Wednesday, October 24, 2012

8 Alasan Mengapa Anda Tidak Perlu Membeli iPad Mini

Apple Inc. baru saja merilis versi baru tablet populer mereka iPad, yaitu iPad Mini. iPad Mini memiliki layar 7,9 inchi dengan harga mulai dari 329 dollar AS. Apple Inc. cukup berani mematok harga iPad Mini di atas harga tablet 7 inchi lainnya yang cukup populer seperti Kindle Fire, Kindle Fire HD dan Nexus 7 dari Google. Perbedaan harganya sangat signifikan 130 dollar.  Coba kita lihat perbandingan berikut ini.

sumber: business insider
Dari perbandingan spesifikasi tersebut bisa kita urai, 8 alasan mengapa anda tidak perlu membeli iPad Mini, yaitu sebagai berikut.

1. Harga yang jauh lebih mahal
Apple Inc. dengan kebijakan profit margin yang besar memberlakukan harga mahal untuk iPad Mini. Kata orang mahal relatif, tetapi dengan perbedaan 130 dollar AS terlihat iPad Mini seperti dipaksakan Apple Inc. untuk meraih penjualan lebih banyak dari konsumen dengan menggunakan brand image mereka sebagai alasan.

2. Resolusi layar yang lebih rendah
Bila kita lihat, iPad Mini memiliki resolusi layar 1024 x 768, sementara penantangnya, yaitu Kindle Fire HD Amazon dan Nexus 7 Google memiliki resolusi layar 1280 x 800. Jelas iPad Mini kalah dibandingkan Kindle Fire HD dan Nexus 7.

3. Prosesor yang lebih rendah spesifikasinya
Bila dibandingkan dengan Nexus 7 Google, prosesor iPad Mini kalah karena hanya dual core, sementara Nexus 7 quad core. Nexus 7 menjanjikan kinerja yang lebih cepat dibandingkan iPad Mini dengan harga yang jauh lebih murah.

4. Tidak memiliki retina display seperti umumnya iPad dan iPhone
Spesifikasi iPad Mini tanpa retina display ini cukup mengejutkan. Saya rasa dengan harga yang jauh lebih mahal dan mendekati harga iPad 2 full size, semestinya Apple Inc. memberikan retina display di iPad Mini. Ini artinya pengalaman bagus pengguna iDevice dengan retina dispaly tidak akan diperoleh di iPad Mini.

5. iPad Mini adalah iPad 2 tahun 2011
Melihat spesifikasi yang diberikan di iPad Mini, tidak bisa dipungkiri iPad Mini adalah iPad tahun 2011 dalam versi layar yang lebih kecil. Ini artinya Apple Inc memberikan pengalaman dua generasi lebih tertinggal dibandingkan dengan iPad full size karena iPad full size kini memasuki generasi keempat.

6. Hampir tidak ada yang baru di iPad Mini
Semua yang ada di iPad Mini tidak ada yang baru, semuanya sudah ada di iPad full size dan iPhone. Bahkan spesifikasinya ternyata lebih rendah. Tentunya speksifikasi yang lebih rendah ditujukan untuk menekan harga, sayangnya harganya tetap lebih mahal dibandingkan tablet 7 inchi yang telah berada di pasar seperti Nexus 7. Ini artinya, Apple Inc. hanya memperkecil layar iPad full size saja dan harganya mendekat iPad 2 full size.

7. Jangan Buang Uang untuk Produk yang  Sama
Pada dasarnya iPad Mini sama dengan iPad 2 tahun 2011 tapai layarnya lebih kecil. Melihat hampir tidak ada perbedaan signifikan, hanya harga yang sedikit lebih murah, anda tidak perlu membeli barang tablet yang sama dua kali.

8. Menguntung Apple Inc, kerugian Konsumen
Dengan kekuatan brand yang ada pada mereka, Apple Inc. terus mencoba membuat produk baru dengan harga di atas kompetitornya. Sangat dipercaya, Apple Inc. menerapkan high profit margin di iPad Mini, seperti produk lainnya iPhone dan iPad full size. Padahal produk tersebut tidaklah baru sama sekali. iPad Mini produk ulangan iPad 2 dengan harga yang berbeda hanya 70 dollar AS.


Sumber gambar : Business Insider

Monday, October 22, 2012

Wego Video Travel Unik #IniIndonesia di SocMedFest 2012

Sumber: wego.com
Pernah mendengar kata Wego?  

Wego mungkin kata yang baru bagi kebanyakan orang, namun bagi traveler, orang yang suka bepergian, Wego bukan kata baru lagi.  Wego adalah salah satu mesin pencarian wisata paling lengkap di dunia. Wego memuat perbandingan data real-time dari jasa penerbangan, tarif hotel, serta ketersediaan tempat milik ratusan situs perjalanan wisata terkemuka yang dikemas dalam satu tampilan layar yang simpel.

Baru-baru ini di Social Media Festival 2012 yang diadakan di Gelanggang Renang Senayan Jakarta, Wego lebih mendekatkan diri ke publik terutama mereka yang aktif di media sosial. Perlu diketahui, pengguna media sosial di Indonesia sangat banyak. Orang Indonesia menempati posisi ke-4 dalam dalam pengguna terbanyak Facebook dan posisi ke-5 di Twitter. Tidak heran langkah Wego untuk berkenalan di Social Media Festiva tersebut sebuah langkah yang sangat tepat. 

Dalam Social Media Festival 2012 tersebut memperkenalkan sebuah video travel unik berjudul #IniIndonesia. Video travel #IniIndonesia ini unik karena pada proses pembuatannya tidak datang dari penggagas video tersebut melainkan datang dari para followers Wego di Twitter. Video travel #IniIndonesia ini merupakan kolaborasi dari DSLR Cinematography Indonesia (@DSLRcinemaindo), Dive Indonesia (@DiveID), dan Wego Indonesia  (@WegoID). 

Video travel #IniIndonesia merupakan sebuah video travel singkat yang menunjukkan tempat-tempat menarik di seantero nusantara. Semua lokasi pengambilan gambar dari video travel #IniIndonesia merupakan usulan para follower Wego di Twitter. 

Proses produksi video travel ini dimulai dengan mengajukan pertanyaan kepada para followers @WegoID, @DiveID, dan @DSLRcinemaindo tentang lokasi menarik di Indonesia sekaligus menanyakan alasan mereka mengapa lokasi tersebut dikatakan menarik. Usulan dari sekian banyak followers kemudian diolah dan diwujudkan dalam bentuk sebuah audio dan visual. 

Follower @WegoId, @DiveID dan @DSLRcinemaindo menyebutkan tempat-tempat yang menarik menurut mereka dengan tagar #IniIndonesia. Beberapa tempat yang disebutkan adalah Kepulauan Seribu, tiga gili terkenal Lombok (Gili Meno, Gili Trawangan dan Gili Air), Derawan Kalimantan, Yogyakarta, dan Bromo.

Setelah proses produksi video ini selesai, Wego memperkenalkan video uni #Ini Indonesia tersebut di ajang Social Media Festival 2012 yang berlangsung antara tanggal 12-14 Oktober 2012. Video travel unik #IniIndonesia tersebut ditayangkan pada hari Minggu tanggal 14 Oktober 2012. Pada penayangan video tersebut hadir sebagai pembicara adalah Managing Director Wego Indonesia Graham Hills, Priska Raharjo dari Dive Indonesia, serta Benny Kadarhariarto dan Yudhie Fardhani dari DSLR Cinematography Indonesia.

