Monday, February 18, 2013

Google Segera Buka Toko Ritel Sendiri

Google Store
Di antara raksasa teknologi dunia, Google jelas tertinggal dalam hal toko ritel. Dalam hal toko ritel ini, Apple Inc. menjadi leader karena tidak hanya jumlah toko yang sangat banyak, tetapi juga pengunjung serta penjualannya yang sangat bagus. Diperkirakan sedikitnya ada 300 juta pengunjung toko ritel Apple Inc semenjak Oktober 2011. Langkah Apple Inc. ini kemudian diikuti oleh Microsoft. Microsoft mungkin menyadari betapa pentingnya toko ritel bagi mereka sehingga berencana membangun sebanyak mungkin toko ritel untuk produk mereka.  

Tentu saja Google sampai saat ini belum memiliki satupun toko ritel milik mereka sendiri. Biasanya mereka punya spot tertentu di toko eletronik lain untuk memajang produk mereka seperti ChromeBook. Namun dengan  hanya spot yang sangat kecil mungkin kurang cocok dengan Google yang produknya semakin hari semakin bertambah sehingga sangat logis bagi Google mendirikan toko ritel sendiri.

Beberapa artikel di situs teknologi hari ini mengindikasikan kemungkinan Google mendirikan toko ritel milik mereka sendiri. Bagi saya tentu sangat logis Google membuka toko ritel miliki sendiri agar konsumen lebih bisa berinteraksi dengan produk-produk Google seperti Nexus 4 yang sangat laku.

Pembukaan toko ritel Google ini tentu saja akan men-drive pengunjung untuk berkunjung dan mencoba produk Google. Dengan demikian, konsumen dapat langsung mencoba dan memutuskan untuk membeli apa yang mereka inginkan, apakah smartphone, tablet, Google TV, atau sekadar mencoba produk masa depan seperti Google Glass dan Driverless Car.

Saya rasa kebutuhan toko ritel bagi Google juga akan semakin meningkat terkait dengan Google Glass. Dengan harga awal 1.000 USD, tentu saja konsumen ingin betul-betul mengetahui kemampuan kacamata khusus ini sehingga kemudian bisa memutuskan untuk membeli. Jika ternyata tidak dapat mencoba langsung, tentu saja akan masih ada keraguan konsumen untuk membeli. Dengan adanya toko ritel, Google bisa menempatkan (paling tidak prototipe) dari Google Glass sehingga konsumen bisa mencobanya.

Bila kita lihat di sisi lain, seperti smartphone dan tablet, Nexus 4 dan Nexus 10 cukup bagus responnya dari konsumen. Khusus untuk Nexus 4 seringkali di Google Play mengalami out of stock karena ketersediaan yang sangat sedikit. Ini mengindikasikan bahwa brand Nexus semakin banyak peminatnya. Peminat ini tentu saja terlebih dahulu ingin mencoba dan kemudian memutuskan untuk membeli. Dengan adanya toko ritel Google keinginan konsumen tersebut bisa terwujud.

Ujungnya tentu saja Google bisa meningkatkan penjualan produk fisik mereka. Perlu kita ketahui, sebagian besar pendapatan Google berasal dari iklan online. Dengan adanya toko ritel, variasi pendapatan Google akan bertambah dan bisa menjadi jalan yang cukup bagus untuk terus mem-push karyawan Google agar bisa menghasilkan produk fisik yang lebih banyak.

Namun tentunya, pendirian toko ritel tersebut bukan tanpa masalah. Pertama, toko ritel merupakan investasi jangka panjang. Hal ini akan memberikan risiko keuangan bagi Google. Terutama dari sisi pengeluaran, jelas sekali Google akan mengucurkan banyak uang bagi pendirian toko ritel. Hal ini setidaknya akan memengaruhi kondisi keuangan Google. Artinya butuh analisis yang lebih mendalam apakah toko titel Google benar-benar dibutuhkan karena selama ini Google masih bisa memiliki spot tertentu di toko elektronik lain dengan biaya yang jauh lebih rendah.Jika masih bisa menampilkan produk dengan biaya rendah, mengapa harus mendirikan toko ritel sendiri.

Kedua, pada dasarnya Google bukanlah perusahaan yang bisa mengontrol produknya secara end to end seperti Apple Inc. Google bukanlah perusahaan hardware dan software sekaligus seperti Apple Inc. Ini artinya Google bergantung kepada perusahaan lain untuk menghasilkan produk hardware mereka seperti smartphone dan tablet serta laptop ChromeBook. Dengan demikian, Google tidak bisa mengontrol ketersediaan produk yang bisa saja kurang atau berlebih untuk suatu toko tertentu. Kasus sold out-nya Nexus 4 bisa dijadikan contoh betapa Google sangat lemah dalam memprediksi kebutuhan konsumen sehingga memesan sangat sedikit Nexus 4 kepada LG.

Ketiga, sebenarnya produk Google hanya dimiliki setengah saja oleh Google. Mengapa demikian? Meskipun memiliki brand Nexus untuk smartphone dan tablet, produk tersebut merupakan buatan LG, Samsung dan ASUS. Demikian juga laptop ChromeBook  yang dibuat oleh ACER dan Samsung. Ini artinya masing-masing perusahaan tersebur juga telah menjual produk Google di toko ritel mereka sehingga jika Google masih mendirikan toko ritel sendiri mungkin akan mubazir.

Keempat, Google perlu merekrut karyawan baru untuk toko ritel mereka. Tidak hanya akan menambah karyawan (kini jumlahnya lebih dari 53 ribu di seluruh dunia) Google pun perlu melatih mereka agar terampil menjajakan produk Google. Hal ini tentu bukan perkara mudah, baik dari sisi perekrutan, biaya maupun jumlah karyawan yang semakin membengkak.  

Alasan tersebut di atas merupakan sebagian dari alasan mengapa Google tidak seharusnya mendirikan toko ritel sendiri. Google mungkin hanya perlu menggenjot penampilan mereka di toko-toko elektronik seperti Best Buy sehingga bisa menjual lebih banyak dengan biaya yang lebih murah. Jikapun dibutuhkan toko ritel mungkin hanya untuk produk yang benar-benar dihasilkan oleh Google, seperti Google Glass dan internet super cepat. Hal ini akan mendorong Google membuat Speciality Store yang hanya menjual produk miliki Google sendiri secara eksklusif.

Hands On BlackBerry KEYone, Smartphone Pecinta Sejati BlackBerry

BlackBerry KEYone Kangen BlackBerry ? Pecinta sejati BlackBerry? Ingin merasakan lagi masa-masa menggunakan keyboard fisik yang begitu...