Monday, October 28, 2013

Catatan Dari Forum Tata Kelola Internet Ke-8, Bali (The 8th Internet Governance Forum, Bali) IGF 2013


Forum Tata Kelola Internet Ke-8 (Internet Governance Forum) yang berlangsung dari tanggal 22 Oktober-25 Oktober 2013 sudah berakhir dengan sangat sukses. Tidak kurang dari 2.200 orang peserta dari dalam dan luar negeri ikut secara aktif di dalam Forum yang digagas oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ini. Diskusi yang berlangsung, hampir di setiap workshop bisa dikatakan seru dan memunculkan banyak pengalaman baru bagi para peserta. Sungguh sebuah pengalaman baru, berinteraksi dengan banyak orang, tukar-menukar ide dan opini dan saling memajukan kepentingan organisasi, perusahaan, negara atau masyarakat sipil (CSO).

Dari segi penyelenggaraan, panitia penyelenggara patut diacungi jempol. Meskipun pada awalnya diragukan, namun nyatanya acara ini sangat sukses. Dari segi jumlah peserta, Internet Governance Forum kali ini merupakan rekor baru dengan 2.200 peserta terdaftar. Selain itu, pelaksaan workshop juga berjalan sangat lancar. Hampir bisa dipastikan 99,99% workshop berjalan sesuai rencana dan sukses. Dari sisi akomodasi peserta seperti makan siang, coffee break, semua tersedia sangat banyak. Panitia sangat menyadari bahwa hal ini merupakan bagian vital dari sebuah acara yang dihadiri ribuan orang.

Untuk media juga demikian. Media disediakan sebuah ruangan besar dengan koneksi internet broadband super kencang plus Wifi meskipun pada titik tertentu ngadat. Setiap ada press release terbaru dengan sendirinya akan tersedia di media center. Melakukan wawancara dengan berbagai tokoh yang cukup penting juga mudah. Selain itu ada media berupa buletin yang disebut Daily News yang setiap pagi hadir menampilkan high light dari acara sehari sebelumnya. Sebuah cara yang sangat membantu rekan-rekan media untuk tetap tersambung dengan workshop yang sudah berlalu sehari sebelumnya.

Tentu saja dari 130 lebih workshop yang diadakan di Internet Governance Forum Bali ada beberapa workshop yang patut menjadi perhatian. Workshop mengenai Privasi di Internet. Perlindungan Jurnalis/Blogger dan awak media di zaman serba internet, Perlindungan anak,  gender, keamanan, hacking, Surveillance dan Free software menjadi perhatian peserta.

Isu Surveillance oleh NSA beredar sangat kencang di Internet Governance Forum Bali. Banyak peserta merasa bahwa Amerika Serikat melakukan hal ini dan melanggar hak asasi manusia. Meskipun hal ini dibantah oleh Scott Busby dari U.S. State Department Representative. 
the U.S. “does not use intelligence collection for the purpose of repressing the citizens of any country for any reason, including their political, religious, or other beliefs,” adding that “individuals should be protected from arbitrary or unlawful State interference.”
Namun tentu tak ada jawaban yang bisa memuaskan semua pihak. Saya tetap percaya bahwa aksi memata-matai pengguna internet dunia yang dilakukan oleh NSA dan kemudian dibocorkan oleh Edward Snowden merupakan bentuk kesewenang-wenangan Amerika Serikat terhadap dunia lain dan harus dihentikan sekarang juga. Tidak ada satupun pengguna internet yang mau kegiatannya di internet disadap oleh siapa pun termasuk Amerika Serikat.

Isu perempuan juga mengemuka di Internet Governance Forum kali ini. Cukup banyak topik yang membahas bagaimana peran perempuan dalam kerangka Internet Governance. Selain itu, isu perlindungan anak, bagaimana seharusnya anak-anak menggunakan internet, apakah mereka terlalu muda untuk dikenalkan dengan internet dan sampai seberapa jauh mereka harus dilindungi karena kemungkinan banyaknya pemangsa anak-anak di internet. Topik-topik seperti ini menjadi tempat berbagi pengalaman yang sangat baik bagi peserta Internet Governance Forum di Bali.