Managing Director Wego Indonesia Graham Hills mengatakan bahwa Social Media Festival 2012 merupakan merupakan kesempatan bagus untuk Wego Indonesia bertemu dengan komunitas Wegonesia, sekaligus memperkenalkan diri lebih luas kepada pengguna social media di Indonesia. 

Lebih lanjut, Graham Hills mengatakan bahwa dirangkulnya komunitas lokal dalam pembuatan video travel unik tersebut merupakan sesuatu hal yang penting. Dalam kesempatan kali ini Wego merangkul komunitas Dive Indonesia dan DSLR Cinematography Indonesia.  Harapan Wego tentu saja video travel unik tersebut bisa menunjukkan kekayaan, keragaman dan keindahan destinasi lokal sehingga mampu menginspirasi orang muda Indonesia untuk lebih bersemangat mengeksplorasi negeri sendiri. Tujuan ini selaras dengan misi Wego Indonesia untuk terus mengenalkan destinasi-destinasi baru di Indonesia, membuat orang lebih sering melakukan perjalanan di negeri sendiri. 

Perlu diketahui, pada awal tahun 2012 ini Wego meluncurkan situs mesin pencarian wisata berbahasa Indonesia di alamat www.wego.co.id. Tujuan utama diluncurkannya situs tersebut adalah untuk membantu mereka yang suka bepergian atau traveler merencanakan perjalanan mereka, dengan semangat save time, pay less, travel more.

Semangat Save Time, Pay Less, Travel More tersebut diterjemahkan sebagai berikut.

1. Wego memungkinkan pengguna internet membuka informasi dari laman-laman perjalanan wisata dan ranah internet yang mahabesar hanya dengan menekan satu tombol klik. Pencari tak perlu menunggu berlama-lama hanya untuk mendapatkan, misalnya, kamar resor bintang lima di Bali pada bulan Agustus. Program Wego juga memungkinkan pengguna menemukan data tarif penerbangan paling murah ke Los Angeles cukup dengan satu klik mouse saja. Ini artinya menghemat waktu. 

2. Aplikasi penjelajah Wego bisa membuka ratusan harga terbaik dan tarif termurah sesuai dengan tanggal yang dicari. Pengguna bisa lebih cepat mengecek ketersediaan kamar dan tiket pesawat, jadi tidak perlu membuang waktu penelusuran informasi. Pengguna dapat membandingkan tarif penerbangan dan hotel sehingga bisa membayar lebih murah

3. Wego mengumpulkan urutan hotel terbaik berdasarkan penilaian konsumen. Saat sedang mempertimbangkan akomodasi, pengguna bisa membaca ulasan dari mereka yang sudah pernah menginap atau menggunakan jasa akomodasi tersebut. Wego juga menampilkan daftar hotel berdasarkan urutan popularitas. Pengguna bisa mengetahui berapa pengguna Wego yang telah memilih akomodasi tersebut sebelumnya.

Dengan tiga kemudahan di atas anda bisa melakukan perjalanan ke berbagai tempat lebih banyak. Hal ini karena didukung oleh informasi yang lebih valid dan biaya perjalanan yang lebih hemat.

Nah tunggu apalagi, jika anda ingin melakukan perjalanan langsung saja ke www.wego.co.id



Wednesday, October 17, 2012

Malu Karena Punya BlackBerry

Sumber: merdeka.com
Meskipun di Indonesia masih banyak orang dengan bangganya mengeluarkan BlackBerry dari saku, membagi nomor PIN dan perilaku lainnya yang menunjukkan kebanggaan terhadap gadget buatan RIM ini, di Amerika Serikat justru yang terjadi sebaliknya.

Sebuah laporan di New York Times menyebutkan ada kecederungan para pengguna BlackBerry di sana merasa malu menggunakan gadget ini. Meskipun hanya sebuah laporan yang perlu dilihat lebih empirik, gejala malu menggunakan BlackBerry di AS ini mungkin sesuatu yang dapat dipahami.

Bila kita ingat, sekitar tahun 2008 sampai dengan 2010, BlackBerry masih menjadi smartphone andalah sebagian besar pengguna di AS. Namun dengan perkembangan masif dari Android dan iPhone, mahkota BlackBerry tersebut akhirnya runtuh. Laporan terakhir menyebutkan bahwa BlackBerry kini hanya punya 9,5% pasar di AS, bandingkan dengan Android 52,2% dan iPhone 33,4%. Kombinasi dua platform Android dan iOS iPhone menguasai 85,6% pasar di AS, sisanya dibagi oleh BlackBerry, Microsoft dan Symbian.

Apa sebab menurunnya pengguna BlackBerry secara drastis? Salah satu sebab utama adalah RIM BlackBerry secara teknologi smartphone tertinggal dibandingkan kedua pesaingnya tersebut. Bila kita lihat Android kini sudah mencapai prosesor 4 core, iPhone dual core. Selain itu layar touch screen iPhone dan Android banyak digemari pengguna karena kemudahan dalam mengggunakan. Bentuk BlakBerry yang hampir-hampir tidak berubah dengan pakem keyboard fisik terlihat tidak menarik dibandingkan dengan Android dan iPhone. 

Tidak itu saja, perusahaan yang merupakan pengguna terbesar BlackBerry selama ini mulai meninggalkan BlackBerry. Yahoo yang baru saja mengangkat Marrissa Mayer menjadi CEO memberikan iPhone, Android dan Windows Phone gratis bagi karyawannya. Yahoo juga memutuskan untuk tidak lagi menggunakan BlackBerry sebagai smartphone standar perusahaan. 

Tentu saja kehilangan pelanggan sebesar Yahoo bagi RIM BlackBerry merupakan kehilangan besar. Ini juga menjadi pertanda buruk bagi konsumen karena orang ramai-ramai meninggalkan BlackBerry. Tentu saja hal ini menimbulkan image negatif dan makin menekan RIM BlackBerry untuk bisa bersaing dengan Android dan iPhone. Sayangnya RIM BlackBerry tidak begitu siap menerima tantangan. Handset terbaru mereka berbasis BlackBerry 10 baru akan keluar di sekitar Maret 2013. Selama kekosongan handset tersebut, pengguna akan lebih memilih Android dan iPhone atau bahkan Windows Phone dibandingkan BlackBerry. 

Dengan penguasaan pasar sekitar 9% tersebut, jelas sekali pengguna BlackBerry di AS merupakan minoritas. The New York Times menyebutkan:

Rachel Crosby speaks about her BlackBerry phone the way someone might speak of an embarrassing relative. “I want to take a bat to it,” Rachel Crosby, of Los Angeles, says of her creaky BlackBerry. “You can’t do anything with it.” “I’m ashamed of it,” said Ms. Crosby, a Los Angeles sales representative who said she had stopped pulling out her BlackBerry at cocktail parties and conferences. In meetings, she says she hides her BlackBerry beneath her iPad for fear clients will see it and judge her.
Jelas sekali BlackBerry memiliki keterbatasan dibandingkan dengan Android dan iPhone. Kehebatan BlackBerry selama ini pada fitur email, namun kini baik Android dan iPhone juga memiliki fitur tersebut.

