Wednesday, January 23, 2013

Android Lebih Populer Karena Murah Bukan Karena Bagus

Samsung Galaxy Note II
Bukan merupakan Android murah
tapi sangat laku.
Sumber: flickr.com/samsungtomorrow
Sebuah survei di Amerika Serikat yang dilakukan oleh  Pew Research Center memberikan fakta bahwa Android lebih populer dari iOS seterusnya iPhone karena harga yang lebih murah. Survei tersebut menunjukkan bahwa kesuksesan Android mengalahkan iPhone bukan karena Samsung Galaxy S3 atau Galaxy Nexus yang lebih mahal, tetapi karena handset murah yang ditawarkan oleh vendor semacam ZTE, LG dengan LG Motion-nya dan Samsung dengan seri Captive.

Sebenarnya bukan sesuatu yang baru hal yang diungkap oleh survei tersebut di atas. Android dengan sistem open source-nya memberikan lisensi cuma-cuma kepada siapapun yang ingin memproduksi handset Android. Kita bisa melihat bahwa biaya lisensi yang nol ini mendorong banyak vendor baru bermunculan, bahkan vendor lokal bisa menawarkan handset Android dengan harga hanya sedikit lebih mahal daripada ponsel China.Tentu saja dengan iming-iming kata smartphone, handset seperti ini akan menarik pembeli. Jika pembeli sangat banyak tentu saja jumlah Android yang ada di pasar makin banyak dan ini akan menambah popularitas Android dibandingkan iOS iPhone.

Bagi saya sendiri, sebagai pemakai Android, saya sangat menghindari Android murah ala branded merek lokal. Patokan minimal yang saya berikan setiap hendak membeli handset Android adalah berasal dari vendor besar semisal Samsung, HTC, Sony, LG dan lainnya. Vendor China yang sering di-branded dengan merek lokal bukan sesuatu yang saya sukai, meskipun harganya sangat menggiurkan.

Sisi lain yang perlu kita lihat, vendor besar pun semisal Samsung, LG, dan Sony juga memproduksi smartphone Android yang murah meriah. Samsung Galaxy Young misalnya bisa ditebus di angka mungkin kurang sejuta, sementara fiturnya sudah 3G. Bandingkan dengan BlackBerry termurah dengan EDGE berharga 1,5 juta. Smartphone murah Android inilah yang dituding sebagai sebab tingginya popularitas Android. 

Terlebih jika kita bandingkan dengan iPhone, versi 2010 iPhone 3 GS masih dijual seharga 2,7 juta. Ini sebuah harga yang sangat mahal dengan model yang sudah kedaluarsa selama tiga tahun. Tentu saja konsumen orang yang pintar, mereka tidak mau menghabiskan uang hampir tiga 3 juta rupiah hanya untuk memperoleh model lawas dengan kemampuan yang tidak jauh beda dengan Android seharga satu jutaan dengan model yang lebih baru. 

Saya rasa popularitas Android yang dituding tinggi karena harga yang murah harus dijelaskan lebih lanjut. Di zaman sangat sengit persaingan ini, murah saja tidak cukup. Kita bisa melihat nasib vendor lokal dengan handset dari China yang diberi merek lokal. Boleh dikatakan sangat murah, tetapi mengapa tidak mentereng?

Tidak lain karena mereka baru masuk ke industri smartphone. Mereka belum cukup punya banyak pengalaman untuk bersaing dengan vendor besar. Saya pernah mencoba Android merek lokal, touch screen-nya benar-benar payah. Kurang dari tiga bulan sudah harus diperbaiki.  Ini artinya mutu produk mereka rendah. Berbeda dengan vendor besar Android, murah yang mereka tawarkan bukan murahan. 

Ini artinya murah seperti dituding dalam penelitian di atas belum tentu segalanya. Jika murah tetapi mutu jelek, pastilah tidak banyak konsumen yang mau membeli. Handset murah yang ditawarkan vendor besar biasanya mutunya lebih baik. 

Hal yang perlu saya kritisi dari survei tersebut adalah sebutan populer karena murah bukan karena bagus. Saya rasa secara pengalaman menggunakan Android mulai dari mid level hingga high end, Android merupakan sistem operasi smartphone yang tidak kalah bagusnya dibandingkan iOS. Selain fitur standar yang juga terdapat di iOS iPhone, Android menawarkan berbagai variasi layar yang menyasar selera yang berbeda-beda. Ini artinya orang yang berkemampuan lebih akan membeli Android high end semisal HTC DNA, Galaxy S3 dan Galaxy Note, sementara mereka yang memiliki kemampuan keuangan yang terbatas cukup dengan mid level ke bawah, namun tetap dengan mutu yang baik.

Dan memang mereka yang berkemampuan terbatas secara keuangan ini sangat banyak sehingga mereka memilih smartphone sesuai dengan kantong. Ini sesuatu yang masuk akal, buat apa beli mahal jika teknologi hampir sama atau bahkan tidak lebih baik.

Sekali lagi, murah saja tidaklah cukup. Studi yang dilakukan oleh Pew Research tersebut bisa jadi untuk menolong iPhone yang sekarang mati gaya karena jauh tertinggal dibandingkan Android, terutama di luar Amerika Serikat. Bisa jadi juga studi tersebut memang untuk memperlihatkan bahwa hanya orang kayalah atau memaksa jadi kaya yang membeli iPhone, sedangkan Android akrab dengan mereka yang berkemampuan terbatas secara ekonomi.

Ke Bengkulu Ngopi Sambil Menikmati Sunset dan Jejak di Fort Marlborough

Welcome to Bengkulu Ke Bengkulu untuk ngopi? Bengkulu cukup dekat dari Jakarta, hanya memakan waktu 50 menit jika menggunakan pesawa...