem operasi ini menjadi ladang uang bagi Google meskipun masih akan memberikannya secara gratis kepada vendor.

Sundar Pichai sepertinya memiliki kapabilitas untuk hal tersebut. Baru-baru ini Chrome menghasilkan laptop premium yang disebut Chromebook Pixel. Laptop ini merupakan laptop pertama atau hardware pertama yang benar-benar dirancang dan dibuat oleh Google. Secara desain laptop ini bisa disandingkan dengan Macbook dari Apple Inc. Laptop ini merupakan karya dari Sundar Pichai dan tim Chrome.

Tidak itu saja. Sundar Pichai yang bergabung dengan Google di tahun 2004 merupakan sosok yang sangat penting dan memiliki karier cerah di Google. Dua tahun yang lalu, Twitter mencoba untuk membujuk Sundar Pichai agar mau bergabung dengan mereka. Kemungkinan besar posisi yang ditawarkan waktu itu adalah CTO. Namun Google merasa Sundar Pichai adalah aset yang sangat berharga sehingga menawarkan kompensasi bernilai puluhan juta dollar agar ia tetap berada di Google. Bujukan Google berhasil dan Sundar Pichai mulai saat itu masuk dalam top eksekutif Google.

Tentu saja dengan mengepalai Android Sundar Pichai akan makin ditantang untuk melanjutkan kinerja bagus Android di bawah Andy Rubin. Namun Sundar Pichai tidak perlu khawatir karena ia akan tetap dibantu oleh tim yang solid yang diisi oleh orang-orang berpengalaman seperti Matias Duarte. 

Wednesday, March 13, 2013

Taktik Jitu Samsung Mengalahkan Apple Inc.

sumber: flickr.com/photos/samsungtomorrow
Sehari sebelum peluncuran smartphone terbaru Samsung, yaitu Galaxy S4, Samsung terus memberondong internet dengan berbagai teaser dan leaked image smartphone yang diperkirakan akan membuat jurang perbedaab makin dangkal antara kedua perusahaan teknologi tersebut. Cara-cara Samsung menarik perhatian calon konsumennya patut diacungi jempol dengan terus memberikan update tentang smartphone mereka tersebut. Melalui The Next Big Thing Samsung melancarkan kampanye terpadu untuk menggugah rasa penasaran publik terhadap smartphone mereka terbaru, Galaxy S4.

Satu lagi yang cukup membuat kita berpikir adalah untuk pertama kalinya, Samsung meluncurkan varian Galaxy S di Amerika Serikat, tepatnya di New York yang lokasinya hanya dua blok dari toko Apple Inc. Pemilihan lokasi peluncuran ini tentu saja punya maksud jelas bahwa Samsung sangat siap untuk bersaing dan menjadi pemenang pertarungan. Rumor Galaxy S4 mengalir sangat deras hingga menutupi coverage media terutama internet yang sangat fokus kepada Apple selama ini. 

Seolah-olah ada media darling baru, yang secara intens selalu muncul di berbagai media. Tidak salah tentunya, sejak kemunculan berbagai varian smartphone dan tablet, Samsung makin memperoleh liputan media. Samsung yang dikenal sebagai fast follower, pelan tetapi pasti menunjukkan mereka mampu memberikan smartphone terbaik bagi konsumen agar mereka melupakan ekosistem Apple Inc. dan beralih ke Samsung.

Tahun lalu, ketika Samsung Galaxy S3 diluncurkan di Inggris, Samsung sudah mulai menampakkan kekuatan mereka. Penjualan Galaxy S3 dinilai sangat sukses, demikian juga dengan Galaxy Note dan Galaxy Note 2. Dengan menghadirkan berbagai varian, Samsung menyasar berbagai lapisan konsumen dan hal ini tentu sebuah strategi yang cocok untuk bersaing dengan Apple Inc. yang hanya punya satu iPhone dengan berbagai seri. 

Sepertinya Samsung melakukan pengepungan dengan memberondong pasar dengan banyak tipe smartphone yang terkadang terlihat seperti dipaksakan. Contohnya Galaxy Grand dan Galaxy S3 Mini. Kedua tipe smartphone ini bisa dikatakan hanya berfungsi sebagai kecap untuk terus mengingatkan konsumen bahwa Samsung terus melahirkan produk, sementara Apple Inc. hanya sekali setahun (?). Dengan demikian, pilihan konsumen lebih banyak dengan variasi harga yang juga bermacam-macam. Konsumen seperti dilingkari produk Samsung, mereka secara sengaja atau tidak membicarakan Samsung dan ini sebuah taktik yang cukup bagus melawan Apple Inc. yang cenderung tertutup dan memiliki produk sedikit.

