Wednesday, November 22, 2017

Hands On BlackBerry KEYone, Smartphone Pecinta Sejati BlackBerry

BlackBerry KEYone
Kangen BlackBerry? Pecinta sejati BlackBerry? Ingin merasakan lagi masa-masa menggunakan keyboard fisik yang begitu mengasyikkan sebelum dilibas on screen keyboard di Android dan iPhone? Kamu punya kesempatan untuk mencicipi kembali masa-masa itu dengan BlackBerry KEYone dari BlackBerry Merah Putih di Indonesia.

Sejenak ke belakang, mengapa bukan BlackBerry sendiri yang menjual BlackBerry KEYone di Indonesia? Karena brand BlackBerry untuk pasar Indonesia ada pada BlackBerry Merah Putih. Sejatinya tentu BlackBerry KEYone ini dibuat oleh BlackBerry, namun untuk Indonesia dijual oleh BlackBerry Merah Putih.

Berbicara BlackBerry KEYone, sebenarnya smartphone ini bukan smartphone yang baru di-launching. Untuk pasar Amerika contohnya, KEYone sudah ada sejak bulan Mei 2017 yang lalu. Namun, pasar Indonesia, meskipun terlambat tetap dirilis mengingat masih banyak pecinta BlackBerry di Indonesia.

BlackBerry KEYone menunjukkan filosofi BlackBerry dalam membangun sebuah smartphone. Terlihat rancang bangun yang bagus, kokoh dan tak mudah jatuh, dan so pasti sebuah keyboard fisik yang semakin smart diikutkan oleh BlackBerry sebagai penanda penting kehadiran mereka sekaligus pembeda dengan vendor Android lainnya. Paling tidak itu yang saya rasakan ketika melakukan hands on terbatas dengan BlackBerry KEYone.

Hands on terbatas ini saya lakukan beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting dari saya terhadap BlackBerry KEYone ini. Berikut ini saya uraikan satu per satu.

Spesifikasi

1. Fully Android™
2. Access to over a million apps on Google Play
3. 4.5” scratch-resistant display
4. Convenience Key
5. 8MP front camera
6. 12MP auto-focus large pixel rear camera
7. Fingerprint Sensor
8. BlackBerry Security software
9. 3505 mAh battery

BlackBerry KEYone dengan keyboard fisik

Layar FHD seluas 4,5 inchi

Tampilan shortcut
Secara spesifikasi, BlackBerry KEYone tidaklah istimewa. Dengan prosesor Snapdragon 625, RAM 4GB, ROM 64GB yang bisa ditambah hingga 2TB (dengan micro SD) KEYone setara dengan beberapa vendor Android yang menghasilkan Android untuk harga sekitar 3 sampai 4 jutaan. Namun KEYone memiliki harga 2 sampai 3 kali harga smartphone Android dengan prosesor yang sama. Kesimpulan saya adalah BlackBerry tidak menyasar pengguna yang price sensitive, mereka menyasar kelas brand sensitive terutama mereka di kalangan bisnis. Untuk kalangan bisnis, BlackBerry adalah andalan karena mampu menopang pekerjaan dan bisnis lebih baik.

Tagline BlackBerry KEYone BE BOLD BE DIFFERENT mempertegas hal tersebut. Pengguna BlackBerry KEYone bangga dan berbeda dibandingkan dengan pengguna smarphone lainnya, karena ini BlackBerry. Mungkinkah tagline ini akan bisa bekerja dengan baik nantinya? Kita tunggu nanti.

Desain

1. tinggi 149.3 mm / 5.8 in
2. lebar 72.5 mm / 2.8 in
3. ketipisan 9.4 mm / 0.37 in

Bila dulu handset BlackBerry terkesan tebal, gendut dan tak menarik secara desain, BlackBerry KEYone memberikan hal yang berbeda. Berbentuk persegi dengan ketipisan yang lumayan bagus, KEYone adalah masterpiece secara desain dari BlackBerry. Meskipun terkesan agak berat dibandingkan dengan smartphone lainnya yang cenderung makin ringan, BlackBerry KEYone bisa dikatakan keren. Penempatan keyboard fisik di bagian bawah dengan back light sangat membantu ketika melakukan pengetikan. Namun tentu ada learning curve. Setelah hampir 5 tahun tidak mengetik di keyboard fisik di sebuah smartphone, terasa agak canggung di awal menggunakannya. Ada beberapa hal yang harus dipelajari kembali dan ini butuh waktu hingga bisa lancar menggunakannya.

Screen/layar BlackBerry KEYone
1. kerapatan 433 PPI
2. resolusi 1620 x 1080 IPS LCD
3. luas layar 4.5” diagonal
4. aspect ratio 3:2

Di atas keyboard fisik ini tersedia layar seluas 4,5 inchi yang bagus dengan resolusi full HD dan scratch resistant yang artinya anti gores. Layar yang hanya 4,5 inchi ini tentu lebih kecil dibandingkan dengan smartphone Android atau iPhone yang makin borderless. Namun seberapa besar layar yang sebenarnya kita inginkan? BlackBerry KEYone sepertinya tidak menghiraukan layar besar di smartphone lainnya karena itulah mereka membenamkan keyboard fisik di bawah layar sehingga mengurangi space untuk layar.

