Thursday, December 5, 2013

Google Robot: Apple Makin Tertinggal dari Google

Setelah berkuasa di pasar smartphone dan tablet dengan sistem operasi Android, Google kini mencoba banyak proyek baru yang  tidak masuk akal bagi sebagian besar orang. Proyek-proyek tersebut sebenarnya sudah agak lama dirancang, namun menjadi hits beberapa waktu terakhir karena Google semakin serius untuk mewujudkannya. 

Proyek mobil tanpa supir atau Driverless Car misalnya sudah dimulai pada tahun 2009. Namun beberapa waktu terakhir Google makin serius dengan mengadakan lobi ke beberapa negara bagian agar diberikan izin berada di jalan raya. Selain itu baru-baru ini Google merilis proyek Balon Internet bagi negara yang fakir konektsi internet. Proyek-proyek tersebut dinamakan moon shot karena di luar akal dan mungkin hasilnya baru akan diperoleh 5 atau 10 tahun yang akan datang.


Larry Page CEO Google saat ini pernah mengatakan bahwa:
Technology should be deployed wherever possible to free humans from drudgery and repetitive tasks
 Tampaknya hal tersebutlah yang menjadi acuan bagi banyak proyek Moon Shot Google. Teknologi seharusnya dibuat atau diadakan sedapat mungkin untuk menghindarkan manusia dari kebosanan dan perulangan tugas. Hal ini semakin terlihat dengan dirilisnya proyek baru Google, yaitu Robot Google.

Kemarin, The New York Times merilis sebuah artikel yang kemudian menjadi acuan bagi situs berita lain tentang proyek baru Google ini. Tidak tanggung-tanggung, Google menugaskan Andy Rubin, mantan orang nomor satu di Android untuk mewujudkan proyek ini menjadi kenyataan. 

Rubin dari dulunya memang dikenal sebagai orang yang sangat dekat dengan Robotic sehingga proyek ini dipimpin oleh orang yang sangat tepat. Namun sampai saat ini belum jelas benar apa rencana Google dengan proyek Robot Google ini. Hal yang jelas sebagaimana dicatat oleh The New York Times, dalam setengah tahun terakhir Google telah membeli 7 perusahaan yang terkait dengan Robotic untuk mensukseskan proyek Robot Google ini. Termasuk satu perusahaan yang menghasilkan special effect di film Gravity, yaitu Bot and Dolly.

Proyek Google yang berkapasitas Moon Shot ini membuktikan bahwa Google terus berinovasi di bidang lain dan mencari hal-hal baru bagi solusi masa depan manusia. Hal ini tentu berlawan arah dengan Apple yang sampai saat ini masih fokus di iPhone, iPad dan Mac. Apple tampaknya cukup senang dengan posisi mereka saat ini karena menghasilkan sangat banyak uang bagi mereka, sementara Google sudah cukup nyaman membiarkan beberapa posisi mereka seperti di mesin pencari dan Android, untuk kemudian membuat gebrakan dengan berbagai proyek yang bisa jadi solusi orang banyak termasuk Apple nantinya.

Beberapa waktu sebelum dirilisnya berbagai proyek Moon Shot Google ini, banyak sekali pemerhati teknologi mengatakan bahwa Apple tampaknya mulai didekati bahkan mungkin mulai ditinggalkan oleh Google dalam hal inovasi, meskipun sampai saat ini Apple masih tercatat sebagai perusahaan nomor satu dalam hal inovasi. Berbagai fitur yang ditawarkan Google di Android dan iOS tampak terlihat lebih inovatif dibandingkan yang diberikan oleh Apple. Contohlah aplikasi SIRI versus Google Now. Selain itu desain-desain aplikasi Google yang makin bagus, termasuk iklan-iklan baru Google yang menguras emosi, yang dulunya merupakan ciri khas Apple.

Saya rasa Google berada di jalur yang benar dengan terus menggenjot sisi inovasi yang selama ini menjadi ciri khas Apple. Setidaknya semenjak tahun 2011, saat Larry Page mulai menjadi CEO, Google mulai berbenah dan melihat lebih jauh ke depan, mungkin sekitar 10 tahun ke depan dari sekarang. Proyek Robot Google, seperti dikatakan Andy Rubin adalah proyek jangka panjang, yang hasilnya mungkin saja akan baru bisa dilihat 10 tahun ke depan. Namun hal tersebut tetap dilakukan Google, tapi bukan tanpa kalkulasi. 

Google melihat robotic merupakan solusi bagus untuk berbagai keperluan seperti dalam distribusi barang yang selama ini mengandalkan manusia. Demikian juga di pabrik yang terlalu banyak manusianya sehingga pekerjaan yang berulang kurang efisien.

Visi ke depan inilah yang membuat Google jauh melampaui Apple beberapa waktu terakhir. Meskipun mungkin suatu waktu proyek tersebut bisa gagal, setidaknya Google mencoba menghadirkan dan mewujudkan ide yang paling liar sekalipun, seperti Balon Internet. Hal ini membuat perbedaan  dari Apple, Microsoft dan banyak perusahaan teknologi lainnya.

Perusahaan yang melihat jauh ke depan adalah ciri perusahaan yang akan terus tumbuh. Saya pun tetap percaya, Apple akan tetap tumbuh dan menjadi pemain penting di ranah teknologi, namun produk yang mereka hasilkan dari tahun ke tahun akan menjadi barang biasa. iPhone dan iPad bagaimana pun bentuknya dan canggihnya nanti di tahun 2020 atau 2023, tetaplah hanya iPhone dan iPad, bukan sebuah proyek yang bisa mengundang faktor wow!