Saya pernah ingat sebuah taktik peperangan, yaitu seranglah musuh di bagian terlemah mereka. Saya kira Samsung secara sengaja menjalankan taktik ini. Bukti bisa kita munculkan ketika Samsung menggerek lebar layar smartphone buatan mereka makin lebar. Sukses Galaxy Note pertama dengan layar 5,3 inchi, lalu Samsung Galaxy S3 dengan layar 4,8 inchi dan terakhir Galaxy Note 2 dengan layar 5,5 inchi membuat orang ketika memegang iPhone terasa sangat kecil.
"If you see this stuff on TV enough, it gets you thinking," said Mr. Hernandez, a 34-year-old resident of Somerville, Mass., who adds that he likes how his Galaxy has a larger screen than the iPhone. "Now, when someone gives me an iPhone to look at a picture, it looks so tiny."
Perbedaannya tentu cukup jelas. Ketika saya memegang Galaxy Note, saya memperoleh pengalaman multimedia yang lebih baik. Menonton filim, browsing internet, membaca file-file PDF dengan layar lebih lebar terasa lebih asyik. Berbeda ketika saya beralih ke iPhone. Layarnya terasa mini, perlu lebih banyak fokus dan pengalaman multimedia yang kurang serta membuat mata lebih cepat lelah. 

Dari sini saja saya bisa memperbandingkan pengalaman pengguna ketika mereka menggunakan iPhone. Samsung punya taktik bagus melawan Apple Inc. di sisi mereka yang paling lemah, yaitu variasi layar dan variasi produk. Tidak itu saja dengan dukungan sistem operasi Android yang makin hari makin bagus, Samsung benar-benar ditopang dari segala sisi sehingga mereka punya senjata lengkap untuk berperang dengan Apple Inc.

Media luarpun mengamini bahwa mungkin Samsung telah mencuri coolness yang selama ini menjadi milik Apple Inc. Samsung terlihat cool dengan produk mereka yang semakin baik. Juga anggaran pemasaran mereka yang seperti tanpa batas. Silahkan lihat beberapa video Galaxy S3, bahkan mereka yang selama ini menganggap iklan Apple adalah iklan terbaik, tak sungkan memberikan pujian bagi iklan Samsung tersebut.

WSJ dalam sebuah artikelnya mengatakan bahwa:
 Ken Yarmosh, chief executive of Savvy Apps in Washington, D.C., said his company began by making apps for Apple's iOS operating system but lately has been focusing on Android as Samsung devices have become more prevalent, especially among his own company's testing devices.
Sebuah usaha yang patut diberikan pujian. Berkat Samsung (yang pada tahun 2012 lalu mengapalkan lebih dari 200 juta ponsel) developerpun mulai beralih fokus ke Android. Tentunya bukan sesuatu hal yang baru karena developer akan selalu mencari pasar yang lebih besar. Akan tetapi meninggalkan Apple Inc. butuh banyak perhitungan karena mereka selama ini merupakan kesayangan developer. Namun, mau tidak mau karena kemajuan Samsung yang lebih besar, hal ini menjadi sebuah kemustian.

Saya rasa perang ini belumlah akan usai, masih di tahap awal. Apple Inc. akan segera bereaksi dengan merilis variasi produk yang lebih banyak. Bulan Juni nanti mungkin akan lahir iPhone Plus dengan cover warna-warni atau mungkin iPhone 5S. Bisa jadi Apple Inc. akan merilis phablet mereka yang pertama dan kembali meraih coolness yang sempat dicuri oleh Samsung. Namun setidaknya saat ini, Apple telah tercuri dengan cara-cara Samsung. Kehadiran Apple Inc. di media melalui rumor-rumor tentang produk mereka sudah tergantikan oleh Samsung. Perhatian publik kini tersita oleh Samsung, sementara Apple Inc. masih bergulat dengan pertanyaan apakah layar iPhone sebaiknya diperlebar.

Note: Penulis tidak terkait dalam bentuk apa pun dengan Samsung dan Apple kecuali melalui smartphone mereka.

Tuesday, March 12, 2013

Nokia, Windows Phone Tak Laku di Amerika Serikat

Stephen Elop, CEO Nokia ketika launching Lumia 920
Usaha Windows Phone untuk bisa bangkit menemui jalan terjal. Seperti kita ketahui, Windows Phone mengandalkan Nokia Lumia untuk bisa bertarung dengan Android (terutama Samsung, HTC, LG, dan Motorola) serta iPhone dari Apple Inc. Nokia sebagai produsen Lumia merilis Nokia Lumia 920 dan 820 di pasar AS dan ada beberapa varian lagi yang menyasar pasar low end. Namun usaha tersebut tampaknya belum cukup karena persaingan di pasar Amerika Serikat sangat sengit.