Salah satu topik yang cukup menarik bagi saya adalah perlindungan jurnalis/blogger dan awak media lainnya di zaman internet. Salah satu pembicaranya adalah Bambang Harymurti dari Tempo. Workshop ini sangat ramai karena terdapat beberapa kasus mutakhir yang cenderung menyandera kebebasan berekspresi di internet seperti kasus Benhan. Bambang Harymurti sendiri berpendapat sebaiknya [asal 27 ayat 3 UU ITE tersebut dihapus saja karena cenderung represif dan menyandera kebebasan berekspresi dengan alasan  pencemaran nama baik. 

Menarik juga menyimak tanggapan Menkominfo Tifatul Sembiring dalam acara press conference terhadap keinginan banyak pihak untuk mencabut pasar 27 ayat 3 UU ITE tersebut. Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan bahwa pihak-pihak yang mengajukan penghapusan pasal tersebut bereaksi ketika mereka kena, kalau tidak kena mereka akan diam saja. Tentu sebuah pernyataan yang patut dikritisi.


Demikian juga dengan isu privasi. Patut didalami bahwa tidak cukup banyak pengguna internet yang memahami dengan baik bagaimana mengelola privasi mereka di internet. Hal ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh perusahaan seperti Facebook, Twitter, Google, Apple dan banyak lainnya untuk memunculkan iklan yang sesuai dengan minat dan kebiasaan pengguna. 

Berbagai kepentingan mengemukan di Internet Governance Forum di Bali ini. Namun pada dasarnya peserta sepakat bahwa tidak ada satu pihakpun yang boleh mengelola internet sesuai dengan kepentingan pihak tersebut. Sebagai media dialog dan saling tukar pengalaman, Internet Governance Forum memiliki arti penting untuk menemukan berbagai kepentingan yang saling bersilangan untuk duduk dan memahami kepentingan pihak-pihak lain di internet.

Hal yang lebih menarik lagi dari Internet Governance Forum Bali ini adalah adanya High Level Leaders Meeting. Sehari sebelum dibukanya IGF 2013, diadakan High Level Leaders Meeting yang kali ini dihadiri oleh utusan CSO (Civil Society Organization). Pada penyelenggaraan IGF sebelumnya acara ini hanya dihadiri oleh pejabat atau utusan negara tertentu dan perusahaan. Hal ini merupakan sebuah kemajuan, dimana CSO kini diakui sebagai sebuah elemen penting dalam Internet Governance. 

Saya tentu sangat senang bisa hadir dan berinteraksi dengan banyak orang di Forum Tata Kelola Internet tingkat Internasional ini. Panitia lokal juga sangat tanggap dengan berbagai kritikan dan mampu mengadakan perbaikan dalam waktu yang cepat. Sekali lagi saya rasa panitia lokal perlu diberikan pujian karena kerja keras mereka. Saya juga sempat menghadiri informal meeting dengan perwakilan UNESCO guna membahas World Press Freedom Day yang (mungkin) akan diadakan di Indonesia di tahun 2014 nanti.

Sampai berjumpa di Internet Governance Forum ke-9 yang akan diadakan di Istanbul, Turki pada bulan September 2014.

Wednesday, October 23, 2013

Opening Ceremony and Workshop Hari Pertama The 8th Internet Governance Forum, IGF 2013 Bali

Mr. Tifatul Sembiring, Indonesia ICT Minister
(Source:emil huseynov)
Pada hari Selasa tanggal 22 Oktober 2013, Menkominfo Tifatul Sembiring secara resmi membuka Forum Tata Kelola Internet ke-8 yang diadakan di Nusa Dua, Bali. Dalam acara yang dihadiri sangat banyak peserta dan utusan berbagai negara, organisasi dan bisnis tersebut ia menyambut baik diadakannya Forum Tata Kelola Internet yang kali ini diadakan di Indonesia. 

