Thursday, October 4, 2012

Tan Malaka: Jalan Sunyi Proklamator yang Gagal


Bayangkan seandainya proklamator Republik Indonesia adalah Tan Malaka. Bayangkan seandainya Tan Malaka membacakan naskah Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun sejarah tidak dituliskan dengan kata “Seandainya”. Semua kita tahu Soekarno-Hatta lah yang menjadi proklamator, Tan Malaka? Entah ke mana pada hari yang sangat bersejarah tersebut.

Kekaguman saya kepada tokoh kiri Indonesia, Tan Malaka tiada habisnya. Meskipun saya lebih condong menganut sosio demokrat yang diusung Sutan Sjahrir, namun Tan Malaka adalah inspirasi yang tak pernah habis digali. Kehidupannya yang sepanjang 52 tahun, separuh di antaranya dihabiskan dalam buangan, dikejar berbagai agen penjajah. Hidup berpindah-pindah mulai tahun 1922 dari Amsterdam, Rotterdam, Berlin, Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, beberapa desa di pedalaman Tiongkok,  lalu Rangoon, Singapura, Penang, dan kembali ke Indonesia di tahun 1942.

Kehidupan dalam persembunyian, dikejar-kejar agen penjajah membuat Tan Malaka seorang yang sangat awas. Ia tidak bisa langsung percaya dengan orang lain. Kalau bertemu dengan seseorang, ia selalu menghadap ke jendela. Ia mungkin terlalu khawatir dengan keselamatan dirinya jika ditangkap. Harry A. Poeze menuliskan bahwa pengalaman hidup puluhan tahun diburu agen rahasia negeri-negeri imperialis membuat Tan Malaka jadi orang yang selalu waspada dan tertutup. Namun mungkin sikap terlalu awas ini juga yang membuatnya tidak muncul di saat-saat penting seperti hari proklamasi.

Sungguh disayangkan, seseorang yang pertama kali menggagas  republik yang kini disebut Indonesia, malah tidak hadir di hari penting seperti proklamasi. Tidak hanya Tan Malaka tentunya, Sutan Sjahrir, tokoh kiri lainnya juga memilih membiarkan proklamasi berjalan di tangan Soekarno-Hatta setelah upayanya membuat naskah proklamsi sendiri gagal.

Sebelum sampai pada proklamasi, Tan Malaka sebenarnya sudah hadir di Jakarta sekitar bulan Juni 1945. Sebagaimana dicatat oleh Majalah Tempo Edisi Khusus Tahun 2008, Tan Malaka bertamu ke rumah Sukarni di Jalan Minangkabau sekitar awal Juni 1945. Ia datang dari Bayah, Banten dan memperkenalkan dirinya sebagai Ilyas Hussein. Soal nama ini memang sesuatu yang sangat penting. Karena terus diburu sepanjang 20 tahun, Tan Malaka berganti nama sangat sering. Dengan nama samaran, jelas saja mereka yang berkenalan dengan Tan Malaka di awal Juni tersebut tak tahu bahwa itu adalah Tan Malaka. Apalagi nama Tan Malaka itu sendiri seperti sebuah mitos yang tidak mudah untuk mempercayainya.

Sukarni yang mengikuti rapat bersama Ilyas Hussein tidak bertanya apakah yang mengaku Ilyas Hussein tersebut adalah Tan Malaka karena pemikiran mereka yang mirip. Sukarni ragu untuk bertanya hingga Ilyas Hussein akhirnya kembali ke Bayah tanpa bisa dikenali sebagai Tan Malaka.

Dari kejadian ini kita melihat pengalaman diburu selama 20 tahun membekas sangat dalam di diri Tan Malaka. Dengan kondisi Jepang tengah berkuasa cukup riskan baginya untuk membuka penyamarannya dengan mengaku sebagai Tan Malaka. Tan Malaka mengatakan bahwa ia menunggu saat yang tepat untuk membuka diri. Sayangnya saat yang tepat itu tidak pernah datang lagi.

Tentu Tan Malaka tidak hanya sekali ke Jakarta menjelang proklamsi. Pada tanggal 6 Agustus 1945 ia berangkat dari Bayah menuju Jakarta. Kali ini rumah yang ditujunya adalah rumah BM Diah. Ia bertanya mengenai kondisi terkini Jepang dan mengusulkan pimpinan revolusi kemerdekaan harus di tangan pemuda. Namun malang, esoknya BM Diah ditangkap Jepang, Hussein atau Tan Malaka kembali ke Bayah.

Sepertinya memang tidak ada kesempatan kedua bagi Tan Malaka untuk lebih membuka dirinya. Sewaktu ia kembali ke Jakarta menjelang proklamasi, kondisi Jakarta sudah tidak menentu. Meskipun bertemu dengan Sukarni pada tanggal 14 Agustus 1945, tetapi Sukarni sibuk. Di rumahnya banyak orang keluar-masuk sehingga kehadiran Tan Malaka tak menjadi perhatian. Sukarni juga khawatir kalau-kalau rumahnya digerebek Kempetai.

Menurut Poeze, terbatasnya peran Tan Malaka dalam proklamasi kemerdekaan sesuatu yang ironis mengingat Tan Malaka adalah orang yang pertama kali menggagas konsep republik dalam buku Naar de Republiek Indonesia, yang ditulis pada 1925, jauh sebelum Soekarno dan Hatta tentunya.