Tentu apa yang dilaporkan oleh The New York Times tersebut bukanlah gejala umum pengguna BlackBerry di seluruh dunia. Setidaknya di Indonesia dan India, pengguna BlackBerry dikabarkan masih terus bertambah paling tidak menurut RIM. Namun tentu saja keberhasilan Android terutama di AS telah menginspirasi banyak pengguna lainnya di negara lain untuk berpindah. Kita tahu, AS merupakan barometer yang sangat penting sehingga setiap yang populer di AS bisa menjadi populer di negara lain.  

Di Indonesia
Saya percaya, gelaja yang terjadi di AS akan menular ke Indonesia. Laporan terakhir menyebutkan bahwa Android sudah berhasil merebut mahkota BlackBerry, meskipun laporan ini dibantah oleh RIM.  

Konsumen tentu ingin smartphone yang lebih maju teknologinya dan selalu tersedia di pasar. Android dan iPhone dalam hal ini merupakan pilihan rasional. Khusus Android karena terdiri dari banyak vendor akan sangat menarik bagi konsumen karena banyaknya pilihan. Harga yang sangat bervariasi bisa disesuaikan dengan kemampuan konsumen. Teknologi yang ditawarkan juga lebih baik, kita bisa bandingkan Android dengan harga lebih murah memiliki teknologi lebih bagus dibandingkan dengan BlackBerry Davis yang lebih mahal.

Kejadian seperti dilaporkan oleh The New York Times akan terjadi di Indonesia. Pengguna BlackBerry karena merasa teknologinya jadul akan mencoba menyembunyikan BlackBerry mereka. Perilaku saling tukar PIN akan makin berkurang karena orang yang menggunakan BlackBerry makin sedikit.

Tuesday, October 16, 2012

Nyinyir Sebuah Kemustian di Media Sosial

sumber:  twicsy.com

Pernahkah anda menghitung berapa banyaknya update status yang anda lakukan selama menggunakan Facebook? Jika anda pengguna Twitter, anda dapat melihat sekian banyak tweet yang anda lakukan, tidak peduli sedang di toilet, di mall atau di tempat tidur. Jika anda lihat sekian banyak tweet yang sudah anda lakukan, mungkin anda tidak percaya bahwa anda seorang yang nyinyir.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nyinyir didefinisikan sebagai mengulang-ulang perintah atau permintaan, nyenyeh, cerewet. Dari definisi tersebut anda bisa melihat seberapa banyak update status yang diulang-ulang. Seberapa banyak foto profil sudah anda ganti dan seberapa banyak komentar yang sudah anda lakukan. Demikian pula bila anda menggunakan layanan foursquare, sudah berapa kali anda mengatakan bahwa anda menjadi mayor di suatu mall, suatu daerah tertentu dan lainnya.

Bila anda menggunakan Twitter akan terlihat betapa nyinyirnya anda, entah anda sadari atau tidak. Ini bukti bahwa nyinyir itu suatu bagian dari interaksi di media sosial yang mungkin sangat penting.

Anda tentu paham, akun seperti TrioMacan2000 memperoleh popularitas tidak lebih karena kenyinyirannya di Twitter. Berkat nyinyir tentang sesuatu yang ia ketahui, TrioMacan2000 memperoleh sekian banyak pengikut dan mungkin juga pekerjaan yang kemudian bermuara kepada perolehan pendapatan.

Media sosial telah banyak memengaruhi perilaku manusia. Media sosial mengubah perilaku seseorang yang pada awalnya tertutup, namun kemudian setelah menggunakan media sosial menjadi pribadi yang terbuka, suka berinteraksi dan terlibat dengan permasalahan orang lain. Bagi mereka yang sudah terbuka sebelumnya, media sosial menjadikan pribadi semacam ini menjadi pribadi yang makin cerewet, makin nyinyir dengan apa yang diketahuinya dan makin terlibat dengan segala sesuatu masalah yang melibatkan orang lain.

Kita bisa percaya atau tidak. Media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Foursquare menjanjikan keterkenalan dalam waktu relatif cepat. Bila anda cukup nyinyir anda akan mudah mencapai tujuan tertentu. Bila di kota anda, anda hanya penduduk biasa, namun berkat foursquare anda bisa menjadi walikota di daerah tertentu. Makin nyinyir anda membagi apa saja, akan makin banyak orang yang kenal dengan anda, meski tidak sepenuhnya tahu siapa anda sebenarnya. Ini artinya kenyinyiran anda cukup menentukan seberapa sukses anda di media sosial.

Nyinyir di media sosial itu tidak sepenuhnya diketahui banyak orang karena ada gejala eufemisme. Kul-Tweet atau Live Tweet merupakan kenyinyiran versi baru yang dibalut dengan istilah keren atau populer. Bila anda cukup punya pengetahuan terhadap sesuatu anda bisa melakukan Kul-Tweet. Kul-Tweet tersebut kemudian dijadikan satu cerita melalui chirpstory. Setelah melihat sekian banyak peminat, di waktu lain anda akan melakukan Kul-Tweet yang lain. Setelah itu karena merasa senang karena apa yang anda tweet memperoleh sambutan, anda akan keranjingan melakukan Kul-Tweet, tidak peduli apakah orang lain suka atau tidak.

Demikian juga dengan Live Tweet. Ketika anda menghadiri suatu kegiatan tertentu, baik karena dorongan adanya hadiah dari Live Tweet maupun tidak, anda akan melaporkan kegiatan tersebut secara langsung. Kegiatan ini berulang-ulang sehingga karena media sosial seperti Twitter memungkinkan hal tersebut terjadi, tidak peduli apakah orang suka atau tidak. Tanpa anda sadari, anda pun menjadi orang yang nyinyir.

Media sosial lain seperti Facebook tidak ada bedanya. Anda bisa melihat sekian banyak status yang anda lakukan. Sekian banyak foto narsis yang anda upload. Sekian banyak perjalanan wisata yang anda kabarkan, mobil baru yang anda banggakan atau rumah baru yang anda miliki.

Dengan demikian, media sosial tidak lebih sebagai sebuah layanan untuk kenyinyiran. Percaya atau tidak, berkat media sosial, makin banyak orang nyinyir. Makin banyak orang yang cerewet.

Hal yang perlu dilihat adalah tidak batasan tertentu atau aturan yang membatasi kenyinyiran pengguna media sosial. Hal ini karena media sosial adalah segala sesuatu tentang penggunanya. Apa yang ada di pikiran pengguna, apakah ia mendebat suatu kelompok tertentu, apakah ia membenci kesuksesan orang lain dengan melakukan update status atau tweet, apakah ia kurang senang dengan pengguna media sosial lain, dipersilahkan untuk dimunculkan. Bahkan pada kondisi ekstrim, pengguna media sosial bisa menuduh pihak tertentu melakukan korupsi atau semacamnya tanpa harus takut dikenai sanksi.

Kesimpulannya, siapa saja yang terlibat di media sosial adalah nyinyir sadar atau tidak. Kenyinyiran merupakan hal yang biasa terjadi di media sosial dan tidak perlu dituduhkan kepada pihak lain dan merasa paling tidak nyinyir  dibandingkan pengguna media sosial lainnya.

Perangi Korupsi Melalui Media Sosial

sumber: 1.bp.blogspot.com
Korupsi jelas merupakan sebuah kejahatan yang sangat merugikan. Bila kita tengok, kerugian yang ditimbulkan oleh korupsi tidak hanya hilangnya uang negara, tetapi juga dalam jangka panjang bisa meruntuhkan kepercayaan masyarakat kepada negara.