Dalam Opening Ceremony tersebut juga turut memberikan kata sambutan Thomas Gass dari UNDESA. Juga turut menyampaikan sambutannya Menteri Komunikasi Brazil, Paulo Bernardo Silva. Dalam sambutannya ia mengatakan betapa pentingnya model baru bagi Tata Kelola Internet yang memungkinkan internet menjadi demokratis dan transparan yang memungkinkan untuk memastikan hak asasi manusia.

Terdapat sangat banyak workshop yang berlangsung secara paralel di hari pertama Forum Tata Kelola Internet ini. Dalam catatan saya terdapat 20 workshop yang membahas berbagai topik seperti privasi, keamanan, kebebasan berekspresi, internet untuk penanggulangan bencana, dan masih banyak lainnya.

Ringkasan workshop tersebut dapat saya sajikan sebagai berikut

1. Emerging Cybersecurity Threats, focused on emerging cybersecurity threats, including mobile and cloud security, and the implications on Internet governance. The discussion encompassed a discussion of the threats, while also discussed proactive strategies and solutions for addressing emerging cybersecurity threats. 

2. Protection of Children Online, discussed effective ways to protect children from online threats, including sexual harassment and sites of violent nature with the focus on needs and specificities of developing countries. 

3. Power of Internet for Disaster management and Environmental monitoring, provided an overview on the use of Internet based services and ICTs for climate change adaptation, disaster risk reduction and disaster management; policy, legal and regulatory frameworks; international cooperation for disaster management in countries. In addition, the workshop addressed how the use of “Big Data” will add new and potential capability for disaster management. 

4. Internet Governance and Open Government Data Initiatives, as consumers and citizens are increasingly conducting more of their personal and business lives from mobile internet enabled devices, personal data about these activities is often shared in real-time between different parties across the globe. The workshop looked at how mobile data can be used to provide social and economic good while balancing privacy and strengthening consumer confidence and trust. It also looked at the role of regulatory frameworks in creating social and economic opportunities while helping mobile users understand and control how their personal information is managed.

Quote penting yang dikemukakan beberapa tokoh dalam Forum Tata Kelola Internet ini yang cukup penting untuk diketahui adalah sebagai berikut.

If You want to go Fast, Go Alone. If You Want to Go Far, Go Together (Fadi Chehade, ICANN CEO)
Over the years Internet Governance Forum is finally growing a premier league of global diplomacy. Everybody comes here because they realize the central part that the internet is playing and will play in the future. (Nnenna Nwkanma, Civil Society, Africa Regional Coordinator  World Wide Foundation)
I am very hopeful that the internet is not invented by government, it was invented by many stakeholder, and I am very hopeful that its governance will become very strong. ( Thomas Gass, UNDESA)



Monday, October 21, 2013

The 8th Internet Governance Forum IGF 2013 Press Release

Sumber: IGF 2013
Nusa Dua, Bali, 21 October 2013 - Representatives of Governments, business and civil society are gathering in Bali to examine cross-border Internet governance challenges at the annual session of the Internet Governance Forum (IGF), which begins on Tuesday 22 October. Each year the Secretary-General of the United Nations convenes the meeting through the Department of Economic and Social Affairs.

The Minister of Communication and Information Technology of the Republic of Indonesia, H.E. TifatulSembiring, said that the purposes of the IGF are closely related to the acceleration of progress on the Millennium Development Goals (MDGs). “Indonesia will propose that we as one global community develop more concrete global cyber-ethics,” the Minister said. “These norms are to be common references for all stakeholders to conduct transactions and interactions in cyberspace,” he said, adding that cyber ethics are fundamental to demonstrating respect for the values of different countries, communities and cultures.