Laporan terbaru dari ComScore memperlihatkan betapa Windows Phone (sebagian besar adalah Nokia Lumia, sedikit Samsung Ativ dan HTC 8) menderita karena pasarnya justru merosot. Dalam pencacahan tiga bulan yang dilakukan ComScore pangsa pasar Windows Phone di Amerika Serikat justru mengalami penurunan dari 3,2% menjadi 3,1%. Pimpinan pasar tetap dipegang Android dengan penguasaan pasar sebesar 53,6% dan iOS Appl Inc. dengan 37,8%. Nokia tentu saja tidak termasuk dalam daftar vendor yang memiliki pangsa besar di AS. 

Vendor smartphone dikuasai oleh Apple Inc. dan Samsung. Nama Nokia, sebagai representasi dari Windows Phone entah ke mana, padahal mereka cukup giat melakukan kampanye hingga memberikan Windows Phone untuk setiap pengguna Android yang berpindah platform ke Windows Phone. Hal yang lebih mengenaskan adalah tiga bulan terakhir tahun 2012 yang lalu adalah saat-saat konsumen Amerika Serikat berbelanja dan umumnya mereka membeli ponsel baru. 

Dengan melihat data yang dirilis ComScore artinya bukannya dibeli, malah Windows Phone ditinggalkan karena pangsa pasarnya di bulan Januari menurun dibandingkan Oktober 2012. Ini artinya Windows Phone atau Nokia Lumia memang tidak laku di pasar Amerika Serikat. 

Hal yang berbeda terjadi di kawasan Eropa. Catatan yang dikemukakan oleh Kantar World Panel menunjukkan bahwa Windows Phone (Nokia Lumia) mengalami peningkatan pasar yang cukup besar. Panel yang dirilis per tanggal 22 Januari 2013 tersebut menunjukkan Windows Phone mengalami peningkatkan pasar sangat signifikan di Inggris dari 2,2% menjadi 5,9% dan di Italia dari 2,8% menjadi 13,9%. 

Pertanyaannya, mengapa Windows Phone tidak laku di Amerika Serikat dan cukup laris di Eropa? 

Kita bisa merujuk ke platform Nokia sebelum berpindah ke Windows Phone, yaitu Symbian. Dari dulu pasar Amerika Serikat memang tidak begitu akrab dengan Nokia. Bila kita lihat sekitar tahun 2008-2010 yang berjaya adalah BlackBerry. Ini menandakan bahwa Nokia yang menjadi representasi Windows Phone kurang disukai konsumen AS dari dulu. Apalagi setelah munculnya BlackBerry, kemudian iPhone dan terakhir Android. Saingan Nokia makin banyak sehingga kesuksesan pun makin sulit diperoleh. Tidak heran, Windows Phone Nokia Lumia bisa dikatakan tidak laku di Amerika Serikat.

Berbeda dengan Eropa yang merupakan rumah besar Nokia yang berasal dari Finlandia. Eropa semenjak Nokia masih menggunakan Symbian adalah sukses Nokia. Di Eropa Nokia menguasai pasar smartphone yang kemudian diganti oleh Android. Setidaknya hubungan manis Nokia dan Eropa di masa lalu memberi pengaruh baik bagi Windows Phone yang kini diusung oleh Nokia. Hal ini cukup menolong pangsa pasar Nokia/Windows Phone, terutama jika kita lihat di Italia.

Meskipun masih sangat jauh bila dibandingkan Android, kemajuan Windows Phone di Eropa sesuatu yang patut disyukuri Nokia. Mungkin Nokia perlu berpikir ulang tentang strategi mereka. Mungkin Nokia atau Windows Phone perlu lebih fokus di Eropa, atau tinggalkan saja pasar AS dan fokus di Eropa mengingat hasil baik yang diperoleh di sana.

Maukah Nokia?

Note: Forbes berkontribusi dalam artikel ini 

Monday, March 11, 2013

Google Glass Dihadang Isu Privasi

Google Glass
Isu privasi mulai dihubungkan-hubungkan dengan wearable computer milik Google yang belum lagi dirilis, yaitu Google Glass. Sebuah bar di Seattle mengatakan mereka menolak setiap orang yang memakai Google Glass di bar mereka. Mereka takut privasi pengunjung bar tersebut akan terekpos tanpa sepengetahun mereka di media sosial, melalui foto dan video.

