Monday, November 5, 2012

Film Linimassa 2 dan Eksistensi Media Sosial di Indonesia

Sumber: linimassa.org

Tidak bisa kita bayangkan, bagaimana jika saat ini tidak ada media sosial. Media sosial seperti Facebook, Twitter, blog telah menjadi bagian keseharian banyak orang Indonesia. Mereka kini yang menjadi blogger lebih dari 33 juta orang, pengguna Facebook Indonesia menurut catatan Socialbakers berada di angka 50.489.360 orang dan Twitter menurut catatan berada di angka 30 juta. 

Pengguna media sosial yang sangat banyak tersebut seperti sebuah kekuatan yang belum dibangunkan. Kita bisa melihat, sebagian besar aktifitas pengguna media sosial di Indonesia masihlah berkisar tentang segala hal menyangkut pribadi penggunanya. Upload foto, membeli rumah baru, mobil baru, dapat pacar baru dan segala tetek bengek, hal-hal kecil yang dibesar-besarkan merupakan hal yang sangat sering kita temukan di media sosial. Facebook sebagai media sosial favorit orang Indonesia menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin pamer, unjuk kekuatan materi. Semuanya tentu bukan sesuatu yang negatif, tetapi lebih kepada bahwa fungsi Facebook dan media sosial umumnya bukan "hanya" untuk hal-hal narsis seperti itu.

Lain lagi dengan Twitter. Di Twitter saya mengenali gejala pengguna kambuhan yang hanya datang ketika ada peristiwa tertentu. Modus yang digunakan seringkali dengan membeli follower sebanyak mungkin, lalu melakukan tweet tentang segala hal yang ia ketahui dan cenderung fitnah. Heboh akun @TrioMacan2000 merupakan bukti bahwa Twitter digunakan untuk tujuan-tujuan tidak baik, cenderung melakukan penistaan dan pembunuhan karakter pengguna Twitter lainnya atau mereka yang tidak disukai.

Perkembangan lebih jauh terlihat muncul akun-akun "bayaran" di Twitter. Saling beradu tweet bukan hal yang baru dan tabu demi membela yang bayar. Pertanyaannya, cuma untuk hal-hal aneh itukah media sosial digunakan di Indonesia? Dalam kata lain, apakah peran media sosial di Indonesia hanya untuk sekadar narsis dan melakukan penistaan?

Sebagian dari pertanyaan di atas dapat dijawab dengan Film Linimassa 2. Film Dokumenter tentang bagaiamana media sosial mampu memberikan hal-hal positif untuk kehidupan ini, sebuah film yang patut diapresiasi banyak pihak. Pemerintah dalam hal ini, mestinya banyak belajar dari film LiniMassa 2 ini untuk melihat bagaimana orang-orang biasa, namun sedemikian peduli untuk mandiri, saling menghargai dan menciptakan perdamaian dengan menggunakan media sosial.

Kasus kerusuhan di Ambon beberapa waktu lalu menjadi pembuka kisah di Film LiniMassa 2 ini. Fakta-fakta yang diungkap oleh mereka di media sosial tidak kita temui di media mainstream. Namun intinya, fakta tersebut jauh berbeda dengan yang ada di media mainstream. Dengan menggunakan media sosial, orang-orang di Ambon berusaha saling menenteramkan. Berusaha untuk tidak menyebarkan rasa saling memusuhi.

Tentu bukan hanya hal tersebut di atas yang ada di Film Linimassa 2 ini. Masih ada radio komunitas yang berfungsi untuk membagikan berbagai informasi kepada warga di Lombok.  Ada pengajar PAUD yang bila kita lihat kelasnya, mungkin lebih baik kandang kambing, namun mereka mau dan konsisten memberikan baktinya. Ada juga Pak Kitanep, seorang penjaga hutan yang menggunakan ponselnya guna memotret kerusakan pipa saluran air sehingga kemudian bisa diperbaiki.

Ada juga emak-emak yang suka nge-blog. Meskipun sudah tua, tetapi tetap berusaha dan inovatif menggunakan internet untuk memajukan usahanya. Selain itu ada mereka yang mengalami difabilitas, ODHA, kampung cyber, serta perajin batik yang menggunakan Facebook untuk berjualan.

Keseluruhan isi film Linimassa 2 ini menunjukkan bagaimana media sosial bisa bermanfaat untuk banyak orang. Media sosial bukan sekadar untuk bernarsis ria, tetapi juga untuk membangun komunitas. Fakta penting yang harus kita ingat adalah media sosial adalah alat, kita bisa mengharapkan hal-hal besar dari media sosial, jika kita bisa menggunakannya untuk hal-hal positif yang memilki manfaat bagi banyak orang.

Saya tentu saja terkesan bahwa kekuatan para pengguna media sosial di Film Linimassa 2 ini sedemikian hebat. Orang-orang biasa, dengan pengetahuan mungkin tidak lebih baik dari mereka yang kebanyakan, ternyata bisa berbuat sesuatu yang lebih baik. Orang yang memiliki keterbatasan, bisa menjadi seorang wirausaha mandiri. 

Saya kira media sosial memberikan sedemikian banyak peluang. Media sosial memberikan 1001 kemungkinan yang bisa digunakan penggunanya. Tinggal bagaimana pengguna tersebut dalam memanfaatkannya. Bila anda cukup puas untuk hanya narsis, hasilnya pun tidak jauh dari hal tersebut. Namun jika anda bisa menggali sedikit lebih dalam, media sosial berperan penting dalam meningkatkan taraf hidup anda dan memberikan peluang bagi mereka yang memiliki keterbatasan dan masih banyak lainnya.

Film Linimassa 2 ini merupakan bukti konkret bahwa media sosial dan internet secara keseluruhan bermanfaat sangat banyak bagi kehidupan. Gunakan sebaik dan semaksimal mungkin untuk tujuan-tujuan positif. Pesan yang sangat bagus dalam Film Linimassa 2 ini adalah mari gunakan media sosial untuk tujuan-tujuan besar, jangan lagi soal-soal pribadi. Mari gunakan media sosial untuk kemanfaatan orang banyak. Hasilnya akan menjadi sebuah gerakan yang sangat sulit untuk dipatahkan.


ASUS Rilis ASUS ROG GX800, Notebook Gaming Seharga Mobil

ASUS ROG GX800 Seberapa mahal sebuah notebook yang pernah Anda beli? Rp25 juta? atau Rp50 juta? Pernah dengar sebelumnya sebuah noteboo...