According to 2012 estimates, Indonesia has some 63 million Internet users, 47 million accounts on Facebook and nearly 30 million Twitter accounts.  As Co-Chair of a High-Level Panel that made recommendations on future global sustainability and growth, Indonesia’s President SusiloBambangYudhoyono was among a group of eminent persons calling for a “data revolution” that would, among other things, improve the quality of information available to citizens.

With nearly 40 percent of the world’s population online by the end of 2013, the Internet has become “an essential tool for the creation of jobs and the delivery of basic public services,” said the United Nations Under-Secretary-General for Economic and Social Affairs,Mr. Wu Hungbo, adding that it is also essential “for improving access to knowledge and education, for empowering women, for enhancing transparency, and for giving marginalized populations a voice in decision-making processes.” Mr. Wu, who will be represented in Bali by United Nations Assistant Secretary-General Thomas Gass, said that with so much at stake, the IGF exists to create an environment in which the potential of the Internet is harnessed by all, for all.

The Forum has met annually since the 2006 World Summit on the Information Society to foster a common understanding of how to maximize Internet opportunities and address emerging risks and challenge. The IGF (which is not a decision-making body) is also intended as a space for developing countries to be granted the same opportunity as wealthier nations to engage in the debate on Internet governance, as well as to facilitate their participation in existing institutions and arrangements.

 This year’s IGF will also review the role of Governments in multi-stakeholder cooperation for Internet governance, and the Bali meeting will seek to identify common ground on this issue. More than 1,500 delegates will convene in Bali over the course of the four-day meeting.  Several High-level government officials, CEO's and directors of major global business organizations and civil society groups will be in attendance.

SSource: http://www.intgovforum.com/


Thursday, October 17, 2013

Catatan Sebelum Internet Governance Forum, IGF 2013 Bali

Dalam hitungan hari ke depan, Internet Governance Forum ke-8 akan dilaksanakan di Nusa Dua Bali. Forum Tata Kelola Internet tingkat internasional ini mempertemukan para pemegang kepentingan di ranah internet, ada dari pemerintah, organisasi intra pemerintah, swasta, perguruan tinggi, civil society dan lainnya untuk sama-sama berdebat mencari Tata Kelola Internet yang bagaimana semestinya ada.

Sungguh sesuatu yang sangat rumit untuk menentukan sebuah Tata Kelola untuk sebuah (hal) yang melingkupi seluruh dunia ini, yaitu Internet. Banyak hal, banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk sampai pada satu kesimpulan, bahkan kata Tata Kelola itu sendiri (Governance) mungkin masih sangat terbuka untuk diperdebatkan. Apakah semestinya Internet tersebut dikelola? Bagaimana seandainya internet tersebut dibiarkan apa adanya, seperti waktu lahirnya? Apakah tidak sebaiknya Internet itu dibiarkan saja bagaimana pengguna menggunakannya, tak perlulah berbagai pihak harus mengelola bagaimana internet itu bekerja?

Namun sesuatu yang mustahil jika Internet itu dibiarkan begitu saja karena Internet sudah sekian maju. Seperti kata Jovan Kurbalija, "Tiada Konspirasi, Internet Telah Menjadi Korban Ketenarannya Sendiri". Internet yang dulu hanya terbatas bagi akademisi, kini dinikmati sekian miliar penduduk bumi. Internet kini menjadi selebriti baru yang kini memaksa sebagian besar orang tidak bisa hidup tanpanya. 

Lalu, muncullah berbagai kepentingan yang tercipta karena adanya internet. Ada kepentingan ekonomi, ada kepentingan demokrasi dan berbagai kepentingan lain. Ada pihak yang ingin internet diawasi secara ketat karena khawatir dengan berbagai kemungkinan yang merugikan. Ada pihak yang ingin mengekspor berbagai budaya permisif melalui internet. Ada banyak konten tak patut yang ingin disebar pembuat konten demi mengejar keuntungan ekonomi.