Hal ini mungkin bukanlah sesuatu yang diharapkan oleh Google. Mengingat gadget ini akan dirilis ke publik di awal tahun 2014, tentu saja Google harap-harap cemas, bila isu privasi ini menjadi besar dan membuat banyak calon konsumen mereka membatalkan pemesanan Google Glass.

Tentunya patut kita pertanyakan, apakah Google Glass benar-benar akan mengacaukan privasi semua orang yang dilihatnya?

Isu privasi merupakan isu besar dalm dunia internet dan gadget. Facebook sampai hari ini masih diberondong isu privasi yang tidak sedap terkait dengan data pengguna mereka yang dijadikan bahan bargaining bagi para pengiklan. Tentu saja dengan mengaitkan Google Glass ke isu privasi sebuah usaha yang tepat, tidak hanya untuk Google sendiri, tetapi juga bagi pengguna dan orang lain yang dilihat oleh pengguna Google Glass.

Bila kita lihat lebih jauh, aturan privasi memang selalu tertinggal dibandingkan dengan kemajuan dunia internet dan gadget. Tidak hanya di Indonesia, Amerika Serikat sekalipun belum benar-benar menyediakan undang-undang tentang perlindungan privasi pengguna yang secara khusus ditujukan untuk itu. Namun bedanya di Amerika Serikat mereka cukup peduli dengan privasi sehingga isu-isu privasi tersebar sangat luas dan menjadi bahan perdebatan yang setidaknya akan mengundang pemerintah untuk mengambil langkah-langkah perbaikan. Bahkan individu atau kelompok di AS dapat mengajukan gugatan publik terkait dengan privasi mereka yang dilanggar. Hal ini pernah dialami oleh Facebook.

Kembali ke masalah Google Glass. Sergey Brin sebagai leader proyek ini pernah mengatakan bahwa Google Glass secara otomatis akan mengambil foto per sepuluh menit. Meskipun kemudian perwakilan Google mengatakan bahwa seri pertama Google Glass tidak dilengkapi dengan kemampuan auto photo, namun tentu saja banyak orang akan terganggu privasi mereka manakala melihat seseorang yang memakai Google Glass di hadapannya. Tentu saja akan timbul pertanyaan, apakah pengguna sedang berbicara kepadanya sambil mengambil foto atau video lalu mempostingnya di media sosial. Apakah pengguna Google Glass tersebut bisa melihat lebih jauh bagian dalam pakaiannya atau banyak pertanyaan lainnya.

Google mengatakan bahwa Google Glass dioperasikan dengan perintah suara. Misalnya bila anda ingin mengambil foto, pertama katakana OK Glass. Google Glass akan menyala. Lalu ketika akan mengambil foto, katakan Take a picture. Google Glass akan mengambil foto. 

Dari sisi teknologi, tentu saja Google Glass tidak bisa diperbandingkan dengan smartphone atau tablet paling canggih saat ini. Smartphone contohnya bukanlah produk lompatan, tetapi produk evolusi dari kemampuan ponsel biasa. Perpindahan cara pemakaian pun tidak terjadi, meskipun anda menggunakan headset, karena dari dulunya ponsel dipakai dengan cara tertentu yang sudah lazim. Jadi secanggih apapun smartphone, canggihnya belumlah bisa menyamai Google Glass.

Google Glass adalah produk revolusioner, sebuah produk lompatan yang akan mengubah cara penggunaan gadget yang lazim selama ini. Berbeda dengan smartphone yang anda masukkan ke saku, Google Glass berada di bagian kepala jadi bisa digunakan tanpa harus mengeluarkannya terlebih dahulu dari tempat tertentu. Cara pengoperasiannya juga sangat berbeda. Bila smartphone dan tablet harus anda arahkan sendiri untuk dapat mengambil foto dan video, Google Glass sudah otomatis mengarah ke suatu objek yang bisa anda ambil foto dan videonya.

Hal tersebut tentu saja berimplikasi bagi objek yang diambil oleh Google Glass. Saya percaya kekhawatiran sebagin orang terhadap privasi mereka yang bisa saja dilanggar oleh Google Glass sesuatu yang normal. Namun pada batas tertentu, semuanya kembali kepada pengguna. Pengguna yang baik akan memakai Google Glass untuk tujuan-tujuan spesifik yang jauh dari masalah privasi. Namun berharap seperti ini tentu saja sangat naif. Kebanyakan saat ini adalah pengguna sering menggunakan gadget mereka untuk mengambil hal-hal aneh di sekitar mereka.