Visi ke depan dan berani mencoba berbagai hal yang tak mungkin juga merupakan ciri penting dari seorang wirausaha. Mungkin akan berbeda jika Steve Jobs masih ada di Apple atau bahkan mungkin sama saja. Hal yang jelas, sejauh ini, visi ke depan Apple, inovasi apa yang bisa membawa perubahan bagi orang banyak dalam skala lebih luas sama sekali tidak terlihat setelah  iPhone dan iPad. Apple masih begitu-begitu saja, iPhone, iPad, Mac, iTunes.

Tak salah kiranya jika Apple beberapa tahun ke depan akan tetap seperti saat sekarang adanya. 

Tuesday, December 3, 2013

Orang Indonesia Habiskan 3,33 Miliar Dollar Untuk Beli Smartphone

Seberapa besar uang yang dibelanjakan konsumen Indonesia untuk membeli smartphone?
Pertanyaan ini terjawab dengan sebuah rilis dari GfK Asia mengenai pasar smartphone di berbagai negara ASEAN, seperti Indonesia, Singapura, Vietnam, Philipina, Thailand, Malaysia dan Kamboja sehari yang lalu atau tepatnya tanggal 2 Desember 2013.

GfK Asia dalam laporannya menyatakan bahwa pasar smartphone di kawasan ASEAN tumbuh sebesar 61% di 9 bulan (Januari-September) 2013 dibandingkan periode yang sama di tahun yang lalu. Di kawasan ini dominasi Android tak terbantahkan dengan penguasaan pasar sebesar 72%.

Bila kita lihat lebih jauh, konsumen di Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Philipina, dan Kamboja menghabiskan dana 10,8 miliar dollar AS hanya dalam waktu 9 bulan di tahun 2013 ini (periode Januari-September) untuk membeli 41,5 juta smartphone. Ini artinya kemungkinan untuk terus bertambah sangat besar karena masih ada tiga bulan lagi, yaitu Oktober-Desember 2013. Angka ini tentu saja sebuah angka yang cukup menarik untuk ditelusuri. Tahun lalu, konsumen di negara-negara tersebut menghabiskan 7,54 miliar dollar AS untuk membeli 25,8 juta smartphone dalam periode yang sama.

Pertanyaannya, di antara negara-negara tersebut, negara manakah yang menjadi raja pasar smartphone?

Tidak diragukan lagi Indonesia merupakan bagian terbesar dari kue pasar smartphone di kawasan ASEAN. Sebagai negara dengan penduduk terbanyak dan pertumbuhan ekonomi lumayan baik, pasar smartphone di Indonesia sangat bergairah dan mengundang banyak vendor untuk memasukinya.

Selama 9 bulan dari Januari-September 2013 ini konsumen Indonesia menghabiskan 3,33 miliar dollar AS untuk membeli 14,8 juta smartphone. Nilai 3,33 miliar dollar AS untuk jangka waktu 9 bulan bukanlah angka yang sedikit dan akan terus bertambah hingga akhir tahun. Saya rasa dengan belum masuknya beberapa smartphone ke Indonesia seperti Nexus 5 dan iPhone 5s dan 5C secara resmi, jumlah tersebut berpotensi bertambah dan mungkin saja mencapai angka 4 miliar dollar AS nantinya di akhir tahun 2013.

Khusus untuk pasar Indonesia cukup menarik dengan berkuasanya Android setelah fenomena BlackBerry mereda. Pasar Android di Indonesia tumbuh 23% dibandingkan tahun lalu dan menguasai 60% pasar.

Pasar Philipina, Malaysia, dan Singapura juga tidak lepas dari penguasaan Android. Di Philipina Android menguasai 93% pasar, di Malaysia sebesar 83% dan Singapura sebesar 81%. Penguasaan Android ini mungkin juga karena Apple khususnya seolah-olah membiarkan kawasan ini sehingga konsumen memilih Android dibandingkan iPhone meskipun mereka cukup mampu (khususnya Malaysia dan Singapura) untuk membeli iPhone yang jauh lebih mahal.

Saya rasa vendor besar seperti Samsung merupakan vendor yang menangguk cukup banyak keberuntungan, tidak hanya di Indonesia tetapi mungkin di semua negara lain di kawasan ASEAN. Dari 41,5 juta smartphone yang dibeli konsumen di negara ASEAN, kemungkinan besar Samsung berada di nomor 1. Sayangnya data per vendor tidak saya temukan. Namun melihat agresivitas Samsung di Indonesia, perkiraan ini bisa mendekati kenyataan.

Khusus bagi Indonesia, uang sebesar 3,33 miliar dollar tersebut akan menarik banyak vendor untuk memasuki pasar Indonesia. Tidak hanya vendor luar, vendor dalam negeri dengan ponsel Android China branded lokal akan semakin banyak beredar di pasar. Harganya pun sangat masuk akal dan banyak sekali yang berada di bawah 1 juta rupiah. Ini sesuatu yang bagus, tinggal bagaimana konsumen bisa berhati-hati memilih smartphone yang tepat dengan berbagai pertimbangan harga.

Sumber: GfK Asia via The Next Web

Selular Award 2017 : ZenFone 3 Deluxe Smartphone Terbaik

Aliudin Sute d ja (National Sales Manager ASUS) menerima penghargaan Selular Award 2017 ASUS berhasil menempatkan dua smartphone mereka...