Kamera terlihat agak besar, berada di sudut kiri

Karet bagian belakang meningkatkan grip
Kehilangan layar yang besar ini saya rasa bisa dikonversikan kepada produktivitas yang akan diperoleh dengan keyboard fisik. So, untuk menonton video terasa kurang bagus, bermain game juga, namun seberapa banyak business man/business woman yang menonton video dan bermain games?

Di bagian belakang, BlackBerry KEYone ini dilapisi oleh karet yang sangat bagus untuk meningkatkan handling terhadap samrtphone. Dengan kontur tertentu, dipercaya BlackBerry KEYone ini tidak akan mudah meluncur dan lepas dari tangan pengguna. Saya merasakan grip-nya sangat baik, namun demikian memang terasa agak berat.

Cek dulu hands on BlackBerry KEYone ini!




Sotfware

BlackBerry KEYone berbasis Android 7.1.1 Nougat yang bisa di-upgrade nantinya ke Android Oreo (8.0). Menurut BlackBerry, mereka cukup rajin memberikan security patch dan handset yang saya genggam memiliki security patch di 15 September. Selayaknya smartphone Android lainnya berbasis Nougat, tidak ada yang berbeda di BlackBerry KEYone. Bila dilihat lebih jauh, bisa dikatakan mendekati versi Android standar tanpa kustomisasi yang banyak seperti yang digunakan Samsung pada Galaxy S misalnya atau MIUI dari Xiaomi.

Software ini memakan cukup banyak ROM yang disediakan, sekitar 13GB sehingga mungkin ROM yang tersedia dari 64GB sekitar 50GB saja.

Namun demikian BlackBerry menyematkan banyak shortcut di layar yang bisa diklik untuk melakukan berbagai kegiatan seperti mengirim email, mengirim SMS dan lainnya. Hal yang lebih membantu lagi, tersedia shortcut di keyboard yang bila ditekan akan memunculkan task tertentu. Saya belum sempat mengeksplorasi lebih jauh shortcut ini mengingat keterbatasan waktu.

Oleh karena baru menggunakan BlackBerry lagi, saya rasakan cukup banyak lag yang terjadi ketika saya mencoba berpindah-pindah dari satu tugas ke tugas lainnya ketika menggunakan BlackBerry KEYone. Tentunya perlu pembiasaaan kembali, namun sejauh mencoba sebenarnya cukup mudah untuk menggunakan KEYone ini.

Kamera

Dengan kamera belakang 12 megapiksel dan kamera depan 8 megapiksel, BlackBerry KEYone tidaklah istimewa. Beberapa foto yang saya coba ambil menujukkan hasil yang cukup baik. Hal ini sudah sangat cukup karena memang tidak ditujukan bagi pengguna yang senang melakukan eksplorasi kamera. Foto yang dihasilkan bagus, bahkan di kondisi kurang cahaya fotonya masih bagus. Untuk selfie hasilnya biasa-biasa saja. Sekali lagi penggila selfie tak perlu menyinyiri BlackBerry KEYone karena memang bukan untuk selfie.

Kamera BlackBerry KEYone juga menyajikan pengaturan manual yang cukup detai seperti ISO yang sampai 10000. Selain itu bisa mengambil video 4k dan terdapat EIS untuk menstabilkan hasil video meskipun tidak bisa digunakan pada pengambilan video 4k.

Baterai

Dengan baterai berkekuatan 3505 mAh, BlackBerry KEYone merupakan BlackBerry dengan daya terbesar yang pernah ada. Daya sebesar itu menjanjikan ketahanan 26 jam pemakaian. Plus dengan Quick Charge 3.0 baterai bisa terisi hingga 50% dalam waktu hanya 36 menit. Hal ini tentunya perlu dibuktikan dalam pemakaian nanti. Namun beberapa video di YouTube bisa dijadikan bukti di mana on screen time yang mencapai 7 jam.

Demikian beberapa catatan saya setelah hands on BlackBerry KEYone. Oh, ya BlackBerry KEYone sudah bisa dipesan via Lazada dan beberapa online market lainnya seperti Dino Market, JDid dan banyak lainnya dengan harga Rp8.999.000. Kaget dengan harga tersebut? Tidak perlu kaget karena ini BlackBerry KEYone.

Last but not least BlackBerry mengatakan bahwa mereka sudah memenuhi TKDN 30% software dan hardware sehingga bisa dijual di Indonesia. So, yang ingin memiliki BlackBerry KEYone segera pre-order saja ya!

Monday, November 13, 2017

Twitter Tak Butuh 280 Karakter

Twitter merupakan media sosial dalam kategori Hidup Segan Mati Tak Mau. Berbeda dengan Facebook yang digunakan hampir 2,2 miliar penduduk bumi, Twitter cukup bahagia karena bisa digunakan sekitar 300 jutaan pengguna saja. Berbeda dengan Google Plus yang juga bisa dikategorikan ke dalam kategori yang sama, Twitter lebih crowded dan bising.