Barangkali, isu pelanggaran privasi ini akan membawa Google untuk menyempurnakan Google Glass ini. Secara kemajuan teknologi, Google Glass adalah sebuah gadget yang patut dipuji, baik secara konsep maupun di dalam praktik. Gadget ini akan makin memudahkan aliran informasi dan membuat penggunanya lebih efisien. Google Glass juga akan menghilangkan berbagai kegiatan seperti keharus penggunaan tangan untuk mengambil foto dan video. Namun sekali lagi harus ada kontrol tertentu agar Google Glass ini bisa diterima publik dengan baik. Segi privasi orang lain selain pengguna Google Glass seharusnya jadi perhatian agar gadget ini bisa diterima publik.

Terakhir, kembali kepada bagaimana orang memaknai kemajuan teknologi yang kini mengarah ke wearable computers. Tidak hanya Google Glass, beberapa waktu ke depan akan muncul iWatch, jam pintar buatan Apple Inc. Selain itu ada driverless car buatan Google dan terakhir sepatu yang bisa berbicara buatan Google. Saya percaya, seiring berlalunya waktu, wearable computers ini akan menjadi sesuatu yang lazim sehingga masalah privasi bukan sesuatu yang penting lagi untuk dipikirkan.

Friday, March 8, 2013

Apple Versus Google, Persaingan Tanpa Akhir

Tentu selalu menarik untuk membahas dua perusahaan teknologi terkemuka saat ini, yaitu Apple Inc dan Google. Dari sisi manapun kedua perusahaan yang dulunya bersekutu dekat ini, memberikan berbagai macam penafsiran yang sangat layak untuk ditelusuri lebih jauh. Salah satu sisi yang mungkin sangat menarik adalah harga saham. 

Berbagai label diberikan kepada Apple Inc dan Google. Perusahaan paling inovatif masih dipegang oleh Apple Inc. dengan produk mereka yang sedikit, tetapi mampu mengubah cara pandang banyak orang. Google meraih predikat sebagai perusahaan tempat bekerja terbaik untuk keempat kalinya berturut-turut karena pengelolaan sumber daya manusianya yang sangat baik.

Di sisi inovasi ini, beberapa waktu terakhir dikabarkan bahwa Apple Inc mengalami perlambatan dalam berinovasi. Hal ini dibuktikan dengan produk yang tidak juga berkembang secara kasat mata. Kita bisa melihat bahwa iPhone masih berukuran hampir sama dengan yang pertama kali dikeluarkan di tahun 2007 yang lalu. Hal ini membuat pesaing mereka seperti Samsung meraih pasar yang lebih baik di sebagian besar pasar kecuali Amerika Serikat karena produk mereka yang lebih variatif.

Banyak orang mengatakan bahwa masa-masa puncak iPhone sudah terlewati sehingga produk tersebut sudah sangat matang sehingga kemudian sedikit membosankan. Fitur-fitunya juga tidak jauh berkembang dengan versi pertama tahun 2007 meskipun sudah memasuki generasi keenam. Hal yang terutama banyak dikritisi adalah luas layar yang tidak jauh berbeda, sementara pesaingnya, terutama smartphone berbasis Android layarnya semakin lebar dan memberikan pengalaman multimedia yang lebih baik.

Alasan-alasan di atas setidaknya memengaruhi harga saham Apple Inc yang pernah naik hingga 800 dollar AS pada waktu iPhone 5 diluncurkan. Ditambah dengan tekanan adanya masalah supplier bahan baku serta tekanan kompetitor yang harganya semakin murah, membeli iDevice menjadi kurang menarik meskipun daya magis brand-nya masih sangat kuat bagi sebagian pengguna.

Hingga kini harga saham Apple Inc. menunjukkan kecenderungan terus menurun. Saat artikel ini dipublikasikan, Bloomberg melaporkan harga saham Apple hanya 425 dollar AS. Angka ini tentu saja sudah jauh turun dibandingkan angka 800 dollar AS. Hal yang penting untuk kita ketahui adalah bahwa Apple Inc. tidak mengalami hal serupa Nokia yang harga sahamnya turun lebih dari 80% semenjak berpindah ke Windows Phone. Nokia mengalami penurunan harga saham karena tidak adanya produk baru di pasar yang bisa bersaing dengan iPhone dan Android. Demikian juga dengan BlackBerry yang vakum produk baru hampir dua tahun yang membuat pioner pasar smartphone itu juga jatuh harga sahamnya. 

