Thursday, August 9, 2012

RIM BlackBerry, Hidup Segan Mati Tak Mau?


Berita mengenai RIM BlackBerry, produsen BlackBerry yang sangat populer di Indonesia merupakan hal yang sangat menarik. Hal ini tidak lain karena kondisi RIM BlackBerry yang bisa dikatakan sangat bermasalah. Setelah beberapa waktu yang lalu melaporkan kerugian sebesar 1,1 triliun, RIM BlackBerry tidak juga mengalami kemajuan yang berarti.

Readwrite.com melaporkan RIM BlackBerry berganti nasib dari sebuah perusahaan yang menguasai pasar smartphone global ke sebuah perusahaan yang kini dililit oleh berbagai masalah, di antaranya sistem operasi yang ketinggalan dan penurunan basis pengguna. Tidak dipungkiri lagi bahwa CEO RIM yang berasal dari Jerman Thorsten Heins telah menghubungi bankir dari JP Morgan dan Royal Bank of Canada sebuah perusahaan yang cukup punya nama dalam hal akuisisi untuk melihat opsi-opsi yang bisa dilakukan RIM BlackBerry, apakah itu melisensikan atau menjual sebagian atau seluruh perusahaan kepada pihak yang berminat.

Sayangnya meskipun telah berusaha untuk menjual perusahaan, sebagian atau bila perlu seluruhnya, Reuters melaporkan:
analysts and investors doubt that anyone is ready to buy the whole company at this time, despite a price that looks tantalizingly cheap on paper. Interest in RIM looks slim to nil, two sources close to the matter said.
Ini artinya meskipun harga RIM BlackBerry sudah sangat murah saat ini (tahun 2008 nilai pasar RIM mencapai 84 miliar dollar, kini hanya 5,5 miliar dollar) belum tentu ada pihak yang bersedia untuk membeli RIM BlackBerry. Hal yang lebih mengherankan mengapa investor atau pihak lain tidak tertarik kepada RIM adalah kenyataan bahwa RIM tidak memiliki utang, memiliki cash on hand 2 miliar dollar dan paten yang diperkirakan bernilai 2,5 miliar dollar Amerika Serikat.

Bila kita lihat saat ini, pasar smartphone maupun tablet dikuasai oleh dua besar Apple iOS dan Google Android. Sebagaimana pernah dituliskan, kedua perusahaan ini tidak tertarik untuk memiliki RIM karena berbagai alasan, mungkin karena sudah eksis dengan sistem operasi sendiri maupun karena khawatir tidak disetujui oleh regulator sebab persaingan. Beberapa waktu yang lalu, sempat tersiar kabar, Nokia atau Microsoft mungkin akan menjadi pihak yang paling tepat untuk membeli RIM BlackBerry. Namun aliansi kedua perusahaan ini di Windows Phone rasanya sudah cukup untuk melawan dominasi iOS iPhone dan Android sehingga mereka akhirnya tidak tertarik untuk membeli RIM BlackBerry.

Samsung yang kini sebagian besar produk smartphone dan tabletnya berbasis Android, dirumorkan juga menjadi pembeli RIM BlackBerry, Namun kemudian, Samsung membantah, dengan mengatakan mereka mungkin mengakuisisi perusahaan lain, tetapi bukan RIM BlackBerry.

Ini artinya pemain-pemain besar di smartphone tidak tertarik untuk menyelamatkan RIM BlackBerry. Mungkin mereka berpikir lebih baik dibiarkan pelan-pelan hilang, karena sekaligus akan mengurangi persaingan.

Tentu saja banyak yang khawatir, bagaimana kalau benar-benar RIM dibiarkan tanpa bisa menyelamatkan diri. Bila kita lihat laporan IDC terakhir, posisi market share RIM BlackBerry memang terus menunjukkan penurunan. Market Share RIM secara global tinggal 6,4%, bandingkan dengan Android 59% dan iOS iPhone 23%. Bila nanti kampanye global Nokia-Microsoft yang mengusung Nokia Lumia berhasil, mungkin saja tahun depan RIM akan berada di belakang Windows Phone.

Tentu saja hal ini merupakan pertimbangan pihak-pihak yang tertarik untuk mengakuisisi RIM BlackBerry. Dengan market share yang terus menurun, mungkin terlalu berisiko untuk memgakuisisi RIM BlackBerry. Ini juga mungkin menandakan bahwa masa penawaran RIM BlackBerry kepada para pihak yang tertarik sudah berlalu. RIM BlackBerry akan lebih dilirik pihak lain untuk diakuisi jika ditawarkan setahun yang lalu, saat market share mereka relatif lebih baik daripada saat sekarang ini.

Upaya dari RIM sendiri bukan tidak ada. Beberapa waktu yang lalu sebagaimana dilaporkan oleh Bloomberg:
RIM has previously said it aims to save $1 billion in operating costs this fiscal year by cutting its number of manufacturing sites. It also is “reviewing its organizational efficiency” across the company. That may lead to job cuts of 2,000 to 3,000, assuming the company will try to save 30 percent of that operating cost through labor reductions. The move would add to the 2,000 announced about a year ago.
Pemutusan hubungan kerja merupakan langkah yang ditempuh untuk mengurangiOperating Cost. Namun, pemutusan hubungan kerja tentu juga berdampak kepada produk yang akan dihasilkan. Dengan tenaga kerja yang lebih sedikit, bisakah smartphone BlackBerry terbaru, BB10 mengejar iPhone dan Android? Bisakah BB10 sampai di pasar tepat waktu dan memberikan harapan baru bagi RIM BlackBerry?

Samsung Galaxy S8 dan S8+ Dirilis 2 Mei di Indonesia

Samsung Galaxy S8 (Source: Samsung) Samsung Galaxy S8 dan S8+ yang sebulan lalu dirilis di New York dalam waktu dekat akan bisa dibeli ...