Nur Kholis dalam artikelnya mengemukakan dampak korupsi seperti berikut ini:

 Korupsi berakibat sangat berbahaya begi kehidupan manusia, baik aspek kehidupan sosial, politik, birokrasi, ekonomi, dan individu. Bahaya korupsi bagi kehidupan diibaratkan bahwa korupsi adalah seperti kanker dalam darah, sehingga si empunya badan harus selalu melakukan “cuci darah” terus menerus jika ia menginginkan dapat hidup terus.
Oleh karena itulah perlunya perang terhadap korupsi. Perang terhadap korupsi ini harus terus dilakukan di mana saja, termasuk di internet melalui media sosial. Perang terhadap korupsi di media sosial dapat dilakukan dengan melakukan kampenya antikorupsi. Kampanye tersebut bisa berupa ajakan dan himbuan untuk menjauhi korupsi dan bisa juga memaparkan fakta-fakta tentang korupsi serta merangkum kegiatan antikorupsi di seluruh daerah di Indonesia.

Salah satu negara yang cukup kuat dalam melakukan kampanye antikorupsi  di media sosial adalah India. Sebuah organisasi antikorupsi di India dengan nama indiaagainstcorruption.org menggunakan media sosial untuk melancarkan kampanye anti korupsi mereka. Organisasi ini tahu betul kemampuan media sosial dalam mengumpulkan banyak orang dalam seketika dan menyebarkan ide serta gerakan mereka. Mereka memanfaatkan Facebook dengan membuat page India Against Corruption. Di Twitter gerakan ini membuat akun di @janlokpal dan memiliki follower sebanyak 224.315 follower. Akun @janlokpal sendiri dipimpin oleh Anne Hazare, seorang ativis anti korupsi India.

Pertanyaannya, mengapa aktivis anti korupsi di India menggunakan media sosial sebagai sarana mengkampanyekan gerakan anti korupsi? Tidak lain karena media sosial bisa memfasilitasi mereka yang ingin mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap kebijakan pemerintah karena media sosial mampu menciptakan rasa percaya atau membangun trust. Hal ini dibuktikan dengan alasan sebagai berikut.

1. Social media menghilangkan batasan

Terdapat banyak batasan bagi orang-orang yang satu visi untuk saling bertemu face to face, mungkin jarak, mungkin waktu dan mungkin juga kondisi ekonomi. Hal-hal ini dihilangkan secara signifikan oleh social media. Teman Facebook anda yang berada di Amerika dapat mengomentari langsung status yang anda buat. Follower anda yang ada di sudut kota Tripoli, Libya dapat langsung me-retweet kicauan yang anda buat. Makin lama anda berinteraksi dengan teman dan follower anda, dengan memberikan informasi yang selalu bermanfaat, teman dan follower anda akan memberikan kepercayaannya kepada anda.

2. Mendorong Interaksi

Social media mendorong interaksi. Setelah mereka bertemu di social media kemudian mereka merencanakan pertemuan, berdemonstrasi dan berbagai kegiatan lainnya. Pertemuan di social media juga sangat mudah, banyak orang bergabung di social media seperti Facebook dan Twitter karena teman-teman mereka sebelumnya sudah bergabung. Demikian juga, jika seorang teman mengikuti sesuatu di Facebook contohnya, teman yang lain akan ikut serta. Hal ini mendorong interaksi pengguna social media menjadi beragam dan kuat.

3. Membangun Hubungan

Hubungan dengan berbagai kalangan tidak terjadi dengan mudah. Namun dengan social media seperti Facebook dan Twitter anda bisa berhubungan dengan siapa saja termasuk dengan Barack Obama. Walapun hubungan tersebut lebih kepada hubungan virtual, namun pada kondisi tertentu hubungan-hubungan tersebut terjadi di dunia nyata bila anda bersedia bertemu teman virtual anda di dunia nyata.

Alasan di atas  mendorong organisasi anti korupsi di India tersebut untuk bergerak di social media. Mereka percaya nanti setelah ikut social media mereka akan memiliki hubungan dengan banyak orang, bisa mengajak mereka kepada gerakan anti korupsi dan sebagainya.

Kasus di Indonesia

Bila di India sepertinya gerakan memerangi praktik korupsi mendapat berkah dengan adanya media sosial, bagaimana dengan gerakan anti korupsi di Indonesia?

Sepanjang pengamatan ketika dicari di Twitter dan Facebook,  tidak ditemukan sebuah akun atau page yang bisa diandalkan untuk melakukan kampanye antikorupsi di Indonesia. Di Twitter tidak ditemukan akun yang bisa dikategorikan sebuah gerakan untuk memerangi korupsi di Indonesia yang berdiri secara independen dan bukan buatan pemerintah atau suatu organisasi NGO. Melihat sangat tingginya tingkat korupsi aparatur negara di Indonesia, ketiadaan satu gerakan yang kuat dan independen dalam memerangi korupsi yang aktif di media sosial menyebarkan ide dan gerakan mereka merupakan sesuatu yang sangat disayangkan.

Bila kita teliti lebih jauh, sebenarnya kesempatan gerakan memerangi korupsi untuk menjadi berpengaruh dan diperhitungkan di social media di Indonesia sangat besar. Hal ini karena Indonesia merupakan negara keempat terbanyak dalam jumlah pengguna Facebook dan negara kelima terbanyak dalam pengguna Twitter. Trending topic Twitter sering sekali berasal dari Indonesia. Namun kenyataannya hampir tidak ada satu gerakan yang kuat dan mampu memanfaatkan social media dengan baik untuk melancarkan gerakan anti korupsi di Indonesia.

Bila kita lihat lebih mendalam kepada perilaku mereka yang menggunakan media sosial terutama Facebook dan Twitter harus kita akui di Indonesia gerakan seperti yang terjadi di India tersebut masih sebatas wacana dan sulit terealisasi. Banyak gerakan di Facebook yang menyatakan ketidaksetujuan kebijakan atau penentangan terhadap pemerintah, namun sekali lagi itu hanya sebatas  wacana tanpa gerakan nyata yang berarti. Ketika akan bergerak, bahkan masih dalam batas wacana sudah banyak perbedaan yang menjurus kepada soal-soal pribadi sehingga sulit sekali untuk bergerak ke tahap selanjutnya.

Oleh karena tentu perlu sebuah tindakan massal dari mereka yang peduli dengan gerakan antikorupsi untuk membentuk sebuah kampanye terorganisasi di media sosial. Saya kira jika diorganisasi dengan baik, gerakan antikorupsi melalui media sosial ini memiliki prospek yang cerah.

Kita tahu sekali memerangi korupsi dan perilaku korup aparatur negara bukanlah pekerjaan mudah. Oleh karena itu diperlukan juga sebuah gerakan yang mampu memerangi yang juga tidak mudah dibubarkan. Social media melalui Facebook, Twitter, dan YouTube bisa menciptakan gerakan tersebut. Tentu saja perilaku pengguna social media di Indonesia setidaknya sedikit harus berubah dari hanya mencari kesenangan atau iseng atau hanya main game poker kepada sesuatu yang nyata, bersatu di dalam gerakan anti korupsi. Baru kemudian social media bisa memberikan manfaatnya terhadap gerakan antikorupsi di Indonesia.