Di Apple Inc. hal yang berbeda terjadi. Sampai saat ini iPhone 3 GS masih dijual. Demikian juga dengan iPhone 4, 4S dan yang terbaru iPhone 5. Apple Inc. tidak pernah absen merilis produk baru setiap tahun, seperti iPad. Ini artinya pengaruh turunnya harga saham bukan karena ketiadaan produk, tetapi lebih kepada produk yang sudah mencapai masa dewasa.

Mungkin investor melihat, setelah enam tahun sejak diluncurkan, iPhone tidak banyak mengalami perubahan. Orang masih banyak membeli iPhone, tetapi hype-nya atau daya magisnya sudah jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun yang lalu. Persaingan dengan Android juga membuat repot terutama melihat seri Phablet Android yang terus bermunculan, sementara Apple Inc tidak juga bergerak luas layarnya. 

Mungkin sebenarnya luas layar tersebut tidak terkait dengan inovasi, tetapi bagaimanapun konsumen melihat bahwa Apple Inc sepertinya tidak mengikuti trend pasar. Meskipun merilis iPad Mini untuk bersaing dengan tablet 7 inchi Android, sepertinya belumlah cukup untuk melawan pabrikan Android yang bermacam-macam corak dan bentuk produknya.

Hal-hal tersebut saya kira akan membuat khawatir investor sehingga berimbas kepada harga saham Apple Inc. yang jauh turun dibandingkan saat peluncuran iPhone 5.

Berbeda dengan Google. Bloomberg melaporkan bahwa harga saham Google kini tengah berada di angka 831 dollar AS. Meski sempat menglami tekanan pada saat Larry Page mulai mengambil alih posisi CEO, ternyata tekanan itu tidak berlangsung lama. Perlahan namun pasti, Google berhasil mengerek harga sahamnya hingga mencapai harga 800-an dollar.

Hal ini merupakan cerminan dari kinerja keseluruhan Google. Meskipun berskala jauh lebih kecil dibandingkan Apple Inc. tetapi Google mampu menghilangkan satu per satu lawan yang bisa menghadang. Contohnya Facebook yang diperkirakan akan mampu merebut pasar iklan dari Google. Ternyata setelah lahirnya Google Plus, Facebook memperoleh lawan yang sepadan sehingga ancaman Facebook dapat diatasi. Demikian juga di mesin pencari, bisa dikatakan hanya Google yang mampu terus memberikan inovasi.

Di smartphone dan tablet Android menjadi leader di seluruh dunia. Meskipun tidak memperoleh fee secara langsung dari setiap vendor yang menggunakan Android, Google bisa memasang iklan mobile yang pasarnya makin hari makin gemuk karena peralihan pengguna yang cenderung menggunakan perangkat mobile internet.

Meskipun bisa dikatakan rugi saat melakukan akuisisi Motorola Mobility, saya kira Google mengambil manfaat lain dari akuisisi tersebut sehingga tidak menekan harga saham mereka. Sampai saat ini Motorola Mobility belum menghasilkan satupun smartphone yang sesuai dengan standar Google. Namun portofolio paten Motorola Mobility merupakan aset yang sangat penting untuk bisa meredam perang paten yang dilakukan oleh Apple Inc dan Microsoft.

Hal ini menjadikan Google lebih sustainable. Proyek mereka yang sangat futuristik seperti Google Glass sudah cukup mencengangkan bagi peminat teknologi. Proyek ini dilakukan dengan sangat hati-hati dan pemasarannya juga sangat bagus sehingga kesan perangkat ini hanya untuk orang gadget freak menjadi berkurang secara signifikan. Banyak ulasan yang menyanjung bahwa dari sisi desain, Google Glass merupakan desain produk terbaik yang pernah dilahirkan oleh Google. Bahkan The Verge yang mencoba Google Glass mendeskripsikan bahwa desain Google Glass jauh melampaui desain Apple Inc. yang selama ini menjadi patokan desain hardware.

Hal-hal positif tersebut memberikan dampak positif bagi saham Google. Meskipun secara fondasi finansial Apple jauh lebih baik karena memiliki uang yang tak terpakai hingga 131 miliar dollar, sedangkan Google hanya memiliki 48 miliar dollar. Investor mungkin melihat bahwa Google akan terus bergerak maju, sementara Apple Inc. akan tetap seperti sedia kala.  Apple Inc. akan terus mengeluarkan produk inovatif mereka, namun itu semua sudah bisa diperkirakan, tidak jauh dari iPhone dan iPad. Barangkali rumor iWatch yang akan segera dirilis bisa sedikit menjadi jawaban terhadap sebuah produk yang sophisticated, layaknya Google Glass. Namun sekadar jam canggih, sudah ada di pasar dan mungkin tidak berbeda banyak dengan yang akan dirilis Apple Inc sehingga hype berkurang.