Bingung. 

Internet membuat banyak kesempatan terbuka lebar, di sisi lain internet membuat berbagai ketidakpastian dan kerapuhan dalam berbagai hal seperti data pengguna, pencurian identitas, serangan cyber, perdagangan manusia. Lalu mungkinkah sebuah tata kelola yang disetujui semua pihak bisa mengatasi hal-hal buruk dari internet dan menonjolkan sisi-sisi baik internet tersebut?

Saya rasa tidak akan ada satu kesepakatan apa pun tentang Tata Kelola Internet yang diamini semua pihak. Latar belakang budaya, bahasa, demokrasi, kepentingan ekonomi, pertahanan negara dan banyak hal lainnya menjadi faktor kesepakatan untuk tidak sepakat. Namun paling tidak Internet Governance Forum melahirkan sebuah arahan (guidance) bagaimana seharusnya pemegang kepentingan yang sangat banyak tersebut bereaksi dengan internet. (bahkan saya bingung untuk mencari kata yang pas untuk hal ini).

Seperti tema Internet Governance Forum ke-8 di Bali ini, "Building Bridges – Enhancing Multi-stakeholder Cooperation for Growth and Sustainable Development”--Membangun Jembatan. 

Saya jadi ingat apa yang dikisahkan dalam biografi Sutan Sjahrir untuk tamsil sebagai jembatan. Jadi jembatan itu, menghubungkan banyak pihak, banyak kepentingan yang setiap saat berlalu lalang di atas jembatan. Apa yang dilakukan oleh berbagai pihak dengan adanya jembatan belum tentu akan berakibat positif bagi jembatan itu sendiri. Bagi sebuah jembatan, adanya pertemuan berbagai kepentingan karena keberadaan dirinya adalah sesuatu yang sangat besar. Jembatan tak perlu risau akan lapuk asal berbagai pihak bisa bertemu dan mengambil keuntungan dari dirinya. Namun celakanya sebagai jembatan, posisinya berada di titik yang sulit. Untuk ikut satu pihak tertentu tidaklah mungkin, sementara mungkin saja jembatan tersebut tertarik untuk bergabung ke salah satu pihak tertentu. Ini membuat Jembatan sesuatu yang ambigu, posisinya tidak jelas.

Namun setidaknya, kita bisa mengambil berbagai hal positif dari Internet Governance Forum ini. Mungkin banyak yang mengatakan, seolah-olah (forum ini) mengawang-awang, tidak jelas ke mana arahnya dan kurang promosi dan bantuan pemerintah. 

Cobalah nanti kita buktikan dengan mengikuti 130 lebih workshop gratis yang disediakan Internet Governance Forum di Bali. Nilai workshop ini jika dinilai dengan uang akan sangat besar dan manfaatnya akan lebih besar lagi. Melihat lebih jauh bagaimana pemegang kepentingan di Internet saling mendahulukan kepentingan mereka sendiri adalah sesuatu yang menarik. Indonesia sebagai tuan rumah di forum ini sudah semestinya mengajukan berbagai hal yang sesuai pula dengan kepentingannya. Jangan mau jadi tukang cuci piring, namun sudahkah disiapkan apa saja yang hendak kita ajukan demi kepentingan kita sendiri di Internet Governance Forum nanti?

Saturday, October 12, 2013

Google Play Siapkan Aplikasi Khusus Tablet Android

Apa yang paling menjengkelkan ketika memiliki tablet Android? Aplikasi khusus tablet yang miskin dibandingkan dengan aplikasi yang ada di App Store untuk iPad. 

Sebagai pengguna tablet Android, saya kesal karena hanya tersedia sedikit aplikasi yang benar-benar ditujukan untuk tablet. Di Google Play, jika kita browsing dari tablet, tidak ditemukan suatu kanal khusus yang langsung bisa dinikmati untuk mengunduh aplikasi yang cocok dengan ukuran tablet. 