Thursday, October 4, 2012

Tan Malaka: Jalan Sunyi Proklamator yang Gagal


Bayangkan seandainya proklamator Republik Indonesia adalah Tan Malaka. Bayangkan seandainya Tan Malaka membacakan naskah Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun sejarah tidak dituliskan dengan kata “Seandainya”. Semua kita tahu Soekarno-Hatta lah yang menjadi proklamator, Tan Malaka? Entah ke mana pada hari yang sangat bersejarah tersebut.

Kekaguman saya kepada tokoh kiri Indonesia, Tan Malaka tiada habisnya. Meskipun saya lebih condong menganut sosio demokrat yang diusung Sutan Sjahrir, namun Tan Malaka adalah inspirasi yang tak pernah habis digali. Kehidupannya yang sepanjang 52 tahun, separuh di antaranya dihabiskan dalam buangan, dikejar berbagai agen penjajah. Hidup berpindah-pindah mulai tahun 1922 dari Amsterdam, Rotterdam, Berlin, Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, beberapa desa di pedalaman Tiongkok,  lalu Rangoon, Singapura, Penang, dan kembali ke Indonesia di tahun 1942.

Kehidupan dalam persembunyian, dikejar-kejar agen penjajah membuat Tan Malaka seorang yang sangat awas. Ia tidak bisa langsung percaya dengan orang lain. Kalau bertemu dengan seseorang, ia selalu menghadap ke jendela. Ia mungkin terlalu khawatir dengan keselamatan dirinya jika ditangkap. Harry A. Poeze menuliskan bahwa pengalaman hidup puluhan tahun diburu agen rahasia negeri-negeri imperialis membuat Tan Malaka jadi orang yang selalu waspada dan tertutup. Namun mungkin sikap terlalu awas ini juga yang membuatnya tidak muncul di saat-saat penting seperti hari proklamasi.

Sungguh disayangkan, seseorang yang pertama kali menggagas  republik yang kini disebut Indonesia, malah tidak hadir di hari penting seperti proklamasi. Tidak hanya Tan Malaka tentunya, Sutan Sjahrir, tokoh kiri lainnya juga memilih membiarkan proklamasi berjalan di tangan Soekarno-Hatta setelah upayanya membuat naskah proklamsi sendiri gagal.

Sebelum sampai pada proklamasi, Tan Malaka sebenarnya sudah hadir di Jakarta sekitar bulan Juni 1945. Sebagaimana dicatat oleh Majalah Tempo Edisi Khusus Tahun 2008, Tan Malaka bertamu ke rumah Sukarni di Jalan Minangkabau sekitar awal Juni 1945. Ia datang dari Bayah, Banten dan memperkenalkan dirinya sebagai Ilyas Hussein. Soal nama ini memang sesuatu yang sangat penting. Karena terus diburu sepanjang 20 tahun, Tan Malaka berganti nama sangat sering. Dengan nama samaran, jelas saja mereka yang berkenalan dengan Tan Malaka di awal Juni tersebut tak tahu bahwa itu adalah Tan Malaka. Apalagi nama Tan Malaka itu sendiri seperti sebuah mitos yang tidak mudah untuk mempercayainya.

Sukarni yang mengikuti rapat bersama Ilyas Hussein tidak bertanya apakah yang mengaku Ilyas Hussein tersebut adalah Tan Malaka karena pemikiran mereka yang mirip. Sukarni ragu untuk bertanya hingga Ilyas Hussein akhirnya kembali ke Bayah tanpa bisa dikenali sebagai Tan Malaka.

Dari kejadian ini kita melihat pengalaman diburu selama 20 tahun membekas sangat dalam di diri Tan Malaka. Dengan kondisi Jepang tengah berkuasa cukup riskan baginya untuk membuka penyamarannya dengan mengaku sebagai Tan Malaka. Tan Malaka mengatakan bahwa ia menunggu saat yang tepat untuk membuka diri. Sayangnya saat yang tepat itu tidak pernah datang lagi.

Tentu Tan Malaka tidak hanya sekali ke Jakarta menjelang proklamsi. Pada tanggal 6 Agustus 1945 ia berangkat dari Bayah menuju Jakarta. Kali ini rumah yang ditujunya adalah rumah BM Diah. Ia bertanya mengenai kondisi terkini Jepang dan mengusulkan pimpinan revolusi kemerdekaan harus di tangan pemuda. Namun malang, esoknya BM Diah ditangkap Jepang, Hussein atau Tan Malaka kembali ke Bayah.

Sepertinya memang tidak ada kesempatan kedua bagi Tan Malaka untuk lebih membuka dirinya. Sewaktu ia kembali ke Jakarta menjelang proklamasi, kondisi Jakarta sudah tidak menentu. Meskipun bertemu dengan Sukarni pada tanggal 14 Agustus 1945, tetapi Sukarni sibuk. Di rumahnya banyak orang keluar-masuk sehingga kehadiran Tan Malaka tak menjadi perhatian. Sukarni juga khawatir kalau-kalau rumahnya digerebek Kempetai.

Menurut Poeze, terbatasnya peran Tan Malaka dalam proklamasi kemerdekaan sesuatu yang ironis mengingat Tan Malaka adalah orang yang pertama kali menggagas konsep republik dalam buku Naar de Republiek Indonesia, yang ditulis pada 1925, jauh sebelum Soekarno dan Hatta tentunya.

Tan Malaka pun menyesali kecilnya perannya dalam proklamasi kemerdekaan tersebut. Ia mengatakan:
”Rupanya sejarah proklamasi 17 Agustus tidak mengizinkan saya campur tangan, hanya mengizinkan campur jiwa saja. Ini sangat saya sesalkan! Tetapi sejarah tidak mempedulikan penjelasan seorang manusia atau segolongan manusia.”
oooooooo
Sutan Sjahrir dalam buku Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia menceritakan bahwa ia bersama mentor proletariatnya, Sastra mendiskusikan siapa orang yang tepat untuk menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia. Ini terjadi pada awal bulan Juli 1945.

Mereka memutuskan bahwa proklamator sehendaknya bukanlah Sutan Sjahrir. Sekalipun dikenal di perlawanan bawah tanah dan juga pemuda, Sutan Sjahrir kurang dikenal di kalangan rakyat. Ini sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Sutan Sjahrir memang memutuskan untuk melawan Jepang secara diam-diam, sementara Soekarno-Hatta berkoborasi dengan Jepang. Akibatnya Sjahrir dikenal secara terbatas dan Soekarno-Hatta dikenal secara luas karena selalu muncul di permukaan.

Setelah berdiskusi, Sastra dan Sutan Sjahrir menyimpulkan mungkin Tan Malakalah orangnya. Namun kendalanya, Tan Malaka sudah berada di luar Indonesia selama 20 tahun. Baik Sjahrir maupun Sastra tidak mengetahui di mana Tan Malaka saat itu berada. Ada desas-desus Tan Malaka sudah masuk ke Indonesia, dan menyembunyikan diri di Bayah, Banten dengan nama Ibrahim.

Sjahrir mengirimkan Itji Kantaatmaka untuk menguhubungi Tan Malaka, namun tidak berhasil. Akhirnya Sastra dan Sjahrir sendiri yang mencari Tan Malaka dan dengan bantuan Marta, kepala Stasuin Menes, Sjahrir dan Sastra berhasil menemukan Tan Malaka. Sjahrir dan Sastra bertanya kepada Tan Malaka apakah ia bersedia menjadi proklamator dan jawaban darinya segera dan spontan bahwa ia tidak siap.