Pertanyaannya, apakah harga saham Apple Inc. akan terus turun dan Google akan terus naik? Tentunya sangat sulit memastikan hal ini. Namun saya percaya pada titik tertentu, saham Apple Inc. bisa naik lagi. Demikian juga Google, harga sahamnya bisa saja turun di waktu tertentu. Paling tidak yang ada saat ini adalah Google cenderung terus naik, sedangkan Apple Inc cebderung stagnan dengan kemungkinan turun. Bila melihat beberapa faktor, barangkali Apple Inc. perlu sebuah gebrakan agar hype dan daya magis produk mereka kembali seperti semula. Barulah kemudian harga sahamnya akan mengalami peningkatan kembali.

Note: Dirangkum dari berbagai sumber.

Wednesday, March 6, 2013

Keindahan Dalam Kreatifitas Untuk Panasonic Gobel Awards Ke 16

Tidak terasa, ajang penghargaan bagi indutri pertelevisian, yaitu Panasonic Gobel Awards sudah memasuki usia dua windu atau yang ke 16 kalinya diadakan. Kalau kita tengok ke belakang, bisa dipastikan, Panasonic Gobel Awards merupakan satu-satunya penghargaan untuk industri pertelevisian di tanah air yang begitu konsisten melaksanakannya setiap tahun. Dilihat dari usia, usia ke 16 adalah usia remaja yang penuh dengan ide dan kreatifitas. Tidak salah kiranya tema yang diusung kali ini adalah Keindahan Dalam Kreatifitas.

Untuk penghargaan yang ke 16 kali ini, Panasonic sebagai penyelenggara penghargaan ini memberikan apresiai lebih dengan menambahkan dua kategori baru, yaitu Presenter Hobi dan Gaya Hidup serta Aktor/Aktris Cilik Favorit. Dengan demikian akan ada 32 kategori yang terdiri dari 18 kategori program acara dan 14 kategori individu.

Pada hari Senin (4/3) kemarin, panitia Panasonic Gobel Awards mengadakan konferensi pers pertama. Konferensi pers ini ditujukan untuk mengumumkan 32 kandidat peraih Panasonic Gobel Awards ke 16. Hal yang cukup menggembirakan adalah keikutsertaan stasiun televisi yang mencakup hampir semua stasiun televisi. Ini hal yang patut disyukuri karena dua tahun terakhir Trans TV dan Trans 7 tidak mengirimkan wakilnya untuk ikut serta dalam panitia verifikasi yang akan menilai acara dan invidu yang layak untuk meraih penghargaan Panasonic Gobel Awards. 

Dalam press conference tersebut juga diperlihatkan proses verifikasi yang berjalan cukup alot. Dude Harlino, Naysilla Mirdad dan Irfan Hakim setuju proses verifikasi yang mereka terlibat di dalamnya sangat melelahkan. Ini artinya untuk menentukan nominator yang berhak masuk sebagai kandidat peraih penghargaan berjalan sangat alot dan butuh energi dan waktu yang lebih lama.

Rinaldi Sjarif yang menjadi ketua panitia Panasonic Gobel Awards menjelaskan proses hingga munculnya nama nominator. Seperti tahun sebelumnya, panitia Panasonic Gobel Awards bekerja sama dengan AC Nielsen, badan riset independen yang menentukan kategori program televisi dengan rating tertinggi serta melakukan riset melalui telepon untuk beberapa kategori individu seperti aktor/aktris dan presenter tervaforit yang dikenal luas oleh masyarakat.

Panitia Panasonic Gobel Awards juga bekerja sama dengan tabulator independen BDO yang bertugas menghitung hasil akhir poling dari masyarakat yang dapat dilakukan dengan SMS Premium dan melalui PO BOX. Dalam acara konferensi pers tersebut semua pihak hadir dan memberikan jaminan mereka terhadap keakuratan serta keberimbangan hasil poling. Jadi kemungkinan rekayasa hasil poling tidak ada. Pihak MNC Group melalui RCTI akan menyiarkan secara langsung acara penganugerahan Panasonic Gobel Awards tanggal 30 Maret 2013.

