Thursday, April 11, 2013

Tidak Sanggup Berkompetisi, Microsoft Perkarakan Google

SCROOGLED, Kampanye anti Google yang dilancarkan
Microsoft
Kompetisi adalah sesuatu yang baik bagi pengguna. Makin tinggi tingkat kompetisi dipercaya yang paling diuntungkan adalah pengguna. Demikian juga yang berlaku di dunia teknologi. Kompetisi tingkat tinggi antarplatform smartphone contohnya, memaksa produsen untuk menghasilkan smartphone yang tidak hanya bagus secara pemakaian, tetapi juga bagus dari sisi harga. Artinya harganya masuk di akal.

Namun demikian, ada juga kecenderungan perusahaan yang karena tidak kuat untuk berkompetisi, melakukan cara-cara di luar pasar untuk menaklukkan saingannya. Cara ini dilakukan oleh Microsoft dan Apple Inc., terutama terkait dengan penyalahgunaan paten. Jika kita lihat, Apple Inc. sebenarnya lebih kepada menanyakan sesuatu yang menjadi haknya karena mereka memiliki paten. Akan tetapi lain dengan Microsoft. Perusahaan yang berbasis di Redmond ini menggalang kekuatan untuk memaksa pesaingnya maju ke pengadilan, terutama tentu saja Google dengan alasan yang sering terlihat bodoh.

Baru-baru ini, Fairsearch.org, sebuah organisasi yang terdiri dari beberapa perusahaan seperti Nokia, Expedia, Microsoft dan Oracle melayangkan keberatan mereka kepada Komisi Eropa terkait penguasaan pasar smartphone oleh Android yang terlalu dominan. Fairsearch.org ini juga dulu yang melayangkan gugatan terhadap penguasaan pasar mesin pencari Google yang sangat dominan di Eropa. Dipercaya, perusahaan di belakang fairsearch.org tidak lain adalah Microsoft.

Dalam keberatannya fairsearch mengaatakan:
“Google is using its Android mobile operating system as a ‘Trojan Horse’ to deceive partners, monopolize the mobile marketplace, and control consumer data,” said Thomas Vinje, Brussels-based counsel to the FairSearch coalition. “We are asking the Commission to move quickly and decisively to protect competition and innovation in this critical market. Failure to act will only embolden Google to repeat its desktop abuses of dominance as consumers increasingly turn to a mobile platform dominated by Google’s Android operating system."
Kesimpulan dari keberatan fairsearch tersebut adalah Android yang sangat dominan di pasar Eropa. Mereka menuding Google sengaja mem-bundling Android dengan layanan milik mereka sendiri yang memaksa setiap vendor harus mengikutkan layanan Google tersebut di setiap smartphone yang mereka jual di Eropa.

Tampaknya sesuatu yang logis keberatan faisearch tersebut. Google menurut mereka secara sistematis memaksa pesaingnya keluar dari pasar dan memonopoli pasar smartphone. Keberatan ini mungkin senada dengan gugatan antitrust terhadap Microsoft yang mem-bundling setiap PC yang dijual dengan web browser internet explorer. 

Namun bila kita teliti lebih jauh, ternyata gugatan tersebut terlihat sangat bodoh. Mengapa? 
Sebuah artikel di readwrite menunjukkan bahwa kasus yang dialami oleh Microsoft yang dikenai denda oleh Uni Eropa berbeda dengan kasus penguasaan Android yang diajukan keberatannya oleh Fairsearch.

Menurut artikel tersebut, Microsoft tidak memberikan secara gratis aplikasi Windows , baik desktop maupun mobile kepada vendor yang hendak menjual PC atau smartphone. Ada biaya yang harus dikeluarkan vendor agar mereka bisa memproduksi PC dan menjualnya. Sementara dalam kasus Android, Google memberikan secara cuma-cuma sistem operasi Android kepada vendor. Terserah vendor mau diapakan, namun kalau ingin mengakses Google Play sumber ribuan aplikasi, Google meminta vendor untuk menempatkan beberapa layanan penting mereka seperti YouTube, Search dan Maps.