Jadi misi membawa Tan Malaka untuk menjadi proklamator tersebut gagal. Sutan Sjahrir pun tahu diri ia tidak bisa jadi proklamator sehingga tidak ada pilihan lain bahwa proklamator adalah Soekarno-Hatta.

Ini sebuah ironi lagi. Saya rasa Tan Malaka ketika menampik tawaran menjadi proklamator dari Sutan Sjahrir tersebut sudah memperhitungkan banyak hal. Ia mengatakan bukan tidak mau, tetapi tidak siap. Ini artinya Tan Malaka yang kembali ke Indonesia sekitar tahun 1942 belum juga siap untuk maju ke depan meskipun sudah tiga tahun kembali ke Indonesia. Tan Malaka dengan segudang pengalamannya dalam revolusi, di saat-saat yang paling menentukan ternyata tidak siap untuk menjadi proklamator.

Ide Sutan Sjahrir untuk menjadikan Tan Malaka sebagai proklamator cukup jelas, yaitu menghindarkan negara Indonesia sebagai kolaborator Jepang. Jika Tan Malaka yang jadi proklamator tuduhan kolaborator Jepang terhadap Soekarno-Hatta dapat dihindari dan tentunya nantinya sekutu, terutama Belanda berpikir bahwa ternyata yang menjadi proklamator adalah mereka yang tidak bekerja sama dengan Jepang.

Proklamsi tersebut sepertinya harus dilakukan oleh Soekarno-Hatta dengan risiko dicap sebagai kolaborator Jepang. Sjahrir sendiri menceritakan bahwa pada pagi tanggal 17 Agustus 1945 ada utusan yang memintanya ikut ambil bagian dalam perundingan yang masih berlangsung di kediaman Laksamana Maeda. Tentu saja Sutan Sjahrir menolak untuk hadir.

Bagaimana dengan Tan Malaka? Ia juga tak ikut serta di saat proklamasi kemerdekaan tersebut. Mungkin sebuah kesempatan yang hilang, tidak akan muncul dua kali. Ketika ia datang ke rumah Sukarni, ia belum siap untuk membuak diri. Ketika ia ditawari menjadi proklamator ia juga berkata tidak siap mengingat ia memang tidak dikenal karena selalu bersembunyi di Bayah tiga tahun terakhir.

Seandainya, tentu ini pengadaian saja, Tan Malaka mau menjadi proklamator saya rasa Sutan Sjahrir sudah menyiapkan banyak hal untuk mendukung hal tersebut. Sutan Sjahrir dengan gerakan bawah tanahnya cukup punya kekuatan, meskipun terhitung sedikit. Tan Malaka mungkin tidak akan kehilangan kepalanya seandainya ia yang jadi proklamator. Sesuatu yang tragis menurut ignas Kleden, Tan Malaka  yang tak pernah kehabisan akal di berbagai negara tempatnya melarikan diri, akhirnya kehilangan kepala di tanah air yang amat dicintainya. Namun, kembali ke pembuka, Sejarah tak dituliskan dengan kata “Seandainya”.

Sumber Bacaan:
1. Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis, Ignas Kleden, Tempo Edisi Khusus Tan Malaka, 2008.

2. Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, Rudolf Mrazek, Yayasan Obor, 1996.
3. Jalan Sunyi dari Bayah, Tempo Edisi khusus Tan Malaka, 2008

Mengenang Perdana Menteri Indonesia Pertama, Sutan Sjahrir


Ketika Indonesia memasuki usia 67 tahun bulan Agustus yang lalu, Sutan Sjahrir kembali menjelang di pikiran saya. Semalaman saya paksakan untuk menuliskan kata-kata untuk sekadar pelipur lara bagi  Bung Kecil yang sangat besar jasanya bagi republik ini. Ia yang kini berada di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Satu-satunya dari empat Bapak Pendiri Republik ini yang dimakamkan di sana, Hatta tidak, Soekarno tidak,  apalagi Tan Malaka.

Bung Kecil begitu ia akrab dipanggil, badannya kecil, namun sungguh paradoks dengan semangat demokrasi dan rasa tidak takutnya. Pernah sewaktu masih di Bandung teman-temannya menguji si Bung untuk tidur di pemakaman, si Bung Kecil menganggap tidak ada hantu di dunia ini, ia seorang yang tidak percaya tahyul. Sangat logis, tidak percaya pada keangungan kisah-kisah lampau masa-masa kerajaan seperti Majapahit. Semua di dunia ini nyata adanya, menurutnya. Sewaktu masih menjadi perdana menteri mobil dinas Bung Kecil diberhentikan oleh prajurit NICA.  Bung Kecil santai saja walau pipinya berdarah dan mengeluarkan arolji dari kantongnya sambil bertanya, pukul berapa sekarang?

Bung kecil yang senang politik bukan karena keinginannya adalah contoh seorang intelek yang sampai sekarang sulit mencari padanannya. Perkiraannya hampir selalu benar termasuk dunia yang akan dikuasai oleh dua kekuatan, Barat dan Komunis Uni Soviet setelah perang dunia kedua selesai dan militerisme yang berkuasa di Indonesia selama orde baru. Namun Bung Kecil adalah pemimpin yang melarat, hampir sama dengan Tan Malaka, berjuang sedari muda untuk kemerdekaan Indonesia, namun mati dipenjara oleh negara yang didirikannya tersebut. Nasib yang sungguh malang semalang Tan Malaka yang ditembak dalam sunyi di suatu sudut di Kediri, Jawa Timur.

Masa Kecil dan Politik Etis
Saya ingat sekali, ibu Bung Kecil adalah seorang ibu yang sangat suka dengan Komedi Stambul yang biasanya mampir di kota mereka tinggal sewaktu Bung Kecil masih kecil. Ini salah satu lirik nyanyian Komedi Stambul tersebut:
En satoe en satoe en satoe dat is een
En batoe en batoe en batoe dat is steen
En roti en roti en roti dat is brood
En mati en mati en mati dat is dood


Lahir di Minangkabau, Bung Kecil bertransformasi menjadi orang yang sangat suka kemajuan dan hampir-hampir tidak pernah berbicara dengan bahasa Minang. Ia adalah contoh Belanda Coklat yang lahir akibat politik balas budi Belanda yang mendapat apresiasi tinggi di daerah yang kini disebut Sumatera Barat. Rudolf Mrazek menuliskan tentang betapa politik etis ini mendapatkan sambutan yang luar biasa di daerah kelahiran Bung Kecil ini.

Di Padang saja pada tahun 1912 terdapat 23 sekolah etis dengan murid keseluruhan berjumlah 1.200 orang, bandingkan dengan yang ada di seluruh Jawa dan Madura  yang hanya 53 buah. Tuntutan mempelajari Bahasa Belanda menjadi begitu besar di kalangan orang Minangkabau sehingga siapapun yang sedikit mengetahui bahasa itu akan membangun sekolah sederhana di belakang rumahnya untuk memberikan kursus kepada pegawai negeri atau profesional yang berminat“.

Bung Kecil tidak lama berada di daerah Minangkabau, beberapa waktu kemudian mereka pindah ke Jambi lalu Medan. Di Medan Bung Kecil sekolah di pagi hari dan sore harinya mengaji. Tidak lama kemudian Bung Kecil pergi ke rantau yang lebih luas lagi yaitu Bandung, untuk bersekolah di AMS.