Dengan adanya press conference tersebut, secara resmi Panasonic Gobel Awards ke 16 ini telah membbuka poling ke publik untuk 32 kategori yang terdiri dari 18 program acara dan 14 individu. Poling berlangsung dari 4 Maret hingga 27 Maret 2013 pukul 24.00. Setelah selesai poling, hasilnya akan disortir oleh BDO sebagai tabulator poling sehingga menghasilkan data poling yang valid, yaitu itu satu identitas satu vote. Untuk melakukan poling dapat dengan SMS premiun dengan cara mengirimkan mengetik PGA (spasi) nomor nominator. Misalnya, untuk kategori Presenter Berita dan Informasi yang berada pada nomor 25 terdapat lima nominator, yaitu Jeremy Teti, Putra Nababan, Senandung Nacita, Michael Tjandra, dan Najwa Sihab. Jika anda memilih Najwa Sihab cukup kirimkan SMS ke 6288, 99,81 atau 7288 dengan format PGA (spasi) 25E.

Berikut ini beberapa foto dari acara press conference pertama Panasonic Gobel Awards.

Dude Harlino

Naysilla Mirdad

Irfan Hakim



Video Naysilla Mirdad


Friday, March 1, 2013

Risiko Privasi Aplikasi iPhone dan iPad Lebih Besar Daripada Android

Aplikasi Android sering dianggap membawa malware dan virus. Meskipun saya tak pernah mengalaminya, namun banyak sekali berita yang mengatakan bahwa risiko terkena virus atau malware lebih besar di Android. Tidak tahu juga, apakah ini semacam kampanye negatif untuk menghadang laju Android yang makin hari makin tidak terbendung.

Namun jika melihat berita terkini, setiap platform atau OS smartphone/tablet memiliki kekurangannya masing-masing. Baru-baru ini sebuah studi yang dilakukan oleh Appthority menunjukkan bahwa aplikasi gratis di iPhone dan iPad (iOS Apple Inc.) memiliki risiko privasi yang lebih besar dibandingkan aplikasi gratis di Android. Appthority menunjukkan bahwa 60% dari 10 aplikasi top di pasar aplikasi AppStore yang terdiri dari lima kategori disinyalir membagi data pengguna kepada pengiklan dan perusahaan analitik, sedangkan di Android hanya 50%. 

Lebih jauh sebagaimana dicatat oleh readwrite:
 A full 60% of iOS apps gathered your location data, 54% vacuumed up your contact lists and 14% siphoned information from your calendar. With Android apps, those percentages were 42%, 20% and zero
Pertanyaannya tentu saja mengapa aplikasi gratis di AppStore Apple Inc. lebih berisiko secara privasi? 


Pertama, pengiklan mau membayar lebih mahal terhadap data pengguna iOS. Dengan demikian developer terdorong untuk mengumpulkan data pengguna sebanyak mungkin. Seterusnya karena aplikasi developer ini gratisan, tentu saja mereka hanya dibayar dari iklan yang muncul di aplikasi mereka. Makin banyak informasi pengguna yang dimiliki developer, seperti tempat tinggal, kontak dan lainnya, menjadi senjata bagus bagi developer memperoleh uang dari jaringan iklan. Informasi pengguna yang dibagi tersebut tentu saja bisa mengarahkan iklan yang tampil lebih baik.

Kedua, developer di iOS iPhone dan iPad lebih banyak sehingga persaingan untuk merebut pengguna lebih keras. Jika menggunakan cara bersaing biasa mungkin mereka tidak akan laku sehinga mereka mengkompromikan data pengguna yang mereka kumpulkan melalui aplikasi yang dipakai pengguna. Data pengguna ini tentu saja makanan empuk jaringan pengiklan untuk menghasilkan iklan yang lebih tepat sasaran.

Ketiga harga aplikasi murah atau bahkan gratis. Dengan harga yang murah bahkan gratis tentu saja akan sulit bagi developer untuk bisa memperoleh keuntungan. Nah dengan mengkompromikan privasi pengguna, developer dapat meraih lebih banyak uang dari jaringan pengiklan.

Jika kita lihat aplikasi gratis lebih banyak di Google Play dibandingkan AppStore Apple Inc., namun berdasarkan studi di atas ternyata risiko privasinya lebih kecil. Tampaknya daya tarik pengguna iOS yang biasanya sangat banyak menggunakan aplikasi serta digadang-gadang sebagai pengguna kelas elite menjadi alasan bagi besarnya risiko privasi di aplikasi gratis di iPhone dan iPad.

Samsung Rilis Galaxy J7 dan J5 Pro More Than Selfie

Galaxy J Friends di launching Galaxy J Pro  More Than Selfie! Kini bukan lagi jaman selfie Namun sudah zamannya Live Vlogging! ...