Thursday, October 20, 2011

Lawan Pemerkosaan dengan Aplikasi Ponsel

Masih ingat peristiwa perempuan yang diperkosa di angkutan kota (angkot) beberapa waktu yang lalu? Perempuan sering menjadi  sasaran kejahatan karena mereka diduga lebih lemah daripada laki-laki. Selain itu, sering perempuan tidak memiliki alat yang bisa melindungi dirinya terhadap tindakan penyerangan atau pemerkosaan. Alat-alat untuk mencegah tindakan pemerkosaan memang belum banyak dikampanyekan, kalau pun ada yang menggunakan, seperti cairan merica, lebih kepada proteksi diri pribadi dan  kurang dimasyarakatkan. 

Kini dengan kemajuan teknologi ponsel, perempuan lebih bisa melindungi diri mereka terhadap tindakan perkosaan atau tindakan penyerangan disertai dengan kekerasan lainnya. Sayangnya hal ini baru akan diberlakukan di kota New Delhi, India. Reuters melaporkan bahwa perempuan di New Delhi segera bisa melawan penyerang potensial dengan menekan sebuah tombol di ponsel yang akan melakukan alert tidak hanya kepada teman, keluarga dan polisi, tetapi juga situs jaringan sosial mereka.

Aplikasi ini baru akan tersedia di kota New Delhi. Alasannya adalah bahwa satu dari setiap empat pemerkosaan di India terjadi di New Delhi.  Polisi mengatakan perempuan yang akan diperkosa dimasukkan ke dalam mobil secara paksa dan kemudian diperkosa secara beramai-ramai sebelum dibuang di pinggir jalan. Hal ini memberikan reputasi buruk bagi New Delhi dengan sebutan  ibukota pemerkosaan (rape capital). Pemerkosaan di New Delhi terjadi  satu kali setiap 18 jam. Secara umum, kasus pemerkosaan di India meningkat sebesar 760,4 persen menjadi 21.397 kasus pada 2009 dari 2.487 kasus pada tahun 1971. 

Aplikasi ponsel tersebut akan dinamai sebagai Fight Back Apps dan akan diluncurkan pada bulan November mendatang oleh sebuah badan amal lokal. aplikasi ini berfungsi sebagai perangkat peringatan SOS yang bisa mengirim pesan teks dengan lokasi GPS kepada lima orang sekaligus, termasuk polisi, serta pesan teks tersebut juga berfungsi sebagai update status di Facebook dan Twitter.

Sengupta Hindol, co-founder Whypoll, yang menciptakan aplikasi tersebut mengatakan keselamatan perempuan telah menjadi  masalah besar di kota New Delhi dan ia merasa bahwa warga Delhi perlu intervensi teknologi untuk menciptakan rasa aman. Ia menuturkan perempuan dilecehkan dan dianiaya mana-mana, di bus, di stasiun metro, di pasar dan banyak tempat lainnya. Ia percaya aplikasi ini merupakan aplikasi ponsel pertama di Asia yang bertujuan memberikan keselamatan bagi perempuan.

Aplikasi Fight Back awalnya akan tersedia untuk di download dari situs Whypoll (www.whypoll.org) untuk biaya nominal tertentu dan mendukung  berbagai perangkat mobile seperti Nokia dan BlackBerry. SOS alert akan dikenakan biaya sama dengan biaya SMS.

Nah, tampaknya kemajuan ini perlu ditiru oleh pembuat aplikasi di Indonesia. Melihat fungsi aplikasi ini, tentunya akan sangat berguna bagi perempuan yang kini sering menggunakan smartphone seperti Nokia dan BlackBerry. Semoga saja ada yang berusaha membuat aplikasi serupa di Indonesia.

ASUS Bundling Zenfone 3, Zenfone 3 Laser, dan Zenfone Go dengan Kartu Telkomsel

Meskipun sudah cukup lama koneksi 4G LTE ada di Indonesia, ternyata penetrasi koneksi 4G LTE ini belum terlalu dalam. Masih banyak peng...