Tan Malaka pun menyesali kecilnya perannya dalam proklamasi kemerdekaan tersebut. Ia mengatakan:
”Rupanya sejarah proklamasi 17 Agustus tidak mengizinkan saya campur tangan, hanya mengizinkan campur jiwa saja. Ini sangat saya sesalkan! Tetapi sejarah tidak mempedulikan penjelasan seorang manusia atau segolongan manusia.”
oooooooo
Sutan Sjahrir dalam buku Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia menceritakan bahwa ia bersama mentor proletariatnya, Sastra mendiskusikan siapa orang yang tepat untuk menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia. Ini terjadi pada awal bulan Juli 1945.

Mereka memutuskan bahwa proklamator sehendaknya bukanlah Sutan Sjahrir. Sekalipun dikenal di perlawanan bawah tanah dan juga pemuda, Sutan Sjahrir kurang dikenal di kalangan rakyat. Ini sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Sutan Sjahrir memang memutuskan untuk melawan Jepang secara diam-diam, sementara Soekarno-Hatta berkoborasi dengan Jepang. Akibatnya Sjahrir dikenal secara terbatas dan Soekarno-Hatta dikenal secara luas karena selalu muncul di permukaan.

Setelah berdiskusi, Sastra dan Sutan Sjahrir menyimpulkan mungkin Tan Malakalah orangnya. Namun kendalanya, Tan Malaka sudah berada di luar Indonesia selama 20 tahun. Baik Sjahrir maupun Sastra tidak mengetahui di mana Tan Malaka saat itu berada. Ada desas-desus Tan Malaka sudah masuk ke Indonesia, dan menyembunyikan diri di Bayah, Banten dengan nama Ibrahim.

Sjahrir mengirimkan Itji Kantaatmaka untuk menguhubungi Tan Malaka, namun tidak berhasil. Akhirnya Sastra dan Sjahrir sendiri yang mencari Tan Malaka dan dengan bantuan Marta, kepala Stasuin Menes, Sjahrir dan Sastra berhasil menemukan Tan Malaka. Sjahrir dan Sastra bertanya kepada Tan Malaka apakah ia bersedia menjadi proklamator dan jawaban darinya segera dan spontan bahwa ia tidak siap.

Jadi misi membawa Tan Malaka untuk menjadi proklamator tersebut gagal. Sutan Sjahrir pun tahu diri ia tidak bisa jadi proklamator sehingga tidak ada pilihan lain bahwa proklamator adalah Soekarno-Hatta.

Ini sebuah ironi lagi. Saya rasa Tan Malaka ketika menampik tawaran menjadi proklamator dari Sutan Sjahrir tersebut sudah memperhitungkan banyak hal. Ia mengatakan bukan tidak mau, tetapi tidak siap. Ini artinya Tan Malaka yang kembali ke Indonesia sekitar tahun 1942 belum juga siap untuk maju ke depan meskipun sudah tiga tahun kembali ke Indonesia. Tan Malaka dengan segudang pengalamannya dalam revolusi, di saat-saat yang paling menentukan ternyata tidak siap untuk menjadi proklamator.

Ide Sutan Sjahrir untuk menjadikan Tan Malaka sebagai proklamator cukup jelas, yaitu menghindarkan negara Indonesia sebagai kolaborator Jepang. Jika Tan Malaka yang jadi proklamator tuduhan kolaborator Jepang terhadap Soekarno-Hatta dapat dihindari dan tentunya nantinya sekutu, terutama Belanda berpikir bahwa ternyata yang menjadi proklamator adalah mereka yang tidak bekerja sama dengan Jepang.

Proklamsi tersebut sepertinya harus dilakukan oleh Soekarno-Hatta dengan risiko dicap sebagai kolaborator Jepang. Sjahrir sendiri menceritakan bahwa pada pagi tanggal 17 Agustus 1945 ada utusan yang memintanya ikut ambil bagian dalam perundingan yang masih berlangsung di kediaman Laksamana Maeda. Tentu saja Sutan Sjahrir menolak untuk hadir.

Bagaimana dengan Tan Malaka? Ia juga tak ikut serta di saat proklamasi kemerdekaan tersebut. Mungkin sebuah kesempatan yang hilang, tidak akan muncul dua kali. Ketika ia datang ke rumah Sukarni, ia belum siap untuk membuak diri. Ketika ia ditawari menjadi proklamator ia juga berkata tidak siap mengingat ia memang tidak dikenal karena selalu bersembunyi di Bayah tiga tahun terakhir.

Seandainya, tentu ini pengadaian saja, Tan Malaka mau menjadi proklamator saya rasa Sutan Sjahrir sudah menyiapkan banyak hal untuk mendukung hal tersebut. Sutan Sjahrir dengan gerakan bawah tanahnya cukup punya kekuatan, meskipun terhitung sedikit. Tan Malaka mungkin tidak akan kehilangan kepalanya seandainya ia yang jadi proklamator. Sesuatu yang tragis menurut ignas Kleden, Tan Malaka  yang tak pernah kehabisan akal di berbagai negara tempatnya melarikan diri, akhirnya kehilangan kepala di tanah air yang amat dicintainya. Namun, kembali ke pembuka, Sejarah tak dituliskan dengan kata “Seandainya”.

Sumber Bacaan:
1. Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis, Ignas Kleden, Tempo Edisi Khusus Tan Malaka, 2008.

2. Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, Rudolf Mrazek, Yayasan Obor, 1996.
3. Jalan Sunyi dari Bayah, Tempo Edisi khusus Tan Malaka, 2008

Selular Award 2017 : ZenFone 3 Deluxe Smartphone Terbaik

Aliudin Sute d ja (National Sales Manager ASUS) menerima penghargaan Selular Award 2017 ASUS berhasil menempatkan dua smartphone mereka...