Sudah sejak lama Twitter disibukkan oleh permasalahan mereka sendiri. Media sosial ini dari semula abai terhadap aturan yang mereka buat sendiri. Mereka menjunjung tinggi free speech sehingga tak mau repot dan tak mau disibukkan oleh ekses yang timbul dari free speech yang dipakai secara kebablasan oleh penggunanya sendiri.

Free speech yang diagungkan secara berlebihan oleh Twitter tersebut memakan banyak pengguna dan bahkan Twitter itu sendiri. Santer terdengar bahwa cukup banyak pihak yang ingin mengakuisisi layanan Twitter, satu-satunya layanan berbasis Tweet dan tidak ada pesaing dekat yang mampu mengusik. Namun mereka mundur teratur karena tingginya tingkat penyalahgunaan layanan di Twitter, termasuk harassment, bullying, ancaman dan lainnya.


Karena tidak kunjung laku, Twitter tentu berupaya memperbaiki diri. Memberikan layanan lebih baik bagi penggunanya, menegakkan aturan dan terutama menjadikan layanan Twitter lebih mudah digunakan oleh orang kebanyakan. 

Salah satu upaya Twitter terbaru adalah meningkatkan jumlah karakter yang bisa di-tweet-kan pengguna dua kali lipat, dari sebelumnya 140 (link, foto @ handle tidak dihitung) menjadi 280 karakter. Uji coba sudah dilakukan sejak bulan September yang lalu dan sudah resmi bisa digunakan oleh semua pengguna di awal bulan November ini.

Namun persoalan di Twitter bukanlah kekurangan karakter untuk di-tweet. Dengan memberikan 280 karakter Twitter sebenarnya ingin bersembunyi dari tanggung jawab mereka karena mengagungkan free speech. Untuk membuktikan hal ini saya mencoba melakukan polling di Twitter (meskipun legitimasi polling di Twitter tentu tak sebaik polling lainnya) yang diikuti lebih dari 1200 pengguna. Hasil polling tersebut adalah sebagai berikut:

Hasil polling di Twitter
Hasil polling tersebut menunjukkan bahwa banyaknya akun palsu merupakan masalah penting yang harus diselesaikan Twitter daripada menambah jumlah karakter menjadi 280. Keberadaan akun palsu, baik yang menyamar menjadi orang tertentu atau bot cukup meresahkan di Twitter. Mereka biasanya anonim dan bersembunyi dibalik nama tertentu dan ada yang sengaja diternakkan untuk diperjualbelikan.

Urutan kedua yang butuh perhatian serius dari Twitter adalah Hate Speech dan Hoax. Ini persoalan serius yang terus menghantui Twitter karena memang tidak ditangani sejak semula. Free speech kebablasan  yang dianut Twitter membuat hate speech tak terbendung. Sementara hoax merupakan persoalan lama, namun dimanfaatkan banyak orang untuk melakukan disinformasi yang juga kurang diperhatikan oleh Twitter.

Saya rasa, meskipun polling tersebut hanya diikuti seribuan voters, namun jelas terlihat penambahan karakter tweet bukan sesuatu yang sangat dibutuhkan. Persoalan Twitter bukanlah kekurangan tweet, justru dengan 140 karakter sangat banyak inovasi yang dilakukan pengguna (meskipun kadang tak nyambung dengan kaidah berbahasa yang baik dan benar). 

Sudah cukup lama Twitter bersembunyi dan tidak mau bertanggung jawab atas ekses layanan mereka. Bahkan ketika mereka mengajak penggunanya untuk melaporkan pelanggaran layanan yang terjadi, mereka terlalu tinggi hati untuk memperbaiki kesalahan dan membiarkan hal tersebut berlarut-larut demi statistik pengguna yang lebih baik, seperti banyaknya RT, komentar dan engagement. Apa salahnya Twitter lebih responsif, lebih mau melaksanakan keputusan yang mereka buat sendiri tanpa banyak memikirkan efek terhadap jumlah pengguna misalnya dengan menghapus akun yang dilaporkan yang sudah diakui sendiri oleh Twitter melakukan pelanggaran TOS.

Memang ada usaha Twitter untuk memperbaiki layanannya, namun usaha ini cenderung tidak serius, tidak langsung diterapkan dan terlalu memakan waktu sehingga layanan Twitter terus-menerus dibombardir oleh hate speech, misalnya. Belum lagi satu masalah selesai datang lagi masalah lain, misalnya soal centang biru yang semena-mena diberikan kepada anggota neoNazi.

Jelas terlihat layanan Twitter hidup segan mati tak mau. Hidup segan karena tak ada upaya menyeluruh untuk memperbaiki layanan, sementara mati pun bukan pilihan karena ada potensi pendapatan yang diharapkan. Malah membuat kebijakan baru yang jauh dari permasalahan yang ada. Yang diharapkan pengguna jauh sekali dengan apa yang diberikan Twitter. 

Sudahlah .....


Hands On BlackBerry KEYone, Smartphone Pecinta Sejati BlackBerry

BlackBerry KEYone Kangen BlackBerry ? Pecinta sejati BlackBerry? Ingin merasakan lagi masa-masa menggunakan keyboard fisik yang begitu...