Di Bandung
Setelah menamatkan MULO, Bung Kecil berlayar menuju Bandung untuk bersekolah di AMS jurusan Barat Klasik. Jurusan ini dipilih sebagai upaya melanjutkan jabatan jaksa ayahnya kelak. Di Bandung ini pula Bung Kecil mulai berkenalan dengan politik, Dr. Cipto Mangunkusumo dan tentu saja Soekarno yang ia hentikan pembicaraannya di sebuah forum rapat bumiputera.

Bung Kecil memasuki Jong Indonesie yang mendirikan sekolah khusus bernama Tjahja Volksuniversiteit atau universitas untuk rakyat yang dirancang bukan hanya untuk mengajar membaca dan menulis, tetapi juga memberikan pengajaran dalam bahasa asing, ekonomi, matematika, fisika dan lainnya. Di Bandung juga Bung Kecil yang sudah suka bermain sepak bola dari dulu tersalurkan hobinya dengan masuk ke dalam Club Voetbalvereniging Poengkoer. Ia menjadi penyerang yang licin dan hebat. Tidak ketinggalah Bung Kecil mengasah kemampuan berdebatnya dengan mendirikan Patriae Scientiaeque, forum bagi pelajar dan pemuda untuk melakukan debat tentang ide kebangsaan.

Pada bulan Juni 1929 setelah menamatkan AMS, Bung Kecil mengepak tasnya untuk selanjutnya meneruskan rantau yang lebih luas ke Belanda untuk belajar hukum guna suatu saat kelak bisa menggantikan ayahnya yang seorang jaksa, namun semua itu tak tercapai karena ia lebih mencintai politik daripada belajar.

Di Belanda
Bung Kecil mengikuti saran keluarganya agar suatu saat kelak bisa menggatikan ayahnya yang jaksa. Ia memasuki Fakultas Hukum Universitas Amsterdam. Namun sebenarnya hampir tidak ada waktu kuliah yang dijalani Bung Kecil, kegiatan utamanya adalah mempelajari Sosialisme, Marxisme dan pergerakan kebangsaan. Ia berkembang dalam iklim Barat dengan pola pikir Barat dan hampir-hampir tidak ada lagi kesan bahwa sebenarnya orang Indonesia dengan pola pikir yang dimilikiya dan berkembang sangat baik. Menurut teman-temannya di Belanda, Sutan Sjahrir menyelami sosialisme sangat dalam hingga bergaul sangat bebas dengan kelompok sosialis. Ia sangat memahami teori-teori sosialisme berkat pergaulan dalamnya dengan kelompok sosialis Belanda.

Di Belanda pula Bung Kecil bertemu Sal Tas, Ketua Amsterdam Sociaal Democratische Studenten Club, sebuah perkumpulan mahasiswa yang berafiliasi dengan Partai Sosialis Demokrat Belanda. Sal Tas bersama istrinya Maria Duchateu, seorang perempuan bernama Judith, dan Jos Riekerk berdiskusi bersam Bung Kecil tentang politik dan mengupas pemikiran filsuf sosialis  seperti Rosa Luxemburg, Karl Kaustky, Otto Bauer, Hendrik de Mann, Marx dan Engels. Di Belanda Bung Kecil bertemu Bung Hatta yang memimpin Perhimpunan Indonesia.

Di Belanda jugalah Bung Kecil jatuh cinta kepada Maria Duchateu yang merupakan istri Sal Tas, yang sebenarnya sudah tidak cocok lagi dengan Sal Tas. Sal Tas pun sebenarnya mengetahui hal ini, namun ia tidak melakukan cerai secara resmi.

Kembali ke Jawa
Oleh karena Hatta harus menyelesaikan studinya terlebih dahulu, Bung Kecil diutus terlebih dahulu untuk menyatukan pergerakan nasional yang tercerai-berai setelah ditangkapnya Soekarno. Bung Kecil kemudian menjadi ketua partai PNI Pendidikan. Setelah keluar dari penjara, Soekarno memilih bergabung dengan Partindo dan ia gagal untuk menyatukan kedua pergerakan ini. Kedua partai ini saling berebut simpati massa, namun tentu saja Partindo dengan motor Soekarno yang penuh dengan agitasi lebih disukai massa daripada PNI Pendidikan yang bergerak di jalur pendidikan atau kader.

Kegiatan Bung Kecil, Hatta dan teman-temannya di PNI pendidikan tidak terlepas dari perhatian Belanda. Di bulan November 1933, seorang komisaris polisi di Batavia mengatakan bahwa wujud Pendidikan yang tidak berbahaya dan tanpa kegiatan mencolok harsu dianggap sebagai bukti bahwa pemerintah benar dalam kecurigaannya. Akhirnya pada tanggal 22 Februari 1934, 32 orang anggota pendidikan ditangkap, Bung Kecil tidak ada di Bandung waktu itu, ia telah memesan tiket untuk kembali ke Belanda meneruskan studinya dan akhirnya ditangkap di rumah saudara tirinya, Radena di Batavia.

Dibuang ke Digul
Sebelum dibuang ke Tanah Merah, Digul (Papua), Bung Kecil dipenjara di Cipinang. Di antara anggota pendidikan yang ditangkap tidak ada yang ke Cipinang, kecuali Bung Kecil. Ia berada di Cipinang selama 11 bulan, baru kemudian dibuang ke Digul bersama Hatta dan anggota pendidikan lainnya. Digul merupakan tempat pembuangan yang sangat buruk bagi kedua tokoh Hatta dan Bung Kecil. Bahkan banyak pihak yang menyanyangkan mengapa tempat tersebut yang dipilih oleh pemerintah kolonial Belanda, mengapa tidak tempat seperti Flores untuk Soekarno.  Perdebatan mengenai tidak layaknya Digul bagi kedua orang ini akhirnya menemui keputusan dengan memindahkan mereka ke Banda Neira.

Di Banda Neira
Banda Neira adalah tempat spesial di hati Bung Kecil dan juga pengikut-pengikutnya. Di sini Bung Kecil lebih bebas dan hidup lebih baik karena pergaulannya yang luas dengan masyarakat Banda, termasuk ia mengadopsi tiga orang anak Banda. Bahkan pulau Banda adalah pulau penuh kenangan yang sulit dilupakan oleh Bung Kecil. Pernah suatu ketika ia berjalan di tepi pantai dan berbicara dengan nelayan kecil di pantai itu. Ia kemudian sewaktu telah menjadi perdana menteri meminta pelukisnya untuk melukis lagi kejadian tersebut. Di Banda juga, Bung Kecil bertemu dengan seorang pendeta Belanda yang mengira Bung Kecil seorang Kristen karena tahu banyak dan membaca Injil, seorang Kristen yang sungguh baik sehingga Pendeta itu berencana apabila nanti ia meninggalkan Banda, Sjahrir dengan mudah dapat menggantikan kedudukannya.

Pemerintahan Jepang
Pada tanggal 31 Januari 1942, pasukan Jepang menyerbu Ambon. Pemerintah Belanda tentu khawatir dengan kondisi Hatta dan Bung Kecil yang hanya 1 jam penerbangan dari Ambon sehingga menjemput mereka dengan pesawat Catalina terakhir yang melarikan diri dari bagian timur Indonesia. Mereka kemudian di bawa ke Surabaya, lalu Batavia dan terakhir ke Sukabumi. Hatta dengan cepat dikenali oleh Jepang dan atas desakan karena tidak ada lagi pilihan membantu Soekarno dalam pemerintahan Jepang, sementara Bung Kecil bergerak di bawah tanah. Hal ini mereka sepakati dalam sebuah pertemuan dan jika ada yang menanyakan Bung Kecil Soekarno dan Hatta akan beralasan bahwa Bung Kecil sedikit agak gila.

