Thursday, December 14, 2017

Ke Bengkulu Ngopi Sambil Menikmati Sunset dan Jejak di Fort Marlborough

Welcome to Bengkulu
Ke Bengkulu untuk ngopi?

Bengkulu cukup dekat dari Jakarta, hanya memakan waktu 50 menit jika menggunakan pesawat terbang dari bandara Sukarno-Hatta ke bandara Fatmawati Sukarno di Bengkulu. Kota Bengkulu berada di depan samudra Indonesia. Cuaca sepertinya cenderung agak panas layaknya kota-kota di pinggir pantai di mana suhu berkisar sekitar 30 derajat celsius. 

Kota Bengkulu juga rawan gempa. Dari percakapan dengan supir yang mengantar ke mana-mana di Bengkulu dapat saya simpulkan bahwa masyarakat kota Bengkulu sudah sangat terbiasa dengan gempa sehingga bangunan pun tak ada yang terlalu tinggi. Hotel misalnya, cuma 6 lantai.

Demikianlah pada hari Senin (4/12) saya menjejakkan kaki di Bengkulu. Pertama tentu di bandara Fatmawati Sukarno yang disebut sebagai bandara internasional. Bandara ini cukup bagus, fasilitas lengkap dan tentu tak serumit bandara Sukarno-Hatta. Kalau turun dari pesawat langsung menuju ruang kedatangan dan bisa langsung keluar karena bangunannya cukup kecil dan ringkas.

Keluar dari bandara, hal pertama yang terasa tentu saja lapar. Berhubung tim yang ikut ke Bengkulu ini sudah bosan makan ikan atau kuliner lokal di berbagai daerah, pilihan jatuh ke kuliner Padang. Rumah makan Embun Pagi menyediakan kuliner Minang yang alang-kepalang lengkapnya. Menu makanan dengan santan kental khas Minang disajikan di atas meja panjang dan tak lama kemudian perut pun kenyang. Harga menu makanan di sini sangat bersahabat.





Setelah kenyang perjalanan dilanjutkan menuju hotel. Hotel yang dipilih untuk bermalam dan melakukan berbagai kegiatan selama di Bengkulu adalah Hotel Santika. Hotel ini cukup bagus, punya ruang pertemuan besar dan kamar yang cukup banyak dan hanya 6 lantai. 

Setelah beristirahat beberapa menit, tugas pertama datang, yaitu hadir di talk show di sebuah radio lokal di Bengkulu. Radio ini berada di Universitas Bengkulu yang sangat luas.

Setelah siaran di radio, pertanyaan yang muncul mau makan malam di mana? Sekilas saya melihat bahwa sejauh mata memandang ada dua kuliner yang cukup punya nama di Bengkulu, yaitu Palembang dan Minang (Padang). Di banyak tempat sepertinya rumah makan Padang merupakan pilihan banyak orang, di mana ketika kami pertama kali datang di Bengkulu, harus keliling terlebih dahulu untuk bisa menemukan rumah makan Padang yang masih cukup punya persediaan untuk makan di pukul 3 sore. Barulah pada pilihan ketiga, yaitu rumah makan Embun Pagi bisa makan siang, dua rumah makan sebelumnya sold out dagangannya. Beberapa rumah makan Padang dengan menu khas seperti Dendeng Batokok sudah habis sejah jam 12 siang. 

Oleh karena telah makan kenyang di sore hari tadi, banyak yang menolak yang makan besar lagi di malam hari. Namun pilihan yang tersedia sedikit karena anggota tim tidak mau lagi kuliner lokal atau ikan laut sehingga pilihan jatuh ke Sate Padang.

Sate Padang Ita Teben namanya. Berada di jalan Cendrawasih, Kota Bengkulu, Sate Padang Ita Teben ini menyajikan sate khas Padang Panjang dengan kuah kuning dan daging sapi yang renyah. Juga tersedia sate ayam yang sebenarnya jarang disediakan sate khas Padang lainnya.

Di Sate Padang Ita Teben ini juga tersedia Teh Telor khas Minang yang cukup enak. 