Jika vendor berkeberatan vendor dapat melakukan forking atau mempreteli sistem operasi Android sesuai keinginan mereka. Hal ini dilakukan oleh Amazon dengan produk Kindle-nya. Karena itulah pengguna Kindle tidak bisa mengakses Google Play karena layanan Google sudah dipreteli. Dengan demikian ada kebebasan bagi vendor apakah ingin ikut Google secara resmi atau ingin melakukan forking. Hal yang sama tidak terdapat dalam kasus Microsoft. 

Dengan demikian apa yang diajukan oleh Microsoft merupakan sesuatu yang lucu dan bodoh. Google sejatinya tidak memaksa vendor untuk ikut dengan apa yang mereka gariskan. Oleh karena Android diberikan secara cuma-cuma tidak ada kesan Google memaksa vendor untuk memasukkan layanan Google ke smartphone yang dibuat dan dijual. Namun tentu saja Google punya hak atas Android, yaitu dengan mengikatkannya ke layanan Google Play. Jika vendor ingin mengakses Google Play tiada lain adalah dengan mengikuti apa yang diberikan Google.

Menurut readwrite sangat banyak smartphone yang berbasis Android, namun tidak mencantumkan layanan Google di dalamnya. Google juga tidak ambil pusing karena akan ada keterbatasan dalam smartphone tersebut.

Hal yang lebih bisa jadi bukti adalah apa yang dilakukan Facebook dengan Facebook Home. Banyak orang yang mengatakan bahwa yang dilakukan Facebook adalah kudeta atas Android. Karena dengan Facebook Home, hal yang pertama kali ditemui pengguna adalah halaman Facebook bukan home smartphone seperti biasanya atau default. Namun apakah Google melarang adanya Facebook Home?

Google tidak melarang hal tersebut karena Facebook melakukan tweak dengan tetap mencantumkan layanan Google. Berbeda dengan Amazon yang melakukan forking, hingga tak satupun layanan Google ada di sana. Ini menjadi bukti bahwa bundling yang dilakukan Google masih dapat diatasi dan tidak ada paksaan untuk mencantumkan layanan Google.

Tentunya bukan sekali dua Microsoft melakukan serangan terhadap Google. Kampanye scroogled masih dan akan terus dilakukan Microsoft untuk "setengah memaksa" pengguna agar beralih ke mesin pencari Bing. Demikian juga dulu soal keamanan sistem Android dan yang terbaru soal developer di Google Play.

Saya melihat cara-cara Microsoft tersebut bukanlah cara-cara yang bagus untuk mengkampanyekan produk mereka. Buktinya hampir tidak ada data yang menyatakan kampanye Microsoft tersebut sukses. Hal ini karena pengguna bukanlah orang bodoh. Pengguna mengetahui dengan sangat baik mana produk yang bagus dan tidak bagus. Untuk apa beralih ke Bing atau ke Windows Phone bila tidak ada kelebihan, bahkan lebih terbatas dibandingkan mesin pencari Google dan Android.

Cara-cara Microsoft tersebut berada di luar pasar. Hal ini tidak lain karena Microsoft memang tidak bisa head to head di pasar. Di smartphone mereka tertinggal sangat jauh dibandingkan Android. Di mesin pencari hal yang sama terjadi. Microsoft memang tidak bisa apa-apa di kedua bidang tersebut. Kualitas produk mereka jauh tertinggal sehingga mereka mencoba menjatuhkan Google dengan cara-cara lain di luar pasar. Namun cara-cara tersebut saya percaya malah akan membuat jelek nama Microsoft. 

Sebaiknya Microsoft fokus dalam menghasilkan prpduk yang baik. Berkompetisilah dengan sehat. Namun saya percaya Microsoft tidak akan menempuh jalan tersebut.

Baru: Laptop Gaming ASUS ROG STRIX GL502VM Silver Futuristik

ASUS ROG STRIX GL502VM Memasuki kuartal ketiga di tahun 2017, ASUS kembali menghadirkan produk baru di segmen laptop khusus untuk gamin...