Dalam masa pendudukan Jepang ini Bung Kecil mengumpulkan pemuda dan pemudi yang kemudian menjadi Pemuda Sjahrir, terutama mereka yang belajar di sekolah lanjutan atas. Mereka adalah Subadio, Soejadmoko, Daan Jahja, Hamid Algadri, Soebianto, Iwan Santoso, Sitoroes, dan beberapa anggota Unitas Studiosorum Indonesiensis seperti Poppy Saleh (nantinya menjadi Poppy Sjahrir). Sebagian besar pemuda-pemudi Sjahrir ini adalah mereka yang kurang cocok dengan gaya kepemimpinan Soekarno yang bersekutu dengan Jepang.

Kemerdekaan dan Menjadi Perdana Menteri
Kemerdekaan Indonesia dipeoklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Bung Kecil tidak ikut dalam proklamasi tersebut bahkan ada kesan ia sengaja menghilang karena ketidaksetujuannya dengan cara Soekarno-Hatta dalam memerdekakan Indonesia dan terlalu bergantung kepada informasi yang diberikan Jepang. Sikap Bung Kecil terhadap kemerdekaan tersebut ambigu, Adam Malik yang kemudian menjadi lawan politik  Bung Kecil menuliskan:

“Kesiagaan Sjahrir dan caranya yang berbeda dengan kelemahan Soekarno-Hatta mendorong pemuda kembali kepadanya meskipun ia tetap di belakang (tidak mau terlibat)”.

Namun sebenarnya Bung Kecil tidak bisa menafikan betapa bersemangatnya rakyat menyambut kemerdekaan itu. Ia berkata:

Saya mengelilingi Jawa. Saya dapat menyaksikan seluruh rakyat telah mulai berjuang untuk kemerdekaan …Saya lalu tidak dapat mengingkari revolusi yang dipimpin oleh Soekarno, Saya harus menghadapi kenyataan….”

Pada tanggal 14 November 1945, hampir tiga bulan setelah proklamasi kemerdekaan, akhirnya Bung Kecil terlibat langsung dalam revolusi dengan menjadi Perdana Menteri dalan usia 36 tahun. Posisi perdana menteri ini sempat ia duduki sebanyak tiga kali sebelum menjadi utusan khusus di PBB yang kemudian berpidato di dalam sidang Keamanan PBB di Lake Success di tahun 1946.

Ada satu kisah menarik antara seorang wartawan dan Bung Kecil saat ia baru tiga bulan menjadi perdana menteri. Mochtar Lubis pernah bercerita sekitar tahun 1946 saat Sutan Sjahrir menjadi Perdana Menteri. Ia berkunjung ke rumah Sjahrir untuk mengadakan wawancara tentang kemungkinan perundingan dengan pihak Belanda. Dengan senyum di bibir dan mata bersinar-sinar Sutan Sjahrir bertanya:

“Eh, Anda sudah berapa lama jadi wartawan?”
“Baru tiga bulan ini Bung Sjahrir”, jawab Mochtar Lubis
“Eeeee, baru tiga bulan jadi wartawan, kok sudah berani interview perdana menteri?”
“Bung Sjahrir sudah berapa lama jadi menteri, kalau tidak salah juga baru beberapa bulan?” sanggah Mochtar Lubis sambil tersenyum. Sutan Sjahrir lalu memandang Mochtar Lubis dan kemudian tertawa terbahak-bahak.

Kalah dalam Pemilu 1955
Setelah tidak menjabat apapun Bung Kecil kembali menjadi rakyat biasa dan memimpin Partai Sosialis Indonesia atau PSI. Di tahun-tahun ia menjadi rakyat biasa ini ia yang sudah tidak lagi beristri akhirnya menikah dengan Poppy, mereka berbahagia dengan dua orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki. Di tahun 1955, PSI mengikuti pemilu namun kalah telak. Ini adalah pukulan berikutnya bagi Bung Kecil, namun ia tidak sedih karena ia bukanlah tipe orang yang ingin memperoleh jabatan.

Tak disangsikan lagi menurut J.D. Legge banyak anggota PSI menganggap diri mereka adalah wakil dari suatu kaum intelektual dan mereka berbeda dengan orang Indonesia kebanyakan. Kaum intelektual PSI sebenarnya mengendalikan pemikiran pemerintah terbukti dengan banyaknya kader-kader PSI yang berada di pemerintahan, namun tidak banyak dikenal oleh masyarakat luas yang jauh tertinggal pemikirannya. Ini membuat PSI kalah populer dan tidak mendapat suara di Pemilu 1955 tersebut.

Penjara dan Kematian
Kondisi politik dalam masa 1950-1959 di Indonesia sungguh panas. Akibat pemberontakan PRRI/Permesta, dua partai dilikuidasi oleh pemerintahan Soekarno, yaitu Masyumi dan PSI. Bung Kecil kemudian ditangkap dan dipenjara di Madiun. Sungguh nasib yang teramat jelek mendirikan negara kemudian dipenjara oleh negara yang didirikan tersebut. Namun begitulan adanya, Bung Kecil tak dendam bahkan kepada Soejadmoko ia berkata kalau Soekarno meminta bantuan orang-orang PSI  dengan senang hati harus menolong.

Kondisi penjara, kesendirian dan masa-masa indah berkeluarga yang teramat pendek membuat Bung Kecil sangat tersiksa di penjara sehingga menimbulkan sakit yang cukup parah dan saat-saat terakhir waktu penyakitnya sudah tidak mungkin disembuhkan barulah Soekarno memberikan izin berobat ke Swiss.

Ia meninggal di Swiss dalam status Tahanan dari negeri yang dimerdekakannya. Anehnya sewaktu jenasah tiba di Jakarta disambut dengan sambutan luar biasa dan dikubur di Taman Makam Pahlawan Kalibata, sungguh paradoks dengan apa yang ia terima selama ia hidup. Bahkan Hatta yang memberikan sambutan di ujung makam Bung Kecil berkata ia tidak akan membiarkan hal ini terjadi terhadap dirinya, dan Hatta benar ia dikubur di Tanah Kusir.

Sutan Sjahrir adalah tokoh yang kalah dan dikalahkan. Demikian juga Tan Malaka. Mereka yang berjuang sedari muda, namun bernasib naas harus meninggal karena negara yang mereka dirikan. Sungguh nasib yang teramat jelek. Namun Tuhan akan mencatat jasa Sutan Sjahrir. Seperti kata Hatta sewaktu pemakamannya,” Kerjamu ada yang meneruskan”.
Semoga damai di alam sana, Bung Kecil, yang berjasa besar, Sutan Sjahrir.

Sumber Utama: Sjahrir, Politik dan Pengasingan di Indonesia, Rudolf Mrazek, 1996.
Sumber Tambahan: Majalah Tempo Edisi khusus Sutan Sjahrir Tahun 2009

Naik Kereta Api Argo Parahyangan Ekonomi Premium Tuuut Tuuut Tuuut Siapa Hendak Turut Dari Bandung ke Jakarta

Gerbong Kereta Argo Parahyangan Ekonomi Premium Satu hal yang saya senangi kalau bepergian, baik untuk mengurus urusan ini maupun urusa...