Sate padang nya juga ena

Teh Telor ini enak
Di hari kedua di Bengkulu, teman dalam tim masih penasaran dengan menu Dendeng Batokok. Hal yang cukup membuat kesal adalah bahwa baru sekitar pukul setengah dua siang, menu Dendeng Batokok ini sudah habis di sebuah restoran Padang yang jadi favorit orang Bengkulu untuk makan siang. Jadilah kami harus memutar untuk mencari menu Dendeng Batokok ini yang akhirnya bisa dinikmati di Rumah Makan Iko Nan 2 di jalan Kapuas Raya. 

Rumah makan ini tidaklah wah atau punya gedung yang representatif. Namun menunya cukup banyak, khusus dendeng batokoknya enak.

Thursday, November 30, 2017

Naik Kereta Api Argo Parahyangan Ekonomi Premium Tuuut Tuuut Tuuut Siapa Hendak Turut Dari Bandung ke Jakarta

Gerbong Kereta Argo Parahyangan
Ekonomi Premium
Satu hal yang saya senangi kalau bepergian, baik untuk mengurus urusan ini maupun urusan itu adalah naik kereta api. Cinta saya ke kereta api sebenarnya sudah lama, tetapi selama itu pula bertepuk sebelah tembok, eh. Ibarat kata syair lagu Dewa:

baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan ...
Dulu ketika masih SMP di sudut kota Padang Panjang, setiap cabut dari jam pelajaran yang saya lakukan adalah mengejar kereta yang membawa batubara dari Sawahlunto yang lewat di belakang sekolah. Kadang saya sampai di Kayu Tanam, kadang hingga Batu Taba atau paling dekat ke stasiun di Padang Panjang yang kini sudah tak ada. Jalur kereta api itupun mungkin kini sudah tak ada, sedih tentunya.

Sekitar tahun 1999 setiba di Jakarta pertama kali, sering naik kereta ekonomi yang nauzubillah sumpeknya. Penumpang berjejalan, pedagang, pengamen dan pengemis tumplek jadi satu dalam gerbong yang begitu pengab. Hanya ada AC alam.

Cinta kepada kereta api benar-benar tak berbalas. Waktu itu rasanya ingin naik kereta Pakuan, namun sayang duit pun tak punya. Kereta ekonomi terlalu tidak manusiawi untuk dinaiki.

Namun kini semua itu cerita lalu. 

Kereta api kini telah membalas cinta saya dan banyak cinta pengguna setia mereka lainnya. Kalau kini Anda naik Commuter Line dari Bogor menuju Tanah Abang atau Stasiun Kota, kereta apinya bersih, mulus dan terawat dan satu lagi yang sangat penting harga tiketnya sangat terjangkau. 

Hal yang patut juga disyukuri adalah bahwa perbaikan layanan kereta api tersebut tidak hanya di Commuter Line. Kereta api jarak jauh seperti ke Jawa atau ke Bandung yang dulu sudah cukup baik kini semakin baik. Beberapa waktu lalu saya sempat ke Purwokerto dengan kereta api eksekutif. Kereta api inipun sangat bagus, layanan ramah dan harga tiketnya terjangkau.

Nah kali ini yang akan saya ceritakan adalah pengalaman naik kereta api Argo Parahyangan Ekonomi Premium dari Bandung ke Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Sebenarnya ingin sekali, baik berangkat maupun pulang menggunakan kereta api. Namun untuk memesan kereta api jurusan ke Bandung tidak tersedia cukup waktu karena berbagai kendala. Pada akhirnya saya harus naik travel pagi-pagi sekali menuju Bandung.

Saya sampai di sebuah kampus di Cibiru, Bandung sekitar 08.30 WIB pagi. Ada pekerjaan yang tak bisa saya sembunyikan (eh) yang harus diselesaikan di sana. Bertemu adik-adik mahasiswa Informatika yang bikin gemez.

Pekerjaan tersebut selesai sekitar pukul 12.30 dan saya memutuskan untuk segera kembali. Pilihan kali ini harus dijalankan, yaitu menggunakan kereta api menuju Jakarta. Persoalannya saya belum booking tiket dan mencoba mencarinya di Google sudah banyak yang habis. 

Setelah berdiskusi sebentar diputuskan saya menumpang sepeda motor agar bisa mencapai stasiun Bandung sebelum kereta api pukul 2 berangkat dan tentunya harus dapat tiket terlebih dahulu. 