Memang harus diakui bahwa kini ada satu juta aplikasi ada di Google Play. Namun 99% aplikasi tersebut ditujukan untuk smartphone dan Phablet. Kalaupun ada aplikasi yang ditujukan untuk tablet, namun bercampur dan tak terklasifikasi sehingga sulit untuk menemukannya. Hal ini membuat tablet Android menjadi anak tiri dan seperti kurang diperhatikan padahal kini ada sekitar 70 juta tablet Android yang beredar di pasar dan jumlahnya terus meningkat.

Hal yang lebih aneh lagi adalah, aplikasi bagus seperti Twitter juga tidak menyediakan aplikasi khusus untuk tablet. Meskipun dirumorkan sedang mempersiapkan aplikasi khusus tablet, namun diberitakan aplikasi itu khusus untuk Tablet Samsung berlayar 10 inchi.

Masalah-masalah di atas membuat pengalaman menggunakan tablet Android berkurang dan tidak sebaik iPad. Padahal jangka waktu penggunaan tablet sebenarnya lebih lama dibandingkan dengan smartphone karena layarnya yang lebih besar dan pengguna cenderung lebih mau bekerja di tablet dibandingkan dengan smartphone.

Untuk mengatasi hal ini, Google telah mengumumkan sebuah langkah baru kepada pengembang aplikasi di Google Play. Dalam rilis resminya, Google mengatakan bahwa mulai tanggal 21 November 2013 nanti, pengguna yang berkunjung ke Google Play akan langsung (by default) menemukan kanal Designed for Tablets

On November 21, the Play Store will make a series of changes so it’s even easier for tablet users to find those apps that are best for their devices. First, by default, users browsing Google Play on a tablet will now see apps and games that are designed for tablets on the top lists (Top Paid, Top Free, Top Grossing, Top New Paid, Top New Free, and Trending). Tablet users will still be able to switch the view so they can see all apps or games if they choose. Also starting November 21, apps and games that do not meet the “designed for tablets” criteria will be marked as “designed for phones” for users who browse the Play Store on tablets.

Kanal Designed fo Tablets berisi aplikasi-aplikasi yang khusus didesain untuk tablet sehingga akan memudahkan pengguna untuk membeli dan mendownload aplikasi tersebut. Bersamaan dengan hal itu, Google juga mengimbau para pengembang untuk fokus membuat aplikasi untuk tablet Android dengan memperhatikan beberapa Quality Checklist agar aplikasi tersebut memiliki kegunaan yang tinggi bagi para pengguna tablet.

Saya kira langkah ini sesuatu yang sangat bagus. Tablet Android secara over all kini sudah melampaui iPad dari Apple. Sangat disayangkan jika aplikasi yang cocok untuk tablet masih sedikit dan tidak terklasifikasi dengan baik. Dengan langkah ini, Google menunjukkan kepada para pengembang bahwa tablet Android kini sudah semakin banyak dan pengembang memiliki kesempatan yang sangat bagus untuk melakukan monetisasi dan memperoleh banyak pendapatan dari aplikasi yang didesain khusus untuk tablet.

Tuesday, October 8, 2013

Dua Minggu Menjelang Forum Tata Kelola Internet (IGF 2013) di Bali

Dua minggu dari sekarang (saat blog ini dipublikasikan) akan berlangsung sebuah forum yang sangat besar di Bali, yaitu Forum Tata Kelola Internet (Internet Governance Forum, IGF 2013). Forum Tata Kelola Internet merupakan acara reguler yang berada di bawah naungan PBB. Tentunya acara ini sebuah acara yang sangat penting dan membahas isu-isu seputar tata kelola internet. 

Pelaksanaan Forum Tata Kelola Internet ini berlangsung dari tanggal 22 Oktober - 25 Oktober 2013 di Nusa Dua Bali. Sehari sebelumnya ada acara Pre Event. Nah kira-kira apa saja yang akan dibahas di Forum Tata Kelola Internet di Bali?

Perlu kita lihat tema besar acara IGF 2013 di Bali ini, yaitu
Building Bridges – Enhancing Multi-stakeholder Cooperation for Growth and Sustainable Development.
IGF 2013 ingin menjadi jembatan kerja sama multi stakeholder untuk pertumbuhan dan pembangunan yang berkelanjutan. Di Forum ini, baik pemerintah dari berbagai negara, pihak swasta, masyarakat sipil, akademisi, perusahaan besar semacam Google dan Facebook duduk dan berdebat demi menghasilkan sesuatu yang bisa dijadikan patokan tata kelola internet.

Ada beberapa subtema lain yang membangun tema besar tersebut, yaitu

1. Access and Diversity - Internet as an engine for growth and sustainable development
2. Openness - Human rights, freedom of expression and the free flow of information on the Internet
3. Security - Legal and other Frameworks: Spam, Hacking and Cyber-crime
4. Enhanced Cooperation
5. Principles of Multi - Stakeholder Cooperation
6. Internet Governance Principles

Semua tema yang dibahas sangat terkait dengan kegiatan sehari-hari pengguna internet. Untuk itu tentu butuh keterlibatan pengguna internet dari berbagai kalangan, terutama peserta dari Indonesia karena bertindah sebagai tuan rumah. Keterlibatan ini sangat penting agar forum Tata Kelola Internet 2013 memberikan sesuatu yang positif bagi aktivitas berinternet di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.

Panitia IGF 2013 di Bali pun membuka kesempatan untuk terlibat di Forum Tata Kelola Internet ini. Anda bisa mendaftar untuk ikut acara ini secara gratis. Gratis dalam arti acaranya, anda tak perlu membayar untuk bisa berdiskusi dan berdebat dengan pejabat negara lain atau perusahaan besar seperti Google atau Facebook. Kedudukan semua peserta sama tanpa dibedakan sehingga akan sangat banyak manfaat yang bisa diperoleh dari acara ini.

Untuk bisa mengikuti Forum Tata Kelola Internet ini, sebelumnya anda harus mendaftar di link http://www.intgovforum.org/cms/igf-2013-registration   Pendaftarannya sangat mudah dan anda akan diberikan konfirmasi setelah pendaftaran anda diterima. Bagi yang bermukim di Bali, tentunya tak butuh biaya besar untuk terlibat di Forum Tata Kelola Internet ini.

Forum Tata Kelola Internet ini merupakan kesempatan besar bagi Indonesia untuk memperkenalkan lebih  jauh tata kelola internet di Indonesia. Indonesia harus bisa mengambil sebanyak-banyaknya manfaat dari forum ini. Indonesia harus bisa memasukkan banyak hal tentang berbagai isu seputar kebebasan berekspresi di internet agar diketahui dan disetujui peserta atau negara lain.

Keterlibatan multi stakeholder di acara ini sangat penting karena internet bukanlah milik satu negara atau perusahaan seperti Google dan Facebook. Internet haruslah jauh dari penguasaan pihak-pihak yang memiliki kepentingan sehingga bisa menjadi katalisator penting dan mampu mendorong pertumbuhan dan menegakkan hak asasi manusia.

Sebagai pengelola blog ini, saya turut menyempatkan diri untuk hadir di Acara Forum Tata Kelola Internet ini. Semoga nanti kita bisa bertemu dan berdiskusi di sela-sela acara. Sampai jumpa nanti di Bali.

Naik Kereta Api Argo Parahyangan Ekonomi Premium Tuuut Tuuut Tuuut Siapa Hendak Turut Dari Bandung ke Jakarta

Gerbong Kereta Argo Parahyangan Ekonomi Premium Satu hal yang saya senangi kalau bepergian, baik untuk mengurus urusan ini maupun urusa...