Monday, November 13, 2017

Twitter Tak Butuh 280 Karakter

Twitter merupakan media sosial dalam kategori Hidup Segan Mati Tak Mau. Berbeda dengan Facebook yang digunakan hampir 2,2 miliar penduduk bumi, Twitter cukup bahagia karena bisa digunakan sekitar 300 jutaan pengguna saja. Berbeda dengan Google Plus yang juga bisa dikategorikan ke dalam kategori yang sama, Twitter lebih crowded dan bising.

Sudah sejak lama Twitter disibukkan oleh permasalahan mereka sendiri. Media sosial ini dari semula abai terhadap aturan yang mereka buat sendiri. Mereka menjunjung tinggi free speech sehingga tak mau repot dan tak mau disibukkan oleh ekses yang timbul dari free speech yang dipakai secara kebablasan oleh penggunanya sendiri.

Free speech yang diagungkan secara berlebihan oleh Twitter tersebut memakan banyak pengguna dan bahkan Twitter itu sendiri. Santer terdengar bahwa cukup banyak pihak yang ingin mengakuisisi layanan Twitter, satu-satunya layanan berbasis Tweet dan tidak ada pesaing dekat yang mampu mengusik. Namun mereka mundur teratur karena tingginya tingkat penyalahgunaan layanan di Twitter, termasuk harassment, bullying, ancaman dan lainnya.


Karena tidak kunjung laku, Twitter tentu berupaya memperbaiki diri. Memberikan layanan lebih baik bagi penggunanya, menegakkan aturan dan terutama menjadikan layanan Twitter lebih mudah digunakan oleh orang kebanyakan. 

Salah satu upaya Twitter terbaru adalah meningkatkan jumlah karakter yang bisa di-tweet-kan pengguna dua kali lipat, dari sebelumnya 140 (link, foto @ handle tidak dihitung) menjadi 280 karakter. Uji coba sudah dilakukan sejak bulan September yang lalu dan sudah resmi bisa digunakan oleh semua pengguna di awal bulan November ini.

Namun persoalan di Twitter bukanlah kekurangan karakter untuk di-tweet. Dengan memberikan 280 karakter Twitter sebenarnya ingin bersembunyi dari tanggung jawab mereka karena mengagungkan free speech. Untuk membuktikan hal ini saya mencoba melakukan polling di Twitter (meskipun legitimasi polling di Twitter tentu tak sebaik polling lainnya) yang diikuti lebih dari 1200 pengguna. Hasil polling tersebut adalah sebagai berikut:

Hasil polling di Twitter
Hasil polling tersebut menunjukkan bahwa banyaknya akun palsu merupakan masalah penting yang harus diselesaikan Twitter daripada menambah jumlah karakter menjadi 280. Keberadaan akun palsu, baik yang menyamar menjadi orang tertentu atau bot cukup meresahkan di Twitter. Mereka biasanya anonim dan bersembunyi dibalik nama tertentu dan ada yang sengaja diternakkan untuk diperjualbelikan.

Urutan kedua yang butuh perhatian serius dari Twitter adalah Hate Speech dan Hoax. Ini persoalan serius yang terus menghantui Twitter karena memang tidak ditangani sejak semula. Free speech kebablasan  yang dianut Twitter membuat hate speech tak terbendung. Sementara hoax merupakan persoalan lama, namun dimanfaatkan banyak orang untuk melakukan disinformasi yang juga kurang diperhatikan oleh Twitter.

Saya rasa, meskipun polling tersebut hanya diikuti seribuan voters, namun jelas terlihat penambahan karakter tweet bukan sesuatu yang sangat dibutuhkan. Persoalan Twitter bukanlah kekurangan tweet, justru dengan 140 karakter sangat banyak inovasi yang dilakukan pengguna (meskipun kadang tak nyambung dengan kaidah berbahasa yang baik dan benar). 

Sudah cukup lama Twitter bersembunyi dan tidak mau bertanggung jawab atas ekses layanan mereka. Bahkan ketika mereka mengajak penggunanya untuk melaporkan pelanggaran layanan yang terjadi, mereka terlalu tinggi hati untuk memperbaiki kesalahan dan membiarkan hal tersebut berlarut-larut demi statistik pengguna yang lebih baik, seperti banyaknya RT, komentar dan engagement. Apa salahnya Twitter lebih responsif, lebih mau melaksanakan keputusan yang mereka buat sendiri tanpa banyak memikirkan efek terhadap jumlah pengguna misalnya dengan menghapus akun yang dilaporkan yang sudah diakui sendiri oleh Twitter melakukan pelanggaran TOS.

Memang ada usaha Twitter untuk memperbaiki layanannya, namun usaha ini cenderung tidak serius, tidak langsung diterapkan dan terlalu memakan waktu sehingga layanan Twitter terus-menerus dibombardir oleh hate speech, misalnya. Belum lagi satu masalah selesai datang lagi masalah lain, misalnya soal centang biru yang semena-mena diberikan kepada anggota neoNazi.

Jelas terlihat layanan Twitter hidup segan mati tak mau. Hidup segan karena tak ada upaya menyeluruh untuk memperbaiki layanan, sementara mati pun bukan pilihan karena ada potensi pendapatan yang diharapkan. Malah membuat kebijakan baru yang jauh dari permasalahan yang ada. Yang diharapkan pengguna jauh sekali dengan apa yang diberikan Twitter. 

Sudahlah .....


Wednesday, November 1, 2017

Karyawan Samsung Electronics Indonesia Perbaiki SDN Sukasari 01 Rumpin Bogor


Cukup banyak perusahaan yang memiliki komitmen memajukan pendidikan di Indonesia. Salah satu perusahaan tersebut adalah Samsung Electronics Indonesia. Baru-baru ini sebagai wujud kepedulian terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia, Samsung Electronics Indonesia memberikan bantuan perbaikan bangunan Sekolah Dasar Negeri Sukasari 01, Rumpin, Bogor. 

Bantuan perbaikan bangunan ini diberikan melalui program Love and Care, dalam rangka memperingati Global Volunteer Month, sebuah program tahunan aksi sosial karyawan Samsung di seluruh dunia di mana karyawan dengan sukarela mendedikasikan waktunya untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Tahun ini, program Love and Care dari Samsung Electronics Indonesia mengajak karyawan melakukan perbaikan sekolah dan menikmati permainan edukasi bersama dengan murid-murid di SDN Sukasari 01, Rumpin, Bogor, Jawa Barat.

Pilihan program Love and Care dari Samsung Electronics Indonesia tahun ini sekaligus mendukung program pembangunan kualitas manusia yang dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia. Keberhasilan pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia bergantung pada tiga tolak ukur, yaitu tingkat kesehatan, pendidikan dan standar hidup yang layak. Dalam bidang pendidikan, pemerintah mencatat terdapat 196.708 ruang belajar yang perlu direhabilitasi di seluruh Indonesia , termasuk di antaranya Kecamatan Rumpin, satu dari 10 kecamatan di Bogor di mana terdapat lebih dari 1000 sekolah dalam kondisi memprihatinkan. 


KangHyun Lee, Corporate Affairs Vice President Samsung Electronics Indonesia mengatakan bahwa Samsung Electronics Indonesia memfasilitasi karyawannya untuk berpartisipasi dalam kegiatan sukarela dan berkontribusi bagi masyarakat. Selain produk, Samsung ingin berbagi ilmu, ketrampilan, dan waktu agar memberikan makna bagi orang lain. Oleh karena itu, bersama 70 karyawan Samsung yang sukarela mengangkat kuas cat, memperbaiki tembok, berinteraksi dengan anak didik dan kebun yang dibangun bersama di sekolah ini.

Samsung melalui karyawannya memperbaiki kelas-kelas yang ada di sekolah SDN Sukasari 01, Rumpin, Bogor mulai dari mengganti keramik yang retak dan kaca jendela yang banyak pecah agar tidak membahayakan siswa, menyediakan meja dan kursi belajar agar siswa duduk dengan sikap baik dan nyaman, perbaikan kamar kecil, hingga mengecat ulang dinding sekolah agar sekolah menjadi tempat yang membuat siswa semangat belajar. Ditambah lagi, sejalan dengan perkembangan teknologi, Samsung menambahkan fasilitas Samsung Learning Corner yang dilengkapi dengan 10 unit Samsung Galaxy Tab A with S Pen 8” dan Smart TV LED 55” agar membaca semakin menyenangkan, karena membaca merupakan cara untuk memperluas ilmu dan wawasan baru.

Sebelum direnovasi, SDN Sukasari 01, Rumpin, memiliki 178 murid dan tujuh guru, yang difasilitasi dengan delapan ruang belajar, di mana satu kelas berisikan 25 orang murid. Empat dari delapan ruang belajar tersebut tidak memiliki meja dan kursi sehingga para murid melakukan proses belajar mengajar sambil duduk di lantai tanpa beralaskan apapun. Lantai-lantai keramik di kelas-kelas tersebut juga sebagian dalam kondisi pecah, langit-langit kelas, serta jendela juga atap sekolah dalam keadaan yang berisiko bagi keselamatan murid-murid SD tersebut.


Ada 70 karyawan Samsung Electronics Indonesia yang terlibat dalam program Love and Care Samsung Electronics Indonesia tahun ini. Kegiatan diawali dengan interaksi antara para sukarelawan dan murid-murid, bermain edu games seperti cerdas cermat dan bahasa Inggris menggunakan tablet, serta membuat prakarya seperti tempat pensil dari bahan-bahan bekas yang bisa disimpan dan digunakan oleh murid-murid. Selain itu Samsung juga menyisipkan program urban farming agar murid-murid nantinya dapat melanjutkan kegiatan ini sebagai salah satu program rutin di sekolah.

Dalam menentukan sekolah yang akan dibantu, Samsung bekerja sama dengan YAPPIKA-ActionAid, sebuah lembaga nirlaba yang mempunyai misi di antaranya mendukung terwujudnya pelayanan publik yang adil dan berkualitas. Dr. Meuthia Ganie-Rochman, Ketua Pembina YAPPIKA-ActionAid melihat banyaknya data dan kasus sekolah rusak di Indonesia yang membahayakan keselamatan anak-anak selama belajar, sehingga ia bersama mitranya terus menggalang dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkan sekolah yang aman bagi anak-anak. Dukungan perusahaan seperti Samsung sangat penting untuk memperluas manfaat kampanye ini untuk anak-anak Indonesia. .

Global Volunteer Month program merupakan inisiatif filantropi dari Samsung global. Setiap tahunnya lebih dari 1.500 karyawan Samsung dari seluruh dunia terlibat dalam program ini dan menyentuh banyak kehidupan melalui program-program kemasyarakatan yang berbeda-beda. Di Samsung Electronics Indonesia, program Love and Care ini telah dilakukan tiga kali di Indonesia dan hingga saat ini telah melibatkan lebih dari 260 karyawan.

Twitter Tak Butuh 280 Karakter

Twitter merupakan media sosial dalam kategori Hidup Segan Mati Tak Mau. Berbeda dengan Facebook yang digunakan hampir 2,2 miliar penduduk b...