Bandung yang cukup macet dari arah Cibiru itu akhirnya harus saya lawan dengan menumpang sepeda motor dan sekitar pukul 13.30 sampai di stasiun Bandung yang waktu itu tidak terlalu ramai. Lihat-lihat loket penjualan, ternyata cukup banyak calon penumpang yang beli tiket Go Show Argo Parahyangan Ekonomi Premium yang menurut saya adalah tiket yang dibeli on the spot sesaat sebelum kereta berangkat. Harga tiketnya Rp90.000 untuk kelas ekonomi premium.

Apa itu kelas ekonomi premium? Sampai saat menuliskan artikel ini saya tak tahu betul artinya dan tak juga tak begitu peduli. Hal yang menjadi perhatian adalah bahwa kelas ini sangat bagus, ada 80 kursi dalam satu gerbong. Jarak antarkursi untuk ukuran badan saya yang kecil masih sangat bagus dan sandaran kursinya bisa diatur kemiringannya.

Kursi yang bisa diatur kemiringan sandarannya

Lorong antarkursi yang lebar

Tempat menyimpan bagasi 
Kursi tersebut disusun dua-dua dan dipisahkan oleh sebuah lorong untuk keluar masuk yang cukup lebar. Gerbong bersih dan ada toiletnya, AC dan tidak ada selimut (tentunya). Tersedia juga lampu baca, colokan listrik untuk mengecas smartphone. Petugas kebersihan berkeliling mengumpulkan sampah sehingga kebersihan gerbong tetap terjaga.

Bisa dikatakan bahwa PT KAI cukup memperhatikan kenyamanan penumpang meskipun kursi yang diduduki ini agak terasa keras dan mungkin tidak akan cocok untuk perjalanan lebih dari 4 jam karena akan membuat (maaf) pantat cukup menderita. Namun tetap apresiasi untuk PT KAI dengan kelas ekonomi premium ini karena ada pilihan yang mampu dijangkau dengan layanan yang setara harga yang dibayar penumpang.


Jarak antar kursi depan dan belakang
cukup bagus
Jika penumpang ingin membeli makanan kecil, KAI juga menyediakan layanan ini, termasuk minuman tentunya. Saya rasa kelas ekonomi premium ini sangat bagus karena harganya terjangkau, layanannya bagus dan tentunya, tidak ada delay keberangkatan seperti kisah-kisah naik kereta api terdahulu.

Sepanjang perjalanan yang selama 3 jam 35 menit menuju stasiun Gambir saya memimpikan moda kereta api ini menjadi pilihan penumpang karena kemampuannya membawa sekian banyak orang dalam satu kali perjalanan. Pilihan menggunakan kereta api merupakan pilihan yang sangat logis mengingat makin padatnya jalan raya, sesak oleh mobil yang pertumbuhannya setahun begitu tinggi.

Tentu membangun moda kereta api di banyak wilayah butuh investasi yang cukup besar. Namun setidaknya, semakin banyak tujuan yang bisa dilayani oleh kereta api, akan semakin baik. Mulai akhir November ini sudah tersedia kereta bandara menuju Bandara Soekarno-Hatta. Ini sebuah keputusan yang sangat tepat mengingat begitu macetnya jalan tol menuju bandara.

Sudah saatnya pula masyarakat untuk lebih memilih menggunakan angkutan massal seperti kereta api. Sudah tidak zamannya lagi menggunakan mobil pribadi yang selalu terkena macet, sementara kereta api ini antimacet. Bila pesawat udara hanya bisa membawa maksimal 100-150 lebih penumpang dalam satu kali perjalanan, kereta api bisa membawa sekitar 400 hingga mungkin 500 penumpang dalam sekali perjalanan meskipun tentu waktu tempuhnya berbeda jauh. Tinggal memperbaiki teknologi, membangun infrastruktur baru bagi kereta api cepat agar kereta api semakin menjadi pilihan moda transportasi.

Ke Bengkulu Ngopi Sambil Menikmati Sunset dan Jejak di Fort Marlborough

Welcome to Bengkulu Ke Bengkulu untuk ngopi? Bengkulu cukup dekat dari Jakarta, hanya memakan waktu 50 menit jika menggunakan pesawa...