Tuesday, May 14, 2013

Adu Kuat NGOPIKERE versus Festival ASEAN Blogger

Ini bukan sebuah cerita yang baru lagi. Mungkin kita terlalu sering mengalami hal ini. Dan celakanya kita kembali terjebak untuk beradu kuat urat leher, beradu kuat siapa yang paling berani membuat tagar dan merasa menang setelah itu. 

Mari saya cerita sebuah kisah mengapa dua "pesta" onliner/blogger atau social media enthusiasts bisa terjadi di satu tanggal yang bersamaan. Pesta apa yang dimaksud? Tentu saja acara Ngopikere dan Festival Blogger ASEAN 2013.

Tersebutlah sebuah kisah, di mana tempat kami selalu bertemu, kadang sekali seminggu, dan tak jarang lebih sering dari itu. Tempatnya tentu anda tidak perlu tahu persis di mana, tetapi yang jelas sandi yang digunakan adalah Kandang Kambing.

Melirik namanya tentu saja minimal ada seekor kambing dan kandangnya di sana. Benar sekali, di sela-sela ngopi dan diskusi tentang segala hal, mulai dari hal remeh-temeh seperti celana dalam hingga anggota DPR/partai yang korupsi lolongan suara kambing mengiringi. Tak perlu anda bayangkan sebuah tempat yang nyaman, Kandang Kambing adalah di mana tak satupun di antara tamu di sana yang merasa lebih baik dibandingkan tamu atau bahkan tuan rumah sekalipun.

Kadang saya pulang dari Kandang Kambing jam 02.00 pagi. Tidak jarang lebih cepat dari itu. Sering kena hujan ketika berboncengan sepeda motor. Namun berkahnya terasa, karena Kandang Kambing itu semacam pelarian jiwa-jiwa yang masih waras agar tetap tidak gila melihat sekitar yang semakin gelisah.

Setelah sekian lama bertemu, saling kenal dan dekat, seorang tamu tidak mau untuk terus-menerus menjadi tamu. Tamu ini kebetulan bekerja di Bogor dan berasal dari Gunung Kelir, Purworejo. Beberapa bulan yang lalu ia mengundang kami, untuk menghabiskan hari di Gunung Kelir, ngopi segendut perut seperti yang biasa dilakukan di Kandang Kambing dan menikmati suasana alam dan budaya di Gunung Kelir.

Tentu ada teman yang bergembira dengan undangan tersebut. Saya sendiri mengatakan pikir-pikir karena saya tahu sekali keterbatasan dompet. Dicarilah waktu yang tepat untuk ngopi di Gunung Kelir. Ternyata didapatkan tanggal baik, bulan baik, yaitu 9 Mei -11 Mei 2013. Sebuah hari yang baik karena libur panjang dan tamu yang berkunjung ke Kandang Kambing tampaknya setuju tanggal tersebut.

Tentunya ke berangkat ke Gunung Kelir butuh biaya, butuh pengorbanan. Oleh karena sebagian besar dari yang datang ke Kandang Kambing merupakan penikmat gratisan, diberilah nama acara tersebut Ngopikere. Nama itu tidak tendensius, tidak mencari-cari perkara. Semata-mata sebagai sindiran bagi kami, karena memang pada kere dan maunya gratisan melulu.

Soal kemudian acara Ngopikere ini bersamaan dengan Festival Blogger ASEAN adalah kebetulan. Saya rasa tentu tidak ada satupun pihak yang berani menyuruh agar acara Ngopikere diundur atau dimajukan agar tidak terlihat saling menyaingi. Soal Festival Blogger ASEAN formal dan Ngopikere itu seenak udel tidak perlu dipertentangkan.

Sebagai pengurus sebuah perkumpulan Blogger, saya tahu persis, anggota yang pergi ke ASEAN Blogger dan anggota yang ke Ngopikere. Kedua acara ini kami dukung penuh karena sama-sama bertujuan sangat baik. Lalu mengapa timbul kesan adanya blok Blogger ASEAN dengan blok Ngopikere?

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami untuk melihat masalah ini secara jelas. Pertama, kita tidak tahu benar apakah Festival Blogger ASEAN dan Ngopikere itu benar-benar saling menafikan sampai ke akar-akarnya. Dari informasi orang dalam yang saya peroleh, panitia Festival Blogger ASEAN sudah mengetahui acara Ngopikere ini. Saya tentu tak menyebutkan nama, tetapi terdapat saling pengertian bahwa kedua acara ini penting dan saling mendukung.

Tentu informasi ini beredar terbatas pada beberapa orang saja. Sebagian besar orang malah tidak tahu sama sekali. Ini sesuatu yang wajar, sehingga kemudian terjadi salah pengertian di lapisan yang lebih bawah. Salah pengertian tersebut kemudian menimbulkan pertentangan dan tidak jarang mengklaim paling benar.

Kedua, kemajuan media sosial seperti Twitter haruslah dipahami sebagai bentuk doing by learning. Banyak pengguna Twitter hanya melakukan doing, tetapi tidak mau learning. Isu panas sedikit saja, yang kemudian dikipasi oleh orang iseng membuat twitwar yang mubazir. Saya melihat pertentangan, blok-blok-an Blogger dan kesan yang timbul dari kedua acara tersebut adalah sebuah kesalahan karena tidak mampu mempelajari Twitter lebih bijak. Terus terang, saya ikut mengompori untuk melihat reaksi teman-teman di Ngopikere dan Festival Blogger ASEAN. Hal itu tidak lebih dari sebuah eksperimen untuk melihat sejauh mana Twitter dipahami sebagai sebuah alat media sosial.

Ketiga, sudah saatnya blogger, penggiat media sosial dan lainnya tidak terlalu sensitif dengan acara lain selain acara yang mereka ikuti. Tidak usah saling menduga, tidak usah merasa tersaingi karena hal tersebut akan menimbulkan akibat berantai. Informasi yang sifatnya lahir dari dugaan dan sensitifitas berlebihan tersebut bisa dikategorikan informasi sampah yang bisa menyesatkan dari kebenaran. 

Keempat sensitifitas di media sosial seperti Twitter haruslah dikurangi. Jangan karena orang lain menuliskan tagar tertentu, lalu merasa tersaingi atau merasa ditentang. Setiap orang tentu saja bebas untuk melakukan apapun di media sosial. Tugas kita, karena nyemplung di media sosial tersebut adalah menikmatinya, bukan menduga-duga apa yang ada dibalik semua itu.

Oh iya, Blogger bukan partai politik atau brand. Sensitifitas blogger semestinya tidak ditujukan untuk tujuan-tujuan sempit dan sementara. Blogger tidak perlu sensitif dengan isu-isu di antara mereka, tetapi sensitif dengan isu perubahan sosial, itu akan lebih baik.

Nah, apakah saya datang ke Festival Blogger ASEAN dan Ngopikere?  Sebuah pertanyaan yang tidak lagi butuh jawaban.

Naik Kereta Api Argo Parahyangan Ekonomi Premium Tuuut Tuuut Tuuut Siapa Hendak Turut Dari Bandung ke Jakarta

Gerbong Kereta Argo Parahyangan Ekonomi Premium Satu hal yang saya senangi kalau bepergian, baik untuk mengurus urusan